100 juta

"Wah bayi ibu tampan sekali hari ini, beri ibu kiss dulu. ummmuach" Elina memandangi bayinya dengan perasaan sayang dan memeluknya erat. Alex tidak mengerti dan hanya bisa tertawa.

Elina memakaikannya baju lengan pendek berwarna putih dengan gambar binatang kecil berwarna cerah seperti beruang dan kelinci yang tampak menggemaskan di bagian depannya. Baju itu terbuat dari kain katun lembut yang nyaman di kulitnya yang masih sensitif.

Di bagian bawah, ia mengenakan celana panjang berwarna kuning pastel dengan karet pinggang elastis yang tidak terlalu ketat, memberikan keleluasaan saat ia bergerak-gerak. Kain celananya tipis dan sejuk, cocok untuk cuaca siang yang cerah.

Kepalanya ditutupi topi rajut tipis berwarna krem dengan tali kecil di samping yang diikat lembut di bawah dagu, menjaga kepalanya tetap hangat tanpa terlalu menutupi wajahnya.

Tangannya yang kecil dibalut dengan sarung tangan mungil berwarna putih polos untuk melindungi kulitnya dari goresan kuku.

Bayi itu terlihat sangat nyaman dan penuh pesona, tampak sehat dan tenang dalam balutan pakaian yang sederhana namun menawan.

"Gemoy banget anak ibu" Karena tidak tahan, Elina mengigit pipi Alex sehingga Alex menangis keras. Elina hanya tertawa kemudian membujuknya.

...****************...

Elina menatap keluar jendela rumahnya, memandang gunung yang menjulang di belakang. Awalnya dia berencana membeli tanah persawahan, tapi dia berubah pikiran.

Gunung itu selalu menjadi bagian dari hidupnya—tempat ia dan neneknya sering mendaki untuk mencari sayuran liar dan jamur.

Namun, sekarang ada sesuatu yang lebih besar dalam pikirannya. Ia ingin memiliki gunung itu, atau setidaknya menyewanya. Bukan hanya karena kenangan, tapi juga karena potensi yang dilihatnya di sana.

Dengan luas 20 hektar, Elina yakin ia bisa menanam berbagai tanaman dan membangun asrama para pekerja, karena dia ingin membuat area pertanian yang lebih besar.

Setelah berbicara dengan kepala desa, harapannya sedikit terhambat.

"Gunung itu tidak bisa dijual," kata kepala desa saat mereka duduk di ruang tamunya, sambil memandangi Alex yang sedang tertidur di gendongan Elina.

"Namun, bisa disewakan. Pilihannya jangka pendek 10 tahun, menengah 20 tahun, atau jangka panjang 50 tahun. Sewanya 1 juta rupiah per hektar per tahun."

Elina menghitung cepat. Untuk 50 tahun, biaya sewanya 1 miliar rupiah.

Itu adalah angka yang besar, tapi yang perlu ia pikirkan sekarang adalah deposit untuk lima tahun pertama, yaitu 100 juta rupiah.

Sayangnya, uang yang ia miliki hanya 42 juta—jauh dari cukup.

Kepala desa tersenyum ramah, memahami kebimbangannya. “Kamu bisa mempertimbangkan opsi sewa jangka pendek dulu, Elina. Tidak harus langsung sewa 50 tahun,” sarannya.

Namun, Elina sudah memutuskan. Ia ingin menyewa selama 50 tahun penuh.

Harta yang tersimpan di dalamnya—emas, barang antik, dan banyak benda berharga dari akhir zaman—adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan sisa uang yang ia butuhkan.

Setelah kembali dari rumah kepala desa, Elina duduk di ruang tamunya yang sederhana. Alex tertidur tenang di pelukannya.

"Aku harus pergi ke kota lagi," pikirnya.

Tapi sebelum itu, Elina tahu dia harus merencanakan semuanya dengan baik. Pergi ke kota bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

...****************...

Esok paginya, setelah memutuskan langkahnya, Elina mulai bersiap.

Dia mengenakan pakaian sederhana tapi nyaman—celana panjang hitam dan blus longgar berwarna krem.

Alex, seperti biasa, tampak tenang di boks bayinya, mengenakan romper biru lembut dengan topi rajut mungil.

Sebelum berangkat, ia pergi menemui bibi Ruan, tetangganya yang baik hati.

"Bibi, aku ingin menitipkan Alex sebentar. Aku harus ke kota untuk beberapa urusan," katanya.

Bibi Ruan, yang sedang menyapu halaman rumahnya, tersenyum hangat.

“Tentu saja, Elina. Kamu jangan khawatir. Alex akan aman bersamaku. Pergilah dengan tenang.”

