Bab 5. Sikap Irfan

"Ehmm, Pak Alex untuk masalah Naura di lain waktu bisa kita bicarakan kembali. Untuk saat ini dia masih menjabat sebagai sekretaris Presdir. Terima kasih atas kedatangan Pak Alex, dan silakan menikmati jamuan kami,” ujar Irfan memecahkan interaksi yang terjadi antara Naura dan Alex.

Dengan terpaksa Alex mengurai jabatan dengan Naura, “Kalau begitu saya menunggu kabar dari Mbak Naura.”

“Segera akan saya kabari, Pak Alex,” jawab Naura dengan ramahnya, dan menghiraukan lirikan tajam Irfan.

Selanjutnya, wanita itu memperkenalkan Irfan dengan relasinya yang lain. Hal yang sama terulang lagi banyak beberapa relasi yang menawarkan kedudukan di perusahaan mereka dan selalu Irfan'lah yang menjawab, sementara Naura selalu menjawab dengan memberikan harapan yang baik. Dan selalu mengabaikan tatapan sinis dari Irfan.

Lagipula, memang nanti ia akan mendiskusikan dengan Damar mengenai niatnya yang ingin mengundurkan diri. Keputusannya sudah bulat dalam waktu berpikir yang sangat singkat, tanpa harus menunggu berhari-hari.

Usai memperkenalkan Irfan dengan relasi bisnis perusahaan, pria itu kembali beramah tamah dengan jajar petinggi yang bekerja di Grup Damar, sementara itu Naura menarik dirinya dan bergabung dengan rekan sejawatnya yang kini sedang menikmati kudapan.

“Naura, ini tadi saya ambilkan teh manis hangat buat kamu. Kata Bu Sri, tadi wajah kamu sempat pucat,” ujar Farhan sembari menyodorkan cangkir teh tersebut.

Naura yang memang berniat ingin mengambil teh hangat langsung menengadahkan wajahnya, sudut bibirnya mengembang. “Duh, Pak Farhan kok jadi repot-repot segala buatkan buat saya, padahal saya bisa buat sendiri kok, terima kasih ya Pak,” jawab Naura ramah, lalu menerima cangkir tersebut.

Pria yang menjabat sebagai wakil direktur operasional membalas senyuman Naura. “Gak pa-pa kok Naura, sejak tadi kamu sibuk jadi apa salahnya kalau saya buatkan minuman hangat,” balas Farhan tulus, lalu menyapa Elva, Cindy yang ada di samping wanita itu.

“Thanks ya Pak, saya minum tehnya,” ujar Naura seraya menyesap teh tersebut perlahan-lahan.

“Ngomong-ngomong ada yang mau kamu makan gak, biar saya ambilkan?” tanya Farhan menawarkan diri. Sontak saja wanita itu menarik cangkir teh dari bibirnya. “Gak usah Pak Farhan, makasih banyak  ... nanti saya ambil sendiri saja,” tolak Naura secara halus.

Kedekatan Naura dan Farhan ternyata tertangkap dalam pandangan Irfan yang kebetulan posisi duduknya bisa menatap Naura dari kejauhan. Lantas, bagaimana rasanya Irfan melihatnya? Biasa saja atau ada sesuatu yang membuncah di dalam hatinya?

“Mas ... Mas, tolong saya mau bebek panggangnya, bawakan ke sini,” pinta Sofia pada salah satu waiters yang melayani tamu VIP.

Irfan langsung menoleh ke arah istrinya. “Biar aku saja yang ambilkan buat kamu, sekalian aku mau menyapa beberapa karyawanku,” sambung Irfan, entah mengapa ia ingin bangkit dari duduknya.

Sofia mengalihkan pandangannya pada suami tercintanya. “Nanti ngerepotin Mas gak? Biarkan pelayan saja yang ambilkan Mas,” tanya Sofia dengan lembutnya.

Pria itu lantas berdiri. “Gak kok, aku ambilkan,” balas Irfan sembari merapikan tepi jasnya, kemudian melangkah ke arah gubuk makanan yang diinginkan oleh Sofia. Sebenarnya Irfan tidak perlu bersusah payah untuk mengambil makanan, ia bisa memerintah pelayan untuk mengambilkan makanan yang ia atau istrinya inginkan. Jadi, ada apa ya sebenarnya?

