Bab 16 - Sebuah Undangan

"Sesuai di buku tamu namanya Ajeng Notokusumo, Bu."

"Ajeng. Ada apa lagi dia ketemu sama Mas Brahma? Apa sebenarnya ada masalah yang belum selesai antara mereka berdua?" batin Starla.

"Ya sudah, aku tunggu suamiku di ruangannya saja."

"Silahkan, Bu."

Starla pun berjalan memasuki ruangan kerja Brahma.

Sedangkan di sebuah restoran, Brahma dan Ajeng tengah makan siang bersama.

"Lain kali kalau kamu pengin bicara atau ada perlu denganku, jangan datang ke Polsek."

"Kenapa? Kan aku ketemu sama kamu juga ada perlunya,"

"Aku tahu, tapi kamu enggak lupa kan statusku sekarang sudah menikah dan punya istri."

"Terus?" sengit Ajeng.

"Ya, aku enggak enak sama anak-anak. Mereka tahu aku sudah menikah dan enggak pernah ada cewek datang ke kantor selain istriku."

"Memangnya laki-laki enggak boleh punya teman wanita?"

"Aku harap kamu ngerti posisiku, Jeng. Aku memang tetap sahabatmu tapi enggak seperti dulu lagi. Jangan sampai kedekatan kita sebagai sahabat disalahartikan sama orang lain yang melihat dan gak kenal sama kita," tegas Brahma.

"Apa istrimu yang melarang kita dekat?" cecar Ajeng.

"Bukan, tapi aku yang memang ingin kita enggak terlalu dekat. Ini juga semua demi nama baik kita berdua dan keluarga besar kamu juga aku," jelas Brahma.

Ajeng mendengus sebal karena Brahma susah sekali didekati. Setelah telepon berulang kali hingga mengirimkan pesan teks jarang direspon oleh Brahma, akhirnya Ajeng terpaksa mendekati dengan cara yang lain.

Ajeng datang langsung ke kota tempat Brahma dan Starla tinggal. Tentunya dengan dalih atau alasan yang kuat yakni membuka butik di kota tersebut. Ajeng sudah memiliki satu butik utama di Jakarta. Kini ia sengaja membuka cabang di kota lain demi dekat kembali dengan Brahma.

"Jangan lupa kamu wajib datang ke acara pembukaan butikku dua minggu lagi,"

"Aku usahakan datang kalau enggak sibuk," jawab Brahma apa adanya.

"Jangan diusahakan tapi wajib datang loh,"

"Kenapa harus buka cabang butikmu di kota ini? Bukankah di sini lumayan jauh dari Jakarta walaupun masih sama-sama di Pulau Jawa sih,"

"Ya enggak apa-apa. Pengin coba saja buka di sini siapa tahu bawa keberuntungan buatku. Ini kan juga kota besar bukan desa terpencil," jawab Ajeng agar Brahma tak curiga.

"Padahal kalau kamu buka cabang di Bandung kan lebih dekat sama Jakarta. Papa-Mamamu pastinya rindu setelah kamu jarang pulang ke Indonesia,"

"Kamu banyak berubah. Gak asyik lagi deh," sindir Ajeng. Sebab dari kalimat Brahma seakan mantan kekasihnya itu sengaja menghindarinya.

"Semua orang pastinya ada perubahan, Jeng. Kalau kita tetap di tempat, artinya kan gak maju-maju. Kalau nanti misal aku enggak bisa, apa boleh istriku yang gantikan buat datang ke acara pembukaan butikmu?"

"Memangnya dia tahu soal fashion?"

"Kan dia wanita, bukan laki-laki kayak aku. Pastinya sesama wanita lebih paham fashion walaupun sedikit daripada laki-laki. Urusan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki bahkan baju yang kupakai, semuanya tatanan dari istriku."

"Brahma yang sekarang makin rapi dan tampan, ternyata karena dia. Lumayan juga cara dia mengubah gaya dan penampilan Brahma yang sekarang daripada dulu saat masih sendiri," batin Ajeng tanpa sadar memuji kebolehan Starla sebagai istri Brahma dalam hal mengurus penampilan suami.

"Kenapa kamu enggak balik ke luar negeri, Jeng? Katanya di sana lebih menjanjikan buat karirmu,"

"Mau coba-coba pasar dalam negeri sekalian kangen Tanah Air. Aku kan sudah lama enggak pulang," jawab Ajeng.

"Oh, begitu."

"Sebenarnya aku kangen kamu, Brahma. Aku enggak terima kamu menikah sama wanita lain. Apalagi dia dari kalangan kelas bawah yang enggak banget deh. Jauh dari level keluarga kita. Masa aku kalah sih dari dia," batin Ajeng.

