Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?

Zara menatap Ezar, dia seakan tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan pria arogan itu.

Pria paruh baya tadi tersenyum kikuk, meski Ezar mengatakan jika mereka suami istri, tapi tetap saja dia masih terlihat curiga.

" Istrinya muda sekali tuan dokter." Katanya tersenyum.

" Iya pak, istri saya masih sekolah."

Wajah bapak itu bingung. " Masih SMA?"

Ezar menggeleng sembari menggoyangkan kedua tangannya." Bukan pak, maksud saya, istri saya ini sementara sekolah kedokteran."

" Ooooo.." Katanya lalu tertawa sumringah memperlihatkan giginya yang sudah hilang beberapa.

" Bapak duluan ya tuan dokter."

" Bapak tinggal di mana?"

" Tidak jauh dari sini, di depan penginapan itu."

" Mari sekalian saya antar pak."

" Tidak usah tuan. Dekat ini juga." Katanya sungkan.

" Tidak apa apa pak, lagian kami juga mau ke sana."

Akhirnya setelah di bujuk beberapa kali, pria paruh baya tersebut mau ikut bersama dengan Ezar dan Zara.

Setelah menurunkan penumpangnya, Ezar pun masuk ke area penginapan.

Ezar menuju resepsionis dan menyewa satu kamar untuk mereka.

Kini Ezar dan Zara sudah berdiri di depan sebuah pintu berwarna coklat.

Ezar membuka pintu.

" Masuk."

Zara tidak bergeming. Dia masih berdiri mematung di depan pintu.

" Kenapa kau masih berdiri di situ?"

Zara menatap Ezar." Dok, boleh tidak sewa kamar satu lagi?"

Kening Ezar mengernyit.

" Kenapa banyak sekali? Satu saja sudah cukup. Ayo masuk."

Zara belum beranjak.

Ezar menghela nafas kasar." Mau aku gendong?"

Mata Zara membola. Kalimat Ezar bagai mantra yang membuat Zara dengan cepat melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.

" Tutup pintunya. Kau tidak ingin ada yang melihat kita tidur bersama kan?" Ujar Ezar tersenyum tipis.

Zara mengikuti perintah Ezar, menutup pintu dengan tangan gemetar. Di kepalanya, sudah banyak pikiran pikiran tak senonoh yang membuatnya semakin merinding.

Pintu tertutup. Tinggallah mereka berdua di temani suara gemuruh dari luar. Hujan semakin deras di sertai suara petir yang menggelegar.

Ezar merebahkan tubuhnya di kasur.

Sementara Zara masih mengedarkan pandangannya di dalam kamar tersebut. Kamar nya tidak begitu luas dengan aksen kayu yang semakin membuat suhu dalam kamar tersebut terasa sangat dingin.

" Kau tidak lelah berdiri?" Kata Ezar.

Mau tidak mau Zara mendekati Ezar, di sana ada satu kursi kecil dan Zara memilih duduk di kursi itu.

" Kau sudah menghubungi Zayn?" Tanya Ezar.

" Mas Zayn sudah tiba di rumah sakit, dan korban sudah di tangani oleh dokter Dimas."

" Alhamdulillah."

Hening.

Mungkin karena lelah dan suhu yang dingin. Zara perlahan menutup matanya. Dia tertidur sambil duduk. Hal yang sering dia lakukan ketika sedang berjaga di rumah sakit jika malam hari.

Ezar belum memperhatikan apa yang terjadi pada Zara, karena dia tengah sibuk membalas pesan Ghina yang merajuk.

Setelah keheningan melanda cukup lama, Ezar baru tersadar jika Zara sudah tidur.

Ezar mengulas senyum. Zara terlihat sangat menggemaskan dengan salah satu tangan di atas meja rias yang sedang yang menopang dagunya.

Tak menyia nyiakan kesempatan langka itu, Ezar mengambil gambar Zara melalui ponselnya.

Puas memandangi wajah cantik itu, Ezar bangkit dan menggendong Zara, dia memindahkan tubuh itu ke tempat tidur.

Begitu Zara menyentuh tempat tidur, netranya terbuka sempurna.