Rupanya gubuk makanan yang diinginkan oleh Sofia dekat dengan meja yang ditempati oleh Naura beserta kawan-kawannya.

“Cie ... cie Pak Farhan makin perhatian banget sama Mbak Naura,” goda Cindy saat Farhan baru saja kembali dengan kedua tangannya membawa piring berisikan dimsum.

Naura tampak biasa saja menghadapi godaan dari rekan kerjanya karena sudah biasa.

“Roman-romannya bakal ada yang jadian nih, ayo dong Pak Fathan semangat nembak Mbak Naura nih sebelum ada yang mepet lagi,” timpal Elva sembari terkekeh pelan.

“Ck, ada-ada aja kalian berdua ini,” sambung Farhan sembari menggeleng pelan.

Cindy yang tak sengaja melihat Irfan semakin mendekat langsung menepuk bahu Elva untuk tidak bercanda kembali, sedangkan Naura tampak menyantap dimsum yang diambilkan oleh Farhan.

“Ehmm.” Irfan berdeham, auranya mulai tampak dingin. Elva dan Cindy langsung terdiam ketika pria itu menyambangi meja mereka.

“Pak Irfan,” sapa Elva mendadak kaku bicaranya.

 “Naura ... istri saya minta diambilkan bebek panggang. Tolong segera diambilkan dan antarkan ke meja saya,” perintah Irfan dengan suaranya yang tegas.

“Eh!” Cindy terkejut mendengar perintah presdir terbaru mereka, sontak saja ia menolehkan  wajahnya ke samping, menatap Naura.

Naura menarik napas perlahan-lahan, lalu meletakkan alat makannya ke atas piring, kemudian mendorong kursi yang ia duduki, setelahnya baru ia beranjak dari duduknya. “Baik Pak Irfan, akan saya ambilkan,” jawab Naura patuh tanpa menatap wajah pria itu.

“Mmm,” gumam Irfan, samar-samar ujung matanya melirik Farhan yang sejak tadi menatap Naura.

“Silakan dilanjut makannya,” ujar Irfan sebelum kembali ke mejanya.

“Eh iya Pak,” balas Elva cepat, lalu beradu pandang dengan Cindy, mereka berdua merasa heran kenapa Irfan menyuruh Naura mengambilkan makanan sementara ada pelayan kok.

Pemikiran yang sama dengan Naura, memang di jam kerja ia'lah yang menyiapkan makan siang untuk Presdir, tapi jika dalam sebuah acara sudah ada pelayan yang melayaninya. Lagi, Naura harus tetap menjalankan perintah bosnya, tidak bisa menolaknya. Tapi tahukan bagaimana perasaan ia saat ini! Sangat sakit! Ia harus melayani istri mantan suaminya secara tidak langsung.

“Permisi Nyonya, saya mengantarkan pesanannya,” ujar Naura, dengan sikap sopan ia meletakkan piring yang ia bawa tersebut. Lantas, Irfan dan Sofia sama-sama menolehkan wajahnya.

“Oh, terima kasih ya,” balas Sofia tampak ramah.

“Sama-sama Nyonya, selain ini ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya Naura berusaha tampak tenang dan tegar, padahal hatinya kembali hancur berkeping.

Noah yang duduk di samping Damar tampak gelisah, kedua kakinya seperti menahan sesuatu. “Opa ... Opa ... Noah au ipis nih, udah ndak tahan,” keluh Noah dengan kedua tangannya memegang bagian celananya. Damar yang masih menyantap makanannya menatap kedua orang yang ada di hadapannya kemudian tergiring menatap Naura.

“Naura, saya minta tolong antarkan cucu saya ke kamar mandi ... bisakan?” pinta Damar.

Sontak saja Irfan meletakkan alat makannya. “Mas, dilanjut aja makannya, biar Naura aja yang mengurus Noah, lagian cuma sebentar kok, kebetulan Naura juga tidak sedang makan, ‘kan,” pinta Sofia seraya menyentuh tangan suaminya untuk tidak beranjak dari duduknya.

Irfan dan Sofia memang sengaja tidak mengajak baby sitter yang biasa mengurus Noah, pikirnya mereka berdua yang akan mengurusnya lagi pula hanya berada di kantor, jadi tidak terlalu berat mengurus  Noah.

