Bab 15. Adiba Curiga

Adiba melebarkan kedua matanya untuk memastikan jika apa yang ia lihat saat ini hanyalah sebuah kebetulan, tapi semakin lama dengan pandangan yang begitu dalam ada kemiripan wajah antara Noah dan Naura, apalagi jika melihat mereka berdua tersenyum, sangat mirip. Dan biasanya kemiripan seseorang dengan orang  lain, hanya orang lain yang biasanya terlebih dahulu menyadarinya ketimbang diri sendiri.

Memang wajah Noah itu lebih dominan mirip Irfan ketimbang Sofia saat kedua orang tua Irfan melihat cucunya pertama kali ketika di rumah sakit, tapi tidak ada sedikit pun mempermasalahkan jika Noah lebih mirip Irfan ketimbang Sofia pada saat itu.

Namun, ketika Noah dan Naura sudah berdampingan maka akan ada kemiripan yang lain selain mirip Irfan. Jeli sekali penglihatan wanita paruh baya itu.

“Ini kenapa Noah agak mirip dengan Naura?” batin Adiba mulai dipenuhi banyak pertanyaan, apalagi melihat Irfan yang masih berdiri di sisi ranjang usai mendudukkan putra satu-satunya.

“Astagfirullah, ada apa ini? Wajah Noah perpaduan Irfan dan Naura? Apakah ini hanya kebetulan saja?” Semakin penasaran hati Adiba, tapi ia menahan diri untuk tidak keceplosan berucap.

“Bu Adiba,” sapa Naura dengan sopannya, lantas ia berusaha ingin menggerakkan tubuhnya, sekedar ingin duduk, padahal tinggi ranjang bagian kepalanya sudah agak naik setelah diatur posisinya oleh perawat yang baru saja selesai mengecek kondisi Naura.

“Jangan dipaksakan Naura, kamu keadaannya sedang tidak baik-baik saja,” cegah Adiba ketika langkahnya semakin mendekat.

“Maaf Bu, jika tidak bisa menyambut kedatangannya. Terima kasih telah datang ke sini,” ujar Naura dengan sopan serta rasa hormatnya.

“Nggak pa-pa kok Naura.”

Wanita paruh baya itu tersenyum tipis pada wanita yang selama ini dikenal baik olehnya sebagai sekretaris suaminya yang bisa ia nilai sebagai wanita yang memiliki pribadi yang baik, santun, sopan, dan cerdas sesuai dengan penampilannya yang sangat cantik. Sebagai wanita Adiba mengagumi Naura, andaikan ia punya anak laki-laki yang belum menikah kemungkinan ingin sekali ia jodohkan.

“Ante atit gala-gala Noah ya? Maapin Noah ya, telus tepet tembuh ya,” ujar Noah pelan, bola mata mungilnya mendelik sendu, tangan mungilnya pun mengusap lembut tangan Naura yang terpasang infus.

Naura jadi terbuai dengan tingkah bocah tampan ini. Sementara Irfan sejak tadi hanya mengamatinya dengan perasaan yang gusar. Hatinya belum bisa menerima melihat putranya langsung bisa dekat dengan orang baru, dan orang itu adalah Naura!

“Dede, Tante sakit bukan karena Dede kok. Tante sakit karena kurang istirahat saja,” balas Naura sangat lembut, pandangan matanya begitu penuh kasih sayang pada bocah kecil itu.

“Api Noah belcalah Ante. Coba Noah ndak pinta endong ama Ante pasti Ante ndak atit, telus Noah ndak angis. Kata papi badan Noah cudah belat, pasti Ante cape endong Noah ya,” ujar Noah dengan mimik polosnya.

Naura jadi geli dibuatnya, lantas diusapnya rambut coklat dan keriting yang mirip persis dengan rambutnya, kemudian dikecuplah kening Noah penuh kasih sayang.

Bocah itu lantas memeluk wanita itu dengan senyumannya yang sumbrigah. “Cepet cembuh ya Ante ... Noah cayang deh cama Ante,” ujar Noah jujur.

Deri yang turut masuk ke ruang rawat dan Naura belum sadar dengan kehadirannya, langsung berbalik badan tak kuasa melihat tingkah Noah, tingkah polos dan jujur terhadap Naura. Hingga tak ia sadari ujung matanya menitikkan air mata.

“Huft, apakah semuanya akan segera terkuak?” batin Deri bertanya sendiri, lantas ia memilih keluar sejenak dari sana. Rahasia apa pun yang disimpan secara rapi, atas kehendak Allah pasti akan terkuak juga, tinggal menunggu waktu tiba.

