Episode 6 : Tugas pertama

Zayn masuk ke dalam kelas setelah menemani adiknya sarapan. Tidak berselang lama, Ezar pun muncul dari balik pintu.

Ezar menatap Zayn yang duduk paling belakang. Semenjak menikahi Zara, Dia belum pernah sekalipun berbicara dengan Zayn.

Jujur Ezar sedikit segan dengan saudara kembar Zara. Itu karena sikap Zayn yang pendiam dan misterius.

Auditorium class di mana Zayn duduk paling belakang dengan posisi di atas bisa sangat jelas menatap wajah Ezar.

Kalimat Ezar saat berbicara dengan adiknya beberapa jam sebelum akad nikah keduanya berlangsung terus berputar di kepala Zayn. Mungkin karena itu, dia menganggap Ezar sekarang adalah musuhnya.

Karena Zayn tidak akan pernah membiarkan siapapun membuat adik tercintanya menangis. kasih sayang abi dan uminya yang berlimpah menjadikan Ezar pun ikut memanjakan Zara.

Ezar mulai menjelaskan materinya hari ini. Beberapa mahasiswa sudah banyak yang mencatat penjelasan Ezar, entah itu di laptop atau di kertas, apa saja mahasiswa lakukan agar tidak kehilangan informasi penting sang dosen yang sangat perfeksionis.

Namun berbeda dengan zayn, dia tidak mencatat apapun, hanya duduk bersandar sembari menatap Ezar yang sesekali melihat ke arahnya.

" Apa kailan mengerti?" Tanya Ezar.

" Iya dok."

" Baiklah, pasang kuping kalian baik baik, saya hanya akan membacakan sekali."

Ezar mulai dengan kuisnya, setiap mengajar, sebelum kelas selesai, dia selalu memberikan semacam pertanyaan. Itu adalah sesi terakhir sebelum dia meninggal kan kelas.

" Laki laki 25 tahun, mengalami KLL, dada kiri terbentur stir, mengalami sesak nafas, nyeri dada kiri. Hipersonor paru kiri. SDV tidak ada. Apa diagnosa yang paling tepat untuk kasus di atas?" Tanya Ezar.

Seorang mahasiswa mengangkat tangan.

" Ya kamu."

" Flail chest."

" Salah. Ada yang lain."

Tidak ada yang berani mengangkat tangan. Hingga Ezar menatap zayn yang terlihat cuek cuek saja. Zayn tertangkap hanya memainkan pulpennya.

" Kamu." Ezar menunjuk Zayn.

Zayn pura pura tidak melihat dan tidak mendengar ketika Ezar menunjuknya. Teman di sebelahnya sudah memberikan kode dengan menyentuh lengan Zayn. Zayn menoleh.

" Apa?"

" Dokter Ezar menunjukmu."

Zayn kemudian menatap Ezar.

" Aku tidak suka jika ada mahasiswa di kelasku yang tidak fokus. Kalau kau tidak suka aku mengajar, silahkan keluar." Tegas Ezar.

Zayn tersenyum tipis sekali, bahkan senyum itu tidak jelas terlihat jika tidak di perhatikan dengan baik baik.

" Saya fokus dok, hanya saja, anda tidak menyebut nama, jadi saya pikir pertanyaan itu bukan untuk saya." Ujar Zayn santai.

Satu kelas dengan serempak menoleh menatap Zayn. Raut wajah mereka berbeda beda, ada yang meringis menandakan jika seharusnya Zayn tidak perlu menjawab teguran dosennya. Ada juga yang menaruh tangannya di leher menandakan jika tamat sudah riwayat Zayn, tapi lebih banyak yang tersenyum simpul sembari mengangkat jempolnya tanda menyukai pemberontakan Zayn.

Ezar cukup kaget dengan jawaban Zayn, dia tidak menyangka akan mendapatkan kalimat sindiran itu. Karena ini di kelas, Ezar tentu harus profesional.

" Maaf, siapa namamu?" Tanya Ezar seperti membalas sindiran Zayn.

Kali ini Zayn malas berdebat, Bisa saja dia mengatakan jika Ezar harusnya melihat absensi karena namanya pasti tertera di sana. Cari aman, begitulah kira kira.

" Zayn Ashraf Damazal."

" Ya, Zayn, kamu sudah dengar pertanyaan ku bukan?"

" Iya dok."

" Lalu apa jawabannya?"

" Tension pneumothoraks."

" Kelas selesai."

Ezar langsung keluar setelah mendengar jawaban Zayn.

" Kamu berani juga." kata teman yang duduk di sebelahnya.

Zayn hanya tersenyum tipis lalu berlalu meninggalkan kelas.

