Bab 2 - Kontrak Pernikahan

Keesokan paginya, Brahma dan Starla sudah membersihkan diri. Keduanya kini duduk saling berhadapan di meja makan.

Mereka berdua baru saja selesai sarapan. Brahma sengaja meminta pelayan hotel membawa sarapan pesanannya ke dalam kamar. Ia ingin berbicara empat mata dengan Starla setelah semua yang terjadi semalam. You know what I mean.

"Minum ini," titah Brahma seraya menyodorkan sebuah obat berbentuk pil.

Ya, itu adalah pil kontra*sepsi darurat atau morning after pill. Salah satu cara mencegah kehamilan setelah berhubungan yang dapat dilakukan. Brahma menyuruh pelayan hotel secara khusus untuk membelinya tadi sebelum Starla bangun.

Starla melirik sekilas obat yang disodorkan Brahma padanya. Tentu saja ia tahu fungsi obat tersebut. Lalu Starla hanya tersenyum tipis. Bukan senyuman tanda bahagia tetapi senyuman yang membuatnya semakin tersadar dan menampar siapa dirinya ini baik secara materi, kasta, maupun strata sosial. Dirinya seakan seperti rumput liar yang tak akan pernah dilirik oleh siapapun. Bahkan jati diri ayah kandungnya saja hingga detik ini dia tak tahu. Sungguh ironi.

"Bangun Starla! Jangan mimpi dia bakal jadi pangeran berkuda putih yang didatangkan Tuhan untuk menolongmu dari dunia yang kejam ini apalagi mencintaimu," batin Starla bermonolog pada dirinya sendiri.

"Kamu sudah biasa melakukan hal ini ya sama banyak wanita," sindir Starla seraya tangannya menerima obat dari Brahma dan tanpa basa-basi langsung meminumnya.

"Ini yang pertama kali,"

"Maksudmu yang pertama menumpahkan benih di dalam rahim wanita. Sebelumnya selalu tumpah di luar ya. Mahir sekali," Starla tertawa kecil seraya menyeruput teh hangat miliknya.

"Hal seperti ini tentu saja aku tahu sebagai laki-laki tanpa harus melakukan hubungan in_tim dengan wanita mana pun. Menuduh orang tanpa bukti yang valid sama saja hoax sekaligus penyebaran fitnah. Kamu bisa saya kasuskan sekalian menginap gratis di pen*jara," ucap Brahma secara jujur dan tegas. Ia merasa tak terima atas sindiran Starla yang menganggapnya sebagai pemain wanita atau lelaki hidung b3lang yang hobi jajan dalam tanda kutip.

"Siap Pak Kapolsek AKP. Brahma Satria Mahendra yang terhormat," ucap Starla seraya memberi hormat ala-ala militer pada Brahma. "Tapi ngomong-ngomong kalau ada anggota polisi setingkat jabatan Kapolsek yang merudapaksa seorang gadis di hotel berbintang seperti ini, bisa dikasuskan juga atau jalan damai, Ndan?" sambungnya.

Skakmat !!

"Uhuk-uhuk..." Brahma yang tengah menyeruput kopi latte hangat miliknya langsung tersedak setelah mendengar kalimat Starla barusan yang menohok dirinya.

"Haishh !! Kalau minum hati-hati, Ndan. Jangan mati tersedak saat bersama saya. Cicilan hidupku masih banyak, jadi jangan mempersulitku. Kalau aku sampai menjadi tersangka pembunuhan seorang Kapolsek sekelas AKP. Brahma Satria Mahendra yang tampan ini, bisa-bisa aku diamuk para warganet yang jadi fans garis kerasmu."

Starla menepuk pelan area tengkuk dan punggung Brahma guna meredamnya seraya bibir mungilnya tanpa sadar terus mengomel.

"Aku tampan ya," celetuk Brahma.

"Dasar narsis! Bicara panjang lebar tapi yang disimpulkan dan diingat cuma kata tampan doang!" gerutu Starla seraya memutar bola matanya jengah melihat tingkah Brahma barusan. Sedangkan senyum tipis terbit di wajah tampan putra kandung Arjuna dan Bening tersebut.

☘️☘️

Starla pun kembali duduk di kursinya dan ia memutuskan tak melirik Brahma yang ada di hadapannya. Ia lebih memilih untuk melihat pemandangan kota dari kaca hotel, tempat dirinya berada saat ini.

"Jujur ini yang pertama buatku. Terserah kamu percaya atau tidak. Soal pil itu karena memang aku belum siap benihku tumbuh dalam rahimmu. Apalagi kita baru bertemu sekali dan aku belum mengenalmu. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab. Kamu enggak perlu khawatir," ucap Brahma.