Jantungnya berdetak sangat cepat kala wajah Ezar hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

Ezar pun demikian, dia tidak menduga Zara akan terbangun dan menatapnya intens, hampir saja ia tertangkap basah karena berencana mencium Zara diam diam.

Netra Zara mengerjap. " Dok.."

" Hmmm.." Ezar menjauh, dia jadi salah tingkah.

Zara memperbaiki posisinya dengan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.

" Kebiasaan mu belum berubah ternyata." Kata Ezar tersenyum jahil.

" Kebiasaan dokter juga masih sama. Suka menggendong saya." Balas Zara tidak mau kalah.

Ezar hampir saja tertawa." Kau sudah berani ya." Ujarnya lalu mendekati Zara.

Zara terdiam. Tubuhnya sedikit bergoyang menandakan jika ada orang lain yang baru saja naik ke tempat tidur dan duduk tepat di sebelahnya.

" Aku minta maaf." Kata Ezar memecah kesunyian.

" Maaf untuk apa?"

" Kejadian seminggu lalu, aku tidak bermaksud untuk.."

" Dokter tidak salah. Saya saja yang berharap terlalu tinggi." Ujar Zara.

Gantian Ezar yang terdiam.

Zara bangkit dari tempat tidur. " Hujan sudah reda, ayo kita pulang."

Zara sudah berada di depan pintu dan memegang gagangnya. Namun Ezar datang dan menarik tangan Zara hingga gadis itu berakhir di pelukan Ezar.

Mata Zara membulat sempurna, jangan tanyakan bagaimana kerja jantungnya saat ini. Yang pasti, debarannya sangat hebat.

" Kita akan menginap di sini, malam ini." Ujar Ezar dengan dagu yang dia sandarkan di bahu Zara.

" Tapi dok.."

" Kenapa? Seminggu lalu aku selalu menunggu kau berbicara apa saja padaku, aku berharap kau tersenyum manis ketika menyiapkan makanan untukku. Jadi hari ini, kamu harus membayarnya. Bicaralah padaku tentang apa saja, dan perlihatkan senyum mu itu. Aku merindukannya." Ujar Ezar memperat pelukannya.

Tubuh Zara menegang sempurna, apalagi pelukan Ezar terasa sangat hangat masuk ke relung hatinya.

Pelukan erat yang Ezar berikan, apakah di balas Zara? Tidak, Zara hanya berdiri mematung bak pohon pisang. Tidak ada gerakan tambahan kecuali jantung nya yang memompa lebih cepat dari biasanya.

Ya, Ezar memang hanya beralasan berteduh sebentar, karena dari awal niatnya memang membawa Zara. Kebetulan saja hujan deras dan cuaca ekstrim, jadi bertambah kuat lah alasan Ezar. Andai tidak ada fenomena alam berupa titik titik air itu, tentulah Ezar akan berpikir keras bagaimana caranya agar Zara bisa bersama dengannya.

Dan kemungkinan yang paling masuk akal adalah mengusir teman sekamar Zara ataukah Zara yang di tarik masuk ke dalam kamarnya. Masalah alasan kenapa dia melakukan itu, akan dia pikirkan belakangan, yang penting Zara ada bersamanya.

Ezar tidak sanggup menahan sikap acuh yang di tampakkan Zara selama seminggu ini. Meski masih di layani seperti hari hari biasa, tapi ada saja perasaan Ezar yang mengatakan jika Zara lebih banyak diam.

Sementara di bungalow, Ghina mondar mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Ezar dengan omelan yang memekakkan telinga.

Banyak dokter yang duduk di sana tak di gubris Ghina. Dia tidak tau saja, kalau sedari tadi, dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan semua orang. Banyak yang menyayangkan Ezar memilih Ghina sebagai kekasih. Meski tak mereka pungkiri jika Ghina memang cantik, tapi percuma cantik jika tidak memiliki attitude.

Beberapa kali Ghina mencoba menghubungi Ezar, tapi Ezar tidak pernah mengangkat, lebih tepatnya, Ezar mematikan ponselnya. Dia tidak ingin di ganggu.

Dan salah satu alasan terbesarnya memilih penginapan ini adalah Ghina.

