Bab 4. Nani pindah

Saat sedang di obati oleh Dani, Nana merasa payudar* nya terasa agak nyeri. Dalam hati menduga bahwa mungkin sebentar lagi akan tiba waktu nya tamu bulanan datang, Tapi baru lima hari yang lalu dia selesai masa haid nya. Tidak mungkin bila satu bulan dua kali datang, Karena rasa nyeri masih bisa di tahan, Nana pun tak begitu peduli. Dia malah peduli pada luka goresan yanh ada di dahi nya, Bila berbekas dalam, Bahaya juga sebab wajah cantik ini pasti akan sedikit hilang pesona. Nana tak mau bila sampai gelar kembang desa di ambil oleh orang lain, Sungguh dia tak bisa menerima itu semua.

Dani dengan telaten membersihkan luka Nana yang terkena goresan beling, Dia begitu dendam pada Nani yang sudah berani berniat merusak wajah cantik nya. Mengancam bahwa besok ia akan membalas Nani lebih sakit dari pada yang ia rasakan sekarang, Hubungan Kakak adik ini memang tidak pernah akur karena masalah rupa. Nana kerap menghina adik nya yang berkulit hitam berambut keriting, Tentu saja Nani jadi sakit hati. Andai Nana tak pernah mengejek dia seperti itu, Mungkin mereka tak akan bermusuhan hingga separah ini. Namun Nana yang merasa cantik jadi besar kepala, Menghina orang lain seenak mulut nya dia saja.

"Lain kali jangan bertengkar separah itu dengan saudara." Nasihat Dani.

"Kamu tidak lihat apa, Tadi Nani yang begitu nafsu ingin menyakiti aku." Geram Nana.

"Ya kamu jangan menghina dia terus, Kasihan juga sama Nani." Nasihat Dani.

"Ngapain sih kamu bela gadis jelek itu, Mas?!" Kesal Nana.

"Tidak baik begitu dengan saudara sendiri, Nana! Biar bagai mana pun dia adalah adik mu, Hanya saja nasib mu lebih beruntung karena di lahirkan cantik." Dani adalah bodyguard sekaligus sepupu untuk Nana itu berani menasehati.

"Salah dia lah kenapa tidak di lahirkan cantik." Nana tetap saja sengit.

"Memang nya dulu kamu minta saat di lahirkan cantik begini? Tidak ada manusia yang mau di lahirkan jelek, Na." Dani memang sangat sabar menghadapi Nana.

Gadis ini hanya memutar bola mata nya malas karena Dani terkesan membela Nani, Padahal gadis itu jelek dan tak pantas mendapatkan pembelaan. Kesal sekali rasa nya hati Nana karena masih saja ada orang yang mau membela adik nya, Ketika sedang menggeram marah begini. Nana kembali merasakan nyeri pada payudar* nya yang montok berisi, Dani pura pura tidak melihat saat Nana menggosok nya dengan tangan.

"Aku istirahat saja lah." Nana pun bergegas masuk kedalam rumah.

Nana masuk kedalam kamar sambil mengurut pelan payudar* nya yang montok, Dia merasa nyeri sekali. Agak heran karena tak biasa nya begini, Memang kadang nyeri tapi saat akan datang bulan saja, Sedangkan dia baru lima hari yang lalu usai datang bulan. Maka dia mengabaikan nya saja dan mulai memejamkan mata, Untuk melupakan rasa kesal yang bergelayut dalam hati.

Sedangkan Nani kini sesang berhadapan dengan Ayah nya, Gadis ini menangis sambil menunduk karena merasa sangat tidak adil. Pak Irwin malah mengatakan dia begitu karena iri melihat wajah cantik Nana.

"Aku memang iri melihat nya! Tapi aku iri karena mulut anak mu yang selalu menghina ku." Pekik Nani.

"Jaga bicara ku, Nani!" Bentak Pak Irwin.

"Karena aku jelek? Nana tak perlu menjaga bicara karena dia cantik kan, Pernah kah Ayah peduli dengan perasaan ku yang kerap di hina Nana." Isak Nani perih.

"Astaga!"

Pak Irwin mengusap wajah nya kasar karena sungguh pusing dengan tingkah dua putri nya, Tidak mungkin pula mau membela salah satu di antara mereka. Karena dua dua nya adalah anak dia semua, Pak Irwin pun juga merasakan bagai mana perasaan nya Nani.

"Andai saja aku bisa memilih, Maka lebih baik aku tak ada di dunia ini." Nani berkata pedih dan bergegas pergi.

"Ayah bukan memojokan mu, Nani." Pak Irwin ingin menjelaskan.

"Bela saja anak mu yang cantik, Aku memang tak ada guna nya." Nani menyentak tangan Ayah nya.