Elina merasa lega mendengarnya. "Terima kasih banyak, bi," katanya sambil mencium dahi Alex yang sudah terlelap kembali.

Setelah memastikan semuanya siap, Elina naik angkutan umum menuju kota.

Tujuannya jelas: ia harus menjual emas atau barang antik dari ruangnya untuk mendapatkan 48 juta rupiah tambahan.

Setelah tiba di kota, Elina langsung menuju ke toko perhiasan yang pernah ia kunjungi sebelumnya.

Di dalam toko itu, kaca-kaca display penuh dengan kilauan emas dan perhiasan lainnya. Pemilik toko, seorang pria tua dengan senyum ramah, menyambutnya.

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

Elina mengeluarkan kantong kecil dari tasnya, berisi beberapa potong emas murni yang ia simpan di ruang.

“Saya ingin menjual ini,” katanya sambil menyerahkan kantong itu.

Pria tua itu memeriksa emasnya dengan teliti, menimbang dan meneliti setiap potongan. Setelah beberapa saat, ia menatap Elina dengan tatapan serius.

“Emas ini sangat murni, bahkan langka. Kamu bisa mendapatkan harga yang cukup tinggi. Saya bisa membayarmu sekitar 40 juta untuk semuanya.”

Elina berpikir sejenak. Itu masih kurang dari yang ia butuhkan, tapi setidaknya sudah mendekati.

Dia setuju, dan setelah transaksi selesai, ia keluar dari toko dengan perasaan sedikit lega.

“Sekarang tinggal mencari sisa 18 juta lagi,” pikirnya.

Pikirannya kembali ke barang-barang antik yang tersimpan di ruang. Ada beberapa benda berharga yang berasal dari zaman yang telah berlalu, namun menjual barang antik jauh lebih rumit daripada menjual emas.

Setelah lama berjalan menyusuri jalan-jalan kota, Elina akhirnya melihat sebuah toko kecil yang tak mencolok di ujung gang.

Tidak ada papan nama yang menarik perhatian, hanya pintu kayu tua dengan jendela kecil yang terlihat usang. Meski begitu, entah mengapa Elina merasa tertarik untuk masuk.

Saat ia melangkah ke dalam, bau asap rokok segera tercium. Di belakang meja kasir, seorang pria paruh baya dengan penampilan yang malas duduk dengan kaki disilangkan.

Rokok mengepul di antara jarinya, dan matanya memandang Elina tanpa antusias.

“Silahkan masuk dan cari sendiri kalau ada yang kamu suka,” katanya dengan nada acuh tak acuh tanpa beranjak dari tempat duduknya.

Elina tidak terpengaruh oleh sikap pria itu. “Saya tidak ingin membeli,” jawabnya dengan tenang,

“Saya ingin menjual barang antik.”

Pria itu mengangkat alis dan menguapkan asap rokok dengan malas. “Tunjukkan,” ucapnya pendek.

Elina membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah lukisan yang ia simpan di ruang. Lukisan itu adalah salah satu barang yang ia kumpulkan selama bertahan hidup di akhir zaman.

Baru saja ia meletakkannya di atas meja, tiba-tiba seorang kakek tua yang sebelumnya tidak terlihat, muncul dari balik rak di ujung ruangan.

Kakek itu mendekati meja dengan cepat, pandangannya terpaku pada lukisan tersebut. Pria pemilik toko yang sebelumnya tampak malas kini segera bangkit dan menundukkan kepala dengan hormat.

Kakek itu mengambil lukisan dari tangan Elina dengan hati-hati, memperhatikan setiap detailnya. Wajah tuanya menunjukkan ekspresi penuh minat dan kekaguman.

Setelah beberapa saat mengamati lukisan itu, ia menatap Elina dengan sorot mata penuh arti.

“Nak,” katanya dengan nada suara yang lebih serius dan mendalam.

“Ini bukan barang biasa. Ini adalah lukisan kerajaan yang sangat terkenal. Lukisan ini sangat berharga.”

Elina terkejut mendengarnya. Ia tahu bahwa lukisan itu istimewa, namun tidak menyangka bahwa nilainya setinggi itu.

“Aku akan membelinya. Bagaimana kalau aku tawarkan 80 juta?” tawar kakek itu, suaranya tenang namun tegas.

Elina terdiam sejenak, mencoba mencerna angka yang baru saja disebutkan. 80 juta. jauh lebih banyak daripada yang ia bayangkan.

Setelah merenung sebentar, ia mengangguk pelan. Bagi Elina, lukisan itu memang tak akan berarti banyak di tangannya. Namun dengan uang itu, ia bisa melanjutkan rencananya untuk menyewa gunung di belakang rumahnya.

