Bab 7. Perkara Pengunduran Naura

Mata Naura terbelalak melihat amplop yang berisikan surat pengunduran dirinya dirobek hingga berkali-kali oleh Irfan hingga tak berbentuk, begitu juga dengan Damar. Kenapa seperti itu? Bukannya pertemuan mereka berdua kembali ini saling tidak menginginkan! Atau Irfan tidak menginginkan Naura mengundurkan diri sebagai sekretaris Presdir?

“Semua karyawan di sini harus bekerja sesuai masa kontrak kerjanya, kecuali ada pemutusan kerja dari pihak perusahaan sendiri. Seharusnya kamu tahu hal seperti itu, kecuali kamu bersedia membayar penalti yang telah ditentukan dalam kesepakatan kerja!” tegas Irfan seraya menaruh robekan surat pengunduran diri tersebut ke atas meja dengan raut wajahnya yang begitu tegas.

Naura menghela napas panjang, betapa bodohnya ia tidak mengingat kesepakatan kerja yang baru beberapa bulan diperpanjang, karena sistem kerja sekarang adalah sistem kontrak yang diperbarui setiap tahunnya. Setelah memenuhi masa baktinya dalam  kurun waktu yang telah ditentukan barulah masuk ke status karyawan tetap, itu pun ada evaluasinya terlebih dahulu.

Namun, ada beberapa case yang dimudahkan saat mengajukan resign tanpa bayar penalti seperti mengalami kecelakaan kerja, terjangkit penyakit keras, menikah, atau melahirkan. Dan masalah Naura tidak masuk dalam kriteria tersebut. Haruskah wanita itu mencari alasan seperti itu agar memudahkan niatnya.

“Kamu mengertikan yang saya maksud, Naura! Jika memang kamu bersikukuh ingin mengundurkan diri silakan bayar penaltinya ke bagian keuangan setelah itu barulah kamu ajukan surat pengunduran diri pada saya!” ujar Irfan dengan tegasnya.

Lagi, Naura menghela napas dalam-dalam kemudian menggiring pandangannya pada pria paruh baya yang selama ini ternyata mantan mertuanya sendiri. Sungguh tega sekali Irfan, di saat mereka berdua menikah Damar beserta istrinya tidak hadir dikarenakan telah meninggal dunia, inilah yang disampaikan  Irfan padanya saat itu.

“Pak Damar, saya tetap akan mengajukan pengunduran diri. Berikan saya waktu sebulan untuk membayar uang penaltinya dan selama sebulan ini saya akan menyelesaikan pekerjaan sekaligus berkoordinasi dengan sekretaris baru yang akan menggantikan saya,” ujar Naura dengan lugasnya, dan menunjukkan keputusannya tidak bisa digoyang atau diancam oleh Irfan.

Batin Irfan menggeram mendengar keputusan Naura, sementara bagi Damar ini sangat aneh dan mencurigakan. Bekerja sama dengan Naura selama dua tahun bagi Damar sedikit banyaknya memahami karakter Naura. Jika ada masalah pasti wanita itu pandai menutupinya dan tetap terlihat tenang.

“Naura sebenarnya kamu ada masalah apa? Saya yakin kamu sedang menutupi sesuatu. Sejujurnya sangat disayangkan dengan potensial kamu sebagai sekretaris jika kamu memilih resign, dan saya yakin kinerja kamu sangat membantu Irfan dalam peralihan jabatan ini. Seandainya kamu dalam keadaan mood yang kurang baik, alangkah baiknya kamu ambil cuti dan berliburlah ... saya akan membiayainya ... mau liburan ke Singapura atau ke Bangkok, Malaysia terserah, setelah itu kamu kembali bekerja seperti biasa,” saran Damar penuh perhatian.

Pria itu sangat menyayangkan jika Naura mengambilkan keputusan seperti itu, karena mencari partner kerja yang klik tidaklah mudah meskipun banyak penggantinya, dan belum tentu juga kinerjanya sama seperti orang sebelumnya.

“Tidak ada hal yang saya tutupi Pak Damar, dan terima kasih juga untuk tawaran Bapak. Dan masalah posisi kerja saya belum tentu kinerja saya sesuai dengan harapan Pak Irfan, dan mungkin saja Pak Irfan sudah memiliki kandidat untuk menggantikan posisi saya,” balas Naura tegas, dan lagi-lagi ia tidak mau menatap Irfan yang sepertinya semakin geram.

 “Ya sudah kalau kamu memang ingin keluar dari perusahaan ini, silakan bayar penaltinya! Dan, Papa juga jangan terlalu menahan atau memberikan keleluasaan pada Naura, yang ada nanti dia ngelunjak sebagai karyawan di sini. Masih banyak kok karyawan di sini yang bisa menggantikan posisi dia!” Suara Irfan naik satu oktaf sembari ia berdiri.

