12. Emosi

"Kak Raffi nggak ingat? Kemarin kan kita ketemu di restoran,"

Raffi terbelalak mendengar ucapan Nathan. Bagaimana bisa anak ini tau aku pergi ke restoran kemarin?

Raffi memperhatikan wajah Nathan dengan seksama. Setelah beberapa lama, ia baru menyadari kalau anak yang ada di depannya saat ini adalah pelayan di restoran hotel tempo hari.

Sial! Dari semua orang, kenapa harus bertemu dia?

"Sepertinya kamu salah orang," Raffi mencoba mengelak. "Aku bahkan baru datang dari Jakarta hari ini,"

"Oh ya?" Nathan tersenyum miring. "Tapi aku ingat betul. Nama rekening saat aku mengirim uang ganti rugi adalah Raffi Anugrah Surya Atmaja, persis dengan nama yang ada di situ," Nathan menunjuk id card kantor milik Raffi yang tergeletak di dashboard.

"Ada berapa kemungkinan ya untuk dua orang berbeda punya wajah dan nama yang sama persis?" lanjutnya lagi.

Tangan Raffi terkepal dan wajahnya memerah. Ia telah kalah telak. Dengan cepat, ia meraih kerah baju Nathan.

"Apa mau Lo, hah?!"

"Oh, sekarang wajah aslinya baru keliatan," Nathan tergelak. Wajahnya kemudian berubah serius. "Lepasin Bu Anja. Lo nggak pantas untuk bersanding dengan wanita sesempurna dirinya,"

Raffi mendengus. "Lo suka sama cewek gue?"

"Iya. Jadi lepasin dia dan biar gue yang mengambil alih,"

"Hahaha," Raffi tergelak. "Lo pikir Anja bakalan nerima bocah ingusan kaya Lo?!"

"Bocah ingusan kaya gue jauh lebih baik dari cowok tukang selingkuh kaya Lo!"

"B*ngsattt!" Emosi Raffi benar-benar sudah di ujung tanduk. Tapi ia menahan tinjunya karena melihat Anja yang sudah berjalan kembali ke mobil. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dan memelankan suara.

"Kalau gue nggak mau lepasin Anja, apa yang bakal Lo lakuin?"

"Gue akan kasih tau dia semua kelakuan Lo," Nathan menatap Raffi penuh kebencian.

"Silahkan," Raffi tersenyum licik. "Lo pikir Anja bakalan percaya? Inget, gue itu pacarnya yang sudah menjalin hubungan selama enam tahun. Sedangkan Lo, cuma salah satu murid yang baru dia kenal selama beberapa bulan. Di antara kita, siapa menurut Lo yang bakalan dia percaya?"

Nathan menggertakkan giginya. Sial, ia tak memperhitungkan hal itu.

"Lagian, kalau Lo ngomong sama Anja, Lo bakal bikin guru kesayangan Lo itu sedih dan terluka. Lo mau hal itu terjadi? Nggak, kan? Jadi, saran gue, lebih baik Lo diem aja dan belajar yang bener, adik kecil." Raffi menepuk-nepuk pipi Nathan. Nathan langsung menepis tangan Raffi dengan tatapan benci.

Sementara itu, Anja, yang sudah melangkah mendekati mobil Raffi terkejut saat melihat Nathan keluar dari dalam mobil.

"Mau kemana Nathan?"

"Oh, aku turun di sini aja Bu," ucap Nathan sambil tersenyum.

"Loh, tapi ini kan masih jauh dari sekolah!"

"Nggak apa-apa Bu, kebetulan aku ada urusan di dekat sini," bohong Nathan.

"Oh, begitu. Ya sudah, hati-hati ya pulangnya. Jangan lupa, besok sudah masuk sekolah seperti biasa. Les privat kita juga akan dimulai lagi,"

"Baik Bu," Nathan mendekati Anja dan mencium tangannya. "Bu Anja juga hati-hati di jalan,"

"Terima kasih," ucap Anja sambil tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam mobil. Nathan hanya mampu memperhatikan gurunya itu dari jauh dengan tangan terkepal menahan marah.

Di dalam mobil, Anja merasakan ada perubahan pada suasana hati Raffi. Laki-laki itu tampak gelisah dan kesal sendiri.

"Sayang," Anja menyentuh bahu Raffi lembut. "Kamu nggak apa-apa?"

Raffi menghela napas panjang. "Aku nggak suka sama muridmu itu,"

"Hah?" Anja mengernyitkan dahi. "Maksud kamu Nathan? Kenapa? apa dia mengatakan sesuatu yang tidak sopan? Maaf ya, Nathan memang begitu anaknya, agak rebel. Aku harap kamu maklum,"

"Kenapa kamu malah membela dia, sih?!" Raffi yang penuh emosi menaikkan volume suaranya. Anja sampai sedikit terlonjak karena terkejut.

"Aku nggak ngebelain dia, Raffi. Aku hanya bilang kalau Nathan memang sikapnya begitu, jadi aku ingin kamu sebagai orang dewasa untuk memakluminya,"

"Ya sama aja itu kamu belain dia!" Raffi semakin ngegas. "Mulai sekarang, aku minta kamu untuk nggak deket-deket sama dia lagi!"

