Episode 15 : Zara terluka

Jantung Zara dag dig dug tak karuan. Jika tidak salah dengar, Ezar baru saja mengajaknya tidur bersama. Gerakannya yang lincah saat mengatur karpet dan selimut tebal itu kini terlihat kaku.

Tanpa menunggu persetujuan Zara, Ezar sudah berpindah tempat. Zara melongo di buatnya.

" Jangan repot repot, lipat saja kembali karpet nya. Ku rasa tempat tidur mu ini, muat untuk dua orang." Katanya tersenyum sumringah.

" Tapi dok..."

" Kenapa, kau malu?"

" Bukan begitu."

" lalu, apa yang kau tunggu?"

Zara menghela napas panjang. " Baiklah." Dalam keadaan terpaksa, Zara berbaring di samping Ezar. Sebuah bantal ia letakkan di tengah sebagai simbol pemisah.

Ezar seketika berubah ketus begitu melihat bantal guling yang mengganggu penglihatannya itu.

" Kau pikir aku penjahat?" Kesal Ezar.

" Bukan begitu, tapi yang namanya dua orang dengan jenis kelamin berbeda berada di atas tempat tidur, itu terasa..."

Ezar bangkit dan menyenderkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.

" Hei,, aku ini suamimu. Kau tidak lupa kan?"

" Tentu saja tidak. Saya hanya berusaha menjaga diri saya dok."

" Apa maksudmu ?"

" Ya,,, mungkin saja saya sudah mulai menyukai dokter. Tapi tetap saja, saya tidak akan menyimpan rasa itu untuk saya pelihara. Karena dokter pernah mengatakan jika pernikahan ini belum tentu akan berlangsung lama. Tentu saya tidak boleh mengharap sesuatu yang lebih. Saya tidak ingin merasakan sakit hati yang berkepanjangan yang entah kapan akan sembuh dan kembali seperti sedia kala, karena sakit yang teramat pedih adalah sakit yang di rasa langsung oleh hati."

Ezar membisu. Benar, itu adalah kata katanya, dan baru beberapa bulan berlalu, dia seperti lupa dengan perkataannya itu. Rasa nyaman saat berada di dekat Zara membuatnya lupa dengan syarat yang dia buat sendiri.

" Tidurlah, ini sudah malam." Kata Ezar lalu berbaring dan membungkus tubuhnya dengan selimut.

*

*

Seminggu berlalu setelah mereka menginap di rumah Brawijaya. Ezar dan Zara bak orang asing walau hidup dalam satu atap.

Ezar kembali berbicara seperlunya, begitupun Zara yang membalas ucapan Ezar seadanya.

Jam enam pagi, Zara sudah berangkat ke rumah sakit setelah terlebih dahulu menyiapkan makanan untuk Ezar.

Pagi ini, jadwal Zara lumayan padat. Ada tiga operasi yang harus dia ikuti bersama dengan dokter Bayu.

Dokter Bayu selalu mengikutsertakan Zara di setiap operasi yang akan dia lakukan. Dan gadis cantik itu lambat laun mulai paham cara kerja dokter Bayu bayu.

Operasi kedua selesai sebelum jam makan siang, jadi Zara bisa istirahat sebelum melanjutkan operasinya yang ke tiga untuk hari ini.

Syifa melambaikan tangan ketika melihat Zara berjalan ke arahnya. Beberapa menit lalu, Syifa menghubungi sahabatnya itu. Meminta Zara ke kafetaria rumah sakit. Perutnya yang keroncongan tidak bisa lagi bertahan lebih lama. Syifa harus segera mengisinya.

" Mau makan apa?" Tanya Syifa tidak sabaran.

Zara menggelengkan kepala." Tunggu dulu Ifa, aku kan belum duduk." Protesnya.

" Maaf, aku lapar sekali, dari tadi aku menunggumu."

" Dokter Bayu baru selesai operasi."

" Pantas. Tapi kenapa wajahmu lesu sekali?"

" Capek, ini operasi keduanya. Aku akan ikut lagi dengan nya setelah jam makan siang."

" Ya sudah, kalau begitu ayo kita makan, mau pesan apa?"

" Soto ayam saja."

" Baik bosku."

