19. Simpang Siur

Mimpi hanya bualan semata, tak nyata dan hanya menyesatkan saja. Djiwa tak pernah percaya sedikitpun tentang mimpi itu. Berubah sebagaimana suasana hatinya, ada kemungkinan mimpi itu hanya sebagai anggannya saja. Alam bawah sadarnya menolak untuk menerima kenyataan ia lahir tanpa tahu orangtuanya. Mengarang cerita, betapa kehadirannya di nanti namun tak sampai lahir kematian hadir.

"Tunggu dulu, bukannya kau bercertia kalau kau bermimpi yang membunuh Zalina pria dengan tato kalajengking di bawah kuping? Bukankah itu Mahendra eh siapa tadi yang kau ceritakan?" Ujang ingat, minggu kalau Djiwa pernah membahas mimpinya dengannya.

"Itulah, setiap mimpi ku berbeda, yang pasti ibu ku mati di bunuh. Entah siapa pembunuhnya yang jelas masih ada sangkut pautnya dengan orang-orang sekitarnya kala itu." Djiwa putus asa, kenapa mimpi begitu sulit di jadikan wangsit.

"Mahendra, apa maksud mu Mahendra Kesuma? Pebisnis nomer satu yang sekarang menetap di negeri Jepang?" Wahdi teringat pernah suatu masa dirinya di tugaskan mengawal pengusaha bernama Mahendra untuk peresmian sebuah vila, apa mungkin vila itu yang di maksud oleh Djiwa.

"Mana aku tahu om, aku hanya mimpi tak pernah ku anggap serius, toh setiap kalinya berbeda." Djiwa pesimis mengungkapkan semua mimpinya yang masih di ingat.

"Mimpi ku seperti potongan kisah hidup ibu ku, yang terus berputar setiap malam, aku seperti di hantui, dulu aku ketakutan, karena rasanya mimpi itu begitu nyata, tapi sekarang rasanya biasa saja." Imbuh Djiwa.

"Sepertinya akan butuh waktu lebih lama untuk mengungkapkan semua, ngomong-ngomong jika benar Mahendra ayah mu, penyelidikan harus ke Jepang, belum lagi dia suka berpindah negara, orang penting sulit di ajak temu janji." Wahdi terbayang betapa peliknya masalah ini.

"Haduh, ada-ada aja ya. Emang Djiwa pengen punya ayah lagi selain kita, ayah Djiwa udah tiga loh, udah lah nggk usah di perpanjang terus, hayukk pulang Boti kangen masakan nenek." Ujang cukup pusing dengan masalah yang ada, bisakah dia kabur sekarang juga.

Perjalan hening tapa saling beradu pendapat, ketiga ayah itu gusar. Jika benar ayah dari Djiwa orang berada, berpangkat, dan punya pengaruh besar, lantas bagaimana hubungan mereka kedepannya. Kebenaran akan terungkap cepat atau lambat, tapi tak selamanya kebenaran itu indah. Hidup bahagia dengan kehadiran Djiwa, jika suatu hari Djiwa memilih keluarga kandungnya bagaimana nasib mereka bertiga. Djiwa separuh hidup mereka, Djiwa tumbuh dan berkembang dalam penglihatan mereka, tak sedikit pun tersirat hati untuk pisah.

Djiwa sendiri gelisah, dia memikirkan perkataan Ujang. Benar mereka ketiga ayahnya, tapi Djiwa juga ingin tahu siapa ayah kandungnya. Bukan menuntut belas kasih orangtua kandung, Djiwa inginkan kebenaran, mengapa hidupnya begitu tragis. Djiwa terus melamun, sampai di kejutkan dengan sosok hantu yang menangis santar di dekatnya. Djiwa benci saat seperti ini, dia sendiri sedang runyam di tambah makhluk gaib ingin eksis. Djiwa abai, dia berpura menguap lantas menutup mata, sepanjang perjalanan diam dalam mata terpejam.

Djiwa turun paling terakhir saat tiba, hantu itu ingin ikut nimbrung rupanya. Hantu wanita mengintil di balik tangan Yanto, saat akan masuk rumah Yanto baca doa dan mengucapkan salam, hantu wanita terpental entah kemana. "Hah."

