Bab 12. Terjebak Di Lift

Banyak mata menatap ke arah Irfan, Noah dan Naura. Dalam hati kecil pria itu sangat menentang permintaan putranya yang ingin bersama Naura, dan bisa dipastikan akan ada perdebatan jika ia menunjukkan sikap egoisnya dengan Noah. Sedangkan di sisi Naura sendiri tidak bisa memaksakan pria itu untuk menurunkan Noah dari gendongannya, hak Irfan inilah yang terpikir oleh wanita itu.

Namun, rengekkan Noah yang meminta turun dari gendongan Irfan menjadi pusat perhatian para karyawan yang sama-sama menunggu giliran masuk ke dalam kotak besi. Irfan mendesah kecewa dan sangat terpaksa menurunkan bocah itu. Dan apa yang terjadi, Noah tampak sumringah pada Naura, langkah kakinya bergegas mendekati wanita yang baru ia kenal, lalu tangan mungilnya menyentuh tangan Naura yang kosong untuk ia genggam.

“Ante antik, boleh Noah cama Ante?” tanya Noah dengan mimik wajah polosnya.

Tubuh Naura berdesir seketika, seiringan rasa hangat yang menyergap relung hatinya. Tatapan mungil yang begitu bersih seakan menebus hati Naura yang sudah lama dirundung kesedihan ditinggal buah hatinya yang sangat ia inginkan.

Wanita itu lantas agak membungkukkan punggungnya dengan sudut bibirnya mengembang. “Papinya Noah bakal marah gak sama Tante? Soalnya Tante'kan gak boleh dekat-dekat sama Dede ganteng?” tanya Naura sangat pelan, akan tetapi masih bisa didengar oleh Irfan.

Bocah itu lantas mendongakkan wajah, menyipitkan matanya saat tatapannya berserobok dengan papinya.

“Ckckck ... Ante ndak ahat cama Noah. Adi Papi ndak oleh malah-malah cama Ante antik, anti epet tua loh aya Opa!” tegur Noah sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mata Irfan refleks membulat, bisa-bisanya anaknya menegurnya di depan orang banyak dengan laga bos kecilnya.

Naura mengatup bibirnya agar tidak tergoda untuk menertawakan Noah yang sedang menegur papinya. Mau bagaimana pun anak-anak seusia Noah sedang menggemaskan, kadang mengesalkan, kadang bikin hati orang dewasa bahagia.

“Dede ganteng,” panggil Naura dengan lembutnya sembari menggoyangkan tangan mungil yang menggenggam agar bocah kecil itu menatap dirinya.

“Ya, Ante,” balas Noah melirik dengan mendelik-delik.

Wanita itu tersenyum hangat. “Lain kali sama Papi tidak boleh berkata seperti itu ya. Kan, itu papinya Noah, sama papi harus hormat dan sayang,” ujar Naura dengan lembutnya.

Tercubitlah hati Irfan dengan perkataan Naura barusan, lantas ia menggiring pandangannya ke arah pintu lift yang sepertinya sebentar lagi akan terbuka.

“Ndak apa-apa Ante, Noah atut Ante dimalahin cama Papi. Adi mending Noah biyangin aja, biar Ante ndak dimalahin cama Papi. Anti alau Ante dimalahin cama Papi biyang ama Noah ya, bial Noah malahin Papi” balas Noah dengan polosnya.

“Eh.” Naura tak jadi berkata-kata, maksud Noah sangat baik ingin melindungi dirinya. Dan sikap Noah bikin Naura tenggelam dalam perasaan hangat, hingga yang menyadari matanya yang indah agar berbinar-binar.

“Ayo masuk lift sudah terbuka pintunya!” ajak Irfan suaranya begitu tegas seiringan dengan langkah gagahnya masuk ke kotak besi.

Meski hati Naura meragu, sehubungan Noah masih menggenggam tangannya ia terpaksa ikut masuk ke lift istimewa itu meskipun sirat mata Irfan tak bersahabat padanya. Tapi, tidak masalah buat Naura, jika nanti Irfan kembali menegurnya pun ia sudah menyiapkan mentalnya, kenapa juga mesti takut.

Akhirnya mereka bertiga masuk di dalam lift, dan sebagai sekretaris Naura'lah yang menekan tombol angka 12. Sesaat suara hening menyelimuti kuda besi tersebut, antara Naura dan Irfan sama sekali tidak bersuara. Sementara Noah sibuk mengayun tangan Naura.

