"Kamu lama sekali sih Di, beli obat segitu saja, dasar anak bandel, maunya keluyuran saja.!! Kepala ibu terasa mau pecah sakit serasa tertancap paku, sini obatnya..!!"
Racau Bi Urmi pada anaknya, yang baru datang dari Apotek.
"Ma...maaf, Bu. Tadi di Apoteknya ngantri banget." Kilah Pardi.
"Sudah, jangan banyak alasan, buruan, Ibu ambilkan air minumnya... Cepetaaaaan...aduuuh sakiiit..!!" Teriak Bu Surmi masih dalam mode amarahnya.
"Ba..baik Bu.. Adi ambil air minum dulu." Pardi gugup dan takut juga ketika Ibunya marah- marah. Setengah berlari Pardi langsung kedapur, mengambilkan air minum untuk ibunya.
Tidak berapa lama, sambil tergopoh, Pardi memberikan segelas air putih pada Ibunya.
Dengan cepat, Bu Surmi meminum obat yang sudah tadi dipegangnya.
"Sudah, kamu keluar saja, Ibu mau istirahat. Sana-sana pergi. Pergiii...!!"
"i...ia Bu... !!?" Anak itu tiba-tiba menjadi takut.
"Kenapa sih, kok ibu semarah itu, aneh..!?" Gerutu Pardi dalam hatinya, sambil meninggalkan Ibunya yang masih memijiti kening dan kepalanya. Bu Surmi terus meringis menahan rasa sakit di kepalanya yang semakin terasa nyut- nyutan.
"Ya Ampuuuun, Gustiii... Nyeri banget kepalaku ini...!! Teriak Bu Surmi, di kamarnya, setelah beberapa menit minum obat parasetamolnya.
Beberapa menit kemudian.
Teriakan Bu Surmi terdengar lebih keras lagi, hingga teriakannya terdengar oleh Pardi anaknya, yang sedang mengelap motor kesayanganya di pinggir rumah, spontan saja anak itu langsung berlari ke kamar Ibunya, tidak tega dan khawatir ketika Ibunya teriak-teriak menahan rasa sakit yang tidak seperti biasanya.
Memang benar, Bu Surmi saat itu benar-benar merasakan yang tiba-tiba menyerang di kepalanya, bahkan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Haduuuuuh...kepalakuuu... nyerii...ampuuun...!!" Teriakan Bu Surmi lagi.
"Tok...tok.. Tok"
Pardi mengetuk pintu kamar ibunya, dengan penuh rasa iba, tiba-tiba rasa khawatir memenuhi dada anak itu dengan keadaan ibunya yang terus menerus berteriak kesakitan bahkan terdengar diiringi tangisan.
Pintu kamar terbuka perlahan, seketika Pardi kaget melihat Ibunya yang sedang menjambak rambutnya dan sekali-kali membenturkan kepalnya.
"Bu...ibu kenapa ...!!!?? Adi pijitin kepalanya yah.." setengah berlari, Pardi menghampiri Ibunya.
"Buuuu... Ibu kenapaaaa...!!??" tanya Pardi lagi yang mulai terbawa suasana. Isak anak itu mulai terdengar. Kedua tangannya memegang pergelangan Ibunya.
Rambut Bu Surmi tampak acak-acakan. Wajah nya pucat dan kedua matanya memerah dan mulai berair, bibirnya terus-terusan meringis. Kini, tangisan dan teriakannya semakin menjadi. Membuat Pardi menjadi sangat panik.
"Buu... Kenapa Bu...kepalanya masih sakit..? Adi pijitin yah..." Pardi setengah memeluk Ibunya, merasa iba juga, rasa khawatir mulai terasa menyesakkan di dadanya.
"Kepala ibu semakin sakiiit Diii... Padahal ibu sudah minum obat... haduuuuh... Huuuuh....ssshhh.... sakiiiit sekali aaawww... Sakiiiil...tt... Ampuuuun... Kepala Ibu Diiiii..!!"
Racau Bu Surmi makin menjadi.
Melihat keadaan seperti itu, tanpa menunggu perintah, Pardi langsung memegang kepala ibunya yang rambutnya sedang diremas-remas hingga acak-acakan. Namun,
"Awwww..!!!.... Sakiiiit Pardiiii..... Kamu ini mau membunuh ibumu apa hah...!!!"
Kedua mata Bu Surmi hampir loncat ke arah Pardi. Sontak saja Pardi kaget luar biasa, mendengar ibunya tampak marah padanya. Dengan segera, Pardi langsung menarik kedua tangannya lagi.
"Ti.. ti.. tidak Bu... A..a..adi hanya mau mijitin kepala ibu, a...adi ka...ka..kasihan sama ibu..." Pardi ketakutan, kemudian satu langkah dia mundur dari Ibunya yang tampak masih marah padanya.
"Mijitin apaaa...!! Sentuhan tanganmu menambah kepala Ibu sakiiit tauuu ....!!!.. Haduuuuh kenapa dengan kepalaku ini... !!"
Kata Bu Surmi lagi, yang tidak lepas dari kerasnya meremas rambutnya.
Sementara itu, Pardi berdiri membatu, matanya tidak lepas pada ibunya, tampak kedua mata anak itu mulai menggenang anak sungai. Perlahan, isak tangis anak itu masih terdengar, degup dada Pardi yang mulai terasa kencang, tidak bisa membendung kekhawatiran dan juga takut dari amarah ibunya yang tiba-tiba.
Tidak lama kemudian, Pardi mendengar suara pintu depan terbuka, dan mendengar suara Bapaknya memanggilnya, Pardi terasa sedikit plong, dan langsung berhambur dari kamar ibunya, spontan, Pardi berteriak pada Bapaknya.
"Paaak...Ibu, Paaaa...kk... to.. tolong ibu Paaaak...!!"
"Kenapa ibu, Adii...!! Kenapa...!? Apa yang terjadi...!!??"Pak Amet kaget.
"Ibu berteriak teriak, katanya sakit sekali kepalanya Pak...Tadinya, Adi mau mijitin kepalanya, tapi malah marahin Adi Pak. Kata Ibu, malah terasa sakit, bahkan Adi dikatai mau membunuh ibu segala.." isak Pardi setengah mengadu pada Bapaknya.
Mendengar penuturan anaknya, dengan penuh rasa penasaran, Pak Amet langsung bergegas ke kamarnya, dengan tergopoh, Pak Amet mendekati istrinya yang masih terdengar teriakan rasa sakit dari mulut istrinya itu."
"Bu.... Ibu kenapaaa...!!?" Pak Amet bertanya pada Bu Surmi, sambil memegang bahu istrinya. Dengan perlahan, Bu Surmi menoleh ke arah suaminya.
"Aduuuuh... kepala ibu nyeri Paaa.. serasa ditusuk-tusuk jarum dan paku Paaak....!!! aaaaduuuh... Sakiiit Paaa...!!"
"Bukankah tadi si Adi habis beli obat ke Apotek, obatnya sudah diminum? Bapak bantu pijitin kepala ibu yah.." Pak Amet langsung memasang kedua tangannya, bermaksud mau meringankan rasa sakit yang diderita isterinya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Reyy Petualang
kalo di daerahku cra nyembuhinnya pake ayam cemani item
2024-09-28
0
Helmi Ruhendi Putra
kayaknya seruu nih
2024-09-19
0
Fathiya Fitri
baru aja mulai iklan nya berseliweran...
2024-09-14
0