Bab Tujuh Belas

Pagi harinya setelah berpakaian rapi, Amanda membawa putrinya menuju restoran yang ada di dalam hotel. Saat akan masuk, dia melihat Salsa. Wanita itu lalu mendekatinya.

Salsa yang melihat kedatangan Amanda tampak kurang senang. Wajahnya langsung cemberut.

"Selamat Pagi, Mbak Salsa. Apa nanti kita bicara lagi? Apa Mbak sudah menanyakan kebenaran tentang pernikahan kami?" tanya Amanda.

"Sudah, Mbak. Dan aku sudah tahu jawabannya. Nanti jam sepuluh aku mau bicara. Kebetulan hari ini aku bisa minta izin. Jam makan siang aku janji dengan Bang Tama ke restoran untuk merayakan dua tahun pernikahan kami," ucap Salsa tanpa rasa bersalah.

Salsa mungkin telah termakan rayuan suaminya sehingga menganggap Amanda lah yang bersalah dalam retaknya rumah tangga mereka.

Dada Amanda terasa nyeri mendengar ucapan wanita itu. Dia hanya sempat merayakan ulang tahun pernikahan pertama dan pastinya yang terakhir dengan Aditya. Amanda tersenyum getir mengingatnya.

"Baiklah kalau begitu. Aku mau sarapan dulu. Apa kamu mau gabung?" tanya Amanda.

"Terima kasih, Mbak. Aku tadi sudah sarapan. Bang Tama masak nasi goreng. Oh ya, apa aku boleh tau maksud kedatangan Mbak di kota ini? Apa hanya untuk mencari keberadaan Bang Tama?" tanya Salsa dengan suara sedikit sinis.

Amanda tertawa miring mendengar pertanyaan Salsa. Pasti wanita itu berpikir dia sengaja datang ke kota ini mencari keberadaan suaminya.

"Sayang sekali tebakan kamu salah, Mbak Salsa. Aku ke kota ini untuk menghadiri peresmian cabang kafe milikku. Dan hanya kebetulan melihat Mas Adit. Aku sudah ikhlas melepaskannya," jawab Amanda.

Salsa terdiam mendengar ucapan madunya itu. Dia percaya suaminya pria yang baik dan tak akan dia lepaskan pada wanita manapun.

"Aku pamit dulu, Mbak. Nanti aku datang lagi jam sepuluh. Apa aku bisa minta nomor ponsel Mbak agar nanti lebih mudah menghubungi," balas Salsa.

"Tentu saja boleh," jawab Amanda.

Amanda lalu mengambil kartu nama dari dalam tasnya. Dia lalu menyerahkan pada Salsa. Setelah itu pamit mau sarapan.

Setelah Amanda menghilang ke dalam restoran, Salsa membaca kartu nama itu. Dia tampak mengerutkan dahinya.

"Ternyata dia pemilik kafe Elsa yang baru buka itu. Apa Bang Tama tau jika istrinya seorang pengusaha?" tanya Salsa dalam hatinya.

Setelah sarapan sambil menunggu jam sepuluh, Amanda mengajak putrinya Elsa bermain di taman. Dia membeli makanan yang di jual anak-anak dan membaginya kembali pada anak-anak yang bermain di sekitar taman.

Amanda membayar dengan harga dua kali lipat. Dia sengaja membeli makanan mereka agar anak-anak itu tak merasa jadi pengemis jika dia memberikan uang tanpa membeli.

Saat sedang asyik menemani anaknya bermain, gawai dalam tas nya berdering. Amanda melihat nama mamanya Aditya yang tertera. Dangan malas wanita itu mengangkatnya.

"Ada apa, Ma?" tanya Amanda.

"Amanda, maafkan mama. Apa pun yang kamu dengar dan lihat, mama harap jangan percaya," ucap Mama Sari di seberang sana.

"Kenapa Mama bicara begitu? Ada apa, Ma?" tanya Amanda, pura-pura tak mengerti dengan ucapan mertuanya itu. Padahal dia yakin jika wanita itu telah dapat kabar jika dia bertemu Aditya.

"Tak ada apa-apa. Mama cuma takut kamu mendengar atau melihat sesuatu yang membuat kamu sedih. Mama hanya ingin kamu tau, mama sangat menyayangi kamu."

"Iya, Ma." Hanya jawaban singkat itu yang di berikan. Dia tak mau banyak bicara dulu. Nanti setelah berhadapan langsung baru dia buka semuanya.

Sambungan telepon pun ditutup. Amanda tersenyum getir mengingat selama ini telah di tipu wanita itu. Rasa hormatnya pada Mama Sari telah hilang saat mendengar kalau wanita itu selama ini tahu keberadaan anaknya tapi berpura-pura tak mengetahui.

Dia yang berjuang sendiri selama ini, mencari keberadaan sang suami. Pantas tak diizinkan melapor pada polisi.