"Kenapa seperti berat sekali beban mu, mau minep rumah Botu?" Dayat menyadari, Djiwa selalu bergelagat mencurigakan saat melihat hal gaib, benar dia tak cerita tapi Dayat orangtuanya, tak pernah abai dan selalu tahu. Oleh sebab itu meski mereka tak taat agama, tak pernah telat dalam berdoa.

Djiwa mengalihkan pandangan, menatap lemah ke arah Dayat. Dayat tahu anaknya butuh pelukan. "Anak Botu sudah besar, apa ada perkataan dari kita yang melukai mu tadi?"

"Tidak, aku hanya tak ingin kita berpisah apapun yang terjadi, aku khawatir sangat khawatir lebih khawatir daripada kalian, bisakah aku bertahan, bisakah aku tetap menjadi diriku yang sekarang, Botu apa aku bukan anak baik lagi?" Djiwa mencurahkan isi hati.

"Melodrama sekali kau bocah, cepat masuk mandi dulu!" Ujang mendengar, tak ingin kegundahan berangsur Ujang memilih jadi pelawak tanpa bayaran.

"Mandi kaya putri solo, gih duluan biar nanti kita bertiga mandi bareng aja." Imbuh Ujang.

"Siapa juga yang mau mandi dengan mu, ih malas aku lihat hutan rimba tak terurus." Nyinyir Yanto.

"Eh semak belukar kebakaran, aku juga tak sudi, ini cuma alternatif saja." Balas Ujang.

Djiwa terpingkal, tingkah ketiganya tak pernah berubah. Meski menjadi seorang ayah, tetap pada jati diri. Meski terkenal urakan tapi sekarang mereka penuh tanggungjawab. Mereka bahkan mengurangi ucapan kasar dan jorok, sekarang sopan sekali sudah seperti priyayi. Djiwa bangga di besarkan oleh mereka, tiba-tiba melo kembali minta di peluk secara bersamaan. Hingga Yanto berkomentar, mereka ibarat Teletubbies yang berpelukan.

Dayat menghisap sebatang rokok, pikirannya ruwet. Lama tak berkecimpung dengan dunia asap, meski tersedak dan batuk-batuk Ujang nekat merokok. Dayat tak merokok hanya terus memainkan ponselnya. Kegiatan yang berlangsung lebih dari lima belas menit itu terhenti karena kehadiran tiga cangkir kopi panas. Yanto meletakkan kopi di hadapan masing-masing, dirinya sendiri lekas duduk di antara Ujang dan Yanto. Meja bundar menjadi sakti obrolan malam mereka.

"Cok, aku ngeri bapaknya Djiwa mafia." Celetuk Dayat.

"Sepakat, kalau bukan mafia minimal penjahat banyak duit haram, kasusnya udah lama kenapa baru ke singgung sekarang?" Yanto pikir juga seperti itu adanya.

"Hemmmmm, Djiwa nggk aman sama kita, kita kurang waspada, lihat sendiri kemaren sape di culik, kepikiran nggak sih kalau yang nyulik teh orang suruhannya keluarga Djiwa yang jahat dan tak menginginkan dia lahir." Pemikiran Ujang sampai ke titik itu.

"Cok jangan banyakan nonton filmlah, masa iya ada hubungannya. Kalau semisal nih ya semisal benar orang suruhannya, harusnya udah dari dulu nggk sih ngambil Djiwa, terus katanya orang kaya semua perkara cepat tuntas, masa ia nyari anaknya yang ilang nggk ketemu-ketemu sih." Dayat yakin, meski pernyataan Ujang mungkin benar, tapi tak masuk akal.

"Eh kutu lembing, ya kalau Djiwa di buang pas udah lahir atau pas udah tahu sebenarnya udah waktunya lahiran itu mah wajar, lah ini anak Kunti, kuntilanak Yat, siapa yang percaya punya anak dari kuntilanak, kalau bapaknya nggk liat nggk bakal percaya, bisa aja kan penyelidikan pihak bapaknya sampe makan waktu belasan tahun." Ujang berusaha realistis.

