Bab 13. Masih Terjebak Di Lift

Waktu sudah berlalu hampir 30 menit, tim evakuasi masih belum menunjukkan pergerakan. Sementara jika berlama-lama di dalam kotak besi dengan ruang sekecil itu, akan ada perasaan pegap, panas dan sudah tentu akan mengalami keterbatasan oksigen di dalamnya.

Irfan bolak balik mencoba komunikasi  melalui speaker emergency yang menempel di sisi pintu lift, sementara ponselnya sendiri semakin lama kehilangan sinyal, tidak bisa menghubungi siapa pun.

Sementara Nina untuk menenangkan dirinya sendiri memilih meminum cappucino lattenya, dan sama sekali tidak menawarkan pada Irfan. Namun, jika sama Noah ia menawarkan beef sandwichnya.

“Au agi Ante otina,” pinta Noah membuka bibir mungilnya demi bisa menerima suapan dari tangan Naura.

Dengan tangannya sendiri roti sandwich disobek kecil agar bisa masuk ke mulut Noah. Sangat telaten Naura menyuapi Noah, dan hal kecil tersebut tertangkap mata oleh Irfan. Untuk kali ini pria itu membiarkan wanita itu melakukan apa pun pada Noah demi mengalihkan perhatian bocah kecil itu, ketimbang anaknya menangis dan membuat ia akan semakin cemas.

“Noah makannya jangan banyak-banyak, tadi sudah sarapan,” pinta Irfan, entah sebenarnya mengingatkan Noah atau Naura untuk menghentikan memberikan roti pada anaknya, padahal katanya mau membiarkan saja.

Noah mendongak, menatap papinya yang berdiri di sudut dekat mereka berdua duduk. “Noah apel, Papi ndak oleh lalang,” balas Noah sembari menghela napas panjangnya.

Tangan Naura yang masih memegang wadah roti sandwichnya terpaksa ia tutup, menyadari jika Irfan mungkin tidak menyukai tindakannya.

“Maaf Pak Irfan jika saya telah lancang memberikan roti pada Noah,” ujar Naura pelan tanpa mendongakkan wajahnya.

Bocah tampan itu tidak suka melihat wanita itu menutup wadah makanan itu. “Ante uka agi, Noah au lotina,” rengek Noah.

“Dede tadi tidak dengar kata Papi, kalau Dede udah makan banyak pas sarapan.” Antara tega dan tidak tega Naura melalukannya, lantas benarkan dugaannya. Bibir mungil itu mengerucut, bola matanya kembali berair. Tangannya pun terayun memukul bahu Naura. Lantas Naura membiarkannya, tapi tangannya terulur mengusap lembut punggung Noah.

“Noah au agi, Ante. Papi ahat!” seru Noah dalam isak tangisnya.

“Sayang ... Dede ganteng. Papi tidak jahat kok, Papi itu sayang sama Dede, makanya larang Dede makan roti supaya perutnya tidak sakit. Sudah jangan menangis ya, Sayang,” pinta Naura dengan tutur lemah lembutnya, lalu membawa tubuh kecil yang ada di atas pangkuannya dalam dekapannya.

“Papi ahat, Ante!” seru Noah menyalahkan Irfan.

“Papi tidak jahat kok, De,” balas Naura tampak sabar, lalu ia mendongakkan wajahnya menunjukkan kekecewaan pada pria itu.

Irfan mendesah pelan, lalu melangkah mendekati mereka berdua kemudian berjongkok. Rasanya amat kaku ketika pria itu berdekatan dengan Naura, sedangkan Naura masih bisa tampak tenang menghadapi pria itu. Mungkin jika wanita lain sudah meluapkan amarah atas sakit hatinya yang masih membekas di hatinya, umpatan, kata kasar pasti juga akan menyertainya begitu saja dari mulutnya. Namun, sekuat tenaga Naura menahan diri. Ingat jangan pernah menunjukkan kerapuhanmu, bisa besar kepala pria yang telah mencampakkanmu!

“Noah, bukan seperti itu yang Papi maksud. Ya, sudah jika Noah mau makan roti makanlah, tapi kalau sudah kenyang berhenti ya. Papi takut nanti kamu muntah kalau kebanyakan makan,” jelas Irfan sembari turut menyentuh lembut punggung putranya.

Noah yang masih sesenggukan, enggan menarik wajahnya dari pundak Naura, tapi salah satu tangan mungil itu menepis tangan papinya yang masih mengusap punggung.

“Papi ahat, Noah lebel cama Papi!” ujar Noah jujur.

“Sayang, Dede.” Suara lembut Naura terdengar kembali, lantas ia memberanikan diri untuk menyingkirkan tangan pria itu dari punggung Noah.

