Bab Delapan

Amanda terbangun dan langsung melihat jam di dinding kamarnya. Dia terkejut ketika menyadari hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia lalu bangun dan berjalan keluar kamar. Ingin mencari keberadaan sang suami.

Dengan langkah pasti dia mencari setiap sudut rumah, tapi tak dapat menemukan keberadaan Aditya sang suami. Rasa kuatir mulai menghinggapi Amanda. Sekali lagi dia mencoba mencari keberadaan suaminya, tapi tak juga ada di manapun dalam rumah ini.

Amanda teringat jika suaminya pergi membawa mobil yang satu, dia lalu mencari ke garasi. Hanya ada satu mobil miliknya. Yang sering di pakai suaminya tak ada, itu berarti suaminya memang belum pulang.

Wanita itu lalu masuk ke kamar. Mengambil gawai miliknya. Mencoba menghubungi nomor suaminya tapi tak aktif. Beberapa kali mencoba hasil tetap sama.

Amanda menimang gawainya untuk menghubungi mertuanya, tapi dia masih ragu. Dia meletakan gawainya kembali di meja. Memutuskan untuk menunggu kepulangan suaminya hingga jam satu malam. Walau tak pernah sang suami pergi begitu lama. Biasanya hanya sampai jam sepuluh paling lama.

Amanda naik ke ranjang dan mencoba memejamkan mata, tak lama dia pun terlelap karena mata yang memang sudah sangat mengantuk. Wanita itu terbangun karena tangisan Elsa. Dilihatnya ke samping, tapi sang suami belum juga pulang. Dia lalu melihat jam dinding, jam telah menunjukan pukul tiga dini hari. Perasaannya mulai tak karuan. Cemas, kuatir dan prasangka lainnya bersemayam di otaknya saat ini.

Elsa masih menangis, mungkin merasakan kegelisahan yang ibunya rasakan. Amanda lalu menyusukan bayinya hingga kembali tertidur. Setelah itu dia masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Amanda lalu melaksanakan solat malam. Hanya berdoa yang bisa dia lakukan saat ini karena gawai sang suami tak bisa dihubungi. Padahal dia telah mencoba puluhan kali.

"Ya, Tuhan. Lindungi suamiku, dimanapun dia berada saat ini. Jika memang jalannya lurus, beri dia kesabaran dalam menjalani semua. Jika jalan yang sedang dia lakukan salah, beri petunjuk agar dia kembali. Aku tak meminta apa pun darinya, hanya dia kembali seperti semula dia pergi."

Amanda memanjatkan doa sambil menangis. Dia merasa bersalah, karena berpikir suaminya pergi karena mereka habis bertengkar. Padahal dia mempertahankan harta juga demi Elsa.

Setelah solat malam, Amanda mengambil Al-Qur'an dan membacanya hingga tiba waktu salat subuh. Dia melakukan salat subuh dengan doa yang sama agar suaminya di lindungi dan kembali seperti saat dia pergi.

"Tuhan, Engkau maha pengasih dan penyayang, namun Engkau maha kuasa dan pengertian. Dunia ini bisa menjadi tempat yang menakutkan dan aku berdoa kiranya Engkau memberi suamiku keberanian. Tuhan, tanamkan karakternya dengan keberanian untuk mengambil keputusan sehari-hari dan juga dalam mengambil keputusan yang sulit. Buat dia menjadi suami yang bertanggung jawab. Kembalikan dia seperti yang aku kenal dulu."

Setelah melakukan salat subuh, Amanda berencana untuk membuat sarapan. Siapa tahu suaminya kembali. Namun, tangisan Elsa membaut dia mengurungkan niat. Amanda lalu menyusui putrinya.

***

Waktu terus berjalan. Amanda merasa detik demi detik berjalan sangat lambat. Jam telah menunjukan pukul delapan pagi. Pikirannya makin tak karuan. Sudah berulang kali dia mencoba menghubungi gawai sang suami dan tetap saja sama, tak aktif.

Setelah memandikan bayinya, Amanda lalu sarapan. Dia berencana ke rumah mertua. Siapa tahu suaminya menginap di sana. Wanita itu sengaja tak menghubungi mama mertua dan ingin langsung pergi ke sana.

