8. Fiktif Yang Nyata

Karangan yang di utarakan Yanto seolah benar adanya. Tak bersekongkol dengan siapapun sebelumnya tapi alam begitu mendukung. Sejak kapan ada barang bukti di tempat yang ia sebutkan. Sedang semuanya hanya bualan semata. Hari ini polisi benar-benar datang menangani penemuan bayi laki-laki itu. Melakukan olah TKP dan mendatangkan saksi. Ketiga pemuda nyaris menjerit ketika wujud manusia yang di karang Yanto benar-benar ada. Kaki mereka bergetar dan tak kuat dalam rumah kosong itu, lantas mencari udara segar usai aparat usai menyelidiki mereka.

"Wuahhh, hoshhh dengkul ku rasanya mau copot Cok." Dayat yang duduk di pinggiran jalan kuburan angkat bicara.

"Ngewel kaki ku, kapan semua ketegangan ini berakhir, udah nggk sabar uji ilmu malah sibuk terus sampe nggk tidur." Keluh Dayat.

"Icing gera Dayat, kamu mah disini teh banyak orang ntar anu." Ujang mengingatkan kalau disini tak aman untuk berkeluh kesah.

"Aish, apa pura-pura kesurupan lagi aja ya?" Dayat yang semula menunduk memainkan ranting untuk menulis di atas tanah kini menoleh ke arah dua temannya.

"Cih, bener kan kemaren sandiwara. Dasar kutu KUPRET." Yanto menoyor Dayat tak terima.

"Eh, mual cok. Belum sarapan belum mandi belum tidur udah di interogasi. Duduk udah kaya tersangka mana suruh duduk sinden. Aish kalau aku tak begitu mana sempat kalian selonjoran, kesemutan kan kaki kalian?" Dayat tak terima jika pengorbanan nya kemarin kena sembur Mbah Kumbolo tak di hargai.

"Iya, apasih Yanto mah. Gak tau apa pengorbanan Dayat, wkwkwk gimana rasa semburan Mbah Kum?" Ujan cekikikan.

"Semoga kalian nggk kena sembur, beuh kemaren keliyengan kaya mau pingsan. Kalau yang badan ambruk mah bukan akting, beneran dahsyat pesona semburan orang tak sikat gigi bertahun - tahun." Dayat masih mengingat aroma air semburan itu.

"Hahahah, salah mu sendiri. Hah, tapi untung kita solat jamaah ya tadi subuh, semua berjalan lancar woy." Syukur Yanto.

"Iya efek takut penjara, biasanya gak pernah sholat juga jadi sholat kan kita. Masya Allah." Ujang turut bersyukur.

Dayat yang duduk paling ujung dalam jongkok di pinggiran kuburan mendengus. "Enak saja tak pernah sholat, aku sholat Cok. Nggak sholat ya kena cambuk emak."

"Cih, sholat di rumah aja. Mana Mak mu percaya pula kau sholat dengan benar, padahal mah pernah kan nggak wudhu tapi sholat?" Serang Yanto.

"Yaelah cok, jangankan nggak wudhu, pernah bangun subuh udah jam 6 padahal belum mandi wajib abis anu sama tangan hehehe. Ah suruh solat sama Mak, ya langsung dua rakaat padahal mah celingak-celinguk aja, ngeri juga solat beneran langsung di azab cok." Dayat heboh sendiri.

"Anak hebatttttttt." Komentar Yanto.

"Manusia lacnatttt." Mulut indah Ujang.

Olah TKP usai, tim penyidik pamit. Semua orang yang terlibat di bubarkan. Sempat akan ditindaklanjuti, lebih dalam namun di tolak tegas Jarwo. Tak ingin kehilangan momen indah menggendong bayi yang ia rindukan, Jarwo menjamin keberlangsungan hidup bayi tersebut. Semua pihak setuju, bayi akan di rawat keluarga Jarwo.

