Membeli bibit

Elina dan Edgar segera membahas rencana pembangunan asrama dan pabrik yang sudah lama Elina pikirkan. Dia ingin memastikan semuanya sesuai rencana agar dapat segera berjalan dengan baik.

"Asramanya akan tiga lantai," ujar Elina, memberikan gambarnya ke Edgar

 "Aku ingin satu lorong di setiap lantai memiliki 14 kamar, dengan 7 kamar di setiap sisi. Setiap kamar harus cukup luas untuk menampung empat orang, dengan tempat tidur susun. Aku juga mau setiap kamar punya kamar mandi di dalamnya, supaya para pekerja nyaman."

Edgar mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mencatat detail penting.

"Berarti, luas kamar sekitar 24 meter persegi, ya? Mungkin sekitar 4 meter kali 6 meter, cukup untuk empat orang. Kamar mandi di dalam, bagaimana ukurannya?" tanya Edgar.

"Kira-kira 3 meter kali 2 meter," jawab Elina sambil merenung. "Sekitar 6 meter persegi, cukup untuk shower, toilet, dan wastafel."

Edgar mengangguk, menghitung-hitung dalam benaknya. "Berarti, total satu kamar dengan kamar mandinya sekitar 30 meter persegi."

"Ya, benar," jawab Elina. "Jadi kalau ada 14 kamar per lantai, total luasnya sekitar 420 meter persegi. Jangan lupa tambahkan lorongnya, mungkin sekitar 1,5 meter lebar dan panjangnya sekitar 35 meter. Itu berarti tambahan 52,5 meter persegi untuk lorong di setiap lantai."

"Jadi satu lantai asrama ini totalnya sekitar 472,5 meter persegi," Edgar menyimpulkan. "Kalau ada tiga lantai, berarti seluruh asrama akan memakan luas sekitar 1.417,5 meter persegi."

Elina tersenyum, puas dengan perhitungannya. "Lokasinya sudah kupikirkan. Aku ingin asrama ini dibangun di dataran tinggi, dekat dengan pegunungan. Udaranya segar dan jauh dari kebisingan, jadi cocok untuk tempat tinggal para pekerja atau tamu yang datang."

Edgar mengangguk setuju, memahami alasan Elina memilih lokasi tersebut. "Bagus untuk memberikan kenyamanan," tambahnya. "Lalu untuk pabrik?"

"Untuk pabrik pengemasan produk, aku ingin bangunnya di dataran rendah," Elina menjelaskan lebih lanjut. "Aksesnya harus mudah ke jalan utama supaya distribusi produk lebih lancar. Pabrik ini nanti akan mengurus pengemasan sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya."

"Berapa luas tanah yang kamu butuhkan untuk pabrik ini?" tanya Edgar, penasaran.

"Setelah kupikir-pikir, mungkin sekitar 1.500 hingga 2.000 meter persegi," jawab Elina.

"Karena di dalamnya akan ada ruang pengolahan, pengemasan, gudang penyimpanan, dan area distribusi. Mungkin di masa depan, aku ingin memperluas bisnis ini, jadi lebih baik tanahnya cukup luas untuk ekspansi."

Edgar setuju dengan semua perencanaan itu. Ia sudah bisa membayangkan asrama besar tiga lantai berdiri megah di atas tanah tinggi, sementara pabrik pengemasan sibuk di dataran rendah dengan segala aktivitas produksinya.

Elina kemudian teringat satu hal yang belum ia bahas, "Oh, aku hampir lupa soal kantin untuk asrama."

Edgar mengangguk, menunggu rincian lebih lanjut.

"Aku ingin kantinnya cukup luas, bisa menampung sekitar 100 orang sekaligus. Jadi, mungkin kita butuh ruang sekitar 200 meter persegi. Kantin ini harus nyaman untuk makan dan juga bisa jadi tempat berkumpul para penghuni asrama," jelas Elina, membayangkan suasana hangat dan ramai di kantin tersebut.

"Lokasinya di mana?" tanya Edgar, ingin memastikan letaknya tidak mengganggu aktivitas lain.

"Kantin ini akan kuletakkan di lantai dasar asrama, mungkin di bagian belakang gedung agar mudah diakses dari semua sisi. Kalau memungkinkan, aku juga ingin area luar yang bisa dijadikan tempat duduk outdoor, biar para penghuni bisa menikmati pemandangan sambil makan."

"Bagus, jadi total dengan kantin, luas lantai dasarnya akan bertambah sekitar 200 meter persegi," Edgar menghitung. "Apakah ada dapur di dalam kantin ini?"

"Ya, tentu saja," jawab Elina. "Dapurnya tidak perlu terlalu besar, cukup sekitar 50 meter persegi, hanya untuk memasak makanan harian. Kantin ini nantinya juga bisa menampung produk segar dari pabrik kita, jadi lebih praktis."

