Di ruang keluarga, Tobias dan Sylvia masih duduk dengan berhadapan.
Sylvia melihat anaknya, Tobias menunduk yang mungkin sedang memikirkan masalah masalah yang ada di hadapannya saat ini.
Sylvia juga merasa salah karena mengucapkan hal seperti ini, tapi Sylvia ingin Tobias segera mengerti.
"Nak, ingat pesan ibu yang ini saja. Ibu tidak akan melarang mu untuk melakukan apapun, tapi sebelum itu, kamu harus belajar untuk bertanggung jawab pada dirimu sendiri agar kamu juga bisa bertanggung jawab atas orang lain nantinya, karena saat itu kamu sudah mengerti semuanya."
Sylvia bangkit dari duduknya dan mencium kepala Tobias.
"Oke kembalilah ke kamar dan istirahat! Kamu memiliki pertandingan tadi siang dan kamu bermain di luar, jangan sampai kelelahan." Sylvia menepuk punggung Tobias dan langsung meninggalkan Tobias.
Tobias merasakan perhatian dan kasih sayang ibunya.
'Bertanggung jawab pada dirimu sendiri baru kamu bisa bertanggung jawab atas orang lain?'
'Bertanggung jawab pada diri sendiri berarti mengenali nilai diri sendiri adalah hal yang paling awal.'
'Jika aku mengetahui nilai diriku sendiri, beberapa tahap lainnya akan segera aku mengerti.'
Tobias langsung berdiri dan kembali ke kamarnya.
Pikirannya sedang bekerja bagaimana caranya mengenali nilai dirinya sendiri.
"Mengenali diri sendiri?"
"Ayolah! Apa ini?"
Tobias tak bisa menemukannya dan tanpa di sadari, Tobias tertidur dengan begitu pulas nya karena kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu di luar rumah.
Siang dengan pertandingan, siang menuju malam dengan berkencan.
Keesokan paginya, Tobias bangun dan segera melakukan lari pagi di taman terdekat.
Kembali ke rumah dengan sarapan yang sudah di siapkan ibunya.
'Ini termasuk bagian dari tanggung jawab! Aku belum bisa melakukannya sendiri. Bangunlah lebih cepat di kemudian hari, persiapkan semuanya sendiri.'
"Bu makasih atas sarannya." Tobias segera duduk dan memulai sarapan nya dengan ibu yang memakan sarapan lain.
Setelah 10 menit sarapan, saat ibunya akan membersihkan meja makan, Tobias menghentikannya.
"Biar aku yang melakukannya Bu."
Sylvia melihat keaktifan dan keanehan anaknya langsung tertegun.
'Secepat inikah kamu menyadari apa yang ibu katakan?' Sylvia merasa sedikit sedih karena anaknya begitu cepat tumbuh.
Tapi yang tidak di ketahui Sylvia adalah Tobias juga sedang belajar saat ini.
"Bu, apakah kamu akan berangkat sekarang?" Tobias yang sudah membersihkan meja makan dan menyimpannya di tempat cucian langsung bertanya pada ibunya yang masih berdiri membatu.
Sylvia kemudian mengangguk.
"Oke ibu pergi saja dan hati hati. Aku akan mencuci semuanya dan membereskan rumah dengan baik."
Sylvia yang di tuntun oleh Tobias ke ruang keluarga untuk mengambil tas kerja nya saat ini benar benar bodoh.
Tobias menuntun ibunya keluar rumah dan segera membukakan pintu mobil.
"Ayo bu masuk. Ibu hati hati di jalan dan semangat bekerjanya." Sylvia yang sudah duduk di dalam mobil melihat anaknya dan menitikkan air mata.
"Nak, bisakah kamu tidak secepat ini tumbuh?"
Melihat ibunya seperti ini, Tobias juga tidak tahan tapi dia harus tetap bertahan.
"Bu, aku harus sukses dan membawa ibu menuju kehidupan yang lebih nyaman dan bahagia. Jadi aku harus belajar dari sekarang. Ayo, tunggu beberapa waktu lagi sampai semuanya akan menjadi kenyataan." Tobias yang menyelesaikan bicaranya hanya melihat ibunya yang masih menatap.
Sylvia juga akhirnya sadar dan segera menyalakan mobilnya.
"Kalau begitu ibu berangkat, kamu berhati hati di rumah."
Tobias mengangguk dan segera melihat kepergian mobil ibunya.
Tobias kembali ke dalam rumah dan membereskan rumah dengan sangat teliti.
Saat jam 9, Tobias yang baru saja akan keluar tak sengaja bertemu dengan pemain tim utama Union Berlin.
