Bab 17 - Menginap di Hotel

"Tentu saja aku khawatir, La. Mama pasti ngomelin aku kalau sampai menantu kesayangannya ini kenapa-napa,"

"Jadi, karena Mas takut sama Mama. Bukan beneran peduli ke aku?" Starla mendadak menaikkan nada suaranya satu oktaf lebih tinggi dengan wajah yang berubah kecut pada suaminya itu. Biasanya dirinya enggan melayangkan protes pada Brahma. Namun entah mengapa saat ini setelah ia tahu Ajeng menemui suaminya, Starla mendadak geram berbalut kecewa.

"Bukan begitu juga, La. Ayo kita pulang saja. Wajahmu sudah pucat begini. Badanmu agak demam juga," ucap Brahma setelah telapak tangannya sebagai termometer alami memeriksa dahi dan leher Starla yang memberikan sinyal terasa hangat pertanda bahwa istrinya demam.

"Pekerjaan Mas gimana?"

"Ada Vicky sama anak-anak yang bisa selesaikan. Kamu enggak perlu cemas soal itu," jawab Brahma.

Seketika keduanya berdiri sambil bergandengan tangan untuk keluar dari ruangan. Brahma menyerahkan sisa tugasnya hari ini pada Vicky dan anggota lainnya.

"Bawa ke dokter saja, Ndan." Vicky memberikan saran karena ia melihat sepintas wajah Starla cukup pucat.

"Benar juga. Ke dokter saja ya," tawar Brahma.

"Enggak mau. Pulang saja," jawab Starla ketus. Ia masih kesal dengan Brahma dan Ajeng.

Vicky melihat perubahan sikap istri komandannya itu tampak berbeda dari biasanya. Sebab sepanjang yang ia tahu, Starla tipe wanita yang jarang sekali marah pada Brahma. Bahkan lebih bersikap sebagai istri yang menerima apapun tanpa banyak protes atau menuntut ini itu pada suami.

"Jangan-jangan Bu Komandan lagi isi," cicit Vicky lirih setengah berbisik, namun masih terdengar jelas bagi Brahma dan Starla.

"Hah, isi apaan Vic?"

"Astaga ya isi 0rok, Ndan. Masa isi sayur sop sama bakwan jagung," jawab Vicky seraya menepuk jidatnya sendiri.

Uhuk...uhuk...uhuk...

Seketika Brahma terbatuk-batuk mendengar ucapan Vicky yang mengira jika Starla pucat karena sedang hamil.

Bagaimana Starla bisa hamil, jika selama empat bulan terakhir ini sama sekali tak disentuh dan dibu@hi oleh dirinya sebagai suami ?

Brahma berusaha menarik napasnya sejenak. Sedangkan Starla hanya terdiam dan bersikap datar. Ia tak menanggapi celetukan Vicky barusan. Hatinya tengah kalut dan sedih. Perihal nafkah batin saja sejak menikah hingga detik ini Brahma tak kunjung berikan padanya. Padahal setiap hari ia selalu berpakaian se_xy di rumah untuk menarik hati suaminya itu. Namun Brahma selalu menghindarinya.

Akhirnya Brahma dan Starla meninggalkan area Polsek.

"Kita mampir makan dulu yuk. Mas takut kamu jatuh sakit, La."

"Di depan sana ada hotel bintang lima. Aku maunya makan di restoran hotel itu," pinta Starla dengan nada yang masih merajuk.

"Oke," jawab Brahma mengiyakan permintaan Starla.

Senyuman tipis terbit di wajah Starla. Ia begitu senang karena Brahma langsung mengiyakan permintaannya tersebut. Saat ini Starla memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya sambil melihat jalanan. Ia tak mau Brahma melihatnya. Sebab, ia masih mode kecewa dengan suaminya itu.

☘️☘️

Brahma akhirnya menemani Starla untuk makan di restoran hotel berbintang. Brahma memesan cappucino hangat untuk dirinya. Semua makanan sudah habis dan masuk ke dalam perut Starla.

"Mas,"

"Hem,

"Aku malas pulang," ucap Starla.

"Maksudmu?"

"Pengin tidur di sini semalam. Kan besok Mas Brahma libur kerja. Boleh ya?" rengek Starla.

"Kita kan enggak bawa baju ganti, La."

"Ada mall di sebelah hotel ini. Kita beli baju ganti saja di sana. Kalau pulang dulu ke rumah buat ambil baju ganti, terlalu jauh." Starla khawatir jika mereka harus pulang ke rumah, Brahma akan berubah pikiran untuk kembali menginap di hotel.

"Ya sudah," jawab Brahma.

Sebagai penebus rasa bersalahnya karena membuat Starla harus menunggu dirinya cukup lama di Polsek sampai istrinya itu kelaparan, alhasil ia menyetujui ide Starla tersebut.

