Waktu yang berlalu, luka yang masih ada

Lima tahun kemudian.

Terlihat, seorang gadis kecil tengah berdandan ria di depan cermin kecilnya. Rambut pendek bergelombang miliknya di sisir serapih mungkin. Lalu, ia memakai mahkota kecil di atas kepalanya seolah ia adalah sang putri. Senyumannya merekah, ia menatap pantulan dirinya yang terlihat sangat cantik.

"Tantiknaaa buat jadi pacal pangelan iniii!" Seru gadis kecil itu sambil memegangi kedua pipi gembulnya.

TING TONG!

TING TONG!

Mendengar suara bell, gadis kecil itu berlari keluar dari kamarnya. Bahkan, ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Melihat sosok gadis kecil itu, Elara yang baru saja keluar dari kamarnya memekik panik.

"DARA! HATI-HATI!" Teriak Elara. Dara Calista, gadis kecil yang Elara lahirkan empat tahun yang lalu. Ia memilih menyewa rumah dan membesarkan putrinya seorang diri. Perlahan, keadaan Elara jauh lebih membaik setelah putrinya lahir. Dunianya perlahan kembali pulih, kehidupan nya pun kembali hidup.

Cklek!

Dara membuka pintu rumahnya, senyumannya merekah melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu. "Mana bakcona Dala? Kemalin Dala minta Onty bawakan loh! Cudah dandan tantik Dala ini buat makan bakco, nda lupa ci?" Ujar bocah menggemaskan itu saat melihat Keiko yang datang dengan membawa paper bag di tangannya.

"Hais, selalu minta jajan. Gak minta sugar daddy aja? Biar Aunty carikan?" Celetuk Keiko yang mana mendapat pelototan tajam dari Elara.

"Kei, jangan ajari putriku yang aneh-aneh." Tegur Elara.

Keiko terkekeh pelan, ia menyerahkan paper bag yang berisikan pesanan Dara. Melihat itu, Dara meraih paper bag yang Keiko berikan dan mengintipnya sedikit. "Bakcona Dalaaa! Onty cayangna Dala, Dala makan dulu yah. Balu nanti kita cali cugal daddy!" Ujar Dara dan berlari ke dapur untuk mengambil mangkok.

Mendengar itu, Elara dan Keiko sama-sama melongo di buatnya. Mereka tak menyangka jika Dara akan mengatakan hal itu. Tadinya, Keiko niat bercanda saja. Tak di sangka gadis kecil itu cepat tanggap perkataannya.

"Itu ...."

"Masuklah, aku pikir kamu tidak datang." Ajak Elara.

"Mana mungkin, keponakanku menginginkan bakso. Masa tidak aku belikan? Kamu lihat lipatan tangan gembulnya itu? Pipi bulat yang meluber? Sangat menggemaskan bukan? Hais, Dara untukku saja bagaimana? Kau bisa membuat yang baru." Sahu Keiko dengan mengedipkan matanya jail.

Elara melirik sinis, "Buat aja sendiri," Ujar Elara yang kesal membuat Keiko tertawa.

"Lagian, umurmu sudah hampir tiga puluh tahun. Kenapa tidak menikah? Dara sudah empat tahun, tapi Tantenya ini belum menemukan tambatan hati." Lanjut Elara seraya membenarkan letak mangkok bakso milik putrinya.

"Hais, belum menemukan yang cocok. Lagian, menikah bukan tujuan hidupku." Jawab Keiko dengan santai.

"Dokter Agam gimana? Dia tampan dan mapan, kamu tidak tertarik?" Tanya Elara dengan jail.

Keiko membulatkan matanya, "Sembarangan! Dia tuh sukanya sama kamu tahu! Tapi kamunya gak peka-peka!" Omel Keiko.

"Jangan mengarang Kei, gak lucu." Tegur Elara.

"Dih, yaudah kalau gak percaya." Ujar Keiko seraya melirik kesal ke arah sahabatnya itu.