Syifa menghampiri stand penjual jajanan di kafetaria rumah sakit. Banyak pilihan makanan di sana. Namun Syifa tidak sempat untuk berkeliling. Baginya makan apa saja di saat perutnya sedang sekarat tidak lah penting. Syifa pun menjatuhkan pilihannya sama seperti menu makan siang Zara. Seporsi soto ayam dengan sepiring nasi sudah lebih dari cukup.

Sambil menunggu Syifa datang, netra Zara mengelilingi kafetaria. Mencari sosok pria yang selalu membuatnya menangis semasa kecil. Tapi sejauh dia memandang, tak terlihat pula yang dia cari. Hanya ada satu pria yang Zara sangat kenal. Pria itu sibuk dengan macbook nya.

Netra Zara menatap pria tampan yang sudah memenuhi separuh jiwanya. Pria yang selalu membuat hatinya bak roller coaster, terlebih sikapnya yang suka berubah ubah. Mengingat itu, Zara mengulas senyum.

Namun senyum Zara seketika menghilang ketika melihat seorang wanita cantik yang tiba tiba datang dan mencium pipi Ezar.

Hatinya seperti teriris, perih. Ezar nampak bahagia dengan kedatangan wanita itu. Tidak cukup dengan ciuman, wanita dengan rambut indah itu juga memeluk Ezar, dan Ezar membalas pelukannya.

Netra Zara berembun, dan dua tetes cairan keluar dari netra indahnya. Syifa yang baru datang sembari membawa dua botol air mineral terkejut melihat Zara yang tiba tiba saja menangis.

" Kau kenapa?" Tanya nya khawatir. Syifa mengenal Zara dengan baik. Walau manja, tapi Zara tidak sembarangan mengeluarkan air matanya.

Cepat cepat Zara mengusap netranya lalu memasang senyum yang sangat di paksakan.

" Tidak apa apa."

" Jangan bohong."

" Aku serius, mungkin karena cuaca panas dan angin yang berhembus kencang membuat mataku jadi kering." Bohong Zara.

" Aku tidak percaya Ra, hidung mu merah."

" Aku serius. Eh,, aku duluan ya." Kata Zara kemudian berdiri.

" Tapi kamu belum makan."

Zara tidak menjawab, dia berbalik dan naasnya, tubuhnya bertabrakan dengan pramusaji yang membawa dua mangkuk soto ayam pesanannya. Mangkuk tersebut jatuh berjamaah, kuah soto mengenai kaki Zara. Panas, itu sudah pasti.

Suara pecahan dari dua mangkuk dan dua piring itu membuat seisi kafetaria menoleh ke arah Zara, tidak terkecuali Ezar.

Netra mereka bertemu, dan Zara secepat kilat membuang pandangannya.

" Maafkan saya ya mbak." Kata Zara berjongkok dan membantu membersihkan pecahan piring yang berserakan.

" Tidak apa apa dok. Sebaiknya jangan di sentuh, nanti biar saya sapu." Belum selesai pramusaji itu berbicara, tangan Zara sudah teriris pecahan mengakibatkan luka goresan di tangan kirinya.

Syifa dengan cepat datang membantu, rasa laparnya menguar seketika. Bukan tangan Zara yang menjadi prioritas, tapi kakinya. Syifa lihat betul, bagaimana kuas soto itu mendarat sempurna di atas kaki Zara.

" Ayo kita ke IGD." Ajak Syifa.

" Aku tidak apa apa."

" Aku tidak percaya padamu. Dengarkan aku sekali ini saja." Kata Syifa berbisik." Kau tidak mau kan aku membuka kaos kaki mu di tempat umum seperti ini?"

Zara mengangguk.

" Ayo. Kau masih bisa berjalan? IGD lumayan jauh dari sini." Kata Syifa kemudian.

" Insyaallah bisa."

Zara merangkul pundak Syifa sebagai bentuk pegangan. Namun baru beberapa langkah, seorang perawat wanita datang membawa kursi roda.

Zara dan Syifa saling tatap.

" Kenapa tiba tiba ada kursi roda?" Begitulah otak keduanya berpikir dengan munculnya kursi roda di saat yang tepat.

Zara naik dan di bawa segera ke IGD.

Dari jarak beberapa meter, Ezar menatap nanar kursi roda yang membawa istrinya ke ruang gawat darurat.

" Pasti Zara terluka, aku liat jelas soto panas itu tumpah dan mengenai kakinya." Kata seorang koas yang lewat di depan Ezar.

