Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah

Langkah Naura sedikit berlari menuju toilet yang terdekat dari auditorium, dan masih mengendong Noah, anaknya Irfan.

“Kita sudah sampai,” ujar Naura, ia memilih salah satu bilik kemudian menurunkan bocah tampan itu.

“Tante bukakan dulu celananya ya.” Naura kembali berkata sembari terburu-buru membukakan kancing dan resleting celana bocah kecil itu.

“Epetan Ante ...,” pinta Noah sembari menatap wanita yang belum pernah ia kenal dan melihatnya.

“Iya Dede ganteng, dah sekarang bisa pipis,” pinta Naura dengan lembutnya, lalu mengiring Noah ke closed. Lantas, bocah kecil itu membuang hajatnya hingga tuntas.

Sambil menunggu, entah mengapa tangannya terulur mengusap rambut keriting berwarna coklat milik Noah, mirip dengan rambutnya yang juga keriting dan berwarna coklat.

“Ante, Noah udah nih pipisnya,” ujar Noah dengan mendongakkan wajahnya menatap Naura.

Naura kembali membungkukkan punggungnya, “Pintarnya, Tante bersihkan dulu ya,” balas Naura segera membersihkan Noah, kemudian ia berjongkok menyejajarkan tinggi tubuhnya. Jemarinya sangat lincah merapikan celana dan kemeja yang dikenakan bocah kecil itu. Lalu, pandangan Naura kembali mengamati wajah Noah. Hampir 70% bocah kecil itu plek mirip Irfan, 30%nya ia tidak bisa menilainya mirip dengan siapa.

“Sekarang Dede cuci tangan dulu, mau Tante gendong atau bisa jalan sendiri?” tanya Naura dengan intonasinya masih terdengar lembut.

Kedua bola mata Noah yang cukup mengemaskan jika dipandang menelisik Naura dari atas hingga bawah. “Oleh Noah inta endong agi, Ante?” tanya Noah yang memang cara bicara masih agak cadel, namun masih bisa dipahami oleh orang dewasa.

“Oke, Tante gendong lagi,”balas Naura kembali mengendong bocah tampan itu, dan membawanya keluar dari bilik menuju wastafel, lalu mendudukinya di sisi granit wastafel dan mulai menyalakan kran untuk membersihkan kedua tangan mungil milik Noah.

Semula Naura sempat berpikir dengan hatinya yang kecewa dan sakit karena masa lalu dengan Irfan, akan membuat sikapnya dingin terhadap anak mantan suaminya. Tetapi rupanya tidak begitu, ketika ia berinteraksi dengan Noah justru ia merasa terpikat melihat bocah itu, seakan ada daya tarik tersendiri. Padahal ia mengetahui jika Noah adalah anak Irfan dengan istri pertamanya.

“Ante kok engong cih,” tegur Noah memperhatikan tangannya sejak tadi diusap lembut di bawah aliran air kran, dengan tatapan kosong.

Teguran Noah sontak saja membuat lamunan Naura buyar. “Eh, maaf ya De,” balas Naura tersenyum hangat, lalu menyudahi membersihkan tangan Noah.

“Ante, maacih ya udah antu Noah, alau ndak Noah udah ompol agi,” ujar Noah jujur, bibir mungilnya tersenyum lebar. Sekejap Naura terhenyak melihat senyuman bocah kecil itu, serasa pernah melihatnya dan merasa mirip seseorang, tapi ia tidak ingat siapanya.

“Sama-sama Dede ganteng. Dede pintar tidak ngompol,”balas Naura dengan mengacungkan kedua jempolnya, lalu tak lama matanya agak berbinar-binar dapat mereka berdua saling bersitatap.

“Andaikan anakku masih hidup, pasti dia sudah sebesar ini,” batin Naura kembali teringat, ia pun menengadahkan wajahnya ke langit-langit demi menahan air mata yang tanpa kompromi ingin jatuh membasahi pipinya.

Noah menarik ujung blazer Naura karena merasa aneh, wanita itu pun kembali menunduk.

“Ante napa? Kok aya au nangis?” tanya Noah, bola matanya mendelik penasaran.

Naura tersenyum lantas tangannya mengusap ujung matanya. “Mata Tante kemasukan debu jadi kaya orang nangis,” jawab Naura asal, lalu ia merapikan tatanan rambut bocah itu kemudian tangannya terulur menyentuh pipi Noah yang cukup ngembul.

“Tampannya,” puji Naura.

“Noah emang ampan Ante, aya Papi,” timpal Noah jujur.

