Nadira vs Oma siska

Sudah hampir jam delapan malam, terdengar suara mobil dari depan rumah yang cukup mewah itu. Nadira tidak berniat menghampiri, dia duduk dengan angkuh di sofa ruang tamu sambil menunggu dua orang yang akan datang.

"Diraaa," suara pria paruh baya terdengar. Dua orang tua yang katanya Nyonya dan Tuan besar kini memasuki rumah. Dari jauh dapat Alena lihat tatapan penuh kebencian yang di tunjukan seorang wanita di samping pria tua itu. Jalannya sangat angkuh, dari raut wajahnya sudah tergambar jelas bahwa dia kesini dalam keadaan terpaksa.

"Sayang, syukurlah kamu baik baik saja, hmm. Ini opa bawain kamu beberapa hadiah," Nadira menerima pemberian pria itu yang dia ketahui namanya adalah Abigail Bimantara, ayah dari sang Mommy.

"Terima kasih," tangan Nadira membuka beberapa bingkisan yang tersimpan dalam satu plastik besar.

"Dari oma mana?" Nadira mengalihkan tatapannya pada sang oma yang terlihat tidak suka dengan pertanyaannya.

"Kamu tanya hadiah dariku? dalam mimpimu jika itu kau dapatkan. Lagian kenapa nggak mati sekalian aja sih, nyusahin aja kerjaannya!" mulut pedas dengan kalimat yang tidak di saring keluar begitu saja dari mulut wanita tua itu yang namanya adalah Siska Bimantara.

"Siska!" Opa Abigail menatap sang istri tak suka.

"Jangan marah mulu bisa? Oma menyumpahiku agar cepat meninggal, harusnya Oma yang sudah bau tanah itu harus berdoa, bisa jadi besok juga meninggal kan, setidaknya sebelum meninggal perbanyak berdoa dan berbuat baik agar nantinya tidak masuk neraka!" Sungguh ini adalah lawan yang sepadan untuk membungkam mulut pedas Oma Siska. Untuk pertama kalinya dalam usia yang hampir delapan belas tahun Nadira menjawab omongan mereka. Biasanya gadis itu jika sedang dimarahi maka akan diam dan hanya menunduk.

"Sudah bisa jawab kamu ya, apa kepalamu terbentur?" Oma Siska masih tidak percaya omelannya di jawab begitu saja oleh Nadira. sementara Opa Abigail yang sejak tadi menyimak juga merasa heran sendiri. Apa ada yang salah dengan kepala cucunya?.

"Oma berharap apa? berharap diam saja dengan perkataan pedas anda?" lagi, Nadira menjawab dan kali ini dia menekankan kalimatnya.

"Kamu pembawa sial Nadira, kamu tidak pantas hidup, kenapa tidak kamu aja yang di culik waktu itu hahhhhh! dasar anak pembawa SIAL!!" kali ini Nyonya Siska berpekik lantang, begitulah keduanya jika sudah bertemu pasti dia akan selalu memarahi Nadira dengan kalimat yang membuat Nadira di hantui rasa bersalah.

"Siska berhenti bicara omong kosong!" namun teriakan dari opa Abigail hanya berlalu begitu saja, sementara Nadira mengangkat tangannya seolah menyiratkan bahwa dia harus diam dulu.

"Itu saja kalimat yang anda ucapkan sejak dulu nenek tua. Kalau boleh memilih, aku juga berharap harusnya aku yang mereka culik waktu itu, kau tidak pernah berpikir bagaimana tertekan nya aku hidup di bawah tuduhan tidak jelas kalian, hah! Aku juga tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, biar kau tahu nenek tua. Aku juga masih membutuhkan mkasih sayang Mommy kala itu, dan kehilangan kembaranku sangat menyiksaku, sialan!"

Nadira bahkan lebih lantang mengeluarkan uneg unegnya. Emosi yang dia keluar begitu saja, Nadira merasakan sesak di hatinya kala mengucapkan kalimat yang selama ini dia simpan di hatinya. Dapat Alena rasakan rasa sesak yang sangat dalam dari pemilik tubuh ini sekarang.

...----------------...

Tanpa sadar Bi Sumi dan Opa Abigail menitikkan air mata mendengar isi hati gadis itu. Mereka paham gimana tersiksanya Nadira selama ini hidup di bawah kebencian keluarga besarnya. Gimana sakitnya jadi Nadira yang tidak di inginkan semenjak kejadian empat belas tahun lalu. Gimana terlukanya dia yang hidup masih mempunyai seorang ayah dan beberapa keluarga tapi itu semua keluarga toxic. Alena saja masih beruntung walau tidak punya keluarga setidaknya dia masih hidup bebas tanpa harus menanggung kebencian seperti ini.

Setelah mengatakan itu Nadira berlalu dari hadapan mereka dan kembali ke kamar.

"Bi Sumi, tolong antarkan saja makanan ku ke kamar, Aku tidak sudi makan dengan wanita tua itu!" pekik Nadira dari ujung tangga sebelum tubuhnya benar benar menghilang dari balik pintu kamar.

