Bab 9. Telepon Dari Irfan

Naura masih menikmati sepotong cake red velvet usai mengisi perutnya dengan makanan berat, sementara Alma sedang mencuci piring di dapur. Dalam waktu yang bersamaan ponsel Naura berdering dari nomor yang tidak ia kenali sama sekali, dan seperti biasanya takut yang menghubungi dari relasi bisnis Damar lantas ia memutuskan untuk menerima telepon.

“Halo, selamat sore,” sapa Naura dengan ramahnya tanpa ada prasangka buruk.

“Oh jadi begini ya kebiasaannya, belum jam pulang kerja tapi sudah meninggalkan kantor tanpa laporan terlebih dahulu pada atasannya!” tegur Irfan dalam panggilan teleponnya.

Naura menundukkan kepalanya, suara yang dulu sering meneleponnya dengan lembut serta penuh perhatian, kini menyapa dalam panggilan telepon. Naif rasanya jika Naura tidak mengingatnya, meski ia telah melupakannya.

“Kamu dengar saya bicarakan!?” tegur pria itu, meradang tidak ada respon dari Naura.

Wanita itu mendesah pelan dan kembali mengangkat wajahnya. Haruskah ia minta maaf karena sudah melanggar peraturan perusahaan? Yang memang selama ini Naura sangat mematuhinya, namun manusiawi’kan jika karyawan melakukan kesalahan, itu pun ada pemicunya sendiri. Naura bukan boneka atau batu yang tidak memiliki perasaan.

“Terima kasih atas tegurannya Pak Irfan. Apakah ada yang ingin Pak Irfan sampaikan kembali sampai seorang Presdir menelepon saya?” tanya Naura dengan sopan dan ramah, meski wajahnya tidak seramah itu.

Suara pria itu berdecak terdengar jelas ditelinga Naura. “Kamu tahukan jika pulang tidak pada jamnya tanpa ada pemberitahuan ke atasan akan dikenakan potongan pada tunjangan kehadiran?” tanya Irfan dengan tegasnya.

“Cukup tahu, dan saya menimpa konsekuensi dari segala tindakan saya. Lagi pula saya tidak lama lagi akan mengundurkan diri. Jadi terima kasih sekali lagi telah mengingatkan saya. Untungnya Pak Irfan tidak mengingatkan masa lalu yang begitu menyakitkan,” sindir Naura dengan lembutnya namun penuh penekanan.

Irfan terdiam.

“Ada lagi yang ingin Pak Irfan sampaikan pada saya? Atau mungkin saja ingin mengungkit masa lalu. Aah, maaf saya tiba-tiba berbicara seperti ini, padahal saya baru pertama kali bertemu dengan Pak Irfan Mahesa, mana mungkin mengungkit masa lalu. Sepertinya saya salah orang, di Jakarta ini banyak sekali nama Irfan. Sekali lagi saya minta maaf ... jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, saya akan menyudahi perbincangan ini karena saya butuh istirahat,” tutur Naura yang berani menyindir Irfan secara halus.

Irfan menarik kerah kemeja, entah mengapa ucapan Naura membuat tenggorokannya tercekat. “Besok kamu datang seperti biasa, tidak boleh telat!” perintah Irfan, setelah itu ia memutuskan panggilan teleponnya.

Naura terkekeh pelan seraya menarik ponsel dari daun telinganya. “Sepertinya hanya aku yang mengingat masa lalu! Tak mengapa ... baiklah Mas Irfan, sekarang aku bukan yang dulu. Mungkin cintamu untukku saat itu untuk mempermainkan dan menipuku, kini aku akan membalas permainanmu yang dulu!” gumam Naura sendiri, tatapannya agak menajam.

***

Mansion Mahesa

Malam pun tiba, Irfan telah kembali ke mansion dan kepulangannya hanya disambut oleh Akbar, kepala pelayannya. “Nyonya dan anak saya ke mana, Pak Akbar?” tanya Irfan sembari memberikan jas yang sudah tersampir di lengannya.

“Nyonya Sofia ada di kamar Tuan, sedangkan Tuan muda sama baby sitternya di ruang tengah,” jawab Akbar.

Tanpa bertanya lagi pria itu bergegas ke ruang tengah, lalu menghampiri putra semata wayangnya yang sedang main mobil-mobilan sama Elin, baby sitter.

“Papi pulang, Noah,” sapa Irfan dengan merentangkan tangan, bocah tampan itu pun menoleh lalu beranjak dari duduknya di atas karpet, kaki mungilnya berlarian dan masuk ke dalam pelukan Irfan. Pria itu lantas mencium pipi Noah, lalu menatap dalam anaknya dengan tatapan yang berbinar-binar.

“Noah sudah makan?” tanya Irfan penuh perhatian.

“Cudah, tadi dicuapin cama Mba Elin, Pih,” jawab Noah apa adanya.