**

Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa telah satu jam dia bermain di taman bersama sang putri. Amanda melihat ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Mengajak bertemu di kafe kemarin. Dia yakin itu pesan dari istri baru sang suami.

Amanda lalu mengajak putrinya untuk menuju kafe. Awalnya bocah itu tak mau karena sedang asyik bermain. Dia lalu menjanjikan putrinya makan es krim. Barulah Elsa bersedia.

Dengan berjalan kaki Amanda menuju ke kafe yang kemarin mereka datangi. Langkahnya pasti, agar semua bisa selesai dengan cepat.

Baru memasuki kafe, pandangan Amanda langsung menuju meja di sudut ruangan, tempat mereka kemarin bertemu. Ternyata benar, wanita itu telah menunggu di sana.

Amanda menarik napas untuk menghilangkan kegugupan. Entah mengapa dadanya merasa sesak setiap melihat Salsa. Walau dia sadar jika semua ini bukan kesalahan wanita itu.

Salsa yang melihat kedatangan Amanda mencoba memberikan senyuman. Sejak mengetahui jika wanita itu datang untuk meresmikan kafe miliknya, rasa takut menghantuinya. Jika suaminya tahu kalau sang istri sudah sukses, pasti akan berpikir dua kali untuk bercerai.

"Selamat Siang, Mbak," sapa Salsa begitu Amanda mendekati mejanya.

"Selamat Siang. Maaf karena harus menunggu," balas Amanda. Dia memilih duduk dihadapan wanita itu.

"Aku juga baru sampai. Mbak silakan pesan makanan dulu," ucap Salsa.

"Bunda, mau es krim," ucap Elsa.

"Ya, Sayang. Mama pesan dulu," jawab Amanda.

Pandangan Salsa beralih pada bocah cilik itu. Dia menatap tanpa kedip. Memperhatikan interaksi antara ibu dan anak yang begitu manis. Amanda terlihat sangat lembut melayani putrinya. Dia juga menginginkan memiliki putri.

"Wajah Elsa sangat mirip Bang Tama dalam versi cewek. Apakah dia akan kembali pada mbak Amanda jika melihat putrinya ini?" tanya Salsa dalam hatinya.

Setelah memesan makanan mereka mengobrol basa basi terlebih dahulu. Hingga pesanan mereka datang. Elsa sangat senang melihat segelas es krim ada dihadapannya.

"Mbak Salsa, kita langsung saja ke inti obrolan. Bukankah kamu ingin pergi merayakan ulang tahun pernikahan kalian?" tanya Amanda. Dia berusaha menekan perasaan kecewanya agar tak terlihat.

"Benar, Mbak. Maaf ucapanku. Aku tak bermaksud pamer atau apa," jawab Salsa.

"Jangan merasa bersalah begitu. Aku sudah katakan jika tak ada cinta lagi untuk Mas Adit. Aku hanya ingin kepastian hubungan kami agar nanti bisa melangkah lagi. Aku cuma heran, kenapa kamu dan Mas Adit bisa nikah resmi. Apakah dia memalsukan dokumen atau dia meminta seseorang yang cukup berkuasa agar bisa meloloskan surat nikahnya?" tanya Amanda.

"Aku gak tau mengenai itu, Mbak. Aku hanya tau dia masih lajang sehingga tak mempermasalahkan," jawab Salsa.

"Ya, itu pasti. Aku tak menyalahkan kamu. Aku sadar semua ini kemauan Mas Adit, dia yang bertanggung jawab atas semua ini," balas Amanda.

Dia menarik napas lagi. Dadanya sesak jika membayangkan apa yang telah suaminya lakukan. Sesaat keduanya terdiam, hingga Amanda kembali bertanya.

"Apakah kamu sudah tanyakan status pernikahannya? Apakah dia mengaku?" tanya Amanda lagi.

"Iya, Mbak. Bang Tama mengakui dan tak menutupi apa pun yang terjadi dengan rumah tangga kalian."

"Apa alasannya menutupi pernikahan kami dan pergi dariku begitu saja?" Kembali Amanda bertanya.

"Bang Tama pergi karena memang tak pernah mencintai kamu, Mbak. Dia tak pernah bahagia selama menikahi kamu. Itulah alasan dia pergi," jawab Salsa.

Dada Amanda terasa sesak mendengar jawaban dari Salsa. Jadi selama ini dia merasa tak bahagia. Kalau memang tak bahagia dan tak mencintainya, kenapa dulu dia yang datang melamar, tanya Amanda dalam hatinya.

Terpopuler

Comments

Ila Lee

Ila Lee

keluarga suka bohona dari ibu sampi ke anak sukanya berbohong terus

2024-11-15

0

Dewa Rana

Dewa Rana

mama apa bunda

2024-12-18

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

Bohong

2024-10-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!