Bab 8. Curhatan Naura

Dua jam kemudian, Naura baru saja tiba di rumah setelah sebelumnya mampir ke mall untuk membeli beberapa makanan favoritnya, rencananya ia akan makan bersama dengan sahabatnya yang selama ini menemaninya pindah ke Jakarta karena ibunya tidak bisa ikut ke Jakarta karena masih mengurus usaha batiknya yang selama ini ia jalankan semenjak masih muda.

Dengan uang sisa dari Irfan serta tabungan yang ia sisihkan dari gaji selama dua tahun sejak awal bekerja di Grup Mahesa, Naura bisa membeli rumah kecil di pinggiran Jakarta. Meski kecil tapi rumah sendiri. Ada untungnya ia bekerja sebagai sekretaris Presdir, gajinya dua digit jadi cukup membantu saat ia ingin membeli rumah, ketimbang terus-terusan ngontrak atau ngekost bersama Alma. kebetulan ada orang jual butuh jadi sungguh beruntungnya Naura.

“Loh, Naura ... tumben kamu sudah pulang? Biasanya malam baru pulang?” tanya Alma saat membukakan pintu untuk Naura.

Naura bergegas masuk ke dalam, dan menaruh semua belanjaannya ke atas meja, lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.

“Ada sesuatu di kantor Al, makanya aku mending pulang saja,” jawab Naura dengan raut wajah lelahnya, tangannya langsung membuka blazer yang ia kenakan nya.

“Sebentar aku ambil minum buat kamu dulu,” balas Alma bergegas ke dapur mengambil air dingin, dan membawanya untuk Naura.

“Thanks, Al.” Naura langsung menjenguk air dingin itu, tenggorokannya terasa adem.

Sementara Alma mengintip belanjaan Naura dengan senyuman sumringahnya, kemudian ia kembali menatap sahabatnya. “Naura, tumben kamu beli makanan sebanyak ini? Habis dapat bonus ya? Atau jangan-jangan kamu ada masalah?” tebak Alma dengan tatapan curiganya.

Naura tak bisa tersenyum, ia pun mencondongkan tubuhnya ke depan lalu mengeluarkan belanjaannya dari plastik. “Kita makan berdua ya, aku pengen nikmati hidup,” balas Naura.

Alma sangat paham akan sikap Naura kalau sudah begini, lantas ia pindah duduk ke samping Naura. “Apa yang terjadi? Cerita lah? Aku tahu kalau wajahmu sudah murung begini dan banyak makanan begini, pasti ada sesuatu,” tebak Alma to the point.

Naura menghentikan kegiatannya tersebut, tangannya kini beralih mengusap ujung matanya. “A-aku bertemu dengannya, Al. Hatiku sesak, Al,” ungkap Naura terbata-bata, lantas tangisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluncur bebas.

Alma memeluknya dengan rasa penasarannya. “Maksud kamu siapa?” tanya Alma sembari mengusap lembut punggung sahabatnya.

“Mas Irfan, Al,” jawab Naura begitu lirihnya.

“APA!!” Alma terkejut, lantas ia mengurai pelukannya, kemudian menatap Naura. “Kamu bertemu dengan pria brengsek itu! Astagfirullah!” seru Alma, lalu ia kembali memeluk Naura, dan membiarkan wanita itu menumpahkan kesedihannya dalam beberapa saat. Setelah Naura tenang, barulah Alma menanyakan kejadiannya. Dan, semakin terkejut lah Alma dengan cerita Naura.

“Astagfirullah!” Alma jadi ikutan meneteskan air mata, ada rasa tak percaya namun nyata dan telah terjadi pada sahabatnya.

“Saat itu ternyata Mas Irfan telah menikah Al, a-aku ditipunya. Dan orang tuanya masih hidup, bapaknya adalah atasanku, Al. Sakit hatiku, Al,” ungkap Naura dibalik isak tangisnya. Rasa sakit Naura juga dirasakan oleh Alma yang turut bersedih.

“Aku setuju dengan keputusanmu, sebaiknya mengundurkan diri. Aku takut depresi kamu kambuh lagi. Tapi kamu ada uang untuk bayar penaltinya? Aku ada sedikit tabungan jika kamu butuh, pakai saja,” ujar Alma sembari mengusap pipinya.

