Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)

"Maaf, Jeng. Aku pikir kamu sibuk dengan pekerjaanmu di luar negeri jadi gak mau ganggu waktumu. Lagi pula pernikahanku dengan Starla, juga sengaja tidak mengundang banyak orang." Brahma membalas genggaman tangan Starla.

Tentu saja hal itu membuat Starla cukup terkejut. Namun ia tak terlalu baper dengan apa yang dilakukan Brahma di depan Ajeng. Dalam hatinya, ia berpikir Brahma bertindak hangat nan mesra padanya hanya karena ada Ajeng di depan mereka.

Bisa jadi Brahma ingin sedikit memanas-manasi Ajeng tuk membalas rasa kekecewaan lelaki ini di masa lalu saat mereka berdua putus menjadi sepasang kekasih, pikir Starla. Jadi, saat ini dirinya hanya dijadikan Brahma sebuah boneka yang berstatus istrinya semata di depan Ajeng.

"Walaupun kita sudah putus, tapi kamu tetap sahabatku sampai kapanpun. Jadi, kamu masih tetap menjadi prioritasku. Asal kamu tahu itu, Brahma Satria Mahendra."

Starla sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain guna membuang rasa sesak di dadanya saat ini. Di depannya secara langsung mantan kekasih suaminya itu menyatakan bahwa Brahma tetap menjadi prioritas hidupnya.

Starla merasa seakan saat ini dirinya berada di tengah-tengah kedua sejoli yang sedang bernostalgia sekaligus masih saling mencintai. Sungguh ironi.

Starla juga merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa tidak bisa mencegah perasaannya sejak awal bertemu Brahma agar tidak mencintai lelaki ini. Namun apa daya dirinya hanya manusia lemah. Hatinya tak mampu ia kendalikan sepenuhnya. Sebab, hatinya semakin dipenuhi cinta untuk suaminya itu. Semakin ia berusaha membuang cinta untuk Brahma dari hatinya, maka semakin cinta itu berkobar dan tak mampu ia padamkan.

"Maaf ya La, kalau aku jadi asyik ngobrol sendiri dengan Brahma. Maklum kami berdua lama tak berjumpa jadi banyak kerinduan yang akhirnya muncul saat ini," ucap Ajeng seraya tersenyum tipis pada Starla. Ajeng sangat tahu jika Starla pasti cemburu melihat kedekatannya kembali dengan Brahma.

"Iya, Mbak. Enggak apa-apa kok," jawab Starla yang berusaha tampak biasa-biasa saja padahal hatinya tengah rapuh di dalamnya.

"Kamu sudah tahu kan kalau aku dan Brahma dahulu pernah jadi sepasang kekasih yang cukup lama selain kita berdua sahabatan?"

"Iya, Mbak. Aku sudah tahu hal itu. Mas Brahma yang cerita sebelum kami menikah,"

"Oh ya, Brahma cerita apa lagi ke kamu soal aku?"

"Maaf sebelumnya Jeng, apa kamu masih lama di rumah orang tuaku?" sela Brahma.

"Kenapa? Apa sekarang kamu melarangku datang ke sini karena kita berdua sudah putus?"

"Bukan. Kami baru tiba di Jakarta dan masih letih. Aku sama istriku mau istirahat dulu di kamar. Kalau masih ada keperluan dengan orang tuaku, biar aku panggil Mama ke sini nemenin kamu."

"Ternyata kamu memang sudah banyak berubah. Bukan Brahma yang aku kenal dulu," sindir Ajeng.

Brahma tak menyahuti kalimat Ajeng yang barusan terlontar. Ia lebih memilih diam agar suasana tak semakin kacau karena kini mereka semua tengah berada di kediaman orang tuanya.

Akhirnya Starla pergi ke belakang sejenak untuk memanggil Bening. Dan ternyata ibu mertuanya itu sudah berada di area dapur bersih yang tak jauh dari ruang tamu. Ajeng berpamitan pada Brahma, Starla dan Bening. Sedangkan Arjuna sedang sibuk dengan perkara burungnya di belakang rumah.

"Kamu bawa gih istrimu ke kamar. Sepertinya Lala kelihatan pucat. Mungkin masih capek setelah perjalanan bulan madu kalian. Biar Ajeng, Mama yang antar ke depan."

"Iya, Ma." Brahma langsung menjawab perintah sang ibu. "Yuk La, kita ke kamar." Brahma mengajak Starla untuk masuk ke kamar.

"Lala ke kamar dulu ya, Ma."

"Iya, Sayang. Istirahat saja. Kamar kalian sudah Mama rapikan tadi," ucap Bening.

"Makasih, Ma."

"Iya," jawab Bening seraya tersenyum hangat pada menantunya itu.