Amanda membawa tempat Baby car seat, agar bayinya nyaman. Dengan kecepatan sedang dia menjalankan mobil menuju rumah mertuanya.

Satu jam perjalanan akhirnya dia sampai di halaman rumah mertua. Tak terlihat mobil yang di bawa suaminya. Tapi Amanda tetap melangkah masuk. Baru saja keluar dari mobil, tampak kakak iparnya yang baru datang dengan motor. Sepertinya baru pulang belanja di warung.

"Selamat Pagi, Kak Dian," sapa Amanda dengan ramah.

"Tumben pagi-pagi datang. Sama siapa kamu? Adit mana?" tanya Dian.

"Berdua Elsa saja," jawab Amanda dengan suara pelan. Mendengar pertanyaan dari kakak iparnya, Amanda bisa menebak jika Aditya tidak berada di sini.

Kak Dian melangkah masuk diikuti Amanda. Terlihat Mama mertua yang sedang asyik menonton sambil makan kue. Melihat kedatangan Amanda, wanita itu tampak terkejut.

"Pagi-pagi dah ke sini? Ada apa? Mana Aditya?" tanya Mama Sari.

Amanda hanya menjawab dengan senyuman. Dia mengambil duduk di samping kanan mertuanya. Lalu menidurkan bayinya di sofa. Kak Dian juga ikutan duduk.

"Ma, apa Mas Aditya ada mengatakan pada Mama kemana dia pergi?" tanya Amanda.

Mama Sari dan Kak Dian terkejut mendengar pertanyaan wanita itu. Keduanya tampak saling pandang.

"Jadi Adit tak ada di rumah? Kamu ini gimana sih, Manda. Bukankah seharusnya kamu sebagai istri yang tau kemana suami pergi. Emangnya sejak kapan Adit meninggalkan rumah?" tanya Kak Dian.

"Dia pergi sejak sore kemarin. Pamitnya mau berkumpul dengan teman-temannya. Mau ke tempat bilyard," jawab Amanda.

"Apa kalian bertengkar sebelum Adit pergi?" tanya Mama Sari.

Amanda menarik napas berat. Apa perdebatan mereka kemarin itu termasuk pertengkaran. Jika itu dikatakan pertengkaran, apa dia salah mempertahankan harta miliknya? Tanya Amanda dalam hatinya.

Kak Dian dan mama kembali saling tatap melihat Amanda bingung, bukannya menjawab pertanyaan mamanya.

"Kenapa diam, Manda? Apakah kamu dan Aditya bertengkar sebelum dia pergi dari rumah?" tanya Kak Dian.

Amanda tampak menarik napas. Sulit untuk mengatakan apa yang terjadi antara dia dan suaminya. Takut ada kesalahpahaman anatar dia, kakak ipar dan mertua.

"Amanda, kenapa kamu diam? Apa jangan-jangan kalian memang bertengkar sehingga Aditya pergi dari rumah?" Kak Dian kembali mengajukan pertanyaan.

"Kami tak bertengkar, Kak. Tapi memang ada sedikit selisih pendapat," jawab Amanda.

"Itu juga bisa dikatakan bertengkar! Memangnya apa yang kalian bicarakan sehingga berselisih pendapat?" Lagi-lagi Kak Dian bertanya.

Amanda kembali menarik napas berat. Apakah kali ini dia harus berkata jujur, walau pun nanti akan ada salah penerimaan.

**

Selamat Siang. Apa kabarnya? Mama doakan semua dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.

Maaf jika mama kembali mengingatkan untuk membaca setiap novel mama yang update. Jangan menumpuk bab agar retensi tercapai. Terima kasih. Lope-lope sekebon jeruk. 😍😍😍

Terpopuler

Comments

Ila Lee

Ila Lee

pasti mertua dan kak ipar kamu thu kemana adit sandiwara

2024-11-15

0

Sri Puryani

Sri Puryani

mertua & kakak ipar sama" gk jls orangnya

2025-02-15

0

Maria Magdalena Indarti

Maria Magdalena Indarti

pasti mertua tahu ttg anaknya. yg kuat amanda.

2024-10-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!