" Kasian ya Zar, mana anaknya cantik lagi." Ujar wanita di sebelah Ezar.

Ezar tidak menjawab. Otaknya masih jelas mengingat petaka yang menimpa Zara. Ezar kembali mengingat netra indah yang sempat menatapnya sesaat. Dia yakin kalau Zara melihat semuanya.

" Ayo makan, gara gara insiden tadi, makananku jadi dingin." Kesal Ghina.

Ezar mengalihkan pandangannya dan menatap Ghina tidak suka.

" Kau makan saja, aku masih ada operasi."

" Tapi Zar.."

Ezar tidak menggubris, dia mengayunkan kakinya dengan langkah lebar meninggalkan Ghina yang terlihat bingung dengan sikap Ezar.

" Benarkah kakinya terluka?" Ezar membatin sembari berjalan tergesa, dia terlihat gusar.

IGD sisa beberapa meter, tapi dia tidak berani masuk ke dalam sana.

" Bang Ezar?"

Ezar menoleh. Bayu sudah berdiri di sampingnya dengan nafas terengah engah.

" Sepertinya buru buru, ada pasien gawat?" Tanya Ezar.

" Tidak bang, aku mau melihat koas ku di IGD, ada laporan kalau kakinya terluka."

Ezar terkesiap.

" Maksudmu, koas yang.."

" Iya benar sekali bang, kata temannya, tadi di kafetaria dia tidak sengaja bertabrakan dengan pramusaji yang membawa mangkuk soto ayam dan soto panas itu tumpah mengenai kakinya."

Ezar membatu.

" Aku duluan ya Bang."

Dokter Bayu berlalu meninggalkan Ezar yang seperti orang bodoh tidak tau harus melakukan apa.

Istrinya sedang terluka, dan dia hanya diam saja.

...****************...