“Baiklah,” jawab Elina akhirnya, tersenyum tipis.

Kakek itu tersenyum puas dan menyerahkan cek kepada Elina. Setelah transaksi selesai, ia mengeluarkan kartu kecil dari sakunya dan menyerahkannya kepada Elina.

“Jika kamu masih punya lukisan lain atau barang antik yang berharga, hubungi aku. Nomorku ada di kartu ini.”

Elina mengambil kartu itu dengan tenang, menyelipkannya di dalam tasnya. “Terima kasih, Kakek,” katanya sopan.

Ketika Elina berpamitan, kakek itu memandangnya dengan sorot mata yang dalam, seolah ada sesuatu tentang Elina yang menarik perhatiannya lebih dari sekadar barang yang ia bawa.

Ada keagungan yang terpancar dari cara Elina berbicara dan bergerak, tidak seperti gadis seusianya.

Kakek itu dengan cepat menghubungi teman-temannya untuk memamerkan lukisan yang dia beli.

...----------------...

Maaf revisi dikiti, tadi aku salah hitung uang😭

Terpopuler

Comments

Nf@. Conan 😎

Nf@. Conan 😎

kta nya langka dan murni tpi d 40 jta doang ckckckckckckckck si bpak coba lbih 50 gitu 😁😁😁

2025-03-09

0

S H 10

S H 10

gagapa kok thor typo dikit aja.. gak ada masalah thorr.. semangat ya thor.. yang penting jaga kesehatan.. hehe daaahhhh/Bye-Bye//Bye-Bye//Bye-Bye//Bye-Bye/