“Biar saya tenangkan Noah dulu, Pak,” pinta Naura pelan, lalu ia memalingkan wajahnya, kemudian berusaha bangun dari duduknya demi bisa menimang bocah kecil itu.

Melihat Naura agak kesusahan berdiri, Irfan refleks membantu Naura dengan melingkari tangannya ke balik punggung wanita itu. Mata Naura melirik ke arah Irfan.

“Maaf Pak Irfan, tangannya dijaga,” tegur Naura dengan lirikan tajamnya. Pria itu mendesis, dagunya kembali terangkat, angkuh.

Dengan cepat pria itu menarik tangannya dari pinggang wanita itu. “Saya melakukan karena kamu sedang menggendong anak saya. Dari pada nanti anak saya jatuh, terlepas dari gendongan kamu. Anak saya yang sakit, bukan kamu!” balas Irfan sangat pelan tapi setiap kata penuh penekanan.

Naura berdecak kesal, lalu memalingkan wajahnya dan melanjutkan menimang-nimang Noah. Sebenarnya bisa saja ia memberikan Noah dan papinya, tapi anaknya tidak mau sama papinya. Mau heran tapi kenyataannya seperti itu.

Beberapa menit kemudian, hawa panas semakin menguasai kotak besi tersebut. Noah sudah mulai  tenang, tidak menangis lagi. Sementara Naura yang masih mengendong Noah sudah mulai kegerahan, dadanya juga mulai terasa sesak, hingga berulang kali ia terbatuk.

Irfan menyadari wanita itu mulai memucat wajahnya, lantas ia kembali menggedor emergency speakernya.

“Kami sedang berusaha buka pintu liftnya, mohon bersabar Pak Irfan,” jawab salah satu petugas.

“Segera evakuasi kami, ada anak kecil di sini! Kami sudah hampir satu jam di sini!” Suara Irfan meninggi lalu menggedor-gedor pintu lift dengan kesalnya.

Naura sempat meliriknya lalu ia menurunkan pandangannya ke arah Noah yang rupanya sudah tertidur di dalam gendongannya. Wajahnya yang dominan Irfan tampak terlihat damai, dan entah mengapa ia tergerak mengecup kening bocah itu seakan meluapkan rasa rindunya pada anaknya sendiri.

“Kalau anakku masih hidup, pasti wajahnya persis papinya,” batin Naura memelas, tidak bisa menyangkal jika dulu ia selalu berharap jika anaknya laki-laki mirip suaminya, jika anaknya perempuan maka akan mirip dengannya. Tapi itu hanya masa lalu indah sebelum Irfan menalaknya tanpa masalah apa pun yang terjadi pada rumah tangga mereka berdua. Dan sekarang Naura sudah mendapatkan jawabannya.

“Uhuk ... uhuk.” Naura kembali terbatuk, tubuhnya entah mengapa semakin terasa panas. Irfan langsung berbalik badan menatap Naura.

Takut kenapa-napa dirinya terjadi sesuatu wanita itu memilih kembali duduk di lantai.

“Dibawa minum kalau kamu batuk-batuk,” ujar Irfan dengan sikap dinginnya. Tanpa dikasih tahu Naura juga bakal minum, hanya saja yang ia butuhkan adalah air putih, bukan cappucino lattenya.

Terpaksa Naura kembali meneguknya perlahan-lahan, tapi yang terjadi ia semakin batuk-batuk, padahal ia tidak sedang sakit. Tubuhnya pun semakin gerah dan berkeringat, Irfan sendiri pun sudah melepaskan jasnya, sementara Naura tidak bisa melakukannya karena terjebak dengan keberadaan ia yang sedang memangku Noah.

10 menit kemudian suara ketukan benda berbunyi di depan pintu lift terdengar jelas. Ujung mata Irfan yang sejak tadi memperhatikan Naura yang masih terbatuk-batuk langsung teralihkan ke arah pintu lift.

“Sebentar lagi pintunya akan terbuka,” ujar Irfan seakan memberitahukan Naura.

Naura hanya bisa menatap nanar sembari mengusap dadanya yang terasa sesak seakan-akan kehabisan oksigen. Dan beberapa menit kemudian mulai terbuka satu sisi pintu lift.

“Mari saya bantu keluar Pak,” pinta petugas berseragam orange mengulurkan tangannya. Irfan langsung menolehkan wajahnya ke belakang menatap Naura yang terdiam saja, tidak bergerak sama sekali.

Bersambung ... ✍️

Terpopuler

Comments

Ila Lee

Ila Lee

nuara pingsan semoga tak terjadi apa2 ya

2025-01-09

0

Dewa Dewi

Dewa Dewi

Noah pinter banget 😍😍😍🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘

2025-03-13

0

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

Naura sabar ya....

2025-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!