Edgar mencatat semua detail itu. "Dengan tambahan kantin dan dapur, rencana asrama ini semakin lengkap. Aku rasa para pekerja dan tamu yang tinggal di sini akan merasa sangat nyaman."

Elina tersenyum, merasa puas bahwa semua aspek dari pembangunan ini sudah diperhitungkan dengan matang.

Tapi da satu permasalah serius, dia kekurangan dana! Elina duduk termenung dan tak berdaya.

Uang yang ada di tangannya tidak sampai 1 miliar, sementara estimasi biaya pembangunan berkisar antara 7 hingga 8 miliar.

Meminjam di bank bukanlah pilihan, karena ia tidak memiliki riwayat kredit yang baik, penghasilan yang stabil, dan proses persetujuan yang rumit akan memakan waktu, sedangkan kebutuhan untuk membeli bibit dan memulai penanaman sangat mendesak.

Edgar yang melihat kegalauan di wajah Elina mencoba menawarkan solusi dengan mengatakan, "Aku bisa meminjamkannya padamu."

Namun, Elina segera menolak tawaran itu, merasa tidak ingin membebani siapapun. Ia menyadari bahwa ia mungkin terlalu terburu-buru dalam merencanakan semuanya.

Yang paling penting sekarang adalah fokus pada langkah pertama, yaitu membeli bibit dan segera mulai menanam agar buah dan sayur yang ada di dalam ruang bisa dikeluarkan dan dijual.

"Edgar, di mana kita bisa membeli bibit yang baik?" tanya Elina, penuh harapan.

Edgar segera menjawab, "Aku punya kenalan, Paman Zhou. Dia berada di kabupaten. Apakah kau ingin pergi melihatnya terlebih dahulu?"

Elina mengangguk, “Lebih cepat lebih baik.” Mereka pun segera meninggalkan desa.

...****************...

Setelah menempuh perjalanan, mereka tiba di Kebun Zhou, sebuah tempat yang dikenal dengan tanaman subur dan bibit berkualitas.

Ketika mereka keluar dari mobil, mereka disambut oleh Paman Zhou, seorang pria paruh baya dengan wajah ramah dan berpenampilan sederhana.

Ia mengenakan kaos lengan pendek yang sedikit kotor, celana pendek, dan topi jerami yang melindungi kepalanya dari terik matahari. Jari-jarinya yang kasar menunjukkan bahwa ia adalah seorang petani yang rajin bekerja. Paman Zhou mengajak mereka untuk melihat bibit-bibit yang ia miliki.

Setelah berkeliling di kebun yang rimbun, Elina merasa puas melihat banyak bibit yang tumbuh dengan baik dan subur.

Ia menghampiri Paman Zhou dan bertanya, "Bagaimana dengan harganya?"

Paman Zhou tersenyum lebar, bisnis yang besar akan segera datang, pikirnya

"Kau membutuhkan bibit apa saja? "

Elina berkata "Stroberi, jeruk dan mangga"

Paman Zhou tersenyum dan menjawab "Untuk bibit stroberi, aku bisa memberikan harga khusus jika kau membeli dalam jumlah besar."

Elina berpikir sejenak. "Aku berencana menanam 12 hektar tanah. Tiga hektar untuk mangga, empat hektar untuk jeruk, dan lima hektar untuk stroberi. Untuk stroberi, berapa banyak yang perlu aku beli?"

Paman Zhou menghitung, "Biasanya, satu hektar membutuhkan sekitar 5.000 bibit stroberi. Jadi, untuk lima hektar, kau memerlukan sekitar 25.000 bibit. Harganya Rp2.000 per bibit, jadi totalnya Rp50.000.000."

"Untuk jeruk dan mangga?" tanya Elina.

"Pohon jeruk dan mangga membutuhkan lebih sedikit bibit, sekitar 400 pohon per hektar. Jadi, untuk empat hektar jeruk, kau butuh 1.600 pohon, dan untuk tiga hektar mangga, kau butuh 1.200 pohon. Harganya Rp25.000 per pohon jeruk, dan Rp30.000 per pohon mangga," jawab Paman Zhou.

Elina menghitungnya dan berkata "Berarti, untuk jeruk, total biayanya sekitar Rp40.000.000 dan untuk mangga Rp36.000.000. Jadi total untuk ketiga jenis bibit ini adalah Rp126.000.000"

Paman Zhou mengangguk, Elina terdiam. Uangnya tinggal 62 juta.

Edgar melihat ada kesempatan untuk membantunya segera berkata dengan tegas "aku bisa pinjamkan padamu 500 juta, kali ini kau tidak boleh menolak"

Melihat ekspresi tegasnya, kali ini Elina tidak menolaknya.