Elara menggelengkan kepalanya, sahabatnya satu itu sering sekali meledeknya dengan Dokter Agam. Sebenarnya Keiko belum tertarik dengan yang namanya pernikahan. Walau begitu, Keiko begitu tertarik dengan pria tampan yang ia temui di mana saja. Sifatnya, bahkan sering di tiru oleh Dara yang masih tahap pengenalan hal baru.

"Celain cuka bakco, Dala juga juga cate. Nda pelcaya? Coba beliin Dala cate becok." Celetuk Dara secara tiba-tiba.

"Yeee, ada aja akalnya nih bocah yah!" Omel Keiko seraya menarik gemas pipi bulat Dara.

"Mama cudah, Dala mau cucu ada? Cemalem Dala liat ada tempatna becal. Nda mungkin kocong ci?" Ujar Dara dengan mata bulatnya.

"Susu untuk nanti malam, nanti kamu akan bertambah bulat jika terus meminum susu." Sahut Elara seraya membersihkan mulut putrinya.

"Ngapain pake bahasa halus El? Bilang saja, kuruskan badanmu dulu baru minum susu! Hahaha!!" Dara melirik sinis, bibirnya mengerucut di sertai matanya yang menyipit.

"Onty jelek! Pantecan nda laku!" Desis Dara.

"Kamu ....,"

"Sudahlah, aku akan berangkat ke kantor. Ayo Dara siap-siap, kamu akan Mama antar sekolah." Ucap Elara melerai perdebatan keduanya.

"Yaudah, kalau gitu aku ke butik dulu. Peluk Aunty cantik dulu lemper, nanti Aunty kasih uang dua lebuuuu." Keiko memeluk Dara yang memasang raut wajah pasrah. Ia senang sekali meledek dan menjaili bocah menggemaskan itu.

"Cudahlah, kemalin telol gulung cekalang lempel. Pacalan kali mukana Dala ini, nda papa demi uang dua lebuuu." Batin anak itu menerima keadaan.

Sementara itu di tempat berbeda, terlihat Arion baru saja keluar dari kamarnya. Ia melewati keluarganya yang sedang makan di meja makan. Melihat kehadiran Arion, seorang wanita paruh baya pun memanggilnya. Terpaksa, Arion menghentikan langkahnya dan menatap ibunya itu.

"Arion, Dahlia datang untuk sarapan bersama kita. Ayo, kita sarapan dulu." Seru Damara, yang merupakan ibu dari Arion.

Arion melirik wanita cantik yang duduk di sebelah Damara, "Aku harus ke perusahaan JR Group hari ini, tidak sempat sarapan." Ujar Arion dengan tatapan datarnya.

"Hais, makanlah dulu. Dahlia datang dan membawakanmu masakan buatannya. Dia sudah bersusah payah, jadi hargai dia." Tegur Damara.

"Aku tidak meminta dia memasaknya." Jawab Arion dan beranjak pergi meninggalkan Damara yang berseru memanggilnya.

"Astaga anak itu, maafkan Arion yah sayang." Ujar Damara merasa tak enak pada sosok wanita cantik di sebelahnya itu.

"Enggak masalah Tante, mungkin Arion memang sedang buru-buru. Aku masak juga untuk Ervan, dia sangat suka masakanku. Iya kan Ervan?" Dahlia beralih menatap Ervan yang lahap memakan masakannya. Anak lali-laki tampan berusia sebelas tahun itu mengangguk seraya tersenyum tipis.

"Sudah cocok jadi Mamanya Ervan!" Seru Damara yang mana membuat Ervan seketika menghentikan gerakan mulutnya.

"Mama? Bagaimana kabarnya sekarang yah?" Batin Ervan seraya memandang lurus ke depan. Kepergian Elara saat itu, menyisakan luka sendiri bagi Ervan. Ia tak akan pernah lupa momen, dimana sang Mama pergi meninggalkannya.

.

.

.

.