☘️☘️

Setelah makan siang, Brahma mengantar Ajeng ke hotel namun hanya untuk drop saja. Setelah itu, Brahma bergegas menuju Polsek. Sebab, salah satu anak buahnya baru saja mengirimkan pesan teks padanya kalau Starla sedang menunggu di kantor. Brahma segera tancap gas menuju Polsek.

Setibanya di kantor, Brahma berjalan hendak menuju ke ruangannya. Vicky yang baru saja kembali ke Polsek setelah tugas luar, langsung menyambut Brahma.

"Kasihan istri komandan sudah nunggu lama dari tadi," bisik Vicky sambil keduanya berjalan beriringan.

"Tadi Ajeng ke sini jadinya aku langsung bawa keluar. Enggak enak kalau dia lama-lama di ruanganku," jawab Brahma lirih.

"Astaga, mantan dipelihara. Kasihan Bu Komandan," cicit Vicky yang langsung mendapat delikan tajam dari Brahma. Vicky tentu saja tahu Ajeng Notokusumo adalah sahabat sekaligus mantan kekasih Brahma.

Vicky pun pergi ke arah yang lain dan Brahma masuk ke ruangannya.

Ceklek...

Brahma sengaja membuka pintu secara perlahan. Jam saat ini menunjukkan pukul tiga sore. Sempat kena macet di perjalanan dan harus mengantarkan Ajeng ke hotel, sehingga Brahma terlambat kembali ke kantor.

Langkah kaki Brahma mendadak berhenti kala melihat pemandangan di depannya saat ini. Brahma sempat tertegun sejenak. Lalu, ia melanjutkan langkah untuk masuk kembali dan mengunci rapat pintu ruangannya.

Brahma mendaratkan b0kongnya di sofa, tempat Starla yang tertidur dalam posisi duduk dan memeluk tubuhnya sendiri. Suhu ruangan kondisi normal. Tidak panas dan tidak juga terlalu dingin. Cuaca juga hari ini sedang cerah.

Brahma menatap lekat-lekat wajah istrinya yang cantik namun terlihat sedikit pucat.

"Dia pasti kecapekan nunggu aku sampai ketiduran begini. Maafin aku, La." Brahma hanya mampu berucap dalam hati.

Brahma memutuskan berdiri dan berjalan untuk duduk di kursi kerjanya. Tak lama tubuh Starla menggeliat dan membuka matanya kala telinganya mendengar derap langkah sol sepatu seseorang yang ia yakini milik suaminya.

"Mas, kamu sudah balik?"

"Iya, La. Kalau kamu masih ngantuk, tidur saja. Atau aku panggil taksi buat antar kamu pulang lalu istirahat di rumah saja,"

"Enggak perlu, Mas. Jam lima sore Mas sudah bisa pulang kan?"

"Iya, kebetulan hari ini enggak ada operasi. Semua tugas sudah aku selesaikan kemarin-kemarin makanya lembur,"

"Aku tunggu saja Mas di sini sampai jam lima sore. Enggak apa-apa kan?"

"Ya gak apa-apa. Tapi aku takutnya kamu bosan atau enggak nyaman di sini,"

"Aku seneng kok," ucap Starla seraya tersenyum di depan Brahma. Starla berusaha menutupi rasa kecewa dan sedihnya.

"Kamu ke sini kok enggak kasih kabar ke aku dulu,"

"Maaf, Mas. Aku sengaja mau kasih kejutan. Pengin makan siang bareng tapi ternyata Mas lagi pergi," cicit Starla.

"Tadi Ajeng ke sini mau anter undangan sekaligus makan siang," jelas Brahma. Ia tak mau Starla salah paham dengannya. Terlebih perihal kehadiran Ajeng yang mendadak hari ini ke Polsek.

"Undangan? Mbak Ajeng mau nikah, Mas?" tanya Starla.

"Bukan. Undangan pembukaan butiknya di kota ini. Acaranya dua minggu lagi," jawab Brahma.

Starla pun seketika lesu. Ia pikir Ajeng akan menikah dengan orang lain, ternyata bukan undangan pernikahan.

Saat keduanya asyik berbincang, mendadak bunyi perut Starla yang tengah kelaparan memenuhi ruang dengar Brahma.

Krucuk...krucuk...

"Kamu belum makan, La?"

Starla pun diam tanpa bersuara. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya guna menjawab pertanyaan Brahma barusan bahwa dirinya memang belum makan siang.

"Astaga Lala, kenapa kamu enggak bilang dari tadi! Kalau kamu sampai sakit, gimana coba?" Brahma seketika bangkit dari tempat duduknya dengan raut wajah cemas.

"Semisal aku sakit, apa Mas Brahma akan perhatian seperti ini ke aku?"