"Masok akal, hahhhhhh makin gak karuan isi kepala denger omongan mu barusan Jang." Keluh kesah Yanto.

"Dari pada ku pikir sendiri, mending ku omongin biar pusing semua." Putus Ujang.

Jauh di kamar, Djiwa sedang menatap langit malam yang kelam. Jika mimpinya suatu peristiwa nyata di masa lalu, alangkah menderitanya sang ibu. Meneteskan airmata, dia benci sosok ibunya, dia benci sosok ayahnya, tapi tanpa fakta dia akan terus mendendam. Dia tak suka dirinya ditinggalkan, tapi jika tahu ibunya di bunuh akan jadi lain cerita, dan jika sang ayah benar mencarinya tapi digagalkan dengan jarak dan minimnya informasi, apakah kebencian itu masih mendarah daging.

Djiwa berselancar di jejaring internet, melakukan pencarian tentang sosok pebisnis bernama Mahendra. Tangannya beradu dengan huruf yang ada di kolom pencarian, setelah mantap dengan sebuah biodata diri dia klik dan mulai membaca. Detailnya membuatnya mumet, beralih ke mode gambar, Djiwa seketika menjatuhkan ponselnya ke muka sendiri.

"Tidakk, jangan...ini tak mungkin bukan?"

"Kenapa, dia begitu mirip dengan ku."

"Apa benar aku darah dagingnya?"

Bersambung

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

sedihhhh ihhh😭😭😭😭🤧🤧🤧

2024-08-12

0

Ney Maniez

Ney Maniez

bkn eksis djiwa,,, emak pngn curhat 😂😂😂😂

2024-08-12

0

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

Dia ayah kandungmu ☺️

2024-07-27

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tegang
2 2. Kuntilanak Lahiran
3 3. Semerah Darah
4 4. Haram Yang Halal
5 5. Bertanya Pada Bapak
6 6. Duduk Peristiwa
7 7. Kicauan Djiwa
8 8. Fiktif Yang Nyata
9 9. Boemi Djiwa
10 10. Interaksi Djiwa
11 11. Kuntilanak Pundung
12 12. Zalina Rumi
13 13. Bayi Ziarah
14 14. Pesugihan Bayi
15 15. Borok Dewasa
16 16. Wali Djiwa
17 17. Maling Rupa
18 18. Mimpi Djiwa
19 19. Simpang Siur
20 20. Mahendra Kesuma
21 21. Kadaluarsa
22 22. Awal Jumpa
23 23. Gadis Manis
24 24. Rupa Cinta
25 25. Trio Tantrum
26 26. Ketupat Rindu
27 27. Janda Bohay
28 28. Gundah Gulana
29 29. Dahi ke Hati
30 30. Setan Alas
31 31. Barisan Ayah
32 32. Kelahi
33 33. Taman Gaib
34 34. Antara Fakta Dan Dusta
35 35. Rawat Inap
36 36. Hantu Rumah Sakit
37 37. Kisah Kasih
38 38. Persaingan Ketat
39 39. Balik Kampung
40 40. Gelang Mistis
41 41. Warisan
42 42. Ibu Tiri
43 43. Djiwa Yang Hilang
44 44. Tuan Akar Bahar
45 45. Ningsih dan Aryo
46 46. Cinta Satu Malam
47 47. Berpacu Dalam Cinta
48 48. Sandaran Hati
49 49. Mukjizat Keihklasan
50 50. Canggung
51 51. Bakti Djiwa
52 52. Mie Pelipur
53 53. Nia
54 54. Masa Remaja
55 55. Mendadak Dukun
56 56. Ifrit Muslim
57 57. Gadis Tumbal
58 58. Pawon Balatak
59 59. Kinerja Jantung
60 60. Tuan Turun Tangan
61 61. Anak Asuh
62 62. Azab Allah
63 63. Pesona Pesugihan
64 64. Dahsyatnya Lidah
65 65. Incaran Jin
66 66. Benteng Diri
67 67. Pusaka Kiai
68 68. Alih Sukma
69 69. Penguasa Raga
70 70. Kiprah Jin
71 71. Rukun Pasien
72 72. Pulang Paksa
73 73. Mendadak Jadi Manten
74 74. Malapetaka Bubur
75 75. Sekawan Lara
76 76. Joko Sembung Bawa Golok
77 77. Doa Malam Pertama
78 78. Derita Pengantin Baru
79 79. Bocoran Neraka Surga
80 80. Amarah Dalam Kebahagiaan
81 81. Rumah Darah
82 82. Darah Daging Psikopat
83 83. Beradu Pandang
84 84. Hilang
85 85. Kehampaan
86 86. Remaja Kurang Paham
87 87. Kebahagiaan Akhirat
88 88. Takdir Hidup
89 89. Pelayat Ghaib
90 90. Tujuh Hari Kematian
91 91. Wanita Angkuh Kesayangan Warga
92 92. Ampun Sepuh
93 93. Haruan Tanaka
Episodes