"Tanggung jawab? Dengan cara?"

"Tentu saja menikahimu," jawab Brahma singkat.

"Hah, apa aku enggak salah dengar?"

"Kalau dua kupingmu tetap berada di tempatnya tanpa cacat sekalipun dan masih bisa menyahut kalimatku, artinya kamu tidak tuli."

Dingin pada wanita selain keluarganya dan sering membuat lawan bicaranya mati kutu, itu ciri khas seorang Brahma Satria Mahendra. Namun hal ini muncul sejak Brahma putus dari mantan kekasihnya yakni Ajeng Notokusumo. Brahma tidak pernah menjalin percintaan lagi dengan wanita mana pun. Namun tetap saja banyak wanita yang mendekati dan mengejarnya.

Terlebih ibunya, Bening Putri Prasetyo, sering menjodohkan dan mengenalkannya dengan beberapa wanita yakni putri dari rekan sejawat Arjuna di kepolisian. Ada juga putri dari kolega bisnis kedua orang tuanya. Namun tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Justru kini mendadak dirinya menyodorkan sebuah pernikahan pada Starla, wanita yang masih abu-abu identitas sekaligus sifat aslinya.

"Buat apa menikah? Apa hanya karena kamu telah mengambil kesucianku?"

"Salah satunya karena itu," jawab Brahma singkat.

"Kan aku sudah minum obat anti hamil. Lagi pula saat ini bukan masa suburku jadi aku enggak akan hamil. Kamu tenang saja,"

"Mungkin terdengar klise tapi sebagai laki-laki, orang tuaku mengajarkan rasa tanggung jawab atas segala hal yang aku perbuat di dunia ini. Aku tak mau disebut sebagai laki-laki pengecut yang lari dari tanggung jawab setelah mengambil kesucian anak gadis orang,"

"Lantas, sisanya karena alasan apa?" cecar Starla yang penasaran.

Brahma pun berusaha jujur pada Starla perihal hubungan dirinya yang kandas dengan mantan kekasihnya, Ajeng, dan juga terus lelah dikejar serta dijodohkan oleh ibunya.

"Dasar aneh! Menikah dengan wanita yang dijodohkan orang tua kan enak. Enggak perlu ribet karena sudah dicarikan orang tua. Bobot, bibit dan bebet juga sudah jelas. Restu pasti sudah didapat pula. Kok malah cari jalan berliku dengan menikahi wanita yang enggak jelas kayak aku,"

"Kamu manusia juga kok, bukan hantu. Jadi bukan wanita enggak jelas atau wanita jadi-jadian. Buktinya megalodonku sudah masuk semalam ke tubuhmu," goda Brahma.

Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Starla. Tidak seperti wanita lain yang selama ini berada di sekitarnya seperti yang diucap Starla yakni fans garis kerasnya. Tanpa disadari Brahma, sifat blak-blakan dan apa adanya yang ditampilkan Starla justru menarik hatinya secara tak kasat mata.

Dirinya sering digoda banyak wanita namun jarang sekali membalas godaan tersebut. Walaupun hanya sekedar ucapan yang keluar dari bibirnya atau berupa tulisan.

"Megalodon? Apa itu?" tanya Starla dengan mimik wajah polosnya.

"Sejenis ular berbisa," jawab Brahma asal ceplos.

"Hah, di mana ularnya?" Starla seketika ketakutan hingga tanpa sadar saat ini dirinya sudah naik dan berdiri di atas kursi. Ia melihat area sekelilingnya terutama di lantai, khawatir ular berbisa yang dimaksud Brahma mendadak menggigit kakinya. Dirinya belum ingin mati sekarang, pikirnya.

Brahma menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya yang terkepal. Ia tertawa kecil melihat Starla yang ketakutan dengan megalodon miliknya. Padahal semalam wanita ini mend3sah hebat akibat keganasan megalodon yang bercampur efek obat.

"Kok kamu malah ketawa sih!" omel Starla.

"Duduklah dengan tenang. Megalodonnya sedang tidur jadi dia enggak akan gigit kamu kok. Semalam dia sudah banyak mengeluarkan tenaga saat memasuki tubuhmu. Malam pertama kita," cicitnya lirih terutama di ujung kalimatnya namun terdengar jelas oleh Starla.

BUGH !!

Seketika sebuah bantal sofa yang ada di dekat Starla melayang pada wajah Brahma setelah wanita ini tersadar jati diri megalodon yang sebenarnya. Ternyata Brahma sedang menggodanya.

"Dasar polisi m3sum!" maki Starla.