Tobias mengetahui identitas pemain ini dengan sangat jelas.
"Brother Felix. Mau kemana?" Tobias menyapa dan bertanya dengan cepat, sementara Felix langsung tertegun ketika mendengar ada yang memanggilnya.
Menjatuhkan pandangannya pada Tobias yang merupakan satu satunya orang yang di lihatnya.
"Kamu?" Felix bingung.
"Aku Tobias. Aku dari tim junior Union Berlin."
Felix yang mendengar ini langsung mengangguk dan menanyakan pada Tobias alamat seseorang.
"Ah. Ini rumah ku."
"Ada apa brother Felix mencari alamat rumahku?" Tobias bingung tapi juga penasaran.
Felix kaget dan menatap tak percaya.
"Sungguh?"
"Benar, lihat saja ini identitas ku." Jawab Tobias sambil mengeluarkan identitasnya di Jerman dengan alamat yang tercantum sangat lengkap.
Isi alamatnya sama dengan alamat yang di pegang oleh Felix.
"Sungguh benar. Kalau begitu, ini aku akan mengembalikan ini. Ini kemarin aku menemukannya saat jalan pulang." Felix menyodorkan sebuah dompet.
Tobias langsung mengenalinya dan tahu bahwa ini adalah dompet ibunya.
'Kalau begitu ibu juga tak sadar dompetnya hilang?' Tobias bertanya.
Sebelum mengambil dompet dari tangan Felix, Tobias mengeluarkan ponselnya yang bergetar.
Melihat nama panggilan dari ibunya, Tobias segera tersenyum pada Felix.
"Brother Felix, tunggu sebentar ini ibuku. Sepertinya dia juga baru sadar akan hal ini." Tobias segera mengangkat panggilan ibunya.
"Ada apa Bu?"
"Nak, tolong carikan dompet ibu apakah ada di rumah atau tidak!"
"Ada bu, ini baru saja seseorang mengembalikannya ke rumah. Dompet nya hilang kemarin dan ibu sepertinya tak sadar."
Mendengar ini Sylvia di ujung lain tertegun.
'Kemarin?'
"Kalau begitu, tolong antarkan dompetnya nak."
"Oke Bu." Panggilan di akhiri dan Tobias menyimpan ponselnya.
"Brother Felix, terima kasih karena telah mengembalikan ini, ini punya ibuku."
"Apakah kamu akan mengantarkannya?"
"Ya."
"Apakah perlu tumpangan?" Felix menunjuk mobilnya dan Tobias merasa malu.
"Ayo, aku antar saja."
"Baiklah, tunggu aku akan menutup pintu dulu."
Setelah menutup pintu, Tobias masuk ke dalam pintu mobil Felix.
Felix ini adalah Felix Kroos. Saudara atau adik dari Toni Kroos, pemain Real Madrid dan pemain tim nasional Jerman.
Felix Kroos tidak seperti kakaknya Toni Kroos dalam masalah karir.
Felix hanya bermain di tim tim kecil di liga Jerman.
Dalam perjalanan menuju tempat ibu bekerja, Tobias menanyakan beberapa hal pada Felix mengenai tanggung jawab pada diri sendiri.
Tobias bertanya karena Felix juga sangat terbuka dan mau berbagi.
Tobias mendengarkan penjelasan Felix mengenai bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Sangat puas dan Tobias sangat mengetahui apa yang harus di lakukan kedepannya.
Tak lama, mobil sampai di tempat kerja ibunya.
Ini adalah sebuah rumah makan besar dan ibu bekerja sebagai asisten koki atau sous chef dari executive chef atau koki utama.
Selain itu, ibu juga memiliki tugas lainnya sebagai kepala koki pastry yang dimana membuat dessert dan hidangan penutup untuk tamu.
"Brother Felix, terima kasih sekali lagi karena telah mengantarkan dompet ibu ku dan sekarang mengantarkan ku kesini. Juga terima kasih atas saran mu tadi, ini sangat membantu ku. Ku berharap saat aku promosi ke tim senior, brother Felix belum pindah." Tobias menatap Felix Kroos seraya tersenyum lalu membuka pintu mobilnya.
"Hati hati di jalan brother Felix."
Felix melihat Tobias berlari ke dalam rumah makan dan ada perasaan luar biasa.
"Anak ini memiliki sesuatu."
"Sepertinya aku harus memperhatikannya lebih lanjut lagi, jika benar seperti yang aku rasakan, maka aku tidak keberatan memberikan klien tambahan pada agennya Toni." Felix Kroos tersenyum dan segera mengemudikan mobilnya kembali.
Tobias segera menghampiri ibunya yang sudah mengenakan pakaian koki nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments