Bab 7. Hilangnya Bangkai Kadal, dan Sebuah Teguran Misterius

Sebenarnya, sungguh aneh dengan keadaan Bu Surmi saat itu. Dengan emosi nya yang sepertinya meledak dengan tiba-tiba hanya karena seekor binatang melata. Ya. Hanya karena binatang kadal sedang berjemur, yang dia jumpai nya di atas batu cadas.

Jika saja ada orang yang memperhatikan atau tahu Bu Surmi saat itu, pastinya akan bertanya-tanya. Bu Surmi seperti anak kecil saja. ( tapi,,, yaaa begitulah, author juga nggak tahu, mungkin cerita ini nggak akan ada, kalau nggak 'gara-gara sang Kadal').

Setelah merasa berhasil mengenyahkan sang Kadal yang bentuk badanya memang sedikit aneh, karena berekor cabang dan berlekuk, yang membuat perasaan Bu Surmi dibuat dongkol dan merasa gemas menjijikan, apalagi waktu tadi Bu Surmi mendekati Kadal tersebut, perkiraan Bu Surmi saat itu, kadal itu seolah mau menggigit dengan kepalanya yang sedikit mendongak ke atas dan lidahnya yang dijulur-julurkan kedalam dan keluar mulut kadal tersebut hingga membuat kaget dan niak pitam bagi Bu Surmi dan ingin membinasakannya.

Memang, Bu Surmi telah berhasil membinasakan binatang melata tersebut, untuk kedua kalinya, dan dengan pikiran yang masih sadar sepenuhnya, Bu Surmi membuang bangkai binatang itu, dilemparkan ke sungai, dan Bu Surmi sendiri melihat dengan kedua matanya sendiri, bangkai Kadal itu hanyut terbawa arus sungai kehilir, walaupun air sungai kecil itu sudah mulai menyusut karena sudah hampir dua bulan tidak ada hujan. Tapi sangat jelas sekali, untuk bangkai binatang kecil itu, masih bisa menghanyutkan.

"Hufh...!"

Bu Surmi menaiki pematang sawah yang lebih atas, sambil sedikit menaikkan pakaian khusus buat kerja di ladang, yang menutupi betisnya. Setelah berada di sisi pematang sawah atas, yang juga merupakan dinding selokan air yang mengaliri sawah dan ladang di hilir, milik warga dan juga milik Bu Surmi. Setelah mengatur sedikit nafasnya, Bu Surmi lalu melangkahkan kaki ke arah hilir, dan menghampiri Pak Amet, suaminya yang sedari tadi sudah berada di saung kecil untuk beristirahat sebelum pulang ke rumah.

Namun, baru beberapa langkah, Bu Surmi seraya menghentikan langkahnya. Ternyata, dia baru ingat, sandal nya yang sempat tadi dipakai, ketinggalan saat ia mau turun ke bawah, bendungan air ( warga masyarakat pedesaan, menyebutnya darmaga; red.) pas mau menyocok lubang-lubang air yang bocor.

"Astaga...!! untung keburu ingat." Gumam Bu Surmi, sambil putar balik lagi ketempat semula.

"Kenapa balik lagi Bu...!!?" Teriak Pak Amet dari arah saung sawahnya yang memang melihat, isterinya balik lagi ke arah hulu sungai.

"Bukankah airnya sudah naik ke selokan, Bu...!!?" Tanyanya lagi.

" Sandal Ibu ketinggalan, Pak...!!"

" Ooowwh... Ya sudah, cepetaaan,,!! Si Adi keburu pulang dari sekolah. Kasihan itu anak, kalau sepulang sekolah nggak ada masakan. Ibu kan harus masak buat makan siang..!!" Pak Amet mengingatkan isterinya.

Tanpa berkata dan menoleh ke suaminya, dengan sedikit buru-buru, Bu Surmi langsung balik lagi untuk mengambil sandalnya yang tertinggal.

Tidak berapa lama kemudian.

Bu Surmi sudah sampai ke arah yang dituju, ia melihat sandalnya yang disimpan dekat deretan pohon pisang pinggir bendungan sungai ( darmaga ).

Baru dua meteran jarak Bu Surmi yang dengan sandal nya, mendadak ia tertegun. Kedua matanya disorotkan dengan tajam, kearah sandalnya. Sepontan, Bu Surmi bergumam, sedikit kaget.

" Kok... Ka...kadal i...ituu...??!!"

Bu Surmi merasa heran, heran sekali. Melihat kadal yang bentuk tubuhnya persis seperti kadal yang tadi, sedang berada persis dipinggir sandalnya yang tergeletak.

"Padahal, aku sudah membunuhnya dan membuang bangkainya ke sungai. Dan aku lihat bangkainya terbawa hanyut. Kok malah berada di samping sandalku...!!?"

Batin Bu Surmi bertanya-tanya.

"Lah... paling kadal yang lain, atau kalau tidak induknya, paling anaknya, namanya juga binatang...!!" Gumam Bu Surmi, sambil mendekat ke arah sandalnya, setelah dekat, tangan Bu Surmi langsung disodorkan mau mengambil sandalnya.

Tapi aneh.

Baru saja tangan kanan Bu Surmi mengambil sandalnya, dengan terpaksa, Bu Surmi menarik tangannya kembali dan mengurungkan niyatnya untuk mengambil sandal.

Kini, Bu Surmi melihat kadal yang membelakanginya dengan ekor bercabang dua dan berlekuk itu digerak-gerakkan ke atas. Seolah mau mengajak bercanda pada Bu Surmi, hingga membuat hati Bu Surmi menjadi dongkol.

"Hai kadal menjijikan...!!!, enyah kau dari sini, kalau tidak mau nasibmu sama dengan sodara kembarmu, indukmu, anakmu atau, entahlah. Aku jijik sekali melihatnya. Apalagi mau mencoba menggigit aku, berarti kamu cari mati...!!" Tiba- tiba saja, Bu Surmi langsung marah saja. entah kenapa.

Kalau saja ada orang yang melihat dan mengetahui kelakuan Bu Surmi seperti itu, pasti akan dikira agak sedikit kurang waras, karena bicara pada binatang melata yang pastinya tidak faham dengan bahasa manusia.

Setelah merasa puas dengan memarahi sang kadal, Bu Surmi kembali langsung mengambil sandal japit nya yang tertinggal.

Namun aneh, begitu sandalnya mau diambil. Mulut kadal tersebut menggigit salah satu tali jepitan sandal Bu Surmi, bahkan ada sedikit tarik menarik antara Bu Surmi dengan binatang melata tersebut.

Walau sedikit merasa aneh dan merasa heran juga dengan hewan melata itu yang bukannya lari karena ada manusia, malahan ini seolah menantang dan melawan. Hingga membuat Bu Surmi nerasa gemas, dan ingin membinasakan.

Setelah gigitan kadal terlepas dari sandal Bu Surmi, dengan cepat dan dengan tenaga yang penuh. Bu Surmi memukul-mukul hewan melata itu dengan sandalnya. Hingga menimbulkan suara pukulan yang keras.

"Plak...plak... Bugh... Bugh... "

Pukulan Bu Surmi tepat sasaran, hingga tubuh hewan itu melenting, tubuhnya menjengkit, tampak kesakitan.

Tidak puas dengan pukulannya, yang padahal hewan melata itu sudah klepek - klepek hampir tak berdaya, Bu Surmi terus-terusan memukulnya lagi dengan lebih keras. Sekilas, ekor mata Bu Surmi melihat ada dahan kayu kecil yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya, sekilat, Bu Surmi mengambil dahan kayu kecil itu.

Tanpa ba bi bu lagi....

"Bukh... Bukh... Bukh... Bukh..."

Dahan kayu kecil itu dihantamkan nya lagi ke tubuh sang kadal, hingga hewan itu tidak bergerak, ekornya putus dari badan hewan tersebut, hingga mati.

"Mampus luh...!! Kan ku kubur biar jadi tanah sekalian...!!" Rutuk Bu Surmi, sambil membuat lubang kecil di tanah yang agak becek dan gembur, dengan dahan kayu yang tadi dipakai menghabisi nyawa sang kadal.

Kemudian bangkai kadal dikuburkannya, dan ditindih batu-batu sebesar kepalan orang dewasa.

Setelah dirasa beres, Bu Surmi mengambil sandalnya lagi, kemudian ia memberesihkan kaki dan tangannya, dan bergegas melangkahkan kaki nya, ke arah Pak Amet, suaminya yang sedari tadi sudah menunggunya.

Namun, baru saja beberapa langkah Bu Surmi melangkahkan kedua kakinya, Bu Surmi dikejutkan dengan suara seorang laki-laki tua yang tiba-tiba saja berada tidak jauh darinya, dengan membawa keranjang bambu agak besar, yang hampir penuh dengan rumput-rumput hijau. Rupanya laki-laki tua itu sedang mencari rumput buat pakan ternaknya.

" Harusnya, Bu Surmi tidak membinasakan hewan tak bedosa itu. Kasihan. Hewan juga ingin tetap hidup...!!"

"Ee....eh..a.. anu.. kadal itu mau gigit saya, Pak...!" Jawab Bu Surmi, sedikit kaget dan gugup, dengan kedatangan laki-laki tua pencari rumput itu yang kemudian berlalu ke arah kebun yang banyak rumputnya.

Bu Surmi juga kemudian melongos dan berlalu begitu saja, ia juga tidak menyadari dan merasa tidak kenal dengan laki-laki pencari rumput yang baru saja menegurnya.

"...Ah, paling orang tetangga desa sebelah, lagian aku tidak ada urusan dengannya..!"

Gerutunya lagi.

Sekilas, ia melihat lelaki tersebut sudah agak jauh darinya, terlihat hanya punggungnya saja, lelaki itu sibuk sedang menata rumput yang dimasukkan di keranjang bambunya.

----

" Ayo Pak. Kita pulang. Si Ardi keburu pulang dari sekolahnya." Ajakan Bu Surmi pada suaminya.

Pasangan suami isteri paruh baya itu bejalan ke Selatan, menyusuri jalan setapak, dan meninggalkan sawah ladang mereka.

***

Terpopuler

Comments

Fathiya Fitri

Fathiya Fitri

jahat banget sih bu...
tinggal diusir ajaa...

2024-09-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1, Mendadak uring-uringan tak jelas, setelah pulang dari ladang
2 Bab 2 Tak kunjung sembuh
3 Bab 3. Kedatangan "seseorang" ketika tak sadarkan diri
4 Bab 4. Utusan dari Leluhur
5 Bab 5. Berawal dari menemukan binatang 'aneh' saat di ladang
6 Bab 6. Binatang Kadal 'Jejadian'
7 Bab 7. Hilangnya Bangkai Kadal, dan Sebuah Teguran Misterius
8 Bab 8. Didatangi Orang Utan.
9 Bab 9. Eyang Cakra Buana, Penguasa Gunung Halimun. Part 1
10 Bab 10. Eyang Cakra Buana, Penguasa Bukit Halimun. part 2.
11 Bab 11. Pergi ke Bukit Halimun
12 Bab 12. Malam Sebelum Perjalanan
13 Bab. 13. Perjalanan Menuju ke Bukit Halimun. Part 1.
14 Bab 14 Perjalanan ke Bukit Halimun. Part 2
15 Bab 15. Kadal Misterius Muncul Lagi
16 Bab 16. Dihadang Dua Laki-laki Tak Dikenal
17 Bab 17. Firasat kurang Baik
18 Bab 18. Firasat Fatma dan Kucing Hitam
19 Bab 19. Terpaksa Melawan.
20 Bab 20. Pertarungan tak Berimbang
21 Bab 21. Ki Durgala. Siapakah Dia?
22 Bab 22. Durgala dan Darsih.
23 TTJL Bab 23. Pertarungan Tak Bisa Dielakkan Lagi
24 TTJL Bab 24. Hampir Tak Ada Harapan.
25 TTJL Bab 25. Di Tempat Kakek Sura
26 TTJL Bab 26. Malam Purnama di Puncak Bukit Halimun.
27 TTJL Bab 27. Diwarisi Jimat Pusaka
28 TTJL Bab 28. Salah Jalan & Berurusan dengan Siluman Kera
29 TTJL . Bab 29. Tamu Tak Diundang. (Kedatangan Siluman Kera) Part 1
30 TTJL Bab. 30. Tamu Tak diundang (Kedatangan Siluman Kera) Part 2
31 TTJL Bab 31. Bertemu Nenek Tua Menyeramkan.
32 TTJL Bab 32. Tentang Bukit Halimun, Bukit Harendong dan Lembah Monyet.
33 TTJL Bab. 33. Bujukan Nenek Tua
34 TTJL Bab 34. Kekuatan Baru dalam Jiwa Bu Surmi.
35 TTJL Bab 35. Lengkingan si Nenek.
36 TTJL Bab. 36. Ritual Raja Kera dan Lelaki Paruhbaya
37 TTJL Bab 37. Persembahan Buat Dewa Kematian.
38 TTJL Bab 38. Bisa Memahami Bahasa Binatang
39 TTJL Bab 39. Gagalnya Ritual Penyembahan
40 TTJL Bab 40. Musuh Bebuyutan.
41 TTJL Bab. 41. Serangan Bertubi-tubi.
42 TTJL Bab 42. Kakek Sura Kewalahan.
43 TTJL. Bab 43. Mbok Darsih dibawa Kabur.
44 TTJL Bab. 44. Kelemahan Kakek Sura.
45 TTJL Bab. 45. Kerasukan Eyang Cakra Buana.
46 TTJL Bab 46. Kakek Sura dibawa Pergi.
47 TTJL Bab 47. Penawaran Benggala Jengah
48 TTJL 48. Menjemput Mbok Darsih.
49 TTJL. Bab 49. Sekilas tentang Dirman
50 TTJL. Bab. 50. Perlawanan. ( Part 1 ).
51 TTJL. Bab 51. Perlawanan (Part2).
52 TTJL Bab.52. Dikepung Sekutu Siluman.
53 TTJL. Bab 53. Hampir Seminggu, Nggak ada Kabar.
54 TTJL Bab.54 Liciknya Benggala Jengah
55 TTJL. Bab. 55. Melawan Sundel Bolong dan Genderuwo
56 TTJL Bab. 56. Pertarungan sesama Kawan yang Jadi Lawan.
57 TTJL Bab 57. Korban Tumbal Benggala Jengah
58 TTJL Bab 58. Manusia-manusia Berkepala Tengkorak.
59 TTJL Bab 59. Memusnahkan Manusia-manusia berkepala Tengkorak.
60 TTJL. Bab. 60. Perlawanan Hebat.
61 TTJL Bab 61. Pertarungan Menegangkan.
62 TTJL Bab 62. Hubungan Benggala Jengah dan Cakra Buana. ( Part 1 )
63 TTJL Bab 63. Hubungan Benggala Jengah dan Cakra Buana ( Part 2 )
64 TTJL Bab. 64. Kembali pada Pertarungan.
65 TTJL Bab 65. Berniyat Melarikan Diri
66 TTJL Bab 66. Dewi Kegelapan, Ratu Siluman Ular, Sekutunya Benggala Jengah.
67 TTJL. Bab. 67. Tumbangnya Sang Raja Siluman Kera.
68 TTJL. Bab. 68. Akhirnya Keluar dari Sarang Kerajaan Siluman Kera.
69 TTJL Bab. 69. Bertemu Dirman yang Tergencet Batu Besar
70 TTJL Bab. 70. Sekilas siapa Dirman.
71 TTJL Bab. 71 Ratu Siluman Ular Sancaki Weling.
72 TTJL Bab. 72 Mulai Melawan
73 TTJL Bab. 73 Selendang Merah Milik Sancaki Weling.
74 TTJL. Bab. 74 Senjata Lain Sancaki Weling
75 TTJL Bab. 75. Berbagai Jurus dari Sancaki Weling
76 TTJL Bab. 76. Akhirnya Tak Bisa Dimusnahkan.
77 TTJL Bab. 77. Kembali ke Rumah Kakek Sura.
78 TTJL Bab. 78. Berada di Tempat Kakek Sura.
79 TTJL Bab. 79 Pulang, Meninggalkan Tempat Kakek Sura dengan Keanehan Besar
80 TTJL Bab. 80. Benalu dalam Perjalanan Pulang
81 TTJL Bab. 81. Bertemu lagi dengan Durgala.
82 TTJL Bab 82. Kekalahan dan Tamat Riwayat nya Ki Durgala.
83 TTJL Bab. 83. Kebakaran
84 TTJL Bab 84. Mulai Dikenal Sebagai Orang Pintar.
85 TTJL Bab 85. Persaingan
86 TTJL Bab 86 Ritual Mbah Parmo ( bag. 1)
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1, Mendadak uring-uringan tak jelas, setelah pulang dari ladang
2
Bab 2 Tak kunjung sembuh
3
Bab 3. Kedatangan "seseorang" ketika tak sadarkan diri
4
Bab 4. Utusan dari Leluhur
5
Bab 5. Berawal dari menemukan binatang 'aneh' saat di ladang
6
Bab 6. Binatang Kadal 'Jejadian'
7
Bab 7. Hilangnya Bangkai Kadal, dan Sebuah Teguran Misterius
8
Bab 8. Didatangi Orang Utan.
9
Bab 9. Eyang Cakra Buana, Penguasa Gunung Halimun. Part 1
10
Bab 10. Eyang Cakra Buana, Penguasa Bukit Halimun. part 2.
11
Bab 11. Pergi ke Bukit Halimun
12
Bab 12. Malam Sebelum Perjalanan
13
Bab. 13. Perjalanan Menuju ke Bukit Halimun. Part 1.
14
Bab 14 Perjalanan ke Bukit Halimun. Part 2
15
Bab 15. Kadal Misterius Muncul Lagi
16
Bab 16. Dihadang Dua Laki-laki Tak Dikenal
17
Bab 17. Firasat kurang Baik
18
Bab 18. Firasat Fatma dan Kucing Hitam
19
Bab 19. Terpaksa Melawan.
20
Bab 20. Pertarungan tak Berimbang
21
Bab 21. Ki Durgala. Siapakah Dia?
22
Bab 22. Durgala dan Darsih.
23
TTJL Bab 23. Pertarungan Tak Bisa Dielakkan Lagi
24
TTJL Bab 24. Hampir Tak Ada Harapan.
25
TTJL Bab 25. Di Tempat Kakek Sura
26
TTJL Bab 26. Malam Purnama di Puncak Bukit Halimun.
27
TTJL Bab 27. Diwarisi Jimat Pusaka
28
TTJL Bab 28. Salah Jalan & Berurusan dengan Siluman Kera
29
TTJL . Bab 29. Tamu Tak Diundang. (Kedatangan Siluman Kera) Part 1
30
TTJL Bab. 30. Tamu Tak diundang (Kedatangan Siluman Kera) Part 2
31
TTJL Bab 31. Bertemu Nenek Tua Menyeramkan.
32
TTJL Bab 32. Tentang Bukit Halimun, Bukit Harendong dan Lembah Monyet.
33
TTJL Bab. 33. Bujukan Nenek Tua
34
TTJL Bab 34. Kekuatan Baru dalam Jiwa Bu Surmi.
35
TTJL Bab 35. Lengkingan si Nenek.
36
TTJL Bab. 36. Ritual Raja Kera dan Lelaki Paruhbaya
37
TTJL Bab 37. Persembahan Buat Dewa Kematian.
38
TTJL Bab 38. Bisa Memahami Bahasa Binatang
39
TTJL Bab 39. Gagalnya Ritual Penyembahan
40
TTJL Bab 40. Musuh Bebuyutan.
41
TTJL Bab. 41. Serangan Bertubi-tubi.
42
TTJL Bab 42. Kakek Sura Kewalahan.
43
TTJL. Bab 43. Mbok Darsih dibawa Kabur.
44
TTJL Bab. 44. Kelemahan Kakek Sura.
45
TTJL Bab. 45. Kerasukan Eyang Cakra Buana.
46
TTJL Bab 46. Kakek Sura dibawa Pergi.
47
TTJL Bab 47. Penawaran Benggala Jengah
48
TTJL 48. Menjemput Mbok Darsih.
49
TTJL. Bab 49. Sekilas tentang Dirman
50
TTJL. Bab. 50. Perlawanan. ( Part 1 ).
51
TTJL. Bab 51. Perlawanan (Part2).
52
TTJL Bab.52. Dikepung Sekutu Siluman.
53
TTJL. Bab 53. Hampir Seminggu, Nggak ada Kabar.
54
TTJL Bab.54 Liciknya Benggala Jengah
55
TTJL. Bab. 55. Melawan Sundel Bolong dan Genderuwo
56
TTJL Bab. 56. Pertarungan sesama Kawan yang Jadi Lawan.
57
TTJL Bab 57. Korban Tumbal Benggala Jengah
58
TTJL Bab 58. Manusia-manusia Berkepala Tengkorak.
59
TTJL Bab 59. Memusnahkan Manusia-manusia berkepala Tengkorak.
60
TTJL. Bab. 60. Perlawanan Hebat.
61
TTJL Bab 61. Pertarungan Menegangkan.
62
TTJL Bab 62. Hubungan Benggala Jengah dan Cakra Buana. ( Part 1 )
63
TTJL Bab 63. Hubungan Benggala Jengah dan Cakra Buana ( Part 2 )
64
TTJL Bab. 64. Kembali pada Pertarungan.
65
TTJL Bab 65. Berniyat Melarikan Diri
66
TTJL Bab 66. Dewi Kegelapan, Ratu Siluman Ular, Sekutunya Benggala Jengah.
67
TTJL. Bab. 67. Tumbangnya Sang Raja Siluman Kera.
68
TTJL. Bab. 68. Akhirnya Keluar dari Sarang Kerajaan Siluman Kera.
69
TTJL Bab. 69. Bertemu Dirman yang Tergencet Batu Besar
70
TTJL Bab. 70. Sekilas siapa Dirman.
71
TTJL Bab. 71 Ratu Siluman Ular Sancaki Weling.
72
TTJL Bab. 72 Mulai Melawan
73
TTJL Bab. 73 Selendang Merah Milik Sancaki Weling.
74
TTJL. Bab. 74 Senjata Lain Sancaki Weling
75
TTJL Bab. 75. Berbagai Jurus dari Sancaki Weling
76
TTJL Bab. 76. Akhirnya Tak Bisa Dimusnahkan.
77
TTJL Bab. 77. Kembali ke Rumah Kakek Sura.
78
TTJL Bab. 78. Berada di Tempat Kakek Sura.
79
TTJL Bab. 79 Pulang, Meninggalkan Tempat Kakek Sura dengan Keanehan Besar
80
TTJL Bab. 80. Benalu dalam Perjalanan Pulang
81
TTJL Bab. 81. Bertemu lagi dengan Durgala.
82
TTJL Bab 82. Kekalahan dan Tamat Riwayat nya Ki Durgala.
83
TTJL Bab. 83. Kebakaran
84
TTJL Bab 84. Mulai Dikenal Sebagai Orang Pintar.
85
TTJL Bab 85. Persaingan
86
TTJL Bab 86 Ritual Mbah Parmo ( bag. 1)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!