2025-01-29

2

Fisee

Fisee

up up up up
grazy uup dong thor 🥲

2025-01-01

2

lihat semua
Episodes
1 Kelahiran kembali?
2 Andra
3 Siapa itu?
4 Dimas
5 Mengapa kamu sangat mirip bapakmu
6 Pasar sayur (1)
7 Pasar sayur (2)
8 Edgar
9 Dia anakku, bukan alat
10 Elina Nature's Finest
11 Renovasi rumah (1)
12 100 juta
13 pindah
14 Dimas Vs Edgar
15 Stroberi
16 Apakah Kau Mengenalnya?
17 Renovasi (2)
18 Membeli bibit
19 flashback
20 Peri Justice Squad
21 Rumah baru Elina
22 Tanaman merambat
23 Mitra
24 Siaran Langsung
25 Siaran langsung (2)
26 kurir
27 Monyet kecil
28 Tomat penghilang jerawat
29 Kehangatan Meja Makan
30 Xiaoya dkk
31 Cucu menantu
32 Menanam sayur bersama xiaoya dkk
33 Lutfi dan Alif
34 Guru Alif
35 Anggur Kyoho
36 lipstik?
37 Dabai
38 Sup Krim Jamur
39 Ayahmu mencoba merayuku
40 Blueberry
41 Kalian pemenangnya
42 Beruang kecil
43 Kakek Long vs Xiaoya 1
44 Rumput Mendong
45 Beri Aku Minum
46 Anyaman Tikar
47 Hotpot
48 Istri Dan Anakmu Akan Dibawa Pergi!
49 ???
50 Paman terbaik
51 Bertemu kerabat
52 Pekerja Tambahan
53 Pangsit Nenek Liao
54 Dia adalah istriku
55 Panen Besar
56 Jadi Seorang Ibu Tidak Mudah
57 Scarlet firethorn
58 Tunggu aku kembali
59 Hukuman Buat Erwin
60 300 Bibit
61 900 Buah Terjual
62 Jus Jeruk dan Manisan Kulit Jeruk
63 Ingat Untuk Merindukanku
64 Ketumbar
65 Kakak Tommy
66 Bingung Pilih Yang Mana
67 Tidak Tahan!
68 Tibbets Masttif
69 Aku Ingin Merawatnya
70 Raja Milikmu
71 Harta keluarga
72 Daftar Lisensi
73 Tunangan
74 Siaga
75 Rose
76 Andra POV
77 Tidak Enak!
78 Gadis Berpayung Pink
79 Permen Karet untuk Erwin
80 Tanah Yang di Berkati
81 Maaf
82 Tahu Rahasianya
83 Membuat Pupuk Kompos
84 Mengatur Siklus Pertumbuhan
85 Cabe kering
86 Alif dan Xiaoya dkk
87 Pupuk
88 Pesanan Kedua
89 Bukankah Adel Pacarnya?
90 Aku Tidak Lagi Sendiri
91 Sangat memalukan
92 Panen Selada
93 Pergi ke Kabupaten
94 Kevin?
95 Aku Ingin Berganti Profesi
96 Alif Sudah Jadi Seorang Ayah
97 Telur angsa
98 Pisah
99 Gosip Desa
100 Cari Papa Baru
101 Alex menangis
102 Pacarnya hamil
103 Bos Besar
104 Proyek Desa
105 Mengunjungi Rumah Walikota
106 Rapat Desa
107 Gotong Royong
108 "Bu"
109 Pertemuan
110 Tidak Usah Tinggal Di Kota
111 Pengakuan Andra
112 Tahun Baru (1)
113 Tahun Baru (2)
114 Dabai tukang palak
115 Telur Pitan
116 Erwin Lemah
117 Bibit yang Bagus
118 Semua orang sibuk
119 Semangka
120 Siaran Langsung (2)
121 Siaran Langsung (3)
122 Siaran Langsung (4)
123 Siaran Langsung (5)
124 Pengumuman
125 Pembukaan Wisata Desa
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Kelahiran kembali?
2
Andra
3
Siapa itu?
4
Dimas
5
Mengapa kamu sangat mirip bapakmu
6
Pasar sayur (1)
7
Pasar sayur (2)
8
Edgar
9
Dia anakku, bukan alat
10
Elina Nature's Finest
11
Renovasi rumah (1)
12
100 juta
13
pindah
14
Dimas Vs Edgar
15
Stroberi
16
Apakah Kau Mengenalnya?
17
Renovasi (2)
18
Membeli bibit
19
flashback
20
Peri Justice Squad
21
Rumah baru Elina
22
Tanaman merambat
23
Mitra
24
Siaran Langsung
25
Siaran langsung (2)
26
kurir
27
Monyet kecil
28
Tomat penghilang jerawat
29
Kehangatan Meja Makan
30
Xiaoya dkk
31
Cucu menantu
32
Menanam sayur bersama xiaoya dkk
33
Lutfi dan Alif
34
Guru Alif
35
Anggur Kyoho
36
lipstik?
37
Dabai
38
Sup Krim Jamur
39
Ayahmu mencoba merayuku
40
Blueberry
41
Kalian pemenangnya
42
Beruang kecil
43
Kakek Long vs Xiaoya 1
44
Rumput Mendong
45
Beri Aku Minum
46
Anyaman Tikar
47
Hotpot
48
Istri Dan Anakmu Akan Dibawa Pergi!
49
???
50
Paman terbaik
51
Bertemu kerabat
52
Pekerja Tambahan
53
Pangsit Nenek Liao
54
Dia adalah istriku
55
Panen Besar
56
Jadi Seorang Ibu Tidak Mudah
57
Scarlet firethorn
58
Tunggu aku kembali
59
Hukuman Buat Erwin
60
300 Bibit
61
900 Buah Terjual
62
Jus Jeruk dan Manisan Kulit Jeruk
63
Ingat Untuk Merindukanku
64
Ketumbar
65
Kakak Tommy
66
Bingung Pilih Yang Mana
67
Tidak Tahan!
68
Tibbets Masttif
69
Aku Ingin Merawatnya
70
Raja Milikmu
71
Harta keluarga
72
Daftar Lisensi
73
Tunangan
74
Siaga
75
Rose
76
Andra POV
77
Tidak Enak!
78
Gadis Berpayung Pink
79
Permen Karet untuk Erwin
80
Tanah Yang di Berkati
81
Maaf
82
Tahu Rahasianya
83
Membuat Pupuk Kompos
84
Mengatur Siklus Pertumbuhan
85
Cabe kering
86
Alif dan Xiaoya dkk
87
Pupuk
88
Pesanan Kedua
89
Bukankah Adel Pacarnya?
90
Aku Tidak Lagi Sendiri
91
Sangat memalukan
92
Panen Selada
93
Pergi ke Kabupaten
94
Kevin?
95
Aku Ingin Berganti Profesi
96
Alif Sudah Jadi Seorang Ayah
97
Telur angsa
98
Pisah
99
Gosip Desa
100
Cari Papa Baru
101
Alex menangis
102
Pacarnya hamil
103
Bos Besar
104
Proyek Desa
105
Mengunjungi Rumah Walikota
106
Rapat Desa
107
Gotong Royong
108
"Bu"
109
Pertemuan
110
Tidak Usah Tinggal Di Kota
111
Pengakuan Andra
112
Tahun Baru (1)
113
Tahun Baru (2)
114
Dabai tukang palak
115
Telur Pitan
116
Erwin Lemah
117
Bibit yang Bagus
118
Semua orang sibuk
119
Semangka
120
Siaran Langsung (2)
121
Siaran Langsung (3)
122
Siaran Langsung (4)
123
Siaran Langsung (5)
124
Pengumuman
125
Pembukaan Wisata Desa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!