Beberapa kelas dari kelas Zayn, Zara terlihat tertawa bahagia berjalan beriringan dengan Syifa. Zara baru saja menyelesaikan ujiannya dengan nilai sempurna. Syifa sudah tidak heran lagi dengan kemampuan Zara.

" Kau memang luar biasa Ra."

" Kalau kau belajar dengan giat, pasti bisa juga."

" Minggu depan kita wisuda, dan aku dengar, kita akan coas di rumah sakit brawijaya."

" Syukurlah, aku jadi tidak terlalu jauh ke rumah sakit nantinya."

" Iya sih, tapi kau tau kan, konsulen di sana hebat hebat semua, aku jadi takut."

" Tenang saja, mereka tidak makan orang."

" Apa sih, bukan begitu maksudku. Kamu sih enak, Allah menciptakan mu dengan otak yang cerdas. Nah aku, bisa di bantai aku di sana nantinya."

Zara tertawa." Kamu itu ada ada saja. Aku kasi tau, orang cerdas masih kalah sama orang yang tekun."

" Iya, tapi kalau dia cerdas sekaligus tekun seperti kamu, bagaimana? Matilah aku ini."

Zara kembali tertawa lepas, Syifa terkadang membuatnya lupa dengan berbagai macam permasalahan yang sedang menimpa. Mungkin Allah mendatangkan seseorang yang ceria seperti Syifa, tentu untuk membuatnya tertawa dengan bahagia.

Namun tawanya seketika terhenti saat beberapa meter di depannya Ezar sedang berbincang dengan dosen yang baru saja memberinya ujian.

" Siang dok." Sapa Syifa dan Zara hampir bersamaan.

" Siang. Zara.." Panggil dokter Syamil.

" Iya dok." Zara berhenti, sementara Syifa melanjutkan langkahnya.

Zara berdiri di antara dokter Syamil dan Ezar. Ezar terus menatap Zara yang terlihat menundukkan pandangan.

" Sebulan lagi kamu sudah coas kan?"

" Iya dok."

" Aku akan menunggumu di departemen anak."

" Mohon bimbingan nya dok."

Dokter Syamil mengangguk.

" Saya permisi dok."

" Iya."

Zara mempercepat langkahnya menyusul Syifa yang sudah berada di ujung koridor.

" Dia salah satu mahasiswi yang pernah aku ceritakan padamu."

Ezar mengangguk.

" Ujiannya hari ini dapat nilai sempurna."

" Benarkah?"

" Dia pintar Zar, andai umurku tidak terpaut jauh darinya, mungkin aku sudah melamarnya. Susah loh, dapat gadis spek seperti dia. Cantik, pintar, sopan dan soleha. Pokoknya paket komplit.

Ezar berdehem, dia mulai sedikit risih ketika ada seorang pria yang memuji Zara.

" Beruntung sekali pria yang bisa menikah dengannya. Apalagi aku dengar desas desus, kalau Zara itu putri bungsu dokter Adam. Kau tau sendirikan, berarti Brawijaya Hospital adalah miliknya. Bisa kau bayangkan sebahagia apa suaminya kelak."

" Kalau iya, itukan hanya kabar angin saja. Ayo, aku lapar." Ujarnya memutus percakapan tentang Zara, telinganya gerah juga dengan berbagai macam pujian yang di tujukan untuk Zara.

Jam lima sore, Ezar sudah tiba di rumah, dia melihat jika mobil zara sudah terparkir cantik di garasi, itu berarti gadis itu sudah pulang.

Ezar masuk ke dalam kamarnya. Hari ini dia sangat lelah, lelah batin dan pikiran, apalagi setelah ia hampir saja di permalukan oleh Zayn.

" Mungkin dia tidak suka aku menikah dengan adiknya, asal dia tau saja aku juga tidak mau menikahi bocil seperti adiknya itu. Kalau saja bukan di jodohkan, ogah.." Gerutu Ezar sembari membuka satu persatu kancing kemejanya.

Setengah jam setelah Ezar pulang, Zara keluar kamar, ini tugas pertamanya menyiapkan makanan untuk Ezar, setelah pagi tadi dia tidak sempat melakukannya karena sedang terburu buru.

Dia membantu bi Surti menyiapkan makan malam. Sambil bekerja, Zara terus berbincang hangat dengan asisten rumah tangganya itu. Awalnya bi Surti risih, dia hanya pembantu dan yang sedang bersama dengannya saat ini adalah majikannya, tapi Zara mengikis perbedaan itu. Dari kecil Zara di didik untuk tidak membedakan kasta orang lain, karena perbedaan itu hanya terlihat ketika kita masih bernyawa, begitu masuk liang lahat, semua berubah, semua sama di mata Allah SWT.

