Episode 10 : Godaan iman

Zara duduk di sebuah bangku yang berada di taman rumah sakit. Suasana sangat teduh meski matahari sedang terik teriknya. Brawijaya Hospital sekarang sangat di kenal dengan istilah green hospital. Semenjak Abi Adam yang mengambil alih Brawijaya, rumah sakit mewah tersebut di sulap sedemikian rupa sehingga bisa menyatukan perpaduan antara unsur kesehatan dan lingkungan yang sangat asri. Belum banyak rumah sakit yang bisa mengusung konsep green hospital karena terkendala keterbatasan lahan.

Zara sedang mengerjakan laporan mingguannya. Hari ini dia harus konsultasi ke konsulen untuk bisa mendapatkan nilai di stase THT yang sebentar lagi akan berakhir.

Pekan depan, stase mayor menunggunya. Dia akan bergabung dengan Zayn di departemen bedah.

Zara sangat serius memandangi macbook nya dan mengetik banyak kata di sana, hingga dia tidak menyadari jika ada seseorang yang sudah duduk di sebelahnya.

" Kau pulang jam berapa?" Ezar melontarkan pertanyaan kemudian meneguk air mineral untuk melegakan tenggorokannya.

Zara menoleh ke samping, dia terkejut, Ezar duduk hanya berjarak beberapa centi darinya. Dan jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Ezar sudah seperti mengajak Zara berlari mengelilingi Brawijaya Hospital hingga memacu kerja jantungnya untuk memompa dengan lebih kuat lagi.

Karena terkejut, macbook Zara hampir saja terjatuh. Beruntung tangan Ezar dengan cepat menyelamatkan benda mahal tersebut.

" Kau belum jawab pertanyaan ku."

" Oo..sekitar jam lima dok." Kata Zara.

" Ibu menyuruh kita berkunjung ke rumah."

" Baiklah."

" Kau sudah makan?"

" Aku puasa dok."

" Oh..maaf."

" Kalau begitu saya pamit dulu, saya harus Konsul ke dokter Saddam." Pamit Zara sembari membungkukkan tubuhnya lalu dengan segera berlalu meninggalkan Ezar.

Ezar menatap kepergian Zara dengan tatapan penuh tanda tanya.

" Dia kenapa? Aneh sekali. Ini juga masih jam makan siang. Kau cari dokter Saddam keliling rumah sakit pun tidak akan kau temukan." Kesal Ezar, kemudian ikut beranjak dan memilih kembali ke ruangannya.

Sore hari, Ezar sudah menunggu Zara di parkiran rumah sakit. Sembari memainkan ponselnya, sesekali ia melihat pintu keluar.

Dan tak lama, Zara muncul dari balik pintu kaca. Dari dalam kendaraannya, Ezar terus memandangi Zara yang berjalan ke arah mobil putih yang terparkir tidak jauh dari mobilnya.

Ezar lupa mengatakan pada Zara jika mereka akan berangkat bersama ke rumah Pradipta.

Klakson berbunyi mengagetkan Zara yang baru saja membuka pintu mobil. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu di lihatnya Ezar yang sedang berada di balik kemudi memberikan isyarat pada Zara.

Mau tidak mau Zara menuruti keinginan Ezar.

" Tinggalkan saja mobilmu, besok baru di bawa pulang."

" Tapi nanti ada yang melihat dok, aku jadi tidak enak kalau dokter mendapatkan gosip yang aneh aneh."

" Tidak usah pedulikan. Tidak ada juga yang berani melakukannya."

Ezar kemudian melajukan kendaraannya membelah jalan ibu kota yang sudah padat merayap .

" Mungkin tidak akan keburu, sebaiknya kita makan malam di restoran saja."

" Di rumah saja dok, ibu pasti sudah masak."

" Tapi kamu lagi puasa.."

Zara mengangkat air minum yang dia simpan di dalam tasnya. " Ini ada."

" Tapi itu tidak membuatmu kenyang."

" Kan di batalkan dulu puasanya, rumah ibu juga tidak begitu jauh, jadi insyaallah bisa tiba tepat waktu."

" Terserah kamu saja." Ezar mengalah.

Zara tersenyum sembari memegang erat botol air minum kemasan yang baru dia beli tadi sebelum pulang.

Dan Ezar kembali di buat terkesima dengan senyum menawan Zara.

" Aku ingin kau rubah panggilan mu begitu kita tiba di rumah. Aku tidak ingin ibu curiga dengan kehidupan rumah tangga kita." Ujarnya mengalihkan perhatian.