Naura benar-benar terkejut kembali melihat sosok Irfan yang sangat berbeda. Inikah Irfan yang sesungguhnya? Keras dan arogan? Jadi pria yang begitu lembut dalam berkata dan selalu teduh tatapannya hanya kamuflase'kah selama setahun mereka menikah! Meringislah perasaan Naura melihatnya.

“Irfan, kamu tidak perlu membentak Naura seperti itu!” tegur Damar. “Setiap karyawan berhak untuk memutuskan untuk berhenti kerja, dan Papa sangat menghargai Naura yang selama dua tahun ini sudah banyak membantu Papa. Dan hak Papa sebagai atasannya memberikan hadiah padanya, karena Papa tahu Naura bukan karyawan lupa daratan,” lanjut kata Damar jadi terpancing emosi.

Irfan menyeringai tipis, lalu menyugarkan rambut tebalnya ke belakang. Sedangkan Naura sendiri tercenung melihat pertengkaran kecil yang terjadi antara ayah dan anak karena dirinya. Kemudian ia beringsut dari duduknya.

“Mohon maaf Pak Damar jika keadaannya jadi kurang nyaman karena permasalahan saya,” ujar Naura sembari membungkukkan punggungnya sebagai tanda hormat, lantas pandangannya beralih ke Irfan. “Baik Pak Irfan, saya akan segera membayar penaltinya. Kalau begitu saya undur diri,” pamit Naura, dan melakukan hal yang sama seperti pada Damar, lalu ia melangkah mundur keluar dari ruangan Presdir.

Sepeninggalnya Naura, Damar beringsut dari duduknya lalu menatap putranya yang masih mengiring pandangannya ke arah pintu.

“Sebenarnya ada apa dengan kamu, Irfan! Kamu baru pertama kali berkenalan dengan sekretaris Papa, tapi kenapa sikapmu dan tatapanmu seperti sudah pernah mengenalnya?” tanya Damar, tatapannya terlihat penasaran.

Degh!

Pria itu langsung menolehkan wajahnya. “Tidak ada apa-apa, Pah. Aku hanya bersikap tegas meskipun dia sekretaris Papa, dan aku tidak pernah mengenalnya. Memangnya aku salah menatap dia dan bersikap tegas seperti itu?” Irfan balik bertanya sembari mengontrol emosinya yang hampir saja meluap.

Damar lantas memutari meja sofa, lalu bergerak menuju meja kerja yang selama ini telah menemaninya bekerja. “Cara pandangmu pada Naura menyiratkan kebencian, bukan pandangan orang pertama kali bertemu. Entah apa yang membuat kamu membencinya, hanya saja Papa sangat merekomendasikan Naura sebagai sekretarismu, kinerjanya sangat baik dan dia sangat cekatan dalam bekerja, dan satu lagi dia pandai dalam bernegosiasi, banyak proyek perusahaan ini berhasil berkat dia. Serta selama ini sebenarnya banyak  pengusaha yang menawarkan dia untuk pindah, tapi Papa menahannya. Kalau sekarang terserah kamu,” imbuh Damar menjelaskan.

 “Papa harap kamu tidak menyesali keputusan kamu, jika tidak bisa mempertahankan karyawan terbaik.”

Irfan hanya bisa menghela napas, lalu kembali menatap daun pintu. Sementara Naura sedang merapikan meja kerjanya, kemudian menyampirkan tas bahunya, lalu meninggalkan ruangannya. Jam pulang kerja belumlah tiba, namun Naura memilih untuk pulang dengan perasaannya yang sangat sesak di dadanya.

Bersambung ... ✍️

Terpopuler

Comments

Puji Ustariana

Puji Ustariana

keputusan yang tepat naura 👍🏻👍🏻 lebih baik mementing kesehatan mentalmu daripada bekerja dengan orang yang arogan percayalah jika noah anakmu dan Tuhan sudah berkehendak maka noah akan kembali kepadamu semangaaaaat naura kamu pasti bisa 🤗🤗

2025-03-13

0

LENY

LENY

SETUJU BANGET NAURAH BERHENTI DRPD KERJA SAMA SI BIADAB YG TELAH MELUKAI HATINYA. KEJAM KASAR SOMBONG JIJAY LIHAT IRFAN INI😡

2025-01-09

0

Elly Rasmanawati

Elly Rasmanawati

sy setuju Naura keluar hengkang dr perusahaan pk Damar ..diluar pasti ada prshaan yg lbh suxes n CEO nya yg beradab...

2024-12-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!