" Biasanya dokter makan malam jam berapa bu?" Tanya Zara sambil menata meja.

" Biasanya non lepas maghrib."

" Ooo,, baiklah, ini kan sudah siap semua, saya mandi dulu ya bu, tidak enak di cium, bau bawang soalnya." Ucapnya tertawa ringan.

" Baik non." Kata bi Surti ikut tertawa.

Zara menghilang dari balik pintu.

Bi Surti menghela napas panjang. " Nona Zara beda sekali dengan nona Ghina." Gumam bi Surti.

" Kenapa dengan Ghina bi?" Ezar tiba tiba muncul di belakang bi Surti lalu membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa menyegarkan tenggorokannya.

" Tidak ada tuan." Kata bi Surti gugup.

Ezar menatap meja makan. Terlihat ada yang lain di sana.

" Apa Zara yang menyusun ini semua?"

" Iya tuan."

" Mana dia."

" Lagi mandi tuan."

" Ooo.."

Setelah menghilangkan dahaga Ezar pun kembali ke kamar.

" Ternyata bocil itu boleh juga." Katanya dengan seulas senyum yang menguasai wajah tampannya.

...****************...

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

jangan sampe kamu nyesel ya ezar klu zara di ambil orang lain

2024-11-26

1

Anita Nita

Anita Nita

semoga ezar menyesal setelah menyiakan2 zara...