Tak lupa sebelum pergi ke kamar, Starla minta maaf ke Ajeng karena tak bisa mengantar ke depan. Kemudian Brahma bersama Starla berjalan masuk ke dalam kamar pribadi mereka. Sedangkan Ajeng mendengus sebal melihat Brahma lebih memperhatikan Starla daripada dirinya.

"Pasti dia pura-pura gak enak badan biar Brahma dan Tante Bening perhatian padanya," batin Ajeng.

☘️☘️

Bening mengantar Ajeng menuju mobil mewah milik perancang busana ini, di mana sopir pribadi sudah menunggunya di sana.

"Salam ya buat Papa dan Mama kamu. Sehat-sehat selalu," ucap Bening.

"Iya, Tan. Aku seneng banget bisa main ke sini lagi. Jadi keinget banyak kenangan masa lalu yang indah di rumah ini bersama Tante dan Om sekeluarga," cicit Ajeng seraya tersenyum di depan Bening. Walaupun sejujurnya hatinya masih d0ngkol dengan pertemuan hari ini.

Mendadak langkah kaki Bening terhenti. Ajeng pun sontak otomatis ikut berhenti.

"Jeng, Tante boleh minta sesuatu hal sama kamu?"

"Apa itu, Tan?" tanya Ajeng seraya tersenyum sumringah. Dalam benaknya, ia berpikir Bening akan menyampaikan sesuatu hal penting yang sifatnya rahasia mengenai pernikahan Brahma dan Starla. Mungkin Bening masih setengah hati merestui Starla menjadi istri Brahma. Seketika harapan dalam hati Ajeng langsung membumbung tinggi.

"Setelah ini, tolong kamu menjaga jarak dengan Brahma. Tante enggak memutus hubungan antara keluarga kita sebagai teman yang baik. Tapi, perlu Ajeng tahu kalau sekarang Brahma sudah menikah. Tante hanya ingin menjaga perasaan Starla. Ajeng pasti tahu, wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya dekat dengan mantan kekasih di masa lalu? Tante hanya ingin rumah tangga Brahma dan Starla rukun tanpa kehadiran pihak ketiga. Semoga Ajeng paham maksud Tante," tutur Bening dengan tegas namun tetap berbalut keramahan serta kehangatan.

Faktanya ketika Ajeng tengah bercengkerama dengan Brahma dan Starla di ruang tamu, sebenarnya Bening mendengarnya. Alhasil sebagai mertua Starla sekaligus sesama wanita, ia akhirnya mengambil langkah tegas ini. Menyuruh Ajeng menjauh dari kehidupan Brahma.

Bagi seorang Bening, sebaik apapun mantan maka ia tetaplah mantan. Bisa menjadi onak berduri atau kerikil tajam dalam perjalanan sebuah biduk rumah tangga. Bening juga menerapkan prinsip tersebut dalam rumah tangganya sendiri bersama Arjuna.

Sebagai ibu kandung Brahma, ia sangat mengenal watak putranya itu. Alhasil ia yang menyingkirkan secara diam-diam bibit duri tajam yang dikhawatirkan mengganggu keharmonisan rumah tangga putra kesayangannya tersebut.

Ajeng tak menjawab apapun usai Bening berbicara padanya. Ia segera berpamitan untuk pulang. Di dalam mobil, mata Ajeng tengah berkaca-kaca. Ia tengah mengenang ketika masih berstatus sebagai kekasih Brahma. Begitu banyak kenangan manis yang sudah mereka alami bersama.

Sama sekali tak ada dalam benaknya bahwa setelah putus dari dirinya, Brahma begitu cepat mendapatkan pengganti. Ajeng meyakini Brahma masih sangat mencintainya. Kini hanya ada rasa penyesalan yang tersisa di hatinya.

"Aku menyesal, Brahma. Seharusnya waktu itu aku enggak egois. Seharusnya aku terima lamaran kamu untuk menikah. Pasti saat ini kita sudah bahagia bersama," batin Ajeng sendu.

Buliran air mata perlahan menetes membasahi wajah cantiknya.

Nasi sudah menjadi bubur maka hanya tinggal penyesalan yang tersisa di benak Ajeng Notokusumo saat ini. Brahma sudah berstatus sebagai suami dari wanita lain yakni Starla. Maka seharusnya ia sudah merelakan, namun hatinya masih belum rela melepas Brahma Satria Mahendra.