Elara menurunkan Dara di sekolahnya, ia memastikan bocah menggemaskan itu masuk ke dalam sekolah dengan aman. Setelah itu, ia lanjut melajukan mobilnya pergi ke kantornya. Mobilnya terlihat murah, yang dirinya beli dari hasil kerja kerasnya selama ini. Tapi walau begitu, mobil itu setidaknya dapat melindunginya dan putrinya dari panas dan hujan.

Setelah memastikan mobil sang mama pergi, Dara keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan senyuman lebar, ia berlari keluar gerbang sekolahnya dan menghampiri penjual bubur sumsum yang tengah melayani pembeli. Satpam melihat Dara keluar, tetapi ia hanya memantau gadis kecil itu dari pos satpamnya.

"Abang, beli dua lebu." Pinta Dara dengan memegang uangnya di depan d4da.

"Siap neng cantik, tumben agak siang." Sahut penjual itu yang sepertinya sudah mengenali Dara.

"Tunggu Mama pelgi dulu, balu jajan. Nanti malam di libulin cucu nya Dala kalau Mama tahu Dala jajan." Jawab Dara tanpa mengalihkan pandangannya dari bubur sumsum yang sangat menggiurkan.

"Pak, bubur sum-sumnya masih ada? Saya mau satu,"

Dara mengalihkan pandangannya, keningnya mengerut dalam saat melihat sosok pria tinggi di sampingnya yang memiliki wajah yang sangat tampan. Bahkan, pria itu terc1um sangat wangi, aroma parfumnya sangat memanjakan hidung Dara.

"Gantengna ini olang." Gumam Dara tanpa sadar.

Pria itu menunduk, ia baru sadar akan gadis kecil di sisinya. Dengan ramah, ia tersenyum. Mendapat senyuman pria itu, Dara memegangi pipi gembulnya dengan gemas. "Cenyumnaaaa!! Cemanis bubul cyum-cyum!" Pekik Dara dengan girang.

Pria itu tertawa, ia akhirnya berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Dara. "Siapa nama mu? Kenapa kamu sangat lincah dalam berbicara hum?"

Di tanya seperti itu, Dara tersenyum malu-malu. "Namanya Dalaaa, Daaaalaaa. panggil cayangku juga boleh." Ujar Dara dengan menahan senyumnya.

Pria itu tersenyum, ia mengelus pipi gembul Dara yang sangat menggemaskan. "Arion, kamu bisa memanggil Om Ar." Terang pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Arion.

Dara mengerjapkan matanya, "Pelnah dengel, tapi lupa." Cicit Dara seraya berpikir keras.

Arion tersenyum, ia sungguh gemas dengan gadis kecil di hadapannya. "Anak ini sangat imut, seperti boneka. Ayahnya pasti beruntung sekali memilikinya." Batin Arion yang masih tetap mempertahankan senyumnya.

Setelah pesanan Dara jadi, anak itu meraih pesanannya. Saat akan membayar, penjual bubur sumsum itu menolaknya dan mengatakan jika Arion lah yang sudah membayarnya. Dengan senang hati, Dara tak akan menolaknya.

"Om baik, celing-celing bayalin Dala yah!" Seru Dara sebelum beranjak masuk ke dalam sekolahnya.

Arion tersenyum, ia menatap kepergian Dara dengan perasaan yang tak menentu. Dia merasa aneh dengan perasaannya, tapi ia tidak tahu perasaan apa itu.

"Emang lucu dia anaknya, ibunya cantik banget! Sayangnya, gak pernah lihat model ayahnya gimana." Celetuk penjual bubur sumsum itu. Arion tak menanggapinya, ia membayar bubur sumsum pesanannya dan Dara. Lalu, kembali masuk ke dalam mobilnya.