Zara terlihat manggut manggut tanda mengerti dengan maksud Ezar.

Mobil masuk melewati pintu gerbang yang sangat mewah. Ibu Sindy menyambut kedatangan menantunya dengan suka cita. Ezar bisa melihat sebahagia apa ibunya begitu bertemu dengan Zara.

Ibu Sindy memeluk dan menciumi hampir seluruh wajah zara. Hal yang membuat Ezar kaget, karena dia saja yang sebagai anak kandung tidak pernah mendapatkan ciuman seperti itu dari ibunya sendiri. Dan datang Zara yang bahkan jarang bertemu dengan ibunya, tapi lihatlah perlakuan ibu Sindy pada menantunya.

Ezar seperti di anak tirikan, semenjak ada Zara di rumahnya, dia di kucilkan. Faiz, adik yang selalu mengganggunya kini juga berpihak pada Zara.

Perlakuan berbeda jelas terlihat jika Ghina yang bertamu ke rumahnya. Ibu Sindy hanya menemani Ghina bicara seperlunya saja. Apalagi faiz, dia sangat tidak suka melihat Ghina yang menurutnya sering berpakaian tidak sopan.

Setelah makan malam, keluarga Pradipta berkumpul bersama di taman belakang. Faiz yang biasanya lebih senang bermain game dan menghabiskan waktunya di kamar berjam jam juga tak mau ketinggalan.

" Kalian nginap ya." Pinta ibu Sindy.

" Lain kali saja bu."

" Tidak bisa Ezar, selama kalian menikah, kalian belum pernah menginap di sini."

Zara menatap Ezar yang juga sedang menatapnya. Dari ekspresinya, Zara meminta pertolongan dari Ezar, agar dia mau menolak ajakan ibu Sindy.

Tapi, jawaban Ezar sungguh di luar prediksi. Dengan lantangnya dia mengiyakan setelah sempat menolaknya mentah mentah.

" Baiklah, hari ini aku dan Zara juga sangat lelah. Bagaimana sayang?"

Zara terbatuk, tersedak ludahnya sendiri. Kata apa itu? Sayang? Dari kamus mana Ezar menemukannya?

" Bagaimana nak?" Tanya ibu Sindy memastikan.

Dengan terpaksa, Zara mengiyakan." I..iya bu, terserah mas Ezar saja." Kata Zara yang di apresiasi Ezar dengan senyuman. Bahkan hatinya berdesir hebat ketika Zara memanggilnya ' mas '.

Jadilah mereka menginap.

Dan sekarang, Zara berdiri menatap ranjang king size yang sangat indah namun begitu menakutkan baginya.

Kejadian di atas tempat tidur beberapa waktu lalu masih membekas di ingatannya. Mungkinkah sekarang dia trauma dengan tempat ternyaman bagi semua orang itu?

" Kenapa berdiri di situ?" Tanya Ezar yang baru saja keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunan Zara. Rambut basah yang sementara dia lap dengan handuk menjadi pemandangan terindah bagi Zara untuk hari ini.

" Oo..iya, ja- jadi saya harus ke mana?" tanya Zara dengan begitu polosnya.

Ekspresi Zara membuat Ezar harus menahan tawanya. Semakin hari ia mengenal zara, semakin bertambah pula kekaguman Ezar. Bayangkan saja, Zara tidak melakukan apapun, hanya berdiri sembari memasang ekspresi lucu, tapi Ezar sudah memiliki keinginan yang sangat besar untuk kembali mencicipi bibir indah itu.

" Kau tidak ingin mengganti bajumu? Tanya Ezar mengalihkan kerja otaknya agar tidak melulu memikirkan hal hal yang bisa meningkatkan hasratnya.

" Mau, tapi...." Kalimat Zara menggantung di udara.

" Tapi apa?"

" Saya tidak punya baju ganti, lagian tidak tau juga mau menggantinya di mana. Biar saya pakai yang ini saja dok." Kata Zara akhirnya pasrah. Padahal, ingin sekali dia membuka bajunya dan mengganti baju rumahan yang selalu dia lakukan setiap hari.

" Kau boleh pakai bajuku, di lemari banyak, pilih saja yang kau suka."

Zara masih berdiri mematung belum juga beranjak.

" Kenapa?"

" Bagiamana mengatakannya? Aku butuh pakaian dalam, jilbab dan baju panjang, tapi pasti dia tidak memilikinya."

" Kau malu?"