Segera Edgar mentransfer 120 juta ke rekening paman Zhou, dan sisanya 380 juta ke rekening Elina.

Melihat notifikasi di hp nya, Elina berkata dengan tulus "Terima kasih Edgar, kau banyak membantuku kali ini. Aku pasti akan membayar uangmu secepatnya". Edgar tersenyum, Elina yang pergi menemui pak Zhou tidak menyadari kesedihan yanga ada di mata Edgar.

" Paman Zhou tolong kirimkan bibitnya Minggu depan, di desa X. Saya akan menunggunya didepan pintu masuk desa"

"oke, kalo ingin membeli bibit lagi. Hubungi aja paman, untuk masalah harga dijamin lebih murah dari yang lain" Elina mengangguk dan pamit pergi bersama Edgar.

Elina mengambil alih Alex yang berada dalam pelukannya Edgar, dan mereka segera pulang kembali kerumah.

...----------------...

Ada gak ya cowok seperti Edgar di dunia nyata hmm.. Kalopun ada harus cantik dulu😵‍💫

jangan lupa dukung novel ini hehehe

Terpopuler

Comments

cupa

cupa

gede sekli hey, itu mah kamr mndi utama, normlly, 1.5 m x 1.5 m udh bisa sqma mesin cuci,
malh da yg 1.5m x 1m bisa full
keculi yg bathtub y, ya 2x2