Sesampainya di mobil, Arion terngiang-ngiang dengan wajah Dara yang menurutnya sangat tak asing di matanya. Mata gadis kecil itu, tatapannya, rambut bergelombangnya, seolah ia merasa familiar. Arion kembali mengingat celotehan Dara yang membuatnya tertawa. "Astaga, aku sudah lama tidak tertawa. Tapi, gadis kecil itu membuatku tertawa hari ini." Gumam Arion seraya menggelengkan kepalanya pelan. Ia lalu melanjutkan perjalanan nya menuju perusahaan yang ia tuju.

______

Dalaaaa, belum lahir aja udah di cariin onty-onty🥶

Terpopuler

Comments

Alistalita

Alistalita

Arion masih betah menduda pasti cintanya pada Elara masih ada, dan sepertinya waktu mereka bersama Elara
bukan tidak mau mengurus Ervan, bisa jadi dia diam2 perhatian pada Ervan pada saat tidur. Mungkin sebetulnya Ervan tahu dan ingin mamahnya kembali lagi, kira2 kapan dan dimana Elara dan Arion bertemu apa diperusahaan yang ditempati Elara bekerja? bisa jadikan Elara sekertaris dan bosnya diganti sam Arion🤭

Semoga mereka segera bertemu, Elara
ada yang nunguin dokter adam tapi dia malah pokus pada Dara dan Arion juga dijodohin dengan Dahlia tapi memilih pokus juga pada anak dan perusahaan.
Irfan harus tahu kondisi Elara yang dulu, tapi tak semudah itu. Luka yang Elara torehkan begitu dalam.
Sayangnya Arion tidak peka dengan kondisi Elara, padahal saat itu Elara sangaat depresi untungnya ada keiko dan dokter adam kalau tidak mungkin dah ikut mengusul keluarganya🤧

2024-09-09

31

Jumria Jumi

Jumria Jumi

aku ma nggak lama langsung kasi pavorit karna karyanya author yg satu ini selalu bagus