2024-12-29

1

🌹Fina Soe🌹

🌹Fina Soe🌹

Bocil...bocil...
Bucin sama bocil baru tau...😄

2025-01-18

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nikah instan
2 Episode 2 : Syarat pernikahan
3 Episode 3 : Sah
4 Episode 4 : Interaksi pertama
5 Episode 5 : Zayn dan Zara
6 Episode 6 : Tugas pertama
7 Episode 7 : Pernikahan Azura
8 Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9 Episode 9 : Ciuman pertama
10 Episode 10 : Godaan iman
11 Episode 11 : Mulai protektif
12 Episode 12 : Kakak yang rindu
13 Episode 13 : Jatuh cinta?
14 Episode 14 : Tidur bersama
15 Episode 15 : Zara terluka
16 Episode 16 : Cemburu
17 Episode 17 : Marah
18 Episode 18 : Acara di luar kota
19 Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20 Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21 Episode 21 : Panggilan baru
22 Episode 22 : Praduga tak bersalah
23 Episode 23 : Tatapan kemarahan
24 Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25 Episode 25 : Kecelakaan
26 Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27 Episode 27 : Cukup tiga saja
28 Episode 28 : Perang hati di mulai
29 Episode 29 : Mati kita putus
30 Episode 30 : Kita mulai dari awal
31 Episode 31 : Tamu tak di undang
32 Episode 32 : Biar aku yang urus
33 Episode 33 : Pembalasan kecil
34 Episode 34 : Terkuaknya identitas
35 Episode 35 : Pencarian bukti
36 Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37 Episode 37 : Malam pertama
38 Episode 38 : Jahil satu sama lain
39 Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40 Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41 Episode 41 : Ezar dan Zayn
42 Episode 42 : Iblis wanita
43 Episode 43 : Zara hamil
44 Episode 44 : Ghina pun tau
45 Episode 45 : Menyala pembantuku
46 Episode 46 : Mari berpacaran
47 Episode 47 : Jurus yang sama
48 Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49 Episode 49 : Trauma psikologis
50 Episode 50 : Wanita menjijikkan
51 Episode 51 : Zayn menggila
52 Episode 52 : Giliran Ezar
53 Episode 53 : Nasehat umi
54 Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55 Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56 Episode 56 : Aku mencintaimu
57 Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58 Episode 58 : Pamit
59 Episode 59 : Masalah baru
60 Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61 Episode 61 : Bubur langganan
62 Episode 62 : Zayn menginap
63 Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64 Episode 64 : Siapa wanita itu?
65 Episode 65 : Lebih agresif
66 Episode 66 : Allah Maha Baik
67 Episode 67 : Zayn yang terbully
68 Episode 68 : Kecewa karena cinta
69 Episode 69 : Safa dan Marwah
70 Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71 Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72 Episode 72 : Karma atau bukan?
73 Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74 Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75 Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76 Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77 Episode 77 : Mengajak si kembar
78 Episode 78 : Titipan Ghina
79 Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80 Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81 episode 81 : Mencoba menerima
82 Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83 Episode 83 : Tingkah Zayn
84 Episode 84 : Surprise termanis
85 Episode 85 : Pamer kemesraan
86 Episode 86 : Teman baru
87 Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88 Episode 88 : Rencana liburan
89 Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90 Episode 90 : Zayn kena marah
91 Episode 91 : Zayn dan si kembar
92 Episode 92 : Aretha dan si kembar
93 Episode 93 : Cinta Zara ( End )
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Episode 1 : Nikah instan
2
Episode 2 : Syarat pernikahan
3
Episode 3 : Sah
4
Episode 4 : Interaksi pertama
5
Episode 5 : Zayn dan Zara
6
Episode 6 : Tugas pertama
7
Episode 7 : Pernikahan Azura
8
Episode 8 : Pernikahan yang tidak sama
9
Episode 9 : Ciuman pertama
10
Episode 10 : Godaan iman
11
Episode 11 : Mulai protektif
12
Episode 12 : Kakak yang rindu
13
Episode 13 : Jatuh cinta?
14
Episode 14 : Tidur bersama
15
Episode 15 : Zara terluka
16
Episode 16 : Cemburu
17
Episode 17 : Marah
18
Episode 18 : Acara di luar kota
19
Episode 19 : Pengakuan pertama kali
20
Episode 20 : Boleh aku mengenalmu lebih dekat?
21
Episode 21 : Panggilan baru
22
Episode 22 : Praduga tak bersalah
23
Episode 23 : Tatapan kemarahan
24
Episode 24 : Kemarahan dan kecemburuan
25
Episode 25 : Kecelakaan
26
Episode 26 : Kesabaran setipis tisu
27
Episode 27 : Cukup tiga saja
28
Episode 28 : Perang hati di mulai
29
Episode 29 : Mati kita putus
30
Episode 30 : Kita mulai dari awal
31
Episode 31 : Tamu tak di undang
32
Episode 32 : Biar aku yang urus
33
Episode 33 : Pembalasan kecil
34
Episode 34 : Terkuaknya identitas
35
Episode 35 : Pencarian bukti
36
Episode 36 : Semut pun melawan jika terinjak
37
Episode 37 : Malam pertama
38
Episode 38 : Jahil satu sama lain
39
Episode 39: Umi Aza yang kesepian
40
Episode 40 : Kepribadian Zayn yang koleris
41
Episode 41 : Ezar dan Zayn
42
Episode 42 : Iblis wanita
43
Episode 43 : Zara hamil
44
Episode 44 : Ghina pun tau
45
Episode 45 : Menyala pembantuku
46
Episode 46 : Mari berpacaran
47
Episode 47 : Jurus yang sama
48
Episode 48 : Sepak terjang Ghina
49
Episode 49 : Trauma psikologis
50
Episode 50 : Wanita menjijikkan
51
Episode 51 : Zayn menggila
52
Episode 52 : Giliran Ezar
53
Episode 53 : Nasehat umi
54
Episode 54 : Kuncinya adalah ikhlas
55
Episode 55 : Umi yang paling pengertian
56
Episode 56 : Aku mencintaimu
57
Episode 57 : Pertemuan Zara dan Ghina
58
Episode 58 : Pamit
59
Episode 59 : Masalah baru
60
Episode 60 : Waktunya bercocok tanam
61
Episode 61 : Bubur langganan
62
Episode 62 : Zayn menginap
63
Episode 63 : Sikap paling utama adalah, menghormati siapapun
64
Episode 64 : Siapa wanita itu?
65
Episode 65 : Lebih agresif
66
Episode 66 : Allah Maha Baik
67
Episode 67 : Zayn yang terbully
68
Episode 68 : Kecewa karena cinta
69
Episode 69 : Safa dan Marwah
70
Episode 70 : Jalan jalan bersama si kembar
71
Episode 71 : Kembali dalam keadaan tak berdaya
72
Episode 72 : Karma atau bukan?
73
Episode 73 : Rasa bersalah itu ada
74
Episode 74 : Ingin bertemu lagi
75
Episode 75 : Hasrat yang tertunda
76
Episode 76 : Rasa sakit itu sudah hilang
77
Episode 77 : Mengajak si kembar
78
Episode 78 : Titipan Ghina
79
Episode 79 : Ingin bertemu Ezar
80
Episode 80 : Kesedihan tuan Sony
81
episode 81 : Mencoba menerima
82
Episode 82 : Tuan Sony dan Zara
83
Episode 83 : Tingkah Zayn
84
Episode 84 : Surprise termanis
85
Episode 85 : Pamer kemesraan
86
Episode 86 : Teman baru
87
Episode 87 : Resepsi yang terlambat
88
Episode 88 : Rencana liburan
89
Episode 89 : Kehangatan keluarga Brawijaya
90
Episode 90 : Zayn kena marah
91
Episode 91 : Zayn dan si kembar
92
Episode 92 : Aretha dan si kembar
93
Episode 93 : Cinta Zara ( End )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!