Sementara kini di ruang tamu, Opa Abigail memandang penuh kemarahan pada istrinya.

"Puas kamu? harus kayak gimana lagi aku bilang kepadamu Siska, kepergian Luna murni kecelakaan, bisa sekali saja kau melihatnya dari sudut pandang Nadira, dia jelas tidak menginginkan semua itu terjadi, bagaimana jika saat itu kamu yang berada di posisi Nadira? bagaimana perasaan kamu jika di kambing hitamkan terus semasa hidupnya hah?!" panjang lebar Opa Abigail berbicara tapi rupanya hati wanita itu memang sudah di tutup oleh rasa benci yang mendalam pada Nadira. Sebagaimana anaknya pergi begitu saja karena rengekkan manja Nadira kala itu, maka dari itu Oma Siska menutup mata terhadap banyak kemungkinan yang terjadi.

"Aku tidak peduli, dia yang telah menghilangkan nyawa putriku, dia pantas di benci Abigail, sangat pantas!" menitikkan air matanya,

"Karena dia juga, salah satu cucuku harus hilang begitu saja tanpa ada kabarnya sampai sekarang, hiks.." Oma Siska melanjutkan kalimatnya dengan lirih.

Setiap kali selesai memarahi Nadira, pasti oma siska akan menangis pada akhirnya. Dia masih belum iklas. Sungguh, kepergian anak satu satunya membuat wanita tua itu terpukul bahkan sampai sekarang. Sudah dari dulu dia tidak ingin melihat Nadira tapi sang suami selalu saja memaksa dirinya untuk sekedar berkunjung.

Tidak tahukan suaminya jika sudah melihat wajah Nadira maka dengan sendirinya luka yang selalu berusaha dia kubur harus kembali terbuka.

Oma Siska sangat membenci ini, dia sangat benci dengan hatinya yang tidak pernah iklas kehilangan putri tunggalnya.

Sama halnya dengan Nadira yang tidak ingin makan bersama di meja makan, Oma Siska juga berlalu begitu saja dari hadapan sang suami dan berjalan menuju kamarnya sembari menangis sesenggukan.

Alhasil sekarang tinggal Opa Abigail yang memijat pelipisnya karena pusing sendiri. Kalau di bilang iklas, sebenarnya dia sendiri juga nggak iklas sama sekali dengan kepergian anaknya, tapi mau bagaimana pun juga salah besar jika dia menyalahkan Nadira juga dalam hal ini. Opa Abigail beranjak menuju kamar Nadira, dia ingin mengajak bicara cucunya setelah beberapa hari dia tidak berkunjung.

"Sayang, Dira, opa masuk ya," suara lembutnya kembali terdengar di telinga Nadira yang entah sedang apa disana.

"Masuk!" ujar Nadira dari dalam. Dengan perlahan opa Abigail membuka pintu kamar gadis itu, hal pertama yang dia lihat adalah kamar yang sudah seperti kapal pecah, baju berserakkan dimana mana, sedangkan Nadira terbaring di kasur dengan model yang tidak ada anggun anggunnya. Opa abigail jadi sedikit heran, ini pertama kalinya dia masuk ke kamar Nadira dalam kondisi yang tidak biasa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Shelvia Amanda Dika