2024-12-12

0

Alan Banghadi

Alan Banghadi

Dara yg imut dan cantik semoga kamu bisa tau kalo yg tadi itu Ayah kandungmu

2025-01-15

0

lihat semua
Episodes
1 Luka yang tak berdarah
2 Keadaan yang sebenarnya
3 Waktu yang berlalu, luka yang masih ada
4 Om ganteng!
5 Aroma parfum yang tak asing
6 Bekas operasi di perut Elara
7 Kepulangan Elara
8 Bertemu kembali
9 Ego yang saling berperang
10 Om ganteng!
11 Siapa yang harus di salahkan?
12 Pertemuan Dahlia dan Elara
13 Situasi yang tak terduga
14 Kamu masih istriku!
15 Kebencian karena luka
16 Taman kota yang penuh kejutan
17 Tangisan Ervan
18 Cinta Dokter Agam
19 Kehadiran Damara
20 Hasil yang di harapkan
21 PAPA!
22 Dara adalah putri kandungku
23 Turunkan egomu!
24 Hal yang ingin ku dengar
25 Obat apa?
26 Pagi yang beda
27 Patah hati
28 Aku terima kebencian mereka
29 Dia masih istriku!
30 Nenek lampiiil!
31 Nasi goreng pertama Mama
32 Perlawanan Elara
33 Mulai mencari tahu
34 Mama, ayo pulang
35 Perdebatan dua jomblo
36 Alasan kepergianmu
37 Hancurnya hati seorang ibu
38 Kita lalui bersama
39 Hari ibu
40 Album biru
41 Ketakutan Ervan
42 Tugas seorang kakak
43 Cemburunya Arion
44 Aku cemburu!
45 Hiii Abaaaang!
46 Perhatian Mama
47 Sikap manis Arion
48 Aku sangat mencintainya~
49 Tuan dan Nyonya besar Zefrano
50 Teman baru Dara
51 Terkaman Mora
52 Kumpul keluarga
53 Keluarga impian
54 Gagal lagi, gagal lagi
55 Pencegah kehamilan
56 Hanya masa lalu
57 Rebutan dua bocah
58 Membangun ingatan indah bersamamu~
59 Baju jaring
60 Tenanglah sayang!
61 Damara yang mulai luluh
62 Butik Keiko
63 Di balik kejudesan Damara
64 Perdebatan panas
65 Selalu ada untuk nya ~
66 Kebahagiaan yang di impikan
67 Pemilik mata indah
68 Seharusnya aku tidak bercerita
69 Jaling batagol
70 Pembelaan mama mertua
71 Ikan Koi Kakek
72 Kue untuk Mama
73 EAR, gabungan nama kita
74 Kejailan Remos
75 Mencoba membujuk si kecil
76 Tindakan cepat seorang ayah
77 Dia pasti bahagia bersamaku
78 Keanehan Elara
79 Dua orang patah hati yang saling bertemu
80 Kaos kaki hijau pilihan Mama
81 Dua bocil, dengan kehebohannya
82 Manusia paling bawel!
83 Aku bisa kelepasan denganmu!
84 Jajaaaan!
85 lolos satu?
86 Hamil?
87 Garis dua yang samar
88 Kehamilan Elara
89 Sikap bijak Ervan
90 Hari pertama sekolah
91 Buang aja adeknya, ganti balu!
92 Pasar malam
93 Rujak pedas
94 Aku mencintai mu dan dia
95 Tentang Asisten Henri
96 Gara-gara kecoa
97 Kita nikah yuk!
98 Aku tahu bagaimana Henri
99 Izin sama bumil
100 Aku akan menjemputnya!
101 Efek Hamil muda
102 Keadaan yang memanas
103 Semakin lemah
104 Isi wasiat
105 Pulang bertemu istri~
106 Gak usah mandi!
107 Lampu hijau?
108 Ooo Aliooon!
109 Saran Arion
110 Cepeda balu atau batagol?
111 Persiapan menyambut kelahiran baby
112 Bidadari cantikku
113 Kalau bica dua, kenapa catu?
114 Kotak apa itu?
115 Ael ijoooo!
116 Kupu-kupu hitam
117 Keadaan yang tak terduga
118 Titik terendah Arion
119 Kemungkinan untuk bertahan
120 Berjuanglah sayang~
121 Kejutan yang kamu maksud
122 Kapan programnya Kei?
123 Janji Mama
124 Kemajuan?
125 Mimpi Dara
126 Dalang dari pembebasan Edwin
127 Menjatuhkan Remos
128 Saat yang di tunggu
129 Kehilangan mu akan jauh lebih menyakitkan
130 Kembali kumpul bersama
131 Keinginan Dara
132 Pangelan Dalaaa
133 Bumiil heboh datang!
134 Terima kasih sayang
135 Dramaa tiga anak
136 Terima kasih cinta
137 Pertemuan yang tak di rencanakan
138 Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya
139 Tidak akan lagi melepaskanmu~
140 Tok Tok, lewat bentar
141 Karya baru
142 Bonchap
143 Bonchap
144 Bonchap
145 Bonchap
146 UNDANGAN!