Ucapan tersebut membuat Naura tersenyum kecut lalu bergegaslah ia menarik tangannya dari pipi Noah.

“Sekarang kita kembali ke ruangan nanti Dede dicariin sama opa,” ajak Naura sembari kembali mengendong Noah.

Begitu langkah kaki Naura keluar dari toilet wanita, sosok Irfan sudah ada dihadapannya, lantas pria itu langsung mengambil Noah dari gendongan Naura.

“Lain kali jangan sesekali menyentuh atau mengurus anak saya!” hardik Irfan, sungguh kasar sekali.

Naura sempat termangu, kemudian ia menghela napas panjang sembari membuang mukanya ke samping, serta tidak peduli dengan kepergian Irfan begitu saja.

“Ante, ayo itut!” seru Noah mengajak Naura untuk mengikuti langkah papinya yang sudah meninggalnya, tangan mungilnya pun melambai. Naura hanya bisa tersenyum kecut dan membalas lambaian tangan itu dengan perasaannya yang aneh.

Sementara itu, Irfan yang mendengar Noah berkata seperti itu mendengus kesal. “Noah, lain kali jangan pernah dekat sama tante itu! Papi larang!” tegas Irfan.

Noah langsung menatap bingung pada papinya. “Ante olang aik Pih, ndak ahat ama Noah,” balas Noah tidak setuju akan permintaan Irfan.

“Kalau Papi sudah melarang, berarti tante itu orang jahat! Dengarkan kata-kata Papi! Papi gak suka kalau anak Papi melawan!” ujar Irfan tampak tidak suka dibantah.

Noah yang disentak seperti itu langsung menundukkan kepalanya, bibirnya melipat ke dalam menahan untuk tidak menangis.

Irfan yang sejak tadi terbawa emosi seketika menyadari telah membentak anak satu-satunya. “Maafkan Papi,” ujar Irfan langsung memeluk dan mengecup kening putranya. Dan bocah itu hanya bisa terisak pelan.

Naura tidak kembali ke ruang auditorium, ia memilih ke ruangannya untuk membuat surat pengunduran diri yang akan ia berikan hari ini juga pada Damar. Keputusannya sudah bulat.

***

Dua jam kemudian, acara di ruang auditorium sudah selesai. Irfan meminta Sofia dan Noah untuk pulang terlebih dahulu, sedangkan ia sendiri akan bersinergi dengan papanya. Berarti Naura juga harus hadir di ruang Presdir, tapi apa yang terjadi ketika Naura masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Naura, ini maksudnya apa?” tanya Damar dengan tangannya memegang amplop coklat yang baru saja ia terima.

“Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Bapak, mohon maaf hari ini saya mengajukan pengunduran diri,” jawab Naura tanpa menatap Irfan yang juga duduk di sofa dekat Damar.

Damar meletakkan amplop tersebut ke atas meja sofa, lalu ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, pandangannya menyelidik pada wanita yang kini masih berdiri di hadapannya.

Sementara itu, Irfan mendesah pelan dan membuang pandangannya ke sembarang arah.

“Naura, duduklah dan jelaskan duduk perkaranya, kenapa tiba-tiba kamu ingin mengundurkan diri? Padahal tadi pagi kamu siap akan mendampingi putra saya,” pinta Damar.

Naura mematuhi perintah Damar dengan duduk di salah satu sofa single yang berhadapan dengan Irfan.

“Mohon maaf Pak Damar jika saya terkesan tidak bisa memegang janji saya sebelumnya. Mungkin Ini terkesan sangat mendadak, tapi saya sudah memutuskan dan memikirkannya matang-matang. Saya ingin mengundurkan diri dari sini, dan saya ucapkan terima kasih telah diberikan kesempatan bekerja di sini,” ujar Naura dengan sopannya.

Irfan lantas menolehkan wajahnya kemudian mengambil amplop coklat tersebut.

“Sret ... Sret!”

Bersambung ...✍️

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

Ruli

Ruli

Jahatnya irfan, cepat atau lambat kejahatan akan terungkap semua akan terbongkar dan irfan akan kehialangan noah, buat kehidupan irfan hancur, sudah mempermainkan pernikahan dan menyakiti naura..

2024-12-30

2

Ila Lee

Ila Lee

Irfan lelaki jahat nanti terbongkar siapa nuara di masa lalu baru padan muka lebih 2 lgi jika tuan Damar thu Noah itu anak nuara bukan nya Sofia

2025-01-08

0

Lisa Icha

Lisa Icha

sekejam itu Kamu memisahkan ibu kandung ma anak kandung nya Irfan.Terbuat Dari apa hatimu itu.

2024-12-03

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!