“Makasih Sayang, Tante juga sayang sama Noah,” balas Naura. Senyum yang terulas di wajah bocah tampan itu semakin melebar, lantas bola mata mungilnya berpaling ke arah Adiba.

“Oma, Noah cuka ama Ante ini. Ante ini aik cama Noah, ndak ayak mami. Oma kila-kila bica tukal mami ndak? Noah mau unya mami aya Ante?” tanya Noah dengan polosnya sembari menyandarkan tubuh mungilnya ke Naura.

Mata Irfan membulat saat itu juga, sementara Adiba juga buat di terkejut, akan tetapi masih bisa tersenyum hangat pada cucunya.

“Mami Noah tidak bisa diganti! Mami Noah itu yang Mami Sofia, yang melahirkan Noah. Kalau Tante Naura bukan wanita yang melahirkan Noah!” sahut Irfan dengan tegasnya.

Sontak saja wajah Noah yang awalnya tersenyum langsung surut seketika. Mau tidak mau wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang, menatap Noah yang mendadak murung serta Naura yang kini mengusap bahu Noah.

“Irfan, sama anak sendiri jangan dibentak begitu. Namanya anak-anak hanya mengatakan apa yang ia rasakan. Tinggal kamu jawab dengan lembut. Noah masih kecil belum memahami kata-kata kamu,” tegur Adiba.

Mulut Irfan rasanya ingin membalas ucapan mamanya, tapi itu sama saja akan menimbulkan kecurigaan jika ia tampak membenci Naura, karena teringat dengan ucapan papanya.

“Papi ahat,” ujar Noah suaranya mulai terdengar serak, menahan untuk tidak menangis.

“Sini sama Oma ya, Tantenya lagi sakit,” bujuk Adiba jadi kasihan dengan cucunya.

Bocah itu menggeleng keras, menolak ajakan omanya, lantas bola matanya yang mulai berkaca-kaca ia usap. Naura yang tidak tega, langsung memeluknya dan terdengarlah tangisan Noah yang sejak tadi ia tahan.

Andaikan Irfan tahu, Noah haus akan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya yang selama ini tidak ia dapatkan dari Sofia yang tadi pria itu katakan sebagai wanita yang melahirkan Noah. Seorang anak memiliki insting yang sangat kuat jika ada seseorang yang sangat tulus menyayanginya. Meski seorang anak bertemu dengan wanita yang bukan ibu kandungnya tap wanita itu tulus menyayanginya, pasti anak itu pun akan merasa nyaman dan begitu sayang melebihi kasih sayang pada ibu kandungnya sendiri. Begitu pun sebaliknya.

“Dede, papi gak jahat kok. Gimana kalau Tante pesankan es krim mau gak?” tanya Naura berusaha mengalihkan perhatian Noah biar tidak larut dalam kesedihan.

Noah yang masih sesenggukan menarik wajahnya dari pelukan Naura. “Au, Noah au es klim lasa panila,” jawab Noah sudah terpancing sama rayuan Naura.

“Tidak usah pesan, Papi yang akan belikan es krimnya sekalian makan siang buat di sini,” timpal Irfan dengan sikap dinginnya.

Sejak tadi Naura memang sengaja tidak lagi beradu pandang dengan pria itu, rasanya amat menyakitkan.

“Irfan, sekalian belikan Naura susu yang bagus itu biar cepat pemulihannya,” pinta Adiba sebelum putranya keluar dari ruangan.

“Mmm.” Pria itu hanya bergumam lalu terus tetap melangkah.

Kini, tinggallah mereka bertiga di dalam ruang rawat dan pandangan Adiba kembali ke cucu dan Naura.

“Naura, bolehkah Ibu bertanya sesuatu dengan kamu?”

Naura menegakkan kepalanya. “Ya Bu, mau tanya apa?”

“Kamu sebelumnya pernah bertemu dengan Irfan, kah?”

 Bersambung ... ✍️

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

Sri Widjiastuti

Sri Widjiastuti

deri G ikut merasa bersalah gitu?? ikut andil kamu deri, si bos Irfan bohongi naura

2025-01-20

0

Kimo Miko

Kimo Miko

ayo mantan mertua yg blm kenal mantan mantu berpikir yg bijak y mak mantan mertua

2024-12-28

0

C2nunik987

C2nunik987

Oma Adiba feeling nya kuattt😡😡😡mampus bntr lagi Irfan di sidang opa damar 😅😅😅

2024-12-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!