Irfan tersenyum getir mendengar jawabnya. “Kalau begitu Papi ganti baju dulu, sekarang Noah sama Mbak Elin di sini ya,” pinta Irfan sembari mengurai pelukannya.

Noah mengangguk paham, namun sebelum ia melanjutkan bermain bocah itu bertanya, “Papi oleh ecok Noah itut Papi ke kantor?”

Irfan yang baru saja ingin menegakkan punggungnya, kembali berjongkok dengan alisnya terangkat sebelah.

“Buat apa Noah ikut Papi ke kantor? Papi ke kantor untuk bekerja bukan buat bermain, Nak,” balas Irfan tanpa meninggikan suaranya.

“Noah au kasih aadiah, Papi,” ungkap Noah dengan bola mata mungilnya mengerjap-ngerjap.

“Kasih hadiah? Buat siapa hadiahnya?” tanya Irfan penasaran.

Nah, di sinilah Noah agak takut mengatakannya, bocah itu hanya menundukkan kepalanya. “Papi ndak oleh tau, anya Noah aja yang tau,” balas Noah pelan.

Perasaan Noah sangat halus dan termasuk tipikal yang sensitif, serta ingatannya sangat kuat. Dan,  bocah ini suka berterima kasih pada seseorang dengan cara memberikan sebuah hadiah, hadiah kecil versi anak-anak. Tapi membuat hatinya sangat bahagia jika melakukannya.

Irfan menarik napas pelan, tangannya terulur mengusap pundak anaknya. “Jangan takut Nak, katakan sama Papi memangnya Noah mau kasih hadiah buat siapa? Nanti Noah bisa titipkan sama Papi, biar Papi yang berikan,” ujar Irfan tampak sangat sabar.

Noah mengangkat wajahnya, kembali menatap papinya. “Noah au na acih cendili Papi, oleh ya Noah itut, cebental aja, abis itu Noah ulang cama Mba Elin,” rayu Noah dengan kedua tangannya terkatup di dadanya, tatapannya pun memelas, memohon.

Hati Irfan penuh tanda tanya siapa yang mau ditemui sama Noah, tapi sehubungan kepalanya sedang tidak bisa diajak kerja sama akhirnya Irfan mengiyakan keinginan anaknya. Lalu ia lanjut menuju kamar utama.

Setibanya di kamar, tampak Sofia berbaring di sofa panjang, tatapannya fokus pada ponselnya. Dan sudah tentu jika di dalam kamar wanita itu tidak menggunakan hijabnya. Pria itu hanya terdiam melihat istrinya sibuk dengan ponselnya, sampai ia masuk ke dalam kamar tidak di sapa.

“Eh, Mas udah pulang, kapan nyampainya? Kok aku gak tahu?” tanya Sofia baru engeh.

Pria itu hanya tersenyum getir, “sejak kamu sibuk dengan ponselmu,” sindir Irfan.

Sofia langsung berdiri dan menghampiri suaminya yang kini sedang membuka kancing kemeja. “Maaf ya Mas, aku sampai gak tahu. Tadi aku lagi chat sama mama, habis curhat,” keluh Sofia.

“Ada masalah apalagi?” tanya Irfan seraya menatap wajah istrinya.

Sofia menarik napas dalam-dalam, iris matanya tampak mulai berkaca-kaca. “Tadi sore mama Mas ke sini, mama menyinggung masalah adik buat Noah. Mas, bukankah cukup dengan kehadiran Noah jadi penerus Mahesa. Kenapa sekarang diungkit lagi masalah anak! Aku udah sangat rela saat itu Mas menikah lagi tanpa sepengetahuan orang tua kita ... hingga wanita yang tidak aku kenal itu mengandung anak Mas. Tapi, untuk kali ini aku sudah tidak rela kalau Mas sampai menikahi wanita lain demi seorang anak lagi. Hatiku sakit dan tidak kuat berbagi suami dengan wanita lain. Andaikan waktu itu kita tidak mengalami kecelakaan mobil, mungkin rahimku gak diangkat dan aku pasti bisa mengandung anak Mas sendiri.” Tangisan Sofia pecah, kedua tangannya memukul-mukul dada pria itu, lantas Irfan memeluknya dengan perasaan bersalahnya.

Bersambung ... ✍️

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

Nartadi Yana

Nartadi Yana

sukurin itu teguran karena kamu sudah menghancurkan hidup orang lain maka hidupmu akan hancur dengan sendirinya dengan kebohongan kalian

2024-12-27

2

Lisa Icha

Lisa Icha

kalian pasangan egois teganya ngancurin hidup seorang gadis polos kek Naura.Dimana hati nurani kalian hgga memisahkan seorang ibu dengan anak kandungnya sendiri.4 tahun Naura dibuat mental down atas kehilangan anak kandungnya

2024-12-03

5

ѕαиg ρємιмρι

ѕαиg ρємιмρι

Nah kan Beneran Noah anaknya Naura. Semoga sandiwara Irfan dan Istrinya ketahuan sama orangtua nya Irfan

2024-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!