Shelvia Amanda Dika

jgn jgn kembaran nadira itu si alena x ya

2025-03-07

1

Land19

Land19

makjleb banget kalo ngata²in 🤭

2025-01-31

0

Murni Murniati

Murni Murniati

mgkn dia kembaran nadira,

2024-12-04

0

lihat semua
Episodes
1 Kau cukup berani!!!
2 Aku hanya kasihan, karena hidupnya menyedihkan!
3 "pergilah,, aku membebaskanmu sekarang!!"
4 kau harus bangun!!
5 Dihantui oleh kenangan yang Alena ciptakan.
6 Nadira fernandez
7 warna pink
8 Nadira vs Oma siska
9 Nadira mau motor, apa boleh??
10 Motor Baru
11 perasaan gelisah
12 kembali
13 perkara kamar
14 menemui Vallerio
15 aku Alena Alexandria
16 belanja
17 sudah? atau mau tampar lagi??
18 kesepakatan
19 tes
20 kemarahan Wiliam
21 Drama queen
22 harus dimusnahkan!
23 Dia siapa sebenarnya?
24 dengan syarat, kalian angkat kaki dari rumah ini!!
25 apa hakmu memecatnya?
26 dia memang Alena-ku.
27 kayak Familiar wajahnya
28 tidak boleh!!
29 Rumah sakit
30 mereka saling kenal?
31 ini yang mau ku ceritakan tadi!
32 mimpi?
33 kehebohan pagi hari disekolah
34 di kantin
35 mencaritahu penyebab kecelakaan mommy
36 Ngapain kamu kesini?
37 aku harus melakukannya memenuhi permintaan Nadira!
38 catatan harian
39 rencana Alena dan Vallerio
40 mencuri start
41 sepupu tengil
42 memohon-lah!!
43 aku yang membiayai semuanya..
44 berdua ala Wiliam
45 dia..
46 Mari bersaing
47 kita pacaran ya!
48 ulang tahun Sella
49 "Deddy, peluk Nadira sekali saja.."
50 Alena dan Nadira
51 kesedihan tak berujung
52 Nadira, aku ingin menemuinya!!
53 pulang
54 kau egois!!!
55 Dendam Alena.
56 Dugong
57 mood buruk ~Alena
58 masalah perusahaan
59 pulang ~ Wiliam
60 Alena vs Raisya ~balapan
61 hari sial~ Tania
62 tidak ada putus! ~William
63 Balik~ Malvin
64 nasi goreng spesial ala Alena
65 aku minta maaf..~ Malvin
66 Cemburu
67 panggil sayang aja, boleh? ~Aurora
68 Rencana
69 cuddle semalaman
70 memanas
71 happy birthday, sayang!
72 kota sejuta rindu
73 morning kiss
74 lamaran
75 ngebet nikah
76 SAH!!!
77 sejak kapan?
78 janji dulu!
79 malam panjang
80 aku bantu mandiin ya..
81 aura pengantin baru
82 tinggal di apartemenku saja!
83 membawa makan siang suami
84 suatu kebetulan
85 Rania vs Tania
86 bagaimana kalau kamu menikah lagi?
87 bulan madu, lagi!
88 labuan bajo
89 curi mangga
90 terharu
91 kenapa tidak ajak mommy??
92 protektif
93 menempeli suami
94 sakit..
95 sekertaris itu..
96 Sella comeback
97 "wajah baru, cantik nggak?"
98 AIRA PUTRI MANGGALA
99 promosi karya baru.
Episodes

Updated 99 Episodes

1
Kau cukup berani!!!
2
Aku hanya kasihan, karena hidupnya menyedihkan!
3
"pergilah,, aku membebaskanmu sekarang!!"
4
kau harus bangun!!
5
Dihantui oleh kenangan yang Alena ciptakan.
6
Nadira fernandez
7
warna pink
8
Nadira vs Oma siska
9
Nadira mau motor, apa boleh??
10
Motor Baru
11
perasaan gelisah
12
kembali
13
perkara kamar
14
menemui Vallerio
15
aku Alena Alexandria
16
belanja
17
sudah? atau mau tampar lagi??
18
kesepakatan
19
tes
20
kemarahan Wiliam
21
Drama queen
22
harus dimusnahkan!
23
Dia siapa sebenarnya?
24
dengan syarat, kalian angkat kaki dari rumah ini!!
25
apa hakmu memecatnya?
26
dia memang Alena-ku.
27
kayak Familiar wajahnya
28
tidak boleh!!
29
Rumah sakit
30
mereka saling kenal?
31
ini yang mau ku ceritakan tadi!
32
mimpi?
33
kehebohan pagi hari disekolah
34
di kantin
35
mencaritahu penyebab kecelakaan mommy
36
Ngapain kamu kesini?
37
aku harus melakukannya memenuhi permintaan Nadira!
38
catatan harian
39
rencana Alena dan Vallerio
40
mencuri start
41
sepupu tengil
42
memohon-lah!!
43
aku yang membiayai semuanya..
44
berdua ala Wiliam
45
dia..
46
Mari bersaing
47
kita pacaran ya!
48
ulang tahun Sella
49
"Deddy, peluk Nadira sekali saja.."
50
Alena dan Nadira
51
kesedihan tak berujung
52
Nadira, aku ingin menemuinya!!
53
pulang
54
kau egois!!!
55
Dendam Alena.
56
Dugong
57
mood buruk ~Alena
58
masalah perusahaan
59
pulang ~ Wiliam
60
Alena vs Raisya ~balapan
61
hari sial~ Tania
62
tidak ada putus! ~William
63
Balik~ Malvin
64
nasi goreng spesial ala Alena
65
aku minta maaf..~ Malvin
66
Cemburu
67
panggil sayang aja, boleh? ~Aurora
68
Rencana
69
cuddle semalaman
70
memanas
71
happy birthday, sayang!
72
kota sejuta rindu
73
morning kiss
74
lamaran
75
ngebet nikah
76
SAH!!!
77
sejak kapan?
78
janji dulu!
79
malam panjang
80
aku bantu mandiin ya..
81
aura pengantin baru
82
tinggal di apartemenku saja!
83
membawa makan siang suami
84
suatu kebetulan
85
Rania vs Tania
86
bagaimana kalau kamu menikah lagi?
87
bulan madu, lagi!
88
labuan bajo
89
curi mangga
90
terharu
91
kenapa tidak ajak mommy??
92
protektif
93
menempeli suami
94
sakit..
95
sekertaris itu..
96
Sella comeback
97
"wajah baru, cantik nggak?"
98
AIRA PUTRI MANGGALA
99
promosi karya baru.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!