"Loh, tapi kan dia anak muridku, dan aku adalah wali kelasnya. Gimana caranya untuk nggak deket-deket sama dia, coba?"

"Ya usaha kek! Kamu pindah kelas apa gimana!"

"Astaga, Raffi.. Kamu kenapa, sih? Jangan kaya gini dong. Kamu kan tau kalau aku baru masuk kerja beberapa bulan. Ya masa aku udah langsung minta ganti kelas sih? Apa kata kepala sekolah dan rekan-rekan kerjaku coba? Sudahlah sayang, jangan kebawa emosi, oke?"

"Anak ingusan itu suka sama kamu! Dia bilang padaku suruh ngelepasin kamu! Gila nggak, sih?! Siapa yang nggak emosi coba kalau digituin!"

"Astaga, jadi kamu emosi cuma gara-gara anak itu bilang suka padaku? Raffi, sepertinya kamu salah paham. Mungkin maksud Nathan, dia menyukaiku sebagai gurunya, bukan rasa suka seperti yang kamu pikirkan."

"Oh, jadi sekarang aku yang salah?!"

"Astaga... Bukan begitu Raffi..."

"Jadi gini, rasanya udah berjuang tapi malah nggak dihargai!" Raffi menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Kamu tahu nggak? Aku udah jauh-jauh datang ke sini demi ketemu kamu! Aku sampai bela-belain cuti dari kerja, nyetir lima jam! Tapi kayaknya kamu nggak ngelihat usahaku sama sekali dan malah sibuk ngebelain cowok lain!"

Anja menghela napas panjang. Ia memandangi Raffi dengan campuran lelah dan kecewa. Ini bukan pertama kalinya Raffi terlalu terbawa emosi, dan setiap kali hal ini terjadi, ia selalu merasa tidak didengar.

"Raffi, dengar dulu," ucap Anja, suaranya lebih tenang. "Aku tahu kamu berjuang. Aku menghargai itu. Tapi kamu harus mengerti, aku punya tanggung jawab sebagai guru. Kamu nggak bisa nyuruh aku menjauh dari muridku hanya karena kamu cemburu. Itu nggak adil."

Raffi mendengus, menatap lurus ke depan. "Nggak adil? Apa menurut kamu, perasaanku sekarang adil?"

Anja merasa semakin sulit menahan diri. "Ini bukan tentang keadilan perasaan, Raffi. Ini tentang bagaimana kita bisa saling percaya. Kamu nggak bisa terus-terusan cemburu sama murid-muridku. Nathan cuma anak remaja yang sedang mencari arah hidupnya, dan aku harus ada di sana sebagai pembimbing, bukan malah menjauhi dia."

Raffi memutar matanya. "Pembimbing? Kayanya dia lebih dari sekadar murid buat kamu sekarang."

"Raffi!" Anja meninggikan suaranya, jarang sekali ia kehilangan kontrol seperti ini. "Cukup! Kamu harus berhenti berasumsi yang nggak-nggak tentang aku dan Nathan. Dia cuma muridku, itu saja. Masalah ini terjadi bukan karena dia, tapi karena kamu yang nggak percaya padaku."

"Sekarang kamu bahkan berani membentak aku demi cowok lain,"

"Astaga.." Anja menarik napas panjang lagi. Ia tahu percakapan ini akan sia-sia. Pada akhirnya dia memilih untuk diam.

Karena mereka berdua sama-sama terdiam, suasana di dalam mobil terasa semakin tegang. Hening yang berat menggantung di antara mereka, seolah-olah kata-kata berikutnya akan menentukan arah hubungan mereka selanjutnya. Anja menoleh keluar jendela, melihat Nathan yang masih berdiri di tepi jalan, sosoknya semakin kecil dalam pandangan. Cowok itu masih terus memandanginya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Terpopuler

Comments

Nersi Ika nilasari

Nersi Ika nilasari

Dasar mau nikah masih selingkuh😌

2024-12-19

1

Ney Maniez

Ney Maniez

iihhhh

2025-03-11

0

zeus

zeus

LDR itu spt mendekatkan pada perpisahan
Krn Biasanya Ujung2nya tjd perselingkuhan...