2024-12-15

1

S H 10

S H 10

ada sih cuma belum muncul lagi.. hehe dahhhh
/Bye-Bye//Bye-Bye//Bye-Bye/

2025-01-29

1

Risna Murni

Risna Murni

cantik adlh salah satu jaminan hidup lancar

2024-12-13

1

lihat semua
Episodes
1 Kelahiran kembali?
2 Andra
3 Siapa itu?
4 Dimas
5 Mengapa kamu sangat mirip bapakmu
6 Pasar sayur (1)
7 Pasar sayur (2)
8 Edgar
9 Dia anakku, bukan alat
10 Elina Nature's Finest
11 Renovasi rumah (1)
12 100 juta
13 pindah
14 Dimas Vs Edgar
15 Stroberi
16 Apakah Kau Mengenalnya?
17 Renovasi (2)
18 Membeli bibit
19 flashback
20 Peri Justice Squad
21 Rumah baru Elina
22 Tanaman merambat
23 Mitra
24 Siaran Langsung
25 Siaran langsung (2)
26 kurir
27 Monyet kecil
28 Tomat penghilang jerawat
29 Kehangatan Meja Makan
30 Xiaoya dkk
31 Cucu menantu
32 Menanam sayur bersama xiaoya dkk
33 Lutfi dan Alif
34 Guru Alif
35 Anggur Kyoho
36 lipstik?
37 Dabai
38 Sup Krim Jamur
39 Ayahmu mencoba merayuku
40 Blueberry
41 Kalian pemenangnya
42 Beruang kecil
43 Kakek Long vs Xiaoya 1
44 Rumput Mendong
45 Beri Aku Minum
46 Anyaman Tikar
47 Hotpot
48 Istri Dan Anakmu Akan Dibawa Pergi!
49 ???
50 Paman terbaik
51 Bertemu kerabat
52 Pekerja Tambahan
53 Pangsit Nenek Liao
54 Dia adalah istriku
55 Panen Besar
56 Jadi Seorang Ibu Tidak Mudah
57 Scarlet firethorn
58 Tunggu aku kembali
59 Hukuman Buat Erwin
60 300 Bibit
61 900 Buah Terjual
62 Jus Jeruk dan Manisan Kulit Jeruk
63 Ingat Untuk Merindukanku
64 Ketumbar
65 Kakak Tommy
66 Bingung Pilih Yang Mana
67 Tidak Tahan!
68 Tibbets Masttif
69 Aku Ingin Merawatnya
70 Raja Milikmu
71 Harta keluarga
72 Daftar Lisensi
73 Tunangan
74 Siaga
75 Rose
76 Andra POV
77 Tidak Enak!
78 Gadis Berpayung Pink
79 Permen Karet untuk Erwin
80 Tanah Yang di Berkati
81 Maaf
82 Tahu Rahasianya
83 Membuat Pupuk Kompos
84 Mengatur Siklus Pertumbuhan
85 Cabe kering
86 Alif dan Xiaoya dkk
87 Pupuk
88 Pesanan Kedua
89 Bukankah Adel Pacarnya?
90 Aku Tidak Lagi Sendiri
91 Sangat memalukan
92 Panen Selada
93 Pergi ke Kabupaten
94 Kevin?
95 Aku Ingin Berganti Profesi
96 Alif Sudah Jadi Seorang Ayah
97 Telur angsa
98 Pisah
99 Gosip Desa
100 Cari Papa Baru
101 Alex menangis
102 Pacarnya hamil
103 Bos Besar
104 Proyek Desa
105 Mengunjungi Rumah Walikota
106 Rapat Desa
107 Gotong Royong
108 "Bu"
109 Pertemuan
110 Tidak Usah Tinggal Di Kota
111 Pengakuan Andra
112 Tahun Baru (1)
113 Tahun Baru (2)
114 Dabai tukang palak
115 Telur Pitan
116 Erwin Lemah
117 Bibit yang Bagus
118 Semua orang sibuk
119 Semangka
120 Siaran Langsung (2)
121 Siaran Langsung (3)
122 Siaran Langsung (4)
123 Siaran Langsung (5)
124 Pengumuman
125 Pembukaan Wisata Desa
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Kelahiran kembali?
2
Andra
3
Siapa itu?
4
Dimas
5
Mengapa kamu sangat mirip bapakmu
6
Pasar sayur (1)
7
Pasar sayur (2)
8
Edgar
9
Dia anakku, bukan alat
10
Elina Nature's Finest
11
Renovasi rumah (1)
12
100 juta
13
pindah
14
Dimas Vs Edgar
15
Stroberi
16
Apakah Kau Mengenalnya?
17
Renovasi (2)
18
Membeli bibit
19
flashback
20
Peri Justice Squad
21
Rumah baru Elina
22
Tanaman merambat
23
Mitra
24
Siaran Langsung
25
Siaran langsung (2)
26
kurir
27
Monyet kecil
28
Tomat penghilang jerawat
29
Kehangatan Meja Makan
30
Xiaoya dkk
31
Cucu menantu
32
Menanam sayur bersama xiaoya dkk
33
Lutfi dan Alif
34
Guru Alif
35
Anggur Kyoho
36
lipstik?
37
Dabai
38
Sup Krim Jamur
39
Ayahmu mencoba merayuku
40
Blueberry
41
Kalian pemenangnya
42
Beruang kecil
43
Kakek Long vs Xiaoya 1
44
Rumput Mendong
45
Beri Aku Minum
46
Anyaman Tikar
47
Hotpot
48
Istri Dan Anakmu Akan Dibawa Pergi!
49
???
50
Paman terbaik
51
Bertemu kerabat
52
Pekerja Tambahan
53
Pangsit Nenek Liao
54
Dia adalah istriku
55
Panen Besar
56
Jadi Seorang Ibu Tidak Mudah
57
Scarlet firethorn
58
Tunggu aku kembali
59
Hukuman Buat Erwin
60
300 Bibit
61
900 Buah Terjual
62
Jus Jeruk dan Manisan Kulit Jeruk
63
Ingat Untuk Merindukanku
64
Ketumbar
65
Kakak Tommy
66
Bingung Pilih Yang Mana
67
Tidak Tahan!
68
Tibbets Masttif
69
Aku Ingin Merawatnya
70
Raja Milikmu
71
Harta keluarga
72
Daftar Lisensi
73
Tunangan
74
Siaga
75
Rose
76
Andra POV
77
Tidak Enak!
78
Gadis Berpayung Pink
79
Permen Karet untuk Erwin
80
Tanah Yang di Berkati
81
Maaf
82
Tahu Rahasianya
83
Membuat Pupuk Kompos
84
Mengatur Siklus Pertumbuhan
85
Cabe kering
86
Alif dan Xiaoya dkk
87
Pupuk
88
Pesanan Kedua
89
Bukankah Adel Pacarnya?
90
Aku Tidak Lagi Sendiri
91
Sangat memalukan
92
Panen Selada
93
Pergi ke Kabupaten
94
Kevin?
95
Aku Ingin Berganti Profesi
96
Alif Sudah Jadi Seorang Ayah
97
Telur angsa
98
Pisah
99
Gosip Desa
100
Cari Papa Baru
101
Alex menangis
102
Pacarnya hamil
103
Bos Besar
104
Proyek Desa
105
Mengunjungi Rumah Walikota
106
Rapat Desa
107
Gotong Royong
108
"Bu"
109
Pertemuan
110
Tidak Usah Tinggal Di Kota
111
Pengakuan Andra
112
Tahun Baru (1)
113
Tahun Baru (2)
114
Dabai tukang palak
115
Telur Pitan
116
Erwin Lemah
117
Bibit yang Bagus
118
Semua orang sibuk
119
Semangka
120
Siaran Langsung (2)
121
Siaran Langsung (3)
122
Siaran Langsung (4)
123
Siaran Langsung (5)
124
Pengumuman
125
Pembukaan Wisata Desa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!