Kondisi begitu ramai, kerabat dan tetangga di undang untuk memasak acara syukuran bersama. Jarwo menemukan harta karun, dia begitu jatuh cinta dan terpikat dengan bayi yang di bawa anaknya itu. Begitupun Rini, wanita itu menggendong sang bayi kemanapun melangkah, dia menyunggingkan senyum bahagia seolah itu darah dagingnya. Selametan, mengundang orang datang ke rumah lepas magrib, menjadi awal mula ditempatkannya bayi itu lebih dalam di keluarga.

"Peci nya yang bener cok, negetarain nggk pernah pake peci." Dayat yang menyambut tamu di rumah Jarwo, menjumpai Ujang baru tiba.

"Buru-buru, sok bener kan atuh." Ujar Ujang.

Dayat hendak melepas peci Ujang, setelahnya nyaris bungkam karena melihat memar merah di dahi yang di tutupi peci. "KDRT dimana, eh belum nikah juga."

"Centong besi ibok, astaghfirullah cuma perkara ketiduran dari Dzuhur sampe lima menit lalu, centong mendarat." Jeritan hati Ujang.

"Wkwkwk ngakak cok, yaudah nih pake peci bundar ku, jadi gak mencong begini tapi bisa menutupi aib." Dayat tertawa puas.

"Dimana Yanto?" Ujang menemani Dayat menyambut tamu di pelataran.

"Lagi nyusuin bayi kita." Timpal Dayat.

"Ah, mau liat lah, di sini sendiri aja ya." Ujang hendak meninggalkan Dayat, kakinya sibuk melangkah. Naas, di jegal Dayat hingga terjeremab akibat sarungnya nyangkut di kaki Dayat.

"Lah, ngapa rebahan disitu Jang?" Tanto bapaknya datang baru tiba sudah di suguhkan kegilaan bocah tengil anak tetangga.

Ujang berdiri, membersihkan tangannya yang terkena tanah dan menyalami rombongan pak Tanto dengan malu-malu. "Eh, enggak om lagi test ilmu aja."

"Atuh Jang, nanti aja tes ilmu mah, sayang baju kokonya kotor atuh." Ucap Sodri salah satu tamu.

"Oh iya mang, heheh bosen soalnya." Ujang malu seutuhnya.

Kondisi sepi kembali, tamu sudah rapi masuk ke dalam rumah. "Kampret emang si Dayat ya, kamu mah kan jadi malu."

"Inget tugas suruh nyambut tamu, keren cok nyambut sembari rebahan gitu wkwkwk." Dayat amat ikhlas dengan tawa penuh ejekan.

Ustadz memimpin doa bermunajat kepada illahi untuk si bayi tampan. Haru biru memenuhi suasana ruang, bayi itu seolah mengerti di doakan dia khidmat dalam kondisi terjaga. Di ajak berkeliling, semua ikut menggunting sebagian kecil rambut sang bayi. Yanto bertugas menggendong bayi, Dayat membawa nampan untuk potongan rambut dan gunting. Ujang hanya mengabadikan momen. Tugas seperti itu saja harus berebut dulu, sampai mendapat jeweran maut dari pak kades.

Jika mereka berebut hal biasa, masalahnya Jarwo juga berebut ingin ikut andil. Alhasil, pak ustadz menyarankan agar Yanto saja yang menggendong. Toh, bayi itu sangat nyaman jika dalam gendongan Yanto. Pak ustadz berujar tak ada yang melanggar. Jadilah Jarwo gigi jari, keinginannya tak terkabul. Dalam hati Jarwo berujar agar segera dapat momongan lagi, dia ingin merasakan mencurahkan kasih ke bayinya sendiri.

"Akhirnya acara selesai juga ya, sehat-sehat anak ku." Dayat membelai pipi lembut sang bayi.

"Hahh, untung banyak yang dukung kalau perihal nama diserahkan ke kita. Kalau tidak om Jarwo ambil alih, bapak mu ngajak dulu terus sih To?" Ujang masih ingat bagaimana pertarungan sengit dengan Jarwo tadi hanya karena dia ingin memberi nama juga.