2025-01-09

1

lihat semua
Episodes
1 1. Telat
2 2. Kenalan
3 3. Beri Saya Waktu
4 4. Kesalahan
5 5. Berkunjung ke Rumah Nathan
6 6. Tepati Janjimu
7 7. Les Privat
8 8. Permintaan Nathan
9 9. Curang
10 10. Kencan
11 11. Pacar Bu Anja
12 12. Emosi
13 13. Bu Anja Kenapa?
14 14. Kebenaran yang Terkuak
15 15. Sang Penyelamat
16 16. Bangkit
17 17. Berantem
18 18. Syarat
19 19. Nathan Dikeluarkan
20 20. Membujuk Nathan + KUIS BERHADIAH!
21 21. Setelah Tujuh Tahun
22 22. Tetangga Baru
23 23. Si Joni
24 24. Bertemu
25 25. Restu Ibu
26 26. Berangkat Bareng
27 27. Merayu
28 28. LARIII!!!
29 29. Sayang?
30 30. Jadikan Aku Pacarmu + PENGUMUMAN PEMENANG!
31 31. Mimpi
32 32. Kongkalikong
33 33. Lima Puluh Juta
34 34. Beli Furnitur
35 35. Kamu
36 36. Pandangan Pertama
37 37. Pengantin Baru
38 38. Kecelakaan
39 39. My Love
40 40. Jadian
41 41. Kakak Ipar
42 42. Sudah Berapa Lama?
43 43. Pacar Menyebalkan
44 44. Kado Ulang Tahun
45 45. Peraturan Aneh
46 46. Bau
47 47. Naik Motor
48 48. Singa
49 49. Warung
50 50. Hantu
51 51. Bertemu
52 52. Wanita Tua
53 53. Rebut Saja Pacarku
54 54. Kantor
55 55. Bioskop
56 56. Jendela
57 57. Pacarmu itu Posesif!
58 58. Rencana Cindy
59 59. Teh
60 60. Sepupu
61 61. Teater
62 62. Kebetulan?
63 63. Kebetulan (lagi)?
64 64. Marah
65 65. Maaf
66 66. Kalut
67 67. Rencana Cindy (2)
68 68. Jebakan
69 69. Terkuak
70 70. Jadi, Ini Keputusan Kamu?
71 71. Perasaan
72 72. Kau Mencintainya, Kan?
73 73. Permintaan Maaf
74 74. Penyesalan
75 75. Bersalah
76 76. Terimakasih
77 77. Hukuman
78 78. Serius
79 79. I Love You, Bu Guru
80 80. Pajak
81 81. Dua Minggu?
82 82. Wanita Pilihan
83 83. Sah!
84 84. Praktek
85 85. Duhai Senangnya Pengantin Baru...
86 86. Drama Pagi
87 87. Bertemu dengan Masa Lalu
88 88. Hajar!
89 89. Pembalasan Dendam
90 90. Bahagia
Episodes

Updated 90 Episodes

1
1. Telat
2
2. Kenalan
3
3. Beri Saya Waktu
4
4. Kesalahan
5
5. Berkunjung ke Rumah Nathan
6
6. Tepati Janjimu
7
7. Les Privat
8
8. Permintaan Nathan
9
9. Curang
10
10. Kencan
11
11. Pacar Bu Anja
12
12. Emosi
13
13. Bu Anja Kenapa?
14
14. Kebenaran yang Terkuak
15
15. Sang Penyelamat
16
16. Bangkit
17
17. Berantem
18
18. Syarat
19
19. Nathan Dikeluarkan
20
20. Membujuk Nathan + KUIS BERHADIAH!
21
21. Setelah Tujuh Tahun
22
22. Tetangga Baru
23
23. Si Joni
24
24. Bertemu
25
25. Restu Ibu
26
26. Berangkat Bareng
27
27. Merayu
28
28. LARIII!!!
29
29. Sayang?
30
30. Jadikan Aku Pacarmu + PENGUMUMAN PEMENANG!
31
31. Mimpi
32
32. Kongkalikong
33
33. Lima Puluh Juta
34
34. Beli Furnitur
35
35. Kamu
36
36. Pandangan Pertama
37
37. Pengantin Baru
38
38. Kecelakaan
39
39. My Love
40
40. Jadian
41
41. Kakak Ipar
42
42. Sudah Berapa Lama?
43
43. Pacar Menyebalkan
44
44. Kado Ulang Tahun
45
45. Peraturan Aneh
46
46. Bau
47
47. Naik Motor
48
48. Singa
49
49. Warung
50
50. Hantu
51
51. Bertemu
52
52. Wanita Tua
53
53. Rebut Saja Pacarku
54
54. Kantor
55
55. Bioskop
56
56. Jendela
57
57. Pacarmu itu Posesif!
58
58. Rencana Cindy
59
59. Teh
60
60. Sepupu
61
61. Teater
62
62. Kebetulan?
63
63. Kebetulan (lagi)?
64
64. Marah
65
65. Maaf
66
66. Kalut
67
67. Rencana Cindy (2)
68
68. Jebakan
69
69. Terkuak
70
70. Jadi, Ini Keputusan Kamu?
71
71. Perasaan
72
72. Kau Mencintainya, Kan?
73
73. Permintaan Maaf
74
74. Penyesalan
75
75. Bersalah
76
76. Terimakasih
77
77. Hukuman
78
78. Serius
79
79. I Love You, Bu Guru
80
80. Pajak
81
81. Dua Minggu?
82
82. Wanita Pilihan
83
83. Sah!
84
84. Praktek
85
85. Duhai Senangnya Pengantin Baru...
86
86. Drama Pagi
87
87. Bertemu dengan Masa Lalu
88
88. Hajar!
89
89. Pembalasan Dendam
90
90. Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!