“Aduh ... Ante uluan dong, Noah udah ndak tahan nih ... udah di ujung!” seru Noah wajahnya memerah terlihat sudah tidak bisa menahan hasrat untuk buang air kecil.

Naura yang sempat bingung, buru-buru menyambangi bocah tampan itu lalu menggendongnya. “Tahan ya De ... jangan sampai bocor, ini kita segera ke kamar mandi,” pinta Naura dengan melangkah cepat keluar dari ruang audiotorium.

Irfan merasa tidak tenang melihat Naura mengendong Noah, tapi lagi-lagi Sofia menahan suaminya untuk tetap melanjutkan makannya.

Bersambung ... ✍️

 

 

 

 

 

Terpopuler

Comments

Ranny

Ranny

darah lebih kental dr pada air lihat saja secepatnya pasti akan terbongkar kalau itu anaknya Naura ikatan bathin mereka pasti sangat kuat...

2024-12-27

3

AXYs

AXYs

Ya ilah takut, itu kan anaknya Naura.. hehehee
Biasanya ketakutan itu pastinya ada *sesuatuh*

Ayoo Naura ambil rambutnya Noah dan cek DNA nya…

2025-02-17

0

Ila Lee

Ila Lee

ikatan batin. anak dan ibu kalau tuhan berkata akan ketemu walau hujung dunia pasti bertemu darah daging sendiri❤️❤️