Zara mengangguk pelan.

Ezar berjalan ke arah lemari pakaiannya, mencari pakaian yang cocok di kenakan Zara.

" Pakai ini. Ganti di kamar mandi." Ujar Ezar memberikan kaos berwarna hitam pada Zara.

Mau tidak mau Zara mengambilnya.

Namun, Ezar sudah mengganti pakaian santai, Zara belum juga ke kamar mandi.

" Apa lagi yang kau tunggu?" Ezar sudah naik di tempat tidur.

" Boleh matikan lampunya?"

" Ckckck.. Kau ini merepotkan sekali, apa susahnya ke kamar mandi, ganti pakaian lalu keluar, selesai. Jangan membuatku tertawa Zara, bahkan kau telanjang di depan ku pun aku tidak akan tergoda."

" Baiklah." Zara akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.

Dan sesuai permintaan Zara, Ezar mematikan lampu kamar.

Setengah jam berlalu, Zara keluar.

Ezar sudah menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya.

Zara melangkah perlahan, mengendap endap seperti seorang pencuri.

Sofa panjang di depan tv menjadi tujuan Zara. Tentu dia tidak akan berani mendekati tempat tidur saat Ezar sudah terlelap di sana. Dan komitmen mereka untuk tidur terpisah tetap menjadi prioritas Zara.

Ezar menyaksikan pergerakan Zara di tengah pencahayaan yang sangat minim.

Lalu apa yang Ezar liat?

Rambut panjang tergerai indah, baju yang sangat pas di tubuh Ezar terlihat kebesaran saat Zara yang memakainya.

Baju kaos itu panjangnya sebatas paha Zara, jadi Ezar bisa dengan leluasa memandangi tubuh istrinya.

Glek.....

Ezar menelan ludahnya kasar.

" Tidak tergoda kau bilang...dasar munafik." Batin Ezar gusar.

...****************...

Terpopuler

Comments

Neneng Sumiati

Neneng Sumiati

dsr ezar egois gk bkl tergoda lihat yg bening n masih polos n suci u ketula sm omongan u sendiri hadeuh ezar2 sdh tua tpi gk dewasa n gk bersyukur payah lhu