"Iya, kita yang nemu dia yang ambil untungnya, terus kita suruh ambil hikmahnya gitu?" Yanto yang paling kesal dengan Jarwo.

"Eh, liat si tampan menggenggam jari telunjukku, uluh-uluh minta di perhatiin ya nak ya." Dayat bicara kian lembut.

Yanto dan Ujang yang mulanya duduk di tepian ranjang, kini merayap ke tengah. "Jangan ayah Dayat aja dong gantian ayah Ujang nak, nih...ini jari ayah lebih. Bagus dan menarik."

"Cih, gak ada menarik-menariknya sama sekali. Itu jari apa pisang muli, bentek semua. Dah ini jari ayah Yanto aja nih." Yanto mendekatkan jarinya ke tangan mungil si bayi.

"Si gelo, lacnatttt banget emang mulut gigolo satu ini." Sumpah serapah keluar dari mulut Ujang.

"Astaghfirullah, jaga mulut cok. Aduh telinga anak ku tercemari, assu lah cok." Dayat meromet.

Plakk

Plakkk

"Kalian berdua sama aja, udah sini nak sama ayah aja. Mereka mah makhluk calon neraka, ayah bukan ahli surga tapi lebih baik." Sombong Yanto.

"Eh kerak neraka, yang ada dihisab doa paling berat punya mu cok, bandar video anu.. Cih, segala sok suci." Nyinyir Dayat.

"Sok suci a...a...a, loe bukan ustadz...asikk udah gaul belum?" Ujang rapper karbitan.

"Orang Sunda beuh kalau nyanyi, ngapa begitu dah nadanya?" Dayat sampai tutup telinga.

"Eh orang Jawa tapi pake nama Sunda, kamu teh nggk di ajak." Ujang pundung.

"aoww....ao...awahhh." Celoteh bayi.

"E..e.e. makasih ya nak, cuma kamu yang bilang suara ayah bagus." Ujang sekenanya mengartikan.

"Eh, dia ngomong apa emang?" Dayat bingung.

"Dia bilang jangan ribut cepet cari nama yang bagus buat dia." Yanto malas dengan temannya selaku sumber keributan, tapi tanpa mereka hampa.

"Ngaco aja, di cuma ngucapin dua apa tiga ao ao ao, panjang bener artinya." Protes Dayat.

"Ya menurut mu?" Yanto balas melempar tanya.

"Menur..." Dayat menjeda kalimatnya, mata mendelik lurus ke arah popok si bayi.

"Aduh ganteng, kok eek sekarang sih, udah malem siapa yang mau cebokin." Dayat nangis batin.

"Alamakk, kenapa lupa nggak pake popok ah, jadi tembus kan ke kasur." Yanto panik.

"Udah panggil ayah mu sana!" Ujang menendang Yanto yang gerak lambat.

Tak lama dari kepergian Yanto, muncul Jarwo dengan air satu baskom. "Minggir, dasar tidak becus. Orang bapak yang urus kok, gitu kalian repot pengen kasih nama, tak punya malu."

Ketiganya bungkam, tak bisa menyangkal ucapan Jarwo tanpa celah itu.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Aisyah Christine

Aisyah Christine

3 cowo sengaja ada²in cerita gimna nemunya djawi.. kapokkk kayak bener aja malah nemu bukti😂😂

2024-08-24

1

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

kalian bertiga malah ribut mulu dede bayi nya kasian berisik untung djiwa anteng ya 👍