"Yeiyyy. Makasih ya Mas,"

"Hem,"

Setelah itu keduanya beranjak pergi dari restoran menuju meja resepsionis untuk melakukan check in. Starla ingin menginap malam ini di hotel dan pastinya satu kamar yang sama dengan suaminya. Alhasil Brahma hanya memesan satu kamar sesuai permintaan Starla.

Setelah mendapat kunci kamar, keduanya berjalan kaki menuju mall yang memang bersebelahan dengan hotel tempat mereka menginap. Ada sebuah jalan penghubung antara hotel dan mall tersebut sehingga pengunjung hotel tak perlu memutar arah jika harus masuk ke dalam mall.

Starla terus menggandeng mesra Brahma sambil mencari toko pakaian yang akan mereka datangi. Banyak SPG toko yang memuja ketampanan Brahma. Terlebih saat ini Brahma masih mengenakan pakaian dinasnya lengkap. Ada juga para wanita yang melihat mereka berdua, berbisik iri tentang Starla yang begitu beruntung karena mendapat pasangan seorang polisi tampan.

Walaupun mereka semua tak mengenal dekat Brahma dan Starla. Hanya satu atau dua orang saja yang pernah melihat Brahma masuk televisi sebagai Kapolsek karena berhasil menangkap penjahat.

Setelah membeli pakaian ganti sekaligus dalaman, mereka berdua jalan-jalan sejenak menikmati malam mingguan di mall. Jam makan malam pun tiba, mereka masuk ke salah satu restoran yang ada di sana.

"Gimana, Bu Komandan sudah seneng jalan-jalannya?"

"Iya, Mas. Akhirnya bisa malmingan juga sama suami. Hehe..."

"Jadi tadi wajahnya pucat cuma modus nih. Bu Komandan mau caper ya, pengin malmingan," ledek Brahma.

"Haissh! Enggaklah, Mas. Tadi beneran aku enggak enak badan. Capek nungguin Mas balik ke Polsek sampai aku lupa makan,"

"Iya, aku percaya kok. Maafin aku ya. Lain kali kamu jangan sampai telat makan. Jangan nunggu aku," ucap Brahma.

"Lain kali kalau Mas pergi sama cewek, wajib kabari istri dulu. Pergi ke mana terus sama siapa. Biar aku enggak bingung juga. Buat jaga-jaga semisal ada yang tanya atau tiba-tiba muncul gosip di WAG Ibu-Ibu Bhayangkari. AKP. Brahma Satria Mahendra ketahuan jalan sama wanita cantik tapi bukan istrinya. Gimana coba? Aku kan jadi bingung jawabnya buat ngeles," balas Starla.

"Iya, maafin aku. Beneran tadi aku enggak ada niat apapun ngajak Ajeng keluar buat makan siang. Enggak enak sama anak-anak di Polsek kalau dia lama-lama di ruanganku,"

"Ingat nama baik institusi, Mas Brahma sendiri serta keluarga. Terlebih nama baik Papa dan Mama serta mendiang kakek Mas Brahma yang seorang Wakapolri. Jangan hanya karena egois diri kita, lalu rusak semua yang sudah dibangun dengan baik oleh keluarga besar," tutur Starla.

"Iya. Makasih La, sudah ingetin aku."

"Sama-sama Mas,"

☘️☘️

Malam hari sekitar pukul sembilan malam, keduanya sudah kembali ke hotel. Starla terus bergelayut di tubuh Brahma sejak masuk ke dalam lift.

"Mas, aku ngantuk. Nanti gendong ya," cicit Starla.

"Iya," jawab Brahma tanpa banyak protes. Sebab saat ini di dalam lift ada seorang petugas yang sedang bersama mereka berdua. Tentunya Brahma akan merasa malu jika menolak permintaan istrinya yang memang tengah mengantuk tersebut di depan orang lain.

Tring...

Pintu lift pun terbuka. Kini mereka sudah tiba di lantai 17. Brahma menggendong Starla di punggungnya hingga masuk ke dalam kamar. Beruntung Starla memakai celana panjang sehingga tak sulit bagi Brahma membawa tubuh istrinya serta tas belanjaan mereka.

Setelah meletakkan tas belanjaan di atas sofa, Brahma perlahan membaringkan tubuh Starla di atas ranjang. Mata Starla sudah terpejam rapat. Menandakan sang empunya tubuh mengantuk berat dan saat ini sepertinya sudah tertidur pulas.

Saat Brahma akan beranjak dari tepian ranjang, tiba-tiba tangannya ditarik cukup kencang oleh Starla secara tak terduga.

Brughh !!

Brahma yang memang sedang letih dan punya banyak pikiran di kepalanya, seketika tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia pun terjatuh di atas ranjang. Mendadak tubuhnya dipeluk cukup erat oleh Starla. Seketika...

