DIA KEMBALI

"Ya Tuhan tolong aku. Tolong aku...aku mohon", batin Monica dengan dua tangan saling meremas ketakutan.

Luigi kian mendekat sambil menodongkan pistolnya ke arah lemari.

 "Aku tahu kau ada di dalam. Cepat keluar atau aku letus kan kepala mu!", suara berat laki-laki itu begitu menekan.

Tubuh Monica semakin gemetaran. Ia tahu ancaman itu bukan isapan jempol belaka. Terlebih Dana dan Gretta sudah mengingatkan Monica untuk berhati-hati, karena Luigi dan orang-orang nya sangat kejam. Terutama pada mereka yang tidak mengikuti aturan pimpinan tertinggi itu.

Dana dan Gretta sudah mengingatkan Monica jangan coba-coba mencari tahu apapun di tempat itu. Luigi pembunuh berdarah dingin.

Mendadak tubuh Monica bergidik ngeri, ingat kata-kata Dana dan Gretta tersebut.

Perlahan tangan Monica membuka pintu lemari persembunyian nya yang sudah di ketahui pemilik kamar.

Begitu melihat siapa yang bersembunyi di lemari itu. Seringai terlukis di sudut bibir Luigi. Sementara ekspresi wajah laki-laki itu tetap sama. Dingin seperti beruang kutub yang hendak menerkam musuhnya.

"Apa yang kau lakukan di dalam sana, hah? Kau memasuki kawasan yang paling terlarang di rumah ini! Siapa yang mengizinkan mu berada di kamar ku. Cepat katakan!", hardik Luigi dengan kata-kata tegas dan menodongkan senjata api pada Monica yang berdiri gemetaran di tempatnya.

Kedua mata Monica mengerjap-ngerjap, cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Kedua netranya pun mendadak panas karena ketakutan.

"A-ku ingin memeriksa keadaan mu. A-ku pikir kau sudah berada di sini. Namun ternyata aku salah", ucap Monica dengan suara bergetar.

"T-idak ada yang menyuruh ku masuk ke kamar mu, aku sendiri yang melakukannya, t-uan", sambung Monica lagi dengan kedua mata mengerjap-ngerjap.

Gadis itu terlalu takut menghadapi Luigi yang tiba-tiba mendekati nya. Begitu dekat malah. Netra bening Monica kian mengerjap-ngerjap dan berair. Kedua tangannya di belakang tubuhnya mencengkram kuat pintu lemari. Tubuh Monica terdorong hingga merapat ke lemari yang menjadi saksi bisu suasana mencekam yang di alami Monica kini.

"A-pa mau mu? A-ku tidak merugikan mu. T-idak mengambil apapun milik mu. Aku bersembunyi karena melakukan kesalahan, datang kemari tanpa kamu minta. Kau tidak ada di kamar", ucap Monica kian terpojok. Ia begitu gugup.

"Apa benar kau hanya mengkuatirkan keadaan ku, hem? Bukan karena kau merindukanku?", ucap Luigi tidak mempercayai pengakuan Monica sedikit pun.

Kelopak mata indah itu kian mengerjap-ngerjap. Sungguh ia ketakutan. Monica menggelengkan kepalanya. "A-ku takut pada mu", ucap Monica dengan suara lirih dan pelan. Namun jelas terdengar di telinga Luigi.

Tiba-tiba Luigi menarik tengkuk wanita itu, menyatukan bibirnya pada ada bibir Monica yang bergetar dan terasa amat dingin. Ciuman laki-laki itu begitu menekan dan menuntut.

Sekuat tenaga Monica menahan diri agar bibirnya tertutup rapat. Namun hal itu membuatnya semakin sesak, terlebih Luigi begitu menekannya.

Pada akhirnya pertahankan Monica jebol juga. Ia membuka mulutnya. Dan Luigi leluasa menikmati bibir Monica hingga dalam. Meskipun gadis itu tidak membalasnya sama sekali tapi Luigi tahu tubuh Monica bergetar hebat.

Kedua netra bening itu memerah dan berkaca-kaca. Pertahanan yang lemah. Sungguh Monica tidak kuat berhadapan langsung seperti ini.

"Kau tidak perlu takut pada ku dan orang-orang di sini jika tidak melakukan kesalahan", ucap Luigi di telinga Monica. Ia begitu intim. Terdengar sangat berbeda, begitu lembut di telinga Monica.

Monica diam membisu. Perlahan ia memberanikan diri menatap Luigi. Menatap manik abu-abu milik laki-laki itu.

"Di mana kita sekarang? A-ku sangat merindukan anak ku", ucap Monica pelan.

Luigi membalikkan badannya. Laki-laki itu merebahkan tubuh atletisnya di atas tempat tidur. Wajah nya kembali dingin dan tak bersahabat.

"Kau tidak perlu tahu di mana kita sekarang. Tapi kau bisa menghubungi keluarga mu", ucapnya.

"Pakai handphone ku, hubungi lah keluarga mu. Kau lakukan di sini di hadapanku atau tidak sama sekali!", ucap Luigi tegas.

Monica masih terdiam di tempatnya. Wanita itu masih mengumpat atas kenekatan nya keluar kamar. Dan berakhir seperti ini.

Monica mendekati Luigi yang terbaring di atas tempat tidur nya. Laki-laki itu mengangkat handphone agar Monica pakai untuk menghubungi keluarganya.

Bukan tanpa alasan laki-laki itu mengizinkan Monica memakai nomornya, karena nomor itu nomor khusus yang tidak akan terlacak oleh siapapun yang ingin mengetahui keberadaannya.

Luigi menarik tangan Monica agar duduk di tempat tidur. Di sampingnya. "Hubungi lah keluarga mu selama yang kau inginkan".

Monica melirik Luigi. Benarkah laki-laki itu mengizinkannya menghubungi Erinka selama yang ia inginkan? Namun Monica bersyukur. Ternyata Luigi masih memiliki hati nurani padanya.

...***...

To be continue

Tinggalkan selalu komentar kalian di setiap bab ya 🙏

Terpopuler

Comments

nobita

nobita

kurasa Luigi udh jth cintrong kok sama Monica... hmmm

2024-08-27

0

Dewi ar

Dewi ar

Aku degdegan baca tiap babnya thor

2024-08-17

0

ayudya

ayudya

mungkin Luigi punya rasa sama Monica, ada sisi lembutnya.

2024-08-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!