Updated 93 Episodes

1
1. Tegang
2
2. Kuntilanak Lahiran
3
3. Semerah Darah
4
4. Haram Yang Halal
5
5. Bertanya Pada Bapak
6
6. Duduk Peristiwa
7
7. Kicauan Djiwa
8
8. Fiktif Yang Nyata
9
9. Boemi Djiwa
10
10. Interaksi Djiwa
11
11. Kuntilanak Pundung
12
12. Zalina Rumi
13
13. Bayi Ziarah
14
14. Pesugihan Bayi
15
15. Borok Dewasa
16
16. Wali Djiwa
17
17. Maling Rupa
18
18. Mimpi Djiwa
19
19. Simpang Siur
20
20. Mahendra Kesuma
21
21. Kadaluarsa
22
22. Awal Jumpa
23
23. Gadis Manis
24
24. Rupa Cinta
25
25. Trio Tantrum
26
26. Ketupat Rindu
27
27. Janda Bohay
28
28. Gundah Gulana
29
29. Dahi ke Hati
30
30. Setan Alas
31
31. Barisan Ayah
32
32. Kelahi
33
33. Taman Gaib
34
34. Antara Fakta Dan Dusta
35
35. Rawat Inap
36
36. Hantu Rumah Sakit
37
37. Kisah Kasih
38
38. Persaingan Ketat
39
39. Balik Kampung
40
40. Gelang Mistis
41
41. Warisan
42
42. Ibu Tiri
43
43. Djiwa Yang Hilang
44
44. Tuan Akar Bahar
45
45. Ningsih dan Aryo
46
46. Cinta Satu Malam
47
47. Berpacu Dalam Cinta
48
48. Sandaran Hati
49
49. Mukjizat Keihklasan
50
50. Canggung
51
51. Bakti Djiwa
52
52. Mie Pelipur
53
53. Nia
54
54. Masa Remaja
55
55. Mendadak Dukun
56
56. Ifrit Muslim
57
57. Gadis Tumbal
58
58. Pawon Balatak
59
59. Kinerja Jantung
60
60. Tuan Turun Tangan
61
61. Anak Asuh
62
62. Azab Allah
63
63. Pesona Pesugihan
64
64. Dahsyatnya Lidah
65
65. Incaran Jin
66
66. Benteng Diri
67
67. Pusaka Kiai
68
68. Alih Sukma
69
69. Penguasa Raga
70
70. Kiprah Jin
71
71. Rukun Pasien
72
72. Pulang Paksa
73
73. Mendadak Jadi Manten
74
74. Malapetaka Bubur
75
75. Sekawan Lara
76
76. Joko Sembung Bawa Golok
77
77. Doa Malam Pertama
78
78. Derita Pengantin Baru
79
79. Bocoran Neraka Surga
80
80. Amarah Dalam Kebahagiaan
81
81. Rumah Darah
82
82. Darah Daging Psikopat
83
83. Beradu Pandang
84
84. Hilang
85
85. Kehampaan
86
86. Remaja Kurang Paham
87
87. Kebahagiaan Akhirat
88
88. Takdir Hidup
89
89. Pelayat Ghaib
90
90. Tujuh Hari Kematian
91
91. Wanita Angkuh Kesayangan Warga
92
92. Ampun Sepuh
93
93. Haruan Tanaka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!