Naura menarik napasnya yang masih sesenggukan, lalu menggeleng pelan. “Tidak usah, kamu butuh uang itu buat kirim ke orang tua kamu. Nanti aku akan cari pinjaman lunak, sekalian nanti aku jual motorku dulu,” balas Naura. Di hatinya percaya ia bisa mendapatkan pinjaman sekitar 60 juta untuk bayar penaltinya.

Alma meraih tangan sahabat lalu mengusapnya. “Gak pa-pa Naura, pakai aja dulu, ibu sudah aku transfer kemarin. Dari pada kamu kesusahan cari pinjaman. Intinya aku dukung kamu resign dari sana, insyaAllah kamu pasti dapat pekerjaan baru ketimbang kamu tiap hari bertemu dengan mantan suamimu yang biadab itu,” tukas Alma penuh amarah, karena ia adalah saksi hidup Naura, bagaimana sahabatnya hancur karena Irfan.

“Makasih Al, nanti kalau aku memang kurang dapat pinjamannya baru aku pakai uang tabungan kamu. Sekarang gimana kalau kita makan dulu, perutku lapar tadi siang tidak makan nasi, cuma ngemil doang,” ajak Naura.

Hatinya memang sangat sakit dan sedih, namun Naura berusaha untuk tidak terlalu tenggelam pada perasaan sendiri setelah ia mengetahui jika pria itu telah beristri saat menikahinya. Belajar dari kejadian empat tahun yang lalu, hatinya rapuh, mentalnya kena dan yang rugi ia sendiri bukan pria itu.

Dengan pertemuan yang tidak di duga hari ini, Naura sempat meringis mengingat masa itu. Ia kesakitan sendiri, ternyata pria itu hidup bahagia dengan istri serta anaknya. Menyesali masa lalunya yang sangat terbuai dan mencintai Irfan.

Sembari menikmati makanan yang dibeli Naura, Alma baru teringat sesuatu. “Naura, sebelum kamu benar-benar meninggalkan pekerjaanmu ada baiknya kamu tanya sama mantanmu itu di mana kuburkan anakmu. Selama ini kita tidak tahukan kuburan anakmu,” saran Alma.

Naura menarik sendok dari tepi bibirnya. “Aku memang ada rencana ke sana Al, tapi kalau kamu lihat sikapnya seperti orang asing. Doakan aku bisa bertanya, aku sungguh ingin melihat makam anakku,” ujar Naura begitu lirih, jika teringat anak yang belum pernah ia lihat pasti dirinya kembali menitikkan air mata.

Alma jadi tidak enak hari, lantas ia menggeser duduknya lalu mengusap punggung sahabatnya dengan lembutnya. “Maaf ya, kalau kamu jadi sedih kembali, tapi setidaknya jika anakmu memang telah meninggal pasti ada makamnya,” ujar Alma berhati-hati berucap.

Naura mengangguk paham sembari mengusap pipinya yang kembali basah dengan air mata.

Sementara itu di Grup Mahesa, Damar sedang melakukan meeting dengan beberapa relasi bisnis. Sedangkan Irfan usai merenung seorang diri, lantas menghubungi ruangan Naura melalui line telepon, sayangnya tidak dijawab sama sekali.

“Ke mana dia, kenapa tidak diangkat teleponnya!” Irfan kembali kesal, lalu beranjak dari duduknya menuju ruangan Naura.

"Naura!" Irfan memanggilnya ketika memegang handel pintu. Begitu ia masuk ke ruangan Naura,  pria itu tidak mendapati wanita itu. Akan tetapi saat ia melihat ada figuran kecil di meja kerja, pria itu melangkah masuk dan mendekati meja itu, lalu mengangkat figura tersebut. Irfan menyentuh foto Naura yang sedang tersenyum cantik, dan tanpa ia sadari matanya berkaca-kaca.

“Naura Arashya.”

 

Bersambung ... ✍️

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

C2nunik987

C2nunik987

kamu udh hancurkan hati dan masa depan Naura utk apa km DTG lagi di dpn matanya....biarkan Naura yg akan menjauhimu 😡😡😡

2024-12-29

0

Ila Lee

Ila Lee

kamu jahat Irfan menhancur hidup nuara luka yg kau toreh kn kini berdarah kembali lelaki berensek pembohong

2025-01-09

0

Khairunnisa Hassan

Khairunnisa Hassan

karena hanya ingin keturunan tapi Irfan memainkan hati prempuan .laki laki tak tahu diri

2025-01-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!