Aleena kembali emosi melihat barang miliknya, ternyata telah di taruh Nella ke dalam gudang kamar belakang.
Plak!!
Kembali Aleena menampar Nella dengan penuh rasa marah, karena begitu lancang menyingkirkan semua barang miliknya ke dalam gudang.
"Sialan kamu Nella! sungguh keterlaluan kamu! berani sekali kamu membuang barang-barang ku, ambil kembali!!" teriak Aleena dengan suara yang melengking, saking emosinya.
"Apa kamu yang membiarkan semau perbuatan Nella?" tanya Robert memandang istrinya dengan tatapan tajam.
"Ti.. tidak, a.. aku tidak tahu, aku pikir Nella tidak menyingkirkan barang Aleena!" Lucy jadi gugup melihat tatapan tajam Robert.
"Barang yang sudah tidak di pakai lagi, untuk apa di simpan lagi di kamar, kan bikin semak kamar saja, lebih baik di gudang kan saja!" sahut Andre dengan santainya, merasa Aleena terlalu meributkan barang lama, yang tidak di butuhkan Aleena lagi.
Plak!!
Satu tamparan melayang ke wajah Andre, "Apa katamu? sungguh berani kamu mengatakan seperti itu! apa kamu tidak pernah menganggap Aleena sebagai kakakmu?!" sentak Robert, tidak menyukai perkataan Andre tersebut.
"Papa?" mata Andre terbelalak kaget, memandang Robert.
Seumur hidupnya, ia belum pernah di tampar Robert semenjak ia menjadi putra Robert.
Melihat Robert menampar Andre, raut wajah Lucy juga berubah, dan ia pun merasa tidak senang, dengan apa yang di lakukan Robert.
"Aduhhhh... memang nasibku sungguh sial sekali, ahhhh... aku harus bagaimana lagi, nasibkuuuu.. anak-anak ku ditindas, kami memang tidak pernah diinginkan siapapun... ahhhh..!!"
Lucy menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dan memukul-mukul dadanya sembari menangis tanpa air mata.
Lucy terus meraung, untuk membuat Robert tidak melanjutkan amarahnya, dan agar membiarkan Aleena, tidak mempermasalahkan lagi mengenai barang Aleena, yang di singkirkan Nella.
Aleena memutar bola matanya, melihat tingkah Ibu tirinya, "Jangan buat drama yang tidak lucu!!"
Ia mengetahui sikap Ibu tirinya, yang pura-pura tertekan batin, agar Ayahnya tidak melanjutkan amarahnya.
"Aduhhhh... aku memang Ibu tiri yang sial, selalu dianggap jahat, hidupku benar-benar menyedihkan. . hu hu huu.. aku benar-benar sial!!"
Lucy menggesek-gesekkan kakinya ke lantai, sembari menangis tanpa air mata, seperti anak kecil yang sedang kesal.
Kemudian kembali memukul-mukul dadanya, seperti menangisi seseorang yang telah meninggal.
"Mamaaaa...!!"
Nella menghamburkan dirinya memeluk Lucy, untuk menambah drama Ibunya, agar semakin dramatis.
Robert jadi terpengaruh dengan drama istrinya, membuat amarahnya mereda, melihat Lucy yang terduduk di lantai menangis dengan sedihnya.
"Sudah.. sudah! Nella.. cepat bantu kakakmu Aleena mengambil kembali barang miliknya, yang telah kamu taruh di gudang!!" sahut Robert kepada Nella.
"Papa..!" rengek Nella tidak senang, karena di suruh untuk membantu Aleena.
"Sudahlah!!" teriak Aleena kesal.
Aleena jadi malas melihat gelagat adik tirinya, yang mencari perhatian Ayahnya, membuat ia semakin jengkel.
Aleena meraih tangan Alfred, lalu menariknya masuk ke dalam kamarnya.
Brak!!
Aleena menutup pintu kamarnya dengan kencang, membuat semua yang ada di depan pintu kamarnya terperanjat.
Setelah Aleena menutup pintu kamarnya, ia masih mode marah, karena sikap adik dan Ibu tirinya, yang sudah begitu lancang semakin berkuasa di rumah ayahnya, dan bahkan sampai kamarnya di ambil alih Nella.
Alfred mendekati Aleena yang duduk di tepi tempat tidur.
Dengan pelan, dan masih canggung, karena mereka belum begitu akrab, tangannya perlahan menyentuh bahu Aleena.
Baru saja tangannya nyaris menyentuh bahu Aleena, tiba-tiba Aleena menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukannya.
Aleena menangis, ia sangat kesal sekali, karena sudah cukup tertekan selama ini.
Di tambah Ibu tiri dan adik-adik tirinya, yang tidak menganggap ia sebagai bagian keluarga Ayahnya.
Alfred terkejut mendapat pelukan dari Aleena.
Seumur hidupnya, selama ini, ia memimpikan dirinya di peluk oleh Aleena.
Tanpa sengaja, akhirnya Aleena masuk ke dalam pelukannya.
Ke dua tangannya menggantung, tidak berani membalas pelukan Aleena. Ia masih shock merasakan tubuh Aleena menempel padanya.
Tangis Aleena semakin kencang. Ia begitu sedih sekali.
Dengan ragu, dan masih begitu canggung, perlahan Alfred mencoba membalas pelukan Aleena.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Rehaan Aamir
Ternyata Bisaaa Yaa Baru Sehari D Cerai Lgsg Nikah Lagi??!?!....
2024-09-14
65
Agus Rahmat
main tampar tampar saja.sialena kayaknya labil juga nih gan
2025-01-12
0
Alanna Th
apa yg tdk bisa? dg duit, pmbnh aja bisa bebas!!
2024-11-13
0