Karirnya tengah berada di puncak. Namun untuk apa semuanya itu saat ini bila hidupnya hampa tanpa kehadiran Brahma, pria yang sangat ia cintai. Sungguh, ia sangat menyesal.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

mampus kau ajeng.. calon pelakor tapi gak kesampaian. krn sdh dihadang langsung sm bening

2025-01-28

1

Putri Dhamayanti

Putri Dhamayanti

waduuh segini ajah sdh termewek mewek eikeh...mo ada konflik lg yg lbh dalam 😲

2024-09-21

1

Putri Dhamayanti

Putri Dhamayanti

mertua idaman 🤗

2024-09-21

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2 Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3 Bab 3 - Gang Ding Dong
4 Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5 Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6 Bab 6 - Kamar Pengantin
7 Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8 Bab 8 - Kabar Pernikahan
9 Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10 Bab 10 - Memberi Nafkah
11 Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12 Bab 12 - Kedatangan Tamu
13 Bab 13 - Mantan Kekasih
14 Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15 Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16 Bab 16 - Sebuah Undangan
17 Bab 17 - Menginap di Hotel
18 Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19 Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20 Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21 Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22 Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23 Bab 23 - Siapa Monic ?
24 Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25 Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26 PROMO KARYA
27 Bab 26 - Mulai Candu
28 Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29 Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30 Bab 29 - Starla vs Ajeng
31 Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32 Bab 31 - Ulat Bulu
33 Bab 32 - Reuni SMA
34 Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35 Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36 Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37 Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38 Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39 Bab 38 - Ziarah Kubur
40 Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41 Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42 Bab 41 - Makan Malam Sendu
43 Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44 Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45 Bab 44 - Menangis Bersama
46 Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47 Bab 46 - Curhat
48 Bab 47 - Morning Sickness
49 Bab 48 - Pingsan
50 Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51 Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52 Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53 Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54 Bab 53 - Saling Mengancam
55 Bab 54 - Menjenguk Bening
56 Bab 55 - Sebuah Tamparan
57 Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58 Bab 57 - Upaya Terakhir
59 Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60 Bab 59 - Rencana Liburan
61 Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62 Bab 61 - Melepas Rindu
63 Bab 62 - Sedikit Gemuk
64 Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65 Bab 64 - Permintaan Starla
66 Bab 65 - Kemarahan Brahma
67 Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68 Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69 Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70 Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71 Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72 Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73 Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74 Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75 Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76 Bab 75 - Mulai Terkuak
77 Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78 Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79 Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80 Bab 79 - Kondisi Terkini
81 Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82 Bab 81 - Kondisi Starla
83 Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84 Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85 Bab 84 - Huru-Hara
86 Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87 Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88 Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89 Bab 88 - Bersimbah Darah
90 Bab 89 - Gelayut Mendung
91 Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92 Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93 Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94 Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95 Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96 Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97 Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98 Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99 Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100 Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101 Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102 Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103 PROMO KARYA BARU
104 PROMO KARYA BARU
105 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2
Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3
Bab 3 - Gang Ding Dong
4
Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5
Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6
Bab 6 - Kamar Pengantin
7
Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8
Bab 8 - Kabar Pernikahan
9
Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10
Bab 10 - Memberi Nafkah
11
Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12
Bab 12 - Kedatangan Tamu
13
Bab 13 - Mantan Kekasih
14
Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15
Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16
Bab 16 - Sebuah Undangan
17
Bab 17 - Menginap di Hotel
18
Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19
Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20
Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21
Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22
Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23
Bab 23 - Siapa Monic ?
24
Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25
Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26
PROMO KARYA
27
Bab 26 - Mulai Candu
28
Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29
Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30
Bab 29 - Starla vs Ajeng
31
Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32
Bab 31 - Ulat Bulu
33
Bab 32 - Reuni SMA
34
Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35
Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36
Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37
Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38
Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39
Bab 38 - Ziarah Kubur
40
Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41
Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42
Bab 41 - Makan Malam Sendu
43
Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44
Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45
Bab 44 - Menangis Bersama
46
Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47
Bab 46 - Curhat
48
Bab 47 - Morning Sickness
49
Bab 48 - Pingsan
50
Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51
Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52
Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53
Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54
Bab 53 - Saling Mengancam
55
Bab 54 - Menjenguk Bening
56
Bab 55 - Sebuah Tamparan
57
Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58
Bab 57 - Upaya Terakhir
59
Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60
Bab 59 - Rencana Liburan
61
Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62
Bab 61 - Melepas Rindu
63
Bab 62 - Sedikit Gemuk
64
Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65
Bab 64 - Permintaan Starla
66
Bab 65 - Kemarahan Brahma
67
Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68
Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69
Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70
Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71
Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72
Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73
Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74
Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75
Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76
Bab 75 - Mulai Terkuak
77
Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78
Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79
Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80
Bab 79 - Kondisi Terkini
81
Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82
Bab 81 - Kondisi Starla
83
Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84
Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85
Bab 84 - Huru-Hara
86
Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87
Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88
Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89
Bab 88 - Bersimbah Darah
90
Bab 89 - Gelayut Mendung
91
Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92
Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93
Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94
Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95
Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96
Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97
Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98
Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99
Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100
Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101
Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102
Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103
PROMO KARYA BARU
104
PROMO KARYA BARU
105
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!