147 Cinta Yang Kamu Pilih~
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Luka yang tak berdarah
2
Keadaan yang sebenarnya
3
Waktu yang berlalu, luka yang masih ada
4
Om ganteng!
5
Aroma parfum yang tak asing
6
Bekas operasi di perut Elara
7
Kepulangan Elara
8
Bertemu kembali
9
Ego yang saling berperang
10
Om ganteng!
11
Siapa yang harus di salahkan?
12
Pertemuan Dahlia dan Elara
13
Situasi yang tak terduga
14
Kamu masih istriku!
15
Kebencian karena luka
16
Taman kota yang penuh kejutan
17
Tangisan Ervan
18
Cinta Dokter Agam
19
Kehadiran Damara
20
Hasil yang di harapkan
21
PAPA!
22
Dara adalah putri kandungku
23
Turunkan egomu!
24
Hal yang ingin ku dengar
25
Obat apa?
26
Pagi yang beda
27
Patah hati
28
Aku terima kebencian mereka
29
Dia masih istriku!
30
Nenek lampiiil!
31
Nasi goreng pertama Mama
32
Perlawanan Elara
33
Mulai mencari tahu
34
Mama, ayo pulang
35
Perdebatan dua jomblo
36
Alasan kepergianmu
37
Hancurnya hati seorang ibu
38
Kita lalui bersama
39
Hari ibu
40
Album biru
41
Ketakutan Ervan
42
Tugas seorang kakak
43
Cemburunya Arion
44
Aku cemburu!
45
Hiii Abaaaang!
46
Perhatian Mama
47
Sikap manis Arion
48
Aku sangat mencintainya~
49
Tuan dan Nyonya besar Zefrano
50
Teman baru Dara
51
Terkaman Mora
52
Kumpul keluarga
53
Keluarga impian
54
Gagal lagi, gagal lagi
55
Pencegah kehamilan
56
Hanya masa lalu
57
Rebutan dua bocah
58
Membangun ingatan indah bersamamu~
59
Baju jaring
60
Tenanglah sayang!
61
Damara yang mulai luluh
62
Butik Keiko
63
Di balik kejudesan Damara
64
Perdebatan panas
65
Selalu ada untuk nya ~
66
Kebahagiaan yang di impikan
67
Pemilik mata indah
68
Seharusnya aku tidak bercerita
69
Jaling batagol
70
Pembelaan mama mertua
71
Ikan Koi Kakek
72
Kue untuk Mama
73
EAR, gabungan nama kita
74
Kejailan Remos
75
Mencoba membujuk si kecil
76
Tindakan cepat seorang ayah
77
Dia pasti bahagia bersamaku
78
Keanehan Elara
79
Dua orang patah hati yang saling bertemu
80
Kaos kaki hijau pilihan Mama
81
Dua bocil, dengan kehebohannya
82
Manusia paling bawel!
83
Aku bisa kelepasan denganmu!
84
Jajaaaan!
85
lolos satu?
86
Hamil?
87
Garis dua yang samar
88
Kehamilan Elara
89
Sikap bijak Ervan
90
Hari pertama sekolah
91
Buang aja adeknya, ganti balu!
92
Pasar malam
93
Rujak pedas
94
Aku mencintai mu dan dia
95
Tentang Asisten Henri
96
Gara-gara kecoa
97
Kita nikah yuk!
98
Aku tahu bagaimana Henri
99
Izin sama bumil
100
Aku akan menjemputnya!
101
Efek Hamil muda
102
Keadaan yang memanas
103
Semakin lemah
104
Isi wasiat
105
Pulang bertemu istri~
106
Gak usah mandi!
107
Lampu hijau?
108
Ooo Aliooon!
109
Saran Arion
110
Cepeda balu atau batagol?
111
Persiapan menyambut kelahiran baby
112
Bidadari cantikku
113
Kalau bica dua, kenapa catu?
114
Kotak apa itu?
115
Ael ijoooo!
116
Kupu-kupu hitam
117
Keadaan yang tak terduga
118
Titik terendah Arion
119
Kemungkinan untuk bertahan
120
Berjuanglah sayang~
121
Kejutan yang kamu maksud
122
Kapan programnya Kei?
123
Janji Mama
124
Kemajuan?
125
Mimpi Dara
126
Dalang dari pembebasan Edwin
127
Menjatuhkan Remos
128
Saat yang di tunggu
129
Kehilangan mu akan jauh lebih menyakitkan
130
Kembali kumpul bersama
131
Keinginan Dara
132
Pangelan Dalaaa
133
Bumiil heboh datang!
134
Terima kasih sayang
135
Dramaa tiga anak
136
Terima kasih cinta
137
Pertemuan yang tak di rencanakan
138
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya
139
Tidak akan lagi melepaskanmu~
140
Tok Tok, lewat bentar
141
Karya baru
142
Bonchap
143
Bonchap
144
Bonchap
145
Bonchap
146
UNDANGAN!
147
Cinta Yang Kamu Pilih~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!