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Yus Nita

Yus Nita

apakah akan terjadi apa yg seharusnya ny terjadi 😁😁😁

2024-11-30

0

🔥⃞⃟ˢᶠᶻsᥲᥒ𝗍іE𝆯⃟🚀🦚⃝⃟ˢᴴ

🔥⃞⃟ˢᶠᶻsᥲᥒ𝗍іE𝆯⃟🚀🦚⃝⃟ˢᴴ

hais apakah selanjutnya ada adegan itu yah🤣🤣

2024-09-26

1

Putri Dhamayanti

Putri Dhamayanti

woahh bu komandan sat set 😉

2024-09-21

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2 Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3 Bab 3 - Gang Ding Dong
4 Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5 Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6 Bab 6 - Kamar Pengantin
7 Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8 Bab 8 - Kabar Pernikahan
9 Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10 Bab 10 - Memberi Nafkah
11 Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12 Bab 12 - Kedatangan Tamu
13 Bab 13 - Mantan Kekasih
14 Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15 Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16 Bab 16 - Sebuah Undangan
17 Bab 17 - Menginap di Hotel
18 Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19 Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20 Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21 Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22 Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23 Bab 23 - Siapa Monic ?
24 Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25 Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26 PROMO KARYA
27 Bab 26 - Mulai Candu
28 Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29 Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30 Bab 29 - Starla vs Ajeng
31 Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32 Bab 31 - Ulat Bulu
33 Bab 32 - Reuni SMA
34 Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35 Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36 Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37 Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38 Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39 Bab 38 - Ziarah Kubur
40 Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41 Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42 Bab 41 - Makan Malam Sendu
43 Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44 Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45 Bab 44 - Menangis Bersama
46 Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47 Bab 46 - Curhat
48 Bab 47 - Morning Sickness
49 Bab 48 - Pingsan
50 Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51 Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52 Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53 Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54 Bab 53 - Saling Mengancam
55 Bab 54 - Menjenguk Bening
56 Bab 55 - Sebuah Tamparan
57 Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58 Bab 57 - Upaya Terakhir
59 Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60 Bab 59 - Rencana Liburan
61 Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62 Bab 61 - Melepas Rindu
63 Bab 62 - Sedikit Gemuk
64 Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65 Bab 64 - Permintaan Starla
66 Bab 65 - Kemarahan Brahma
67 Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68 Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69 Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70 Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71 Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72 Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73 Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74 Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75 Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76 Bab 75 - Mulai Terkuak
77 Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78 Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79 Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80 Bab 79 - Kondisi Terkini
81 Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82 Bab 81 - Kondisi Starla
83 Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84 Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85 Bab 84 - Huru-Hara
86 Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87 Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88 Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89 Bab 88 - Bersimbah Darah
90 Bab 89 - Gelayut Mendung
91 Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92 Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93 Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94 Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95 Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96 Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97 Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98 Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99 Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100 Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101 Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102 Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103 PROMO KARYA BARU
104 PROMO KARYA BARU
105 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2
Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3
Bab 3 - Gang Ding Dong
4
Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5
Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6
Bab 6 - Kamar Pengantin
7
Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8
Bab 8 - Kabar Pernikahan
9
Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10
Bab 10 - Memberi Nafkah
11
Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12
Bab 12 - Kedatangan Tamu
13
Bab 13 - Mantan Kekasih
14
Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15
Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16
Bab 16 - Sebuah Undangan
17
Bab 17 - Menginap di Hotel
18
Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19
Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20
Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21
Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22
Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23
Bab 23 - Siapa Monic ?
24
Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25
Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26
PROMO KARYA
27
Bab 26 - Mulai Candu
28
Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29
Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30
Bab 29 - Starla vs Ajeng
31
Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32
Bab 31 - Ulat Bulu
33
Bab 32 - Reuni SMA
34
Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35
Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36
Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37
Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38
Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39
Bab 38 - Ziarah Kubur
40
Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41
Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42
Bab 41 - Makan Malam Sendu
43
Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44
Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45
Bab 44 - Menangis Bersama
46
Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47
Bab 46 - Curhat
48
Bab 47 - Morning Sickness
49
Bab 48 - Pingsan
50
Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51
Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52
Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53
Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54
Bab 53 - Saling Mengancam
55
Bab 54 - Menjenguk Bening
56
Bab 55 - Sebuah Tamparan
57
Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58
Bab 57 - Upaya Terakhir
59
Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60
Bab 59 - Rencana Liburan
61
Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62
Bab 61 - Melepas Rindu
63
Bab 62 - Sedikit Gemuk
64
Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65
Bab 64 - Permintaan Starla
66
Bab 65 - Kemarahan Brahma
67
Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68
Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69
Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70
Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71
Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72
Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73
Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74
Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75
Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76
Bab 75 - Mulai Terkuak
77
Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78
Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79
Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80
Bab 79 - Kondisi Terkini
81
Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82
Bab 81 - Kondisi Starla
83
Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84
Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85
Bab 84 - Huru-Hara
86
Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87
Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88
Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89
Bab 88 - Bersimbah Darah
90
Bab 89 - Gelayut Mendung
91
Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92
Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93
Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94
Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95
Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96
Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97
Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98
Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99
Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100
Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101
Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102
Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103
PROMO KARYA BARU
104
PROMO KARYA BARU
105
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!