2025-01-16

1

Bunda SalVa

Bunda SalVa

barti kamu yang munaroh Zar 😅😅😅

2025-02-09

3

Ros Nah

Ros Nah

baru kau tahu ezar bertapa cantik nua ciptaan tuhan

2025-02-24

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nikah instan
2 Episode 2 : Syarat pernikahan
3 Episode 3 : Sah
4 Episode 4 : Interaksi pertama
5 Episode 5 : Zayn dan Zara
6 Episode 6 : Tugas pertama
7 Episode 7 : Pernikahan Azura
8 Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9 Episode 9 : Ciuman pertama
10 Episode 10 : Godaan iman
11 Episode 11 : Mulai protektif
12 Episode 12 : Kakak yang rindu
13 Episode 13 : Jatuh cinta?
14 Episode 14 : Tidur bersama
15 Episode 15 : Zara terluka
16 Episode 16 : Cemburu
17 Episode 17 : Marah
18 Episode 18 : Acara di luar kota
19 Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20 Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21 Episode 21 : Panggilan baru
22 Episode 22 : Praduga tak bersalah
23 Episode 23 : Tatapan kemarahan
24 Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25 Episode 25 : Kecelakaan
26 Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27 Episode 27 : Cukup tiga saja
28 Episode 28 : Perang hati di mulai
29 Episode 29 : Mati kita putus
30 Episode 30 : Kita mulai dari awal
31 Episode 31 : Tamu tak di undang
32 Episode 32 : Biar aku yang urus
33 Episode 33 : Pembalasan kecil
34 Episode 34 : Terkuaknya identitas
35 Episode 35 : Pencarian bukti
36 Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37 Episode 37 : Malam pertama
38 Episode 38 : Jahil satu sama lain
39 Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40 Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41 Episode 41 : Ezar dan Zayn
42 Episode 42 : Iblis wanita
43 Episode 43 : Zara hamil
44 Episode 44 : Ghina pun tau
45 Episode 45 : Menyala pembantuku
46 Episode 46 : Mari berpacaran
47 Episode 47 : Jurus yang sama
48 Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49 Episode 49 : Trauma psikologis
50 Episode 50 : Wanita menjijikkan
51 Episode 51 : Zayn menggila
52 Episode 52 : Giliran Ezar
53 Episode 53 : Nasehat umi
54 Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55 Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56 Episode 56 : Aku mencintaimu
57 Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58 Episode 58 : Pamit
59 Episode 59 : Masalah baru
60 Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61 Episode 61 : Bubur langganan
62 Episode 62 : Zayn menginap
63 Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64 Episode 64 : Siapa wanita itu?
65 Episode 65 : Lebih agresif
66 Episode 66 : Allah Maha Baik
67 Episode 67 : Zayn yang terbully
68 Episode 68 : Kecewa karena cinta
69 Episode 69 : Safa dan Marwah
70 Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71 Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72 Episode 72 : Karma atau bukan?
73 Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74 Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75 Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76 Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77 Episode 77 : Mengajak si kembar
78 Episode 78 : Titipan Ghina
79 Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80 Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81 episode 81 : Mencoba menerima
82 Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83 Episode 83 : Tingkah Zayn
84 Episode 84 : Surprise termanis
85 Episode 85 : Pamer kemesraan
86 Episode 86 : Teman baru
87 Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88 Episode 88 : Rencana liburan
89 Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90 Episode 90 : Zayn kena marah
91 Episode 91 : Zayn dan si kembar
92 Episode 92 : Aretha dan si kembar
93 Episode 93 : Cinta Zara ( End )
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Episode 1 : Nikah instan
2
Episode 2 : Syarat pernikahan
3
Episode 3 : Sah
4
Episode 4 : Interaksi pertama
5
Episode 5 : Zayn dan Zara
6
Episode 6 : Tugas pertama
7
Episode 7 : Pernikahan Azura
8
Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9
Episode 9 : Ciuman pertama
10
Episode 10 : Godaan iman
11
Episode 11 : Mulai protektif
12
Episode 12 : Kakak yang rindu
13
Episode 13 : Jatuh cinta?
14
Episode 14 : Tidur bersama
15
Episode 15 : Zara terluka
16
Episode 16 : Cemburu
17
Episode 17 : Marah
18
Episode 18 : Acara di luar kota
19
Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20
Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21
Episode 21 : Panggilan baru
22
Episode 22 : Praduga tak bersalah
23
Episode 23 : Tatapan kemarahan
24
Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25
Episode 25 : Kecelakaan
26
Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27
Episode 27 : Cukup tiga saja
28
Episode 28 : Perang hati di mulai
29
Episode 29 : Mati kita putus
30
Episode 30 : Kita mulai dari awal
31
Episode 31 : Tamu tak di undang
32
Episode 32 : Biar aku yang urus
33
Episode 33 : Pembalasan kecil
34
Episode 34 : Terkuaknya identitas
35
Episode 35 : Pencarian bukti
36
Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37
Episode 37 : Malam pertama
38
Episode 38 : Jahil satu sama lain
39
Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40
Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41
Episode 41 : Ezar dan Zayn
42
Episode 42 : Iblis wanita
43
Episode 43 : Zara hamil
44
Episode 44 : Ghina pun tau
45
Episode 45 : Menyala pembantuku
46
Episode 46 : Mari berpacaran
47
Episode 47 : Jurus yang sama
48
Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49
Episode 49 : Trauma psikologis
50
Episode 50 : Wanita menjijikkan
51
Episode 51 : Zayn menggila
52
Episode 52 : Giliran Ezar
53
Episode 53 : Nasehat umi
54
Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55
Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56
Episode 56 : Aku mencintaimu
57
Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58
Episode 58 : Pamit
59
Episode 59 : Masalah baru
60
Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61
Episode 61 : Bubur langganan
62
Episode 62 : Zayn menginap
63
Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64
Episode 64 : Siapa wanita itu?
65
Episode 65 : Lebih agresif
66
Episode 66 : Allah Maha Baik
67
Episode 67 : Zayn yang terbully
68
Episode 68 : Kecewa karena cinta
69
Episode 69 : Safa dan Marwah
70
Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71
Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72
Episode 72 : Karma atau bukan?
73
Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74
Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75
Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76
Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77
Episode 77 : Mengajak si kembar
78
Episode 78 : Titipan Ghina
79
Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80
Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81
episode 81 : Mencoba menerima
82
Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83
Episode 83 : Tingkah Zayn
84
Episode 84 : Surprise termanis
85
Episode 85 : Pamer kemesraan
86
Episode 86 : Teman baru
87
Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88
Episode 88 : Rencana liburan
89
Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90
Episode 90 : Zayn kena marah
91
Episode 91 : Zayn dan si kembar
92
Episode 92 : Aretha dan si kembar
93
Episode 93 : Cinta Zara ( End )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!