Tujuh tahun menjalin kasih bukanlah waktu sebentar. Ezar bahkan sudah khatam dengan baik sifat Ghina. Ghina suka sekali mengekang Ezar. Dulu sebelum Ghina melanjutkan PPDS nya, teman Ezar tidak banyak. Ghina melarang Ezar bergaul.

Lalu sebenarnya, apa yang di harapkan Ezar pada Ghina hingga masih mempertahankan wanita itu? Terkadang Ezar jadi bingung sendiri.

Seminggu merenungi kesalahannya, Ezar merasa jika ada yang aneh. Ezar juga mulai membandingkan gaya hidup Ghina dan Zara, Ini seperti langit dan bumi.

Zara yang sederhana padahal anak orang kaya, sementara Ghina yang boros dan materialistis punya latar belakang yang jauh berbeda dari Zara. Orang tua Ghina juga berada, tapi jauh di bawah Zara.

Kembali ke penginapan.

Ezar melerai pelukannya.

Memberi tatapan manis pada Zara.

" Boleh aku mengenalmu lebih dekat?"

...****************...

Terpopuler

Comments

⋆.˚mytha🦋

⋆.˚mytha🦋

TIDAK DOK..
Gitu jawabnya Zara... jgn luluh, dia² laki² pengecut, suruh selesaikan dulu hatinya dgn kekasihnya

2025-03-06

1

Yani

Yani

Jangan luluh dulu Zara bentengi dulu perasanmu kalau Ezar belum memutuskan hubungan dgn kekasihnya

2024-11-02

1

Bunda Aish

Bunda Aish

selesai kan dulu urusan dengan pacar mu pak dokter Ezar 😡 ntar yang ada tambah kusut