Terpopuler

Comments

Yayuk Nuri

Yayuk Nuri

tuh kan hati Zahra terluka mangka nya buat laki nya aja yg bucin baru zahra

2024-11-27

1

Anita Nita

Anita Nita

thor buat zara pergi dari hidup ezar...biar ezar menyesal sampai mati

2024-12-29

1

Marlina Prasasty

Marlina Prasasty

rasain Ezar,,ada yg merebut isrimu baru tau rs

2024-12-30

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nikah instan
2 Episode 2 : Syarat pernikahan
3 Episode 3 : Sah
4 Episode 4 : Interaksi pertama
5 Episode 5 : Zayn dan Zara
6 Episode 6 : Tugas pertama
7 Episode 7 : Pernikahan Azura
8 Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9 Episode 9 : Ciuman pertama
10 Episode 10 : Godaan iman
11 Episode 11 : Mulai protektif
12 Episode 12 : Kakak yang rindu
13 Episode 13 : Jatuh cinta?
14 Episode 14 : Tidur bersama
15 Episode 15 : Zara terluka
16 Episode 16 : Cemburu
17 Episode 17 : Marah
18 Episode 18 : Acara di luar kota
19 Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20 Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21 Episode 21 : Panggilan baru
22 Episode 22 : Praduga tak bersalah
23 Episode 23 : Tatapan kemarahan
24 Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25 Episode 25 : Kecelakaan
26 Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27 Episode 27 : Cukup tiga saja
28 Episode 28 : Perang hati di mulai
29 Episode 29 : Mati kita putus
30 Episode 30 : Kita mulai dari awal
31 Episode 31 : Tamu tak di undang
32 Episode 32 : Biar aku yang urus
33 Episode 33 : Pembalasan kecil
34 Episode 34 : Terkuaknya identitas
35 Episode 35 : Pencarian bukti
36 Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37 Episode 37 : Malam pertama
38 Episode 38 : Jahil satu sama lain
39 Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40 Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41 Episode 41 : Ezar dan Zayn
42 Episode 42 : Iblis wanita
43 Episode 43 : Zara hamil
44 Episode 44 : Ghina pun tau
45 Episode 45 : Menyala pembantuku
46 Episode 46 : Mari berpacaran
47 Episode 47 : Jurus yang sama
48 Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49 Episode 49 : Trauma psikologis
50 Episode 50 : Wanita menjijikkan
51 Episode 51 : Zayn menggila
52 Episode 52 : Giliran Ezar
53 Episode 53 : Nasehat umi
54 Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55 Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56 Episode 56 : Aku mencintaimu
57 Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58 Episode 58 : Pamit
59 Episode 59 : Masalah baru
60 Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61 Episode 61 : Bubur langganan
62 Episode 62 : Zayn menginap
63 Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64 Episode 64 : Siapa wanita itu?
65 Episode 65 : Lebih agresif
66 Episode 66 : Allah Maha Baik
67 Episode 67 : Zayn yang terbully
68 Episode 68 : Kecewa karena cinta
69 Episode 69 : Safa dan Marwah
70 Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71 Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72 Episode 72 : Karma atau bukan?
73 Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74 Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75 Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76 Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77 Episode 77 : Mengajak si kembar
78 Episode 78 : Titipan Ghina
79 Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80 Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81 episode 81 : Mencoba menerima
82 Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83 Episode 83 : Tingkah Zayn
84 Episode 84 : Surprise termanis
85 Episode 85 : Pamer kemesraan
86 Episode 86 : Teman baru
87 Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88 Episode 88 : Rencana liburan
89 Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90 Episode 90 : Zayn kena marah
91 Episode 91 : Zayn dan si kembar
92 Episode 92 : Aretha dan si kembar
93 Episode 93 : Cinta Zara ( End )
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Episode 1 : Nikah instan
2
Episode 2 : Syarat pernikahan
3
Episode 3 : Sah
4
Episode 4 : Interaksi pertama
5
Episode 5 : Zayn dan Zara
6
Episode 6 : Tugas pertama
7
Episode 7 : Pernikahan Azura
8
Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9
Episode 9 : Ciuman pertama
10
Episode 10 : Godaan iman
11
Episode 11 : Mulai protektif
12
Episode 12 : Kakak yang rindu
13
Episode 13 : Jatuh cinta?
14
Episode 14 : Tidur bersama
15
Episode 15 : Zara terluka
16
Episode 16 : Cemburu
17
Episode 17 : Marah
18
Episode 18 : Acara di luar kota
19
Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20
Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21
Episode 21 : Panggilan baru
22
Episode 22 : Praduga tak bersalah
23
Episode 23 : Tatapan kemarahan
24
Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25
Episode 25 : Kecelakaan
26
Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27
Episode 27 : Cukup tiga saja
28
Episode 28 : Perang hati di mulai
29
Episode 29 : Mati kita putus
30
Episode 30 : Kita mulai dari awal
31
Episode 31 : Tamu tak di undang
32
Episode 32 : Biar aku yang urus
33
Episode 33 : Pembalasan kecil
34
Episode 34 : Terkuaknya identitas
35
Episode 35 : Pencarian bukti
36
Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37
Episode 37 : Malam pertama
38
Episode 38 : Jahil satu sama lain
39
Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40
Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41
Episode 41 : Ezar dan Zayn
42
Episode 42 : Iblis wanita
43
Episode 43 : Zara hamil
44
Episode 44 : Ghina pun tau
45
Episode 45 : Menyala pembantuku
46
Episode 46 : Mari berpacaran
47
Episode 47 : Jurus yang sama
48
Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49
Episode 49 : Trauma psikologis
50
Episode 50 : Wanita menjijikkan
51
Episode 51 : Zayn menggila
52
Episode 52 : Giliran Ezar
53
Episode 53 : Nasehat umi
54
Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55
Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56
Episode 56 : Aku mencintaimu
57
Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58
Episode 58 : Pamit
59
Episode 59 : Masalah baru
60
Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61
Episode 61 : Bubur langganan
62
Episode 62 : Zayn menginap
63
Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64
Episode 64 : Siapa wanita itu?
65
Episode 65 : Lebih agresif
66
Episode 66 : Allah Maha Baik
67
Episode 67 : Zayn yang terbully
68
Episode 68 : Kecewa karena cinta
69
Episode 69 : Safa dan Marwah
70
Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71
Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72
Episode 72 : Karma atau bukan?
73
Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74
Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75
Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76
Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77
Episode 77 : Mengajak si kembar
78
Episode 78 : Titipan Ghina
79
Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80
Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81
episode 81 : Mencoba menerima
82
Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83
Episode 83 : Tingkah Zayn
84
Episode 84 : Surprise termanis
85
Episode 85 : Pamer kemesraan
86
Episode 86 : Teman baru
87
Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88
Episode 88 : Rencana liburan
89
Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90
Episode 90 : Zayn kena marah
91
Episode 91 : Zayn dan si kembar
92
Episode 92 : Aretha dan si kembar
93
Episode 93 : Cinta Zara ( End )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!