Nani masuk kedalam kamar dan memasukan semua baju yang sering ia pakai kedalam koper, Memutuskan akan pergi saja dari rumah ini. Malam ini juga Nani akan pergi agar tak ketahuan oleh Bu Asih, Karena Ibu nya pasti akan sangat histeris bila sampai tahu. Keluarga mereka banyak di kampung ini, Sehingga Nani tak bingung mau pergi kemana, Ada adik Bu Asih yang sangat menyayangi Nani, Karena dia tahu keponakan nya yang kecil kerap di hina oleh yang sulung arogan itu.

"Nani mau kemana malam malam begini?" Dani mengetahui kepergian Nani.

"Pergi!"

"Jangan nekad, biar saja Nana mau bicara apa! Toh kan dia memang orang nya begitu, Kamu yang sabar ya." bujuk Dani.

"Aku tahu kamu sepupu kami, Mas! dan aku juga tahu bahwa kamu adalah laki laki, Pasti kamu bilang aku harus sabar karena kamu membela Nana. Sebab apa? Sebab dia cantik!" Geram Nani.

"Ya allah bukan begitu, Mas juga perhatian sama kamu." Dani berkata jujur.

"Aku tidak kuat lagi, Dari dulu dia selalu menghina ku yang jelek dan hitam ini." Nani mengusap air mata nya yang mendadak jatuh.

"Kamu jangan emosian dong, kasihan Bibi kalau kamu begini." Ujar Dani.

Nani tersenyum kecut karena lagi lagi dia yang selalu di salahkan dan dia yang selalu di minta untuk mengerti, Tak peduli bagai mana hinaan pedas nya Nana yang sangat menusuk jantung. Padahal jadi Nani sangat sakit sekali, Namun orang orang seolah meminta nya untuk selalu mengalah dan menerima saja hinaan dari Nana.

"Jangan hanya bisa menilai ku saja, coba lah berjalan menjadi aku! aku ingin lihat bagai mana kau berjalan di peran ku, sekuat apa kau memang nya." Nani berkata lirih dan menarik koper nya menjauh pergi.

Dani terdiam menatap punggung Nani yang kian menjauh, dua kali helaian nafas dia pun segera mengikuti kemana Nani pergi. Karena ini hari sudah malam, Pasti tak akan aman bila pergi sendirian begini. Ternyata tujuan Nani adalah rumah Bude Las, Bude Las adalah Kakak nya Bu Asih Ibu nya Dani.

"Ya allah, Nak! kamu kena to nduk?!" Bude Las menatap keponakan nya yang menangis.

"Aku mau tinggal sama Bude saja." Nani berkata serak.

"Ayo masuk, wes ojo nangis meneh." Bu Las mengajak Nani masuk.

Melihat Nani sudah masuk kedalam rumah Ibu nya, Dani segera menuju rumah Pak Irwin lagi. Karena dia memang tidur sana, Perhalanan hanya sepuluh menit saja dari rumah Bude Las kerumah nya Nani.