2025-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Jatuh Talak
2 Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3 Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4 Bab 4. Sambutan Irfan
5 Bab 5. Sikap Irfan
6 Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7 Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8 Bab 8. Curhatan Naura
9 Bab 9. Telepon Dari Irfan
10 Bab 10. Permintaan Sofia
11 Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12 Bab 12. Terjebak Di Lift
13 Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14 Bab 14. Naura Pingsan
15 Bab 15. Adiba Curiga
16 Bab 16. Kebencian Irfan
17 Bab 17. Keinginan Adiba
18 Bab 18. Amarah Irfan
19 Bab 19. Kata-kata Alma
20 Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21 Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22 Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23 Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24 Bab 24. Tukang Bohong
25 Bab 25. Menyambangi Sofia
26 Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27 Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28 Bab 28. Makan Bersama
29 Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30 Bab 30. Dasar Istri Matre
31 Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32 Bab 32. Pisah Ranjang!
33 Bab 33. Mengundurkan Diri
34 Bab 34. Perlawanan Naura
35 Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36 Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37 Bab 36. Dirumahkan!
38 Bab 37. Noah Rewel
39 Bab 38. Mulai Terkuak
40 Bab 39. Keputusan Irfan
41 Bab 40. Bukti Yang Lain
42 Bab 41. Noah Sakit
43 Bab 42. Hasil Tes DNA
44 Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45 Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46 Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47 Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48 Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49 Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50 Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51 Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52 Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53 Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54 Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55 Bab 54. Papi Mana, Mami?
56 Bab 55. Penculikan Noah
57 Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58 Bab 57. Saran Dari Sahabat
59 Bab 58. Masa Kritis Irfan
60 Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61 Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62 Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63 Bab 62. Kebangkitan Irfan
64 Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65 Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66 Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67 Bab 66. Lembaran Baru
68 Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69 Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70 Curhat Dulu
71 Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72 Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73 Bab 71. Kala Rindu Terobati
74 Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75 Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76 Bab 74. Permintaan Noah
77 Bab 75. Restu Adiba
78 Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79 Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80 Bab 78. Melamar Naura Kembali
81 Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82 Bab 80. Jawaban Naura
83 Bab 81. Pengakuan Bagas
84 Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85 Bab 83. Naura Dikeroyok
86 Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87 Bab 85. Happy Ending
88 Promo Karya Santi Suki
89 Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90 Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91 PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92 Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93 Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab 1. Jatuh Talak
2
Bab 2. Empat Tahun Kemudian
3
Bab 3. Kenyataan Yang Menyakitkan
4
Bab 4. Sambutan Irfan
5
Bab 5. Sikap Irfan
6
Bab 6. Perdana Kedekatan Naura Dan Noah
7
Bab 7. Perkara Pengunduran Naura
8
Bab 8. Curhatan Naura
9
Bab 9. Telepon Dari Irfan
10
Bab 10. Permintaan Sofia
11
Bab 11. Bertemu Kembali Dengan Noah
12
Bab 12. Terjebak Di Lift
13
Bab 13. Masih Terjebak Di Lift
14
Bab 14. Naura Pingsan
15
Bab 15. Adiba Curiga
16
Bab 16. Kebencian Irfan
17
Bab 17. Keinginan Adiba
18
Bab 18. Amarah Irfan
19
Bab 19. Kata-kata Alma
20
Bab 20. Adiba Tahu Rahasia Naura
21
Bab 21. Tolong Jaga Rahasia, Bu!
22
Bab 22. Sering Dipukul Dan Dicubit
23
Bab 23. Tante Sayang Sama Noah
24
Bab 24. Tukang Bohong
25
Bab 25. Menyambangi Sofia
26
Bab 26. Mengajak Noah Bermain
27
Bab 27. Jangan Campuri Urusanku!
28
Bab 28. Makan Bersama
29
Bab 29. Ketemu Sofia Lagi
30
Bab 30. Dasar Istri Matre
31
Bab 31. Ribut Di Dalam Mobil
32
Bab 32. Pisah Ranjang!
33
Bab 33. Mengundurkan Diri
34
Bab 34. Perlawanan Naura
35
Info sejenak : Penyesalan Suami-Mengejar Cinta Istri
36
Bab 35. Api Jangan Dilawan Dengan Api
37
Bab 36. Dirumahkan!
38
Bab 37. Noah Rewel
39
Bab 38. Mulai Terkuak
40
Bab 39. Keputusan Irfan
41
Bab 40. Bukti Yang Lain
42
Bab 41. Noah Sakit
43
Bab 42. Hasil Tes DNA
44
Bab 43. Meminta Bantuan Alma
45
Bab 44. Kedatangan Adiba, Damar Dan Noah
46
Bab 45. Anakku Belum Meninggal, Bu!!
47
Bab 46. Noah Harus Bersamaku!
48
Bab 47. Rembukan Atas Permintaan Adiba
49
Bab 48. Bukan Akhir Nasib Sofia Dan Deni
50
Bab 49. Warisan Irfan Ditarik
51
Bab 50. Mengalihkan Permintaan Noah
52
Bab 51. Pertemuan Yang Tak Teduga
53
Bab 52. Luka Lama Belum Sembuh
54
Bab 53. Penyesalan Yang Terlambat
55
Bab 54. Papi Mana, Mami?
56
Bab 55. Penculikan Noah
57
Bab 56. Di Bawah Bayang Gelap
58
Bab 57. Saran Dari Sahabat
59
Bab 58. Masa Kritis Irfan
60
Bab 59. Mami, Apan Kita Lihat Papi?
61
Bab 60. Harapan di Tengah Duka
62
Bab 61. Keajaiban Di Tengah Keputusasaan
63
Bab 62. Kebangkitan Irfan
64
Bab 63. Meniti Luka, Membangun Harapan
65
Bab 64. Penyesalan Yang Tiada Akhir
66
Bab 65. Tinggal Di Mansion Mahesa
67
Bab 66. Lembaran Baru
68
Bab 67. Menjalani Takdir Baru
69
Bab 68. T a m p a ran Untuk Naura
70
Curhat Dulu
71
Bab 69. Boleh Aku Bicara, Naura?
72
Bab 70. Meluapkan Isi Hati
73
Bab 71. Kala Rindu Terobati
74
Bab 72. Aku Mencintaimu, Naura
75
Bab 73. Adakah Kesempatan Kedua?
76
Bab 74. Permintaan Noah
77
Bab 75. Restu Adiba
78
Bab 76. Pertemuan Tak Terduga di Ruang Rawat
79
Bab 77. Mulai Melangkah Maju
80
Bab 78. Melamar Naura Kembali
81
Bab 79. Kejutan Untuk Naura
82
Bab 80. Jawaban Naura
83
Bab 81. Pengakuan Bagas
84
Bab 82. Maukah Jadi Istri Mas?
85
Bab 83. Naura Dikeroyok
86
Bab 84. Hari Yang Di Nanti
87
Bab 85. Happy Ending
88
Promo Karya Santi Suki
89
Promosi: Pembalasan Istri: Aku Yang Dianggap Boneka
90
Promosi: Belenggu Pernikahan Dengan Pria Narsistik
91
PROMOSI KARYA TERBARU MOMMY GHINA
92
Promosi: Pesona Istri Yang Haram Disentuh
93
Promosi Karya Terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!