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

lah emang brahma ngerti apa soal fashion? 😆 mbak paling fashion lebih lucu anda acara fashion ngundangnya polisi, noh ivan gunawan haarusnya lu undang, lu pikir undangan lu tempat TKP pengeboman butuh ngundang polisi 😂🙈

2025-03-13

0

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢

ye menurut ngana, kan td bini lu nyamperin buat ngajak makan siang bareng 🥲

2025-03-13

0

guntur 1609

guntur 1609

gak tahun ja kau nanti brahma. yg membuat penyesalan hidup semakin besar

2025-01-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2 Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3 Bab 3 - Gang Ding Dong
4 Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5 Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6 Bab 6 - Kamar Pengantin
7 Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8 Bab 8 - Kabar Pernikahan
9 Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10 Bab 10 - Memberi Nafkah
11 Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12 Bab 12 - Kedatangan Tamu
13 Bab 13 - Mantan Kekasih
14 Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15 Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16 Bab 16 - Sebuah Undangan
17 Bab 17 - Menginap di Hotel
18 Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19 Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20 Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21 Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22 Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23 Bab 23 - Siapa Monic ?
24 Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25 Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26 PROMO KARYA
27 Bab 26 - Mulai Candu
28 Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29 Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30 Bab 29 - Starla vs Ajeng
31 Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32 Bab 31 - Ulat Bulu
33 Bab 32 - Reuni SMA
34 Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35 Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36 Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37 Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38 Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39 Bab 38 - Ziarah Kubur
40 Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41 Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42 Bab 41 - Makan Malam Sendu
43 Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44 Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45 Bab 44 - Menangis Bersama
46 Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47 Bab 46 - Curhat
48 Bab 47 - Morning Sickness
49 Bab 48 - Pingsan
50 Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51 Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52 Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53 Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54 Bab 53 - Saling Mengancam
55 Bab 54 - Menjenguk Bening
56 Bab 55 - Sebuah Tamparan
57 Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58 Bab 57 - Upaya Terakhir
59 Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60 Bab 59 - Rencana Liburan
61 Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62 Bab 61 - Melepas Rindu
63 Bab 62 - Sedikit Gemuk
64 Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65 Bab 64 - Permintaan Starla
66 Bab 65 - Kemarahan Brahma
67 Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68 Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69 Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70 Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71 Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72 Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73 Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74 Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75 Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76 Bab 75 - Mulai Terkuak
77 Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78 Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79 Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80 Bab 79 - Kondisi Terkini
81 Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82 Bab 81 - Kondisi Starla
83 Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84 Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85 Bab 84 - Huru-Hara
86 Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87 Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88 Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89 Bab 88 - Bersimbah Darah
90 Bab 89 - Gelayut Mendung
91 Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92 Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93 Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94 Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95 Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96 Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97 Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98 Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99 Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100 Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101 Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102 Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103 PROMO KARYA BARU
104 PROMO KARYA BARU
105 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2
Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3
Bab 3 - Gang Ding Dong
4
Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5
Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6
Bab 6 - Kamar Pengantin
7
Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8
Bab 8 - Kabar Pernikahan
9
Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10
Bab 10 - Memberi Nafkah
11
Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12
Bab 12 - Kedatangan Tamu
13
Bab 13 - Mantan Kekasih
14
Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15
Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16
Bab 16 - Sebuah Undangan
17
Bab 17 - Menginap di Hotel
18
Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19
Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20
Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21
Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22
Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23
Bab 23 - Siapa Monic ?
24
Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25
Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26
PROMO KARYA
27
Bab 26 - Mulai Candu
28
Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29
Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30
Bab 29 - Starla vs Ajeng
31
Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32
Bab 31 - Ulat Bulu
33
Bab 32 - Reuni SMA
34
Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35
Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36
Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37
Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38
Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39
Bab 38 - Ziarah Kubur
40
Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41
Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42
Bab 41 - Makan Malam Sendu
43
Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44
Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45
Bab 44 - Menangis Bersama
46
Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47
Bab 46 - Curhat
48
Bab 47 - Morning Sickness
49
Bab 48 - Pingsan
50
Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51
Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52
Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53
Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54
Bab 53 - Saling Mengancam
55
Bab 54 - Menjenguk Bening
56
Bab 55 - Sebuah Tamparan
57
Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58
Bab 57 - Upaya Terakhir
59
Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60
Bab 59 - Rencana Liburan
61
Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62
Bab 61 - Melepas Rindu
63
Bab 62 - Sedikit Gemuk
64
Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65
Bab 64 - Permintaan Starla
66
Bab 65 - Kemarahan Brahma
67
Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68
Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69
Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70
Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71
Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72
Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73
Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74
Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75
Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76
Bab 75 - Mulai Terkuak
77
Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78
Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79
Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80
Bab 79 - Kondisi Terkini
81
Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82
Bab 81 - Kondisi Starla
83
Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84
Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85
Bab 84 - Huru-Hara
86
Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87
Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88
Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89
Bab 88 - Bersimbah Darah
90
Bab 89 - Gelayut Mendung
91
Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92
Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93
Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94
Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95
Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96
Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97
Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98
Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99
Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100
Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101
Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102
Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103
PROMO KARYA BARU
104
PROMO KARYA BARU
105
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!