Terpopuler

Comments

Amara

Amara

semoga ini menjadi jalan terbaik ya nani

2024-10-16

3

Maz Andy'ne Yulixah

Maz Andy'ne Yulixah

Mulutnya Nana emang pedas😠😠

2024-09-27

0

Rifdah ananda Putri

Rifdah ananda Putri

mereka tidak akan pernah tahu kenapa sih yang kau nak

2024-09-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pengenalan
2 Bab 2. Itik buruk rupa
3 Bab 3. Bertengkar
4 Bab 4. Nani pindah
5 Bab 5. Bertemu Hendra
6 Bab 6. Obrolan para pelamar
7 Bab 7. Menuduh Nani
8 Bab 8. Berlubang
9 Bab 9. Santet
10 Bab 10. Pembeli lahan sawit
11 Bab 11. Operasi
12 Bab 12. Family Zidan
13 Bab 13. Memanggil dukun
14 Bab 14. Hilang sakit nya
15 Bab 15. Datang lagi
16 Bab 16. Davin menjenguk
17 Bab 17. Minta maaf pada Davin
18 Bab 18. Pak Lurah dan Pak Rt
19 Bab 19. Dugaan
20 Bab 20. Berbaikan
21 Bab 21. Kucing hitam
22 Bab 22. Nana hilang
23 Bab 23. Pacaran di bawah jembatan
24 Bab 24. Tuduhan Lupi
25 Bab 25. Patah hati lagi
26 Bab 26. Menemukan Nana
27 Bab 27. Ketemu
28 Bab 28. Ternyata
29 Bab 29. Meninggal
30 Bab 30. Perut busuk
31 Bab 31. Payudar* meledak
32 Bab 32. Cerita sendok
33 Bab 33. Nana datang
34 Bab 34. Di hantui
35 Bab 35. Mengantar kerumah Andi
36 Bab 36. Kisah sendok part 1
37 Bab 37. Kisah sendok part 2
38 Bab 38. Pick me
39 Bab 39. Kucing hitam
40 Bab 40. Hendra
41 Bab 41. Kisah Hendra
42 Bab 42. Jasad Mbah Muni
43 Bab 43. Ada Zidan
44 Bab 44. Ngobrol bersama Zidan
45 Bab 45. Sam mencari
46 Bab 46. Dua arwah
47 Bab 47. Ingin masuk agensi
48 Bab 48. Aji Seno
49 Bab 49. Bu Yuni Curiga
50 Bab 50. Julid bersama iblis
51 Bab 51. Gadis bersama Davin
52 Bab 52. Pingsan gara² kuntilanak
53 Bab 53. Sam dan kucing hitam
54 Bab 54. Tertangkap
55 Bab 55. Ketemu
56 Bab 56. Hampir musnah
57 Bab 57. Bukan kembang desa
58 Bab 58. Mbah Kakung
59 Bab 59. Mengunjungi Hendra
60 Bab 60. Negosiasi
61 Bab 61. Menemui Kakung
62 Bab 62. Bola api
63 Bab 63. Ketahuan
64 Bab 64. Ingin menemui Zidan
65 Bab 65. Usil nya siluman ular
66 Bab 66. Mendatangi Purnama
67 Bab 67. cerita brian
68 Bab 68. Duka Purnama
69 Bab 69. Meminta maaf
70 Bab 70. Nilam dan Tisa
71 Bab 71. Siluman kucing
72 Bab 72. Lupi ngompol
73 Bab 73. Ular dalam kuburan
74 Bab 74. Purnama hilang
75 Bab 75. Ternyata di kuburan.
76 Bab 76. Di tolong Kakung
77 Bab 77. Minta maaf
78 Bab 78. Debat dengan Nani
79 Bab 79. Mencoba sadar
80 Bab 80. Membanting
81 Bab 81. Tendangan Purnama
82 Bab 82. Garam
83 Bab 83. Tekad Nani
84 Bab 84. Ular beleng
85 Bab 85. Bertemu Arya
86 Bab 86. Embun pagi
87 Bab 87. Kakung tidak sanggup
88 Bab 88. Arya tantrum
89 Bab 89. Di suap batu panas
90 Bab 90. Tidak lupa
91 Bab 91. Makan malam
92 Bab 92. Davin ketahuan
93 Bab 93. Sungai kematian
94 Bab 94. Pasrah
95 Bab 95. Menemukan Nani
96 Bab 96. Cerita tiga pria
97 Bab 97. iblis keluar
98 Bab 98. Arwah tua
99 Bab 99. Kabar Purnama
100 Bab 100. Kuntilanak era baru
101 Bab 101. Ternyata....
102 Bab 102. Mencari arwah Nani
103 Bab 103. Panas membara
104 Bab 104. Siluman serigala
105 Bab 105. Di jilat kucing hitam
106 Bab 106. Kejadian Andi
107 Bab 107. Cerita bersama.
108 Bab 108. Mendatangi Purnama
109 109. Di banting juga
110 Bab 110. Berteman
111 Bab 111. Sirih satu jalur
112 Bab 112. Menangkap Nani
113 Bab 113. Purnama terluka.
114 Bab 114. Di tendang Nilam
115 Bab 115. Pertolongan
116 Bab 116. Purnama sadar
117 Bab 117. Mencari Maharani bersama
118 Bab 118. Mencari gara²
119 Bab 119. Duka
120 Bab 120. Kesedihan Jeno
121 Bab 121. Kucing hitam vs serigala
122 Bab 122. Membawa kepala Ratu
123 Bab 123. Jeno sakit
124 Bab 124. Siluman burung hantu
125 Bab 125. Nyanyian setan
126 Bab 126. mencari suara
127 Bab 127. Meninggal nya Jeno
128 Bab 128. Bersama
Episodes