2025-01-07

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nikah instan
2 Episode 2 : Syarat pernikahan
3 Episode 3 : Sah
4 Episode 4 : Interaksi pertama
5 Episode 5 : Zayn dan Zara
6 Episode 6 : Tugas pertama
7 Episode 7 : Pernikahan Azura
8 Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9 Episode 9 : Ciuman pertama
10 Episode 10 : Godaan iman
11 Episode 11 : Mulai protektif
12 Episode 12 : Kakak yang rindu
13 Episode 13 : Jatuh cinta?
14 Episode 14 : Tidur bersama
15 Episode 15 : Zara terluka
16 Episode 16 : Cemburu
17 Episode 17 : Marah
18 Episode 18 : Acara di luar kota
19 Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20 Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21 Episode 21 : Panggilan baru
22 Episode 22 : Praduga tak bersalah
23 Episode 23 : Tatapan kemarahan
24 Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25 Episode 25 : Kecelakaan
26 Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27 Episode 27 : Cukup tiga saja
28 Episode 28 : Perang hati di mulai
29 Episode 29 : Mati kita putus
30 Episode 30 : Kita mulai dari awal
31 Episode 31 : Tamu tak di undang
32 Episode 32 : Biar aku yang urus
33 Episode 33 : Pembalasan kecil
34 Episode 34 : Terkuaknya identitas
35 Episode 35 : Pencarian bukti
36 Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37 Episode 37 : Malam pertama
38 Episode 38 : Jahil satu sama lain
39 Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40 Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41 Episode 41 : Ezar dan Zayn
42 Episode 42 : Iblis wanita
43 Episode 43 : Zara hamil
44 Episode 44 : Ghina pun tau
45 Episode 45 : Menyala pembantuku
46 Episode 46 : Mari berpacaran
47 Episode 47 : Jurus yang sama
48 Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49 Episode 49 : Trauma psikologis
50 Episode 50 : Wanita menjijikkan
51 Episode 51 : Zayn menggila
52 Episode 52 : Giliran Ezar
53 Episode 53 : Nasehat umi
54 Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55 Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56 Episode 56 : Aku mencintaimu
57 Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58 Episode 58 : Pamit
59 Episode 59 : Masalah baru
60 Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61 Episode 61 : Bubur langganan
62 Episode 62 : Zayn menginap
63 Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64 Episode 64 : Siapa wanita itu?
65 Episode 65 : Lebih agresif
66 Episode 66 : Allah Maha Baik
67 Episode 67 : Zayn yang terbully
68 Episode 68 : Kecewa karena cinta
69 Episode 69 : Safa dan Marwah
70 Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71 Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72 Episode 72 : Karma atau bukan?
73 Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74 Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75 Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76 Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77 Episode 77 : Mengajak si kembar
78 Episode 78 : Titipan Ghina
79 Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80 Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81 episode 81 : Mencoba menerima
82 Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83 Episode 83 : Tingkah Zayn
84 Episode 84 : Surprise termanis
85 Episode 85 : Pamer kemesraan
86 Episode 86 : Teman baru
87 Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88 Episode 88 : Rencana liburan
89 Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90 Episode 90 : Zayn kena marah
91 Episode 91 : Zayn dan si kembar
92 Episode 92 : Aretha dan si kembar
93 Episode 93 : Cinta Zara ( End )
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Episode 1 : Nikah instan
2
Episode 2 : Syarat pernikahan
3
Episode 3 : Sah
4
Episode 4 : Interaksi pertama
5
Episode 5 : Zayn dan Zara
6
Episode 6 : Tugas pertama
7
Episode 7 : Pernikahan Azura
8
Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9
Episode 9 : Ciuman pertama
10
Episode 10 : Godaan iman
11
Episode 11 : Mulai protektif
12
Episode 12 : Kakak yang rindu
13
Episode 13 : Jatuh cinta?
14
Episode 14 : Tidur bersama
15
Episode 15 : Zara terluka
16
Episode 16 : Cemburu
17
Episode 17 : Marah
18
Episode 18 : Acara di luar kota
19
Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20
Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21
Episode 21 : Panggilan baru
22
Episode 22 : Praduga tak bersalah
23
Episode 23 : Tatapan kemarahan
24
Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25
Episode 25 : Kecelakaan
26
Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27
Episode 27 : Cukup tiga saja
28
Episode 28 : Perang hati di mulai
29
Episode 29 : Mati kita putus
30
Episode 30 : Kita mulai dari awal
31
Episode 31 : Tamu tak di undang
32
Episode 32 : Biar aku yang urus
33
Episode 33 : Pembalasan kecil
34
Episode 34 : Terkuaknya identitas
35
Episode 35 : Pencarian bukti
36
Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37
Episode 37 : Malam pertama
38
Episode 38 : Jahil satu sama lain
39
Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40
Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41
Episode 41 : Ezar dan Zayn
42
Episode 42 : Iblis wanita
43
Episode 43 : Zara hamil
44
Episode 44 : Ghina pun tau
45
Episode 45 : Menyala pembantuku
46
Episode 46 : Mari berpacaran
47
Episode 47 : Jurus yang sama
48
Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49
Episode 49 : Trauma psikologis
50
Episode 50 : Wanita menjijikkan
51
Episode 51 : Zayn menggila
52
Episode 52 : Giliran Ezar
53
Episode 53 : Nasehat umi
54
Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55
Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56
Episode 56 : Aku mencintaimu
57
Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58
Episode 58 : Pamit
59
Episode 59 : Masalah baru
60
Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61
Episode 61 : Bubur langganan
62
Episode 62 : Zayn menginap
63
Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64
Episode 64 : Siapa wanita itu?
65
Episode 65 : Lebih agresif
66
Episode 66 : Allah Maha Baik
67
Episode 67 : Zayn yang terbully
68
Episode 68 : Kecewa karena cinta
69
Episode 69 : Safa dan Marwah
70
Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71
Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72
Episode 72 : Karma atau bukan?
73
Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74
Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75
Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76
Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77
Episode 77 : Mengajak si kembar
78
Episode 78 : Titipan Ghina
79
Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80
Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81
episode 81 : Mencoba menerima
82
Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83
Episode 83 : Tingkah Zayn
84
Episode 84 : Surprise termanis
85
Episode 85 : Pamer kemesraan
86
Episode 86 : Teman baru
87
Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88
Episode 88 : Rencana liburan
89
Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90
Episode 90 : Zayn kena marah
91
Episode 91 : Zayn dan si kembar
92
Episode 92 : Aretha dan si kembar
93
Episode 93 : Cinta Zara ( End )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!