Brahma hanya terkekeh melihat kemarahan Starla padanya yang justru terlihat menggemaskan. Ia sangat jarang tertawa seperti ini ketika bersama orang lain yang notabene bukan keluarganya.

Brahma tanpa basa-basi menyodorkan sebuah kontrak pernikahan dengan Starla. Mungkin dengan begini, Brahma berharap bisa membuat para wanita yang menjadi fans garis kerasnya mundur teratur sekaligus membalas rasa kecewanya pada Ajeng Notokusumo. Walaupun rasa cinta di hatinya masih terpatri untuk nama mantan kekasihnya itu.

"Berapa lama?" tanya Starla.

"Dua tahun," jawab Brahma.

"Jika lebih dari itu?"

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Andaru Obix Farfum

Andaru Obix Farfum

ajeng anaknya ayu y jeng

2024-12-06

0

guntur 1609

guntur 1609

lagakmu kayak Arjuna brahma. di ancam langsung kicep kau

2025-01-28

2

Deasy Dahlan

Deasy Dahlan

Lanjut... Penasaran

2025-01-03

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2 Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3 Bab 3 - Gang Ding Dong
4 Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5 Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6 Bab 6 - Kamar Pengantin
7 Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8 Bab 8 - Kabar Pernikahan
9 Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10 Bab 10 - Memberi Nafkah
11 Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12 Bab 12 - Kedatangan Tamu
13 Bab 13 - Mantan Kekasih
14 Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15 Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16 Bab 16 - Sebuah Undangan
17 Bab 17 - Menginap di Hotel
18 Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19 Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20 Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21 Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22 Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23 Bab 23 - Siapa Monic ?
24 Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25 Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26 PROMO KARYA
27 Bab 26 - Mulai Candu
28 Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29 Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30 Bab 29 - Starla vs Ajeng
31 Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32 Bab 31 - Ulat Bulu
33 Bab 32 - Reuni SMA
34 Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35 Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36 Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37 Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38 Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39 Bab 38 - Ziarah Kubur
40 Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41 Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42 Bab 41 - Makan Malam Sendu
43 Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44 Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45 Bab 44 - Menangis Bersama
46 Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47 Bab 46 - Curhat
48 Bab 47 - Morning Sickness
49 Bab 48 - Pingsan
50 Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51 Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52 Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53 Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54 Bab 53 - Saling Mengancam
55 Bab 54 - Menjenguk Bening
56 Bab 55 - Sebuah Tamparan
57 Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58 Bab 57 - Upaya Terakhir
59 Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60 Bab 59 - Rencana Liburan
61 Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62 Bab 61 - Melepas Rindu
63 Bab 62 - Sedikit Gemuk
64 Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65 Bab 64 - Permintaan Starla
66 Bab 65 - Kemarahan Brahma
67 Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68 Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69 Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70 Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71 Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72 Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73 Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74 Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75 Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76 Bab 75 - Mulai Terkuak
77 Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78 Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79 Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80 Bab 79 - Kondisi Terkini
81 Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82 Bab 81 - Kondisi Starla
83 Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84 Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85 Bab 84 - Huru-Hara