Updated 128 Episodes

1
Bab 1. Pengenalan
2
Bab 2. Itik buruk rupa
3
Bab 3. Bertengkar
4
Bab 4. Nani pindah
5
Bab 5. Bertemu Hendra
6
Bab 6. Obrolan para pelamar
7
Bab 7. Menuduh Nani
8
Bab 8. Berlubang
9
Bab 9. Santet
10
Bab 10. Pembeli lahan sawit
11
Bab 11. Operasi
12
Bab 12. Family Zidan
13
Bab 13. Memanggil dukun
14
Bab 14. Hilang sakit nya
15
Bab 15. Datang lagi
16
Bab 16. Davin menjenguk
17
Bab 17. Minta maaf pada Davin
18
Bab 18. Pak Lurah dan Pak Rt
19
Bab 19. Dugaan
20
Bab 20. Berbaikan
21
Bab 21. Kucing hitam
22
Bab 22. Nana hilang
23
Bab 23. Pacaran di bawah jembatan
24
Bab 24. Tuduhan Lupi
25
Bab 25. Patah hati lagi
26
Bab 26. Menemukan Nana
27
Bab 27. Ketemu
28
Bab 28. Ternyata
29
Bab 29. Meninggal
30
Bab 30. Perut busuk
31
Bab 31. Payudar* meledak
32
Bab 32. Cerita sendok
33
Bab 33. Nana datang
34
Bab 34. Di hantui
35
Bab 35. Mengantar kerumah Andi
36
Bab 36. Kisah sendok part 1
37
Bab 37. Kisah sendok part 2
38
Bab 38. Pick me
39
Bab 39. Kucing hitam
40
Bab 40. Hendra
41
Bab 41. Kisah Hendra
42
Bab 42. Jasad Mbah Muni
43
Bab 43. Ada Zidan
44
Bab 44. Ngobrol bersama Zidan
45
Bab 45. Sam mencari
46
Bab 46. Dua arwah
47
Bab 47. Ingin masuk agensi
48
Bab 48. Aji Seno
49
Bab 49. Bu Yuni Curiga
50
Bab 50. Julid bersama iblis
51
Bab 51. Gadis bersama Davin
52
Bab 52. Pingsan gara² kuntilanak
53
Bab 53. Sam dan kucing hitam
54
Bab 54. Tertangkap
55
Bab 55. Ketemu
56
Bab 56. Hampir musnah
57
Bab 57. Bukan kembang desa
58
Bab 58. Mbah Kakung
59
Bab 59. Mengunjungi Hendra
60
Bab 60. Negosiasi
61
Bab 61. Menemui Kakung
62
Bab 62. Bola api
63
Bab 63. Ketahuan
64
Bab 64. Ingin menemui Zidan
65
Bab 65. Usil nya siluman ular
66
Bab 66. Mendatangi Purnama
67
Bab 67. cerita brian
68
Bab 68. Duka Purnama
69
Bab 69. Meminta maaf
70
Bab 70. Nilam dan Tisa
71
Bab 71. Siluman kucing
72
Bab 72. Lupi ngompol
73
Bab 73. Ular dalam kuburan
74
Bab 74. Purnama hilang
75
Bab 75. Ternyata di kuburan.
76
Bab 76. Di tolong Kakung
77
Bab 77. Minta maaf
78
Bab 78. Debat dengan Nani
79
Bab 79. Mencoba sadar
80
Bab 80. Membanting
81
Bab 81. Tendangan Purnama
82
Bab 82. Garam
83
Bab 83. Tekad Nani
84
Bab 84. Ular beleng
85
Bab 85. Bertemu Arya
86
Bab 86. Embun pagi
87
Bab 87. Kakung tidak sanggup
88
Bab 88. Arya tantrum
89
Bab 89. Di suap batu panas
90
Bab 90. Tidak lupa
91
Bab 91. Makan malam
92
Bab 92. Davin ketahuan
93
Bab 93. Sungai kematian
94
Bab 94. Pasrah
95
Bab 95. Menemukan Nani
96
Bab 96. Cerita tiga pria
97
Bab 97. iblis keluar
98
Bab 98. Arwah tua
99
Bab 99. Kabar Purnama
100
Bab 100. Kuntilanak era baru
101
Bab 101. Ternyata....
102
Bab 102. Mencari arwah Nani
103
Bab 103. Panas membara
104
Bab 104. Siluman serigala
105
Bab 105. Di jilat kucing hitam
106
Bab 106. Kejadian Andi
107
Bab 107. Cerita bersama.
108
Bab 108. Mendatangi Purnama
109
109. Di banting juga
110
Bab 110. Berteman
111
Bab 111. Sirih satu jalur
112
Bab 112. Menangkap Nani
113
Bab 113. Purnama terluka.
114
Bab 114. Di tendang Nilam
115
Bab 115. Pertolongan
116
Bab 116. Purnama sadar
117
Bab 117. Mencari Maharani bersama
118
Bab 118. Mencari gara²
119
Bab 119. Duka
120
Bab 120. Kesedihan Jeno
121
Bab 121. Kucing hitam vs serigala
122
Bab 122. Membawa kepala Ratu
123
Bab 123. Jeno sakit
124
Bab 124. Siluman burung hantu
125
Bab 125. Nyanyian setan
126
Bab 126. mencari suara
127
Bab 127. Meninggal nya Jeno
128
Bab 128. Bersama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!