Hingga beberapa menit kemudian keheningan pecah saat lampu kotak besi itu kedap kedip, lalu tak lama agak menghentak sampai mereka bertiga berpindah posisi, layaknya orang terguncang karena gempa. Irfan langsung menarik Noah, dan membawanya dalam pelukannya sementara tangan Naura langsung memegang besi yang ada di bagian belakang punggungnya dengan perasaan cemas, lantas tas dan paper dari coffe shop terjatuh. Lalu tanpa menunggu lama, kotak besi itu terasa terguncang kembali.

“AAKHH!” pekik Naura tampak semakin takut, refleks Irfan menarik lengan wanita itu dan  memeluk bersamaan ia memeluk Noah. Naura tidak bisa mengelaknya karena posisi mereka saat ini sedang tidak baik-baik saja, entah apa yang sebenarnya terjadi, hingga beberapa menit kemudian guncangan itu berhenti dan kotak besi tidak bergerak sama sekali.

“Papi, Noah atut,” ujar Noah, suaranya terdengar ingin menangis.

Buru-buru Naura menarik dirinya dari pelukan Irfan dengan paras wajahnya yang memucat. Kemudian ia menatap sendu dan menarik Noah dari pelukan Irfan, lalu mengendongnya.

“Ada Tante dan Papi, De, jangan takut,” ujar Naura dengan lembutnya, padahal ia sendiri juga sedang takut.

“Ante, Noah atut,” adunya, bola mata mungilnya berair, lantas dengan lembutnya tangan Naura mengusap rambut Noah lalu membawanya dalam pelukannya.

“Kita hanya sebentar di sini, sebentar lagi kita akan keluar kok,” ujar Naura, tutur begitu lembut bagaikan seorang ibu.

Irfan tidak berdiam diri saja melihat kebersamaan Noah dan Naura, pria itu  bergerak menekan tombol emergency dan memberitahukan jika lift berhenti di lantai 6. Kemudian tidak kama menelepon Deri untuk memberikan kabar darurat. Dan melalui sambungan telepon baru Irfan mengetahui jika Jakarta sedang ada gempa, dampaknya beberapa lift di perusahaan Grup Mahesa kena guncangan gempa.

Musibah memang tidak mengenal waktu dan tempat, kini mereka bertiga terjebak dalam lift.

“Kita harus menunggu, barusan ada gempa,” ujar Irfan memberitahukan pada Naura tanpa menyebut nama wanita itu.

Wanita itu hanya bisa terdiam, sedangkan Noah sudah terisak menangis dalam gendongannya.

Naura menarik napasnya dalam, lalu menurunkan pandangannya ke lantai, tampaklah minuman dan makanan yang belum sempat ia nikmati.

“Kita harus sabar menunggu tim penyelamat,” lanjut kata Irfan. Ia ingin mencoba menenangi mantan wanita itu yang sebenarnya penakut jika terjadi sesuatu hal, tapi hatinya terasa berat.

Lagi, Naura hanya bisa mendengarkan tanpa banyak bicara. Lalu tidak lama kemudian dia membuka sepatu stilettonya dan membawa dirinya bersama Noah untuk duduk di bawah, karena keadaan tidak memungkinkan untuk ia terus berdiri sambil menggendong Noah.

“Biar Noah sama saya saja,” pinta Irfan sembari mengulurkan kedua tangannya.

Kepala  Noah melirik ke arah papinya. “Ndak au, Noah auna cama Ante,” balas Noah dengan matanya yang basah, kedua tangan mungil merangkul leher Naura, lalu Noah kembali menenggelamkan wajahnya ke pundak wanita itu seakan tempat yang ternyaman baginya saat ini.

Irfan tertegun, dengan terpaksa ia menarik tangannya dan tatapannya masih setia pada kedua orang tersebut.

Ikatan darah itu sangatlah kuat, tanpa perlu dijelaskan siapa mereka berdua naluri seorang anak dan ibu sangatlah kuat meski lautan atau pulau memisahkannya.

 Bersambung ... ✍️

 

 

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

sdh pasti maoh merasakan kehangatan ksh sayang dr mommy kandung selama di dlm rahim dia hangat ma ksh sayang mommy Naura ....sekuat apa km jsuhkan anakmu Naura adalah mommy kandung nya Irfan ingat ituu😡😡😡

2024-12-29

2

Juan Sastra

Juan Sastra

ikatan darah sangat kuat jika seorang ibu sayang anaknya lalu bagaimana sama ibu yg tega buang anaknya sendiri,,

2025-01-18

0

Ila Lee

Ila Lee

lihat Irfan kau memisah kan mereka tuhan yg menyatukan ibu dan anak

2025-01-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!