86 Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87 Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88 Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89 Bab 88 - Bersimbah Darah
90 Bab 89 - Gelayut Mendung
91 Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92 Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93 Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94 Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95 Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96 Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97 Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98 Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99 Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100 Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101 Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102 Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103 PROMO KARYA BARU
104 PROMO KARYA BARU
105 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1 - Dalam Pengaruh Obat
2
Bab 2 - Kontrak Pernikahan
3
Bab 3 - Gang Ding Dong
4
Bab 4 - Menjual Anak Perempuan Untuk Melunasi Hutang
5
Bab 5 - SAH (Pernikahan)
6
Bab 6 - Kamar Pengantin
7
Bab 7 - Pengantin Lama vs Pengantin Baru
8
Bab 8 - Kabar Pernikahan
9
Bab 9 - Ajeng Notokusumo
10
Bab 10 - Memberi Nafkah
11
Bab 11 - Membuat Banyak Kenangan
12
Bab 12 - Kedatangan Tamu
13
Bab 13 - Mantan Kekasih
14
Bab 14 - Penyesalan (Ajeng)
15
Bab 15 - Ingin Beri Kejutan
16
Bab 16 - Sebuah Undangan
17
Bab 17 - Menginap di Hotel
18
Bab 18 - Mengeluarkan Unek-Unek
19
Bab 19 - Sebuah Bekas Luka
20
Bab 20 - Terpaksa Berbohong
21
Bab 21 - Bertemu Mami Monic
22
Bab 22 - Sebuah Keputusan Penting (Mami Monic)
23
Bab 23 - Siapa Monic ?
24
Bab 24 - Masa Lalu (Mami Monic)
25
Bab 25 - Terjerat Benang Merah Masa Lalu
26
PROMO KARYA
27
Bab 26 - Mulai Candu
28
Bab 27 - Perkara Kejar Setoran
29
Bab 28 - Acara Pembukaan Butik Milik Ajeng
30
Bab 29 - Starla vs Ajeng
31
Bab 30 - Sebuah Ide Perjodohan
32
Bab 31 - Ulat Bulu
33
Bab 32 - Reuni SMA
34
Bab 33 - Ajeng Berulah (Senjata Makan Tuan)
35
Bab 34 - Wujud Cinta Starla
36
Bab 35 - Tinggal Bersama Mertua
37
Bab 36 - Baby Loading (Hamil)
38
Bab 37 - Jangan Sampai Lolos
39
Bab 38 - Ziarah Kubur
40
Bab 39 - Membuntuti Menantu (Bening)
41
Bab 40 - Perubahan Sikap Bening
42
Bab 41 - Makan Malam Sendu
43
Bab 42 - Pertengkaran (Arjuna dan Bening)
44
Bab 43 - Pertemuan Tak Terduga (Arjuna dan Mami Monic)
45
Bab 44 - Menangis Bersama
46
Bab 45 - Pagi Milik Brahma dan Starla
47
Bab 46 - Curhat
48
Bab 47 - Morning Sickness
49
Bab 48 - Pingsan
50
Bab 49 - Siapa Yang Tega ?
51
Bab 50 - Selaksa Kecewa Bercampur Emosi
52
Bab 51 - Cinta dan Keikhlasan
53
Bab 52 - Berbicara Empat Mata
54
Bab 53 - Saling Mengancam
55
Bab 54 - Menjenguk Bening
56
Bab 55 - Sebuah Tamparan
57
Bab 56 - Tak Ada Manusia Yang Sempurna
58
Bab 57 - Upaya Terakhir
59
Bab 58 - Aku Rela (Starla)
60
Bab 59 - Rencana Liburan
61
Bab 60 - Berpamitan ke Bandung
62
Bab 61 - Melepas Rindu
63
Bab 62 - Sedikit Gemuk
64
Bab 63 - Jalan-Jalan Malam
65
Bab 64 - Permintaan Starla
66
Bab 65 - Kemarahan Brahma
67
Bab 66 - Lima Puluh Tahu Sumedang
68
Bab 67 - Minta Izin (Starla)
69
Bab 68 - Aku Kangen Mami (Starla)
70
Bab 69 - Bersiap Menjauh dan Pergi (Starla)
71
Bab 70 - Undangan Spesial dari Tuhan (Umroh)
72
Bab 71 - Arti Kehadiranmu
73
Bab 72 - Kejutan (Terkejut)
74
Bab 73 - Pulang ke Jakarta
75
Bab 74 - Penyesalan Berbalut Rindu dan Cinta (Brahma)
76
Bab 75 - Mulai Terkuak
77
Bab 76 - Kado Pemberian Starla
78
Bab 77 - Penyesalan dan Tangis (Brahma-Bening)
79
Bab 78 - Kegaduhan di Rumah Sakit
80
Bab 79 - Kondisi Terkini
81
Bab 80 - Kehamilan Simpatik
82
Bab 81 - Kondisi Starla
83
Bab 82 - Asuransi Jiwa (500 Juta)
84
Bab 83 - Apa Aku Hamil ? (Ajeng)
85
Bab 84 - Huru-Hara
86
Bab 85 - Bertemu Sang Belahan Jiwa
87
Bab 86 - Buku Harian Milik Starla
88
Bab 87 - Ungkapan Cinta (Brahma-Starla)
89
Bab 88 - Bersimbah Darah
90
Bab 89 - Gelayut Mendung
91
Bab 90 - Bangun dari Koma (Starla)
92
Bab 91 - Akhir Tragis Tersangka Utama (Pembunuhan Mami Monic)
93
Bab 92 - Pernikahan Dadakan (Ravi dan Ajeng)
94
Bab 93 - Pernikahan Kontrak (Ravi-Ajeng)
95
Bab 94 - Acara Menjenguk Anak (Ravi-Ajeng)
96
Bab 95 - Menjelang Lahiran (Ravi-Ajeng)
97
Bab 96 - Keguguran (Ravi-Ajeng)
98
Bab 97 - Ungkapan Cinta (Ravi-Ajeng)
99
Bab 98 - Pohon Jambu Megalodon (Brahma-Starla)
100
Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
101
Bab 100 - Indahnya Saling Memaafkan
102
Bab 101 - Akhir Kisah (Keluarga Bahagia)
103
PROMO KARYA BARU
104
PROMO KARYA BARU
105
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!