2024-08-24

1

Ardi mrongos

Ardi mrongos

semua sudah 40 hari mau menjadi sakti, tp malah berujung berbakti mengasuh bayi

2024-08-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tegang
2 2. Kuntilanak Lahiran
3 3. Semerah Darah
4 4. Haram Yang Halal
5 5. Bertanya Pada Bapak
6 6. Duduk Peristiwa
7 7. Kicauan Djiwa
8 8. Fiktif Yang Nyata
9 9. Boemi Djiwa
10 10. Interaksi Djiwa
11 11. Kuntilanak Pundung
12 12. Zalina Rumi
13 13. Bayi Ziarah
14 14. Pesugihan Bayi
15 15. Borok Dewasa
16 16. Wali Djiwa
17 17. Maling Rupa
18 18. Mimpi Djiwa
19 19. Simpang Siur
20 20. Mahendra Kesuma
21 21. Kadaluarsa
22 22. Awal Jumpa
23 23. Gadis Manis
24 24. Rupa Cinta
25 25. Trio Tantrum
26 26. Ketupat Rindu
27 27. Janda Bohay
28 28. Gundah Gulana
29 29. Dahi ke Hati
30 30. Setan Alas
31 31. Barisan Ayah
32 32. Kelahi
33 33. Taman Gaib
34 34. Antara Fakta Dan Dusta
35 35. Rawat Inap
36 36. Hantu Rumah Sakit
37 37. Kisah Kasih
38 38. Persaingan Ketat
39 39. Balik Kampung
40 40. Gelang Mistis
41 41. Warisan
42 42. Ibu Tiri
43 43. Djiwa Yang Hilang
44 44. Tuan Akar Bahar
45 45. Ningsih dan Aryo
46 46. Cinta Satu Malam
47 47. Berpacu Dalam Cinta
48 48. Sandaran Hati
49 49. Mukjizat Keihklasan
50 50. Canggung
51 51. Bakti Djiwa
52 52. Mie Pelipur
53 53. Nia
54 54. Masa Remaja
55 55. Mendadak Dukun
56 56. Ifrit Muslim
57 57. Gadis Tumbal
58 58. Pawon Balatak
59 59. Kinerja Jantung
60 60. Tuan Turun Tangan
61 61. Anak Asuh
62 62. Azab Allah
63 63. Pesona Pesugihan
64 64. Dahsyatnya Lidah
65 65. Incaran Jin
66 66. Benteng Diri
67 67. Pusaka Kiai
68 68. Alih Sukma
69 69. Penguasa Raga
70 70. Kiprah Jin
71 71. Rukun Pasien
72 72. Pulang Paksa
73 73. Mendadak Jadi Manten
74 74. Malapetaka Bubur
75 75. Sekawan Lara
76 76. Joko Sembung Bawa Golok
77 77. Doa Malam Pertama
78 78. Derita Pengantin Baru
79 79. Bocoran Neraka Surga
80 80. Amarah Dalam Kebahagiaan
81 81. Rumah Darah
82 82. Darah Daging Psikopat
83 83. Beradu Pandang
84 84. Hilang
85 85. Kehampaan
86 86. Remaja Kurang Paham
87 87. Kebahagiaan Akhirat
88 88. Takdir Hidup
89 89. Pelayat Ghaib
90 90. Tujuh Hari Kematian
91 91. Wanita Angkuh Kesayangan Warga
92 92. Ampun Sepuh
93 93. Haruan Tanaka
Episodes

Updated 93 Episodes

1
1. Tegang
2
2. Kuntilanak Lahiran
3
3. Semerah Darah
4
4. Haram Yang Halal
5
5. Bertanya Pada Bapak
6
6. Duduk Peristiwa
7
7. Kicauan Djiwa
8
8. Fiktif Yang Nyata
9
9. Boemi Djiwa
10
10. Interaksi Djiwa
11
11. Kuntilanak Pundung
12
12. Zalina Rumi
13
13. Bayi Ziarah
14
14. Pesugihan Bayi
15
15. Borok Dewasa
16
16. Wali Djiwa
17
17. Maling Rupa
18
18. Mimpi Djiwa
19
19. Simpang Siur
20
20. Mahendra Kesuma
21
21. Kadaluarsa
22
22. Awal Jumpa
23
23. Gadis Manis
24
24. Rupa Cinta
25
25. Trio Tantrum
26
26. Ketupat Rindu
27
27. Janda Bohay
28
28. Gundah Gulana
29
29. Dahi ke Hati
30
30. Setan Alas
31
31. Barisan Ayah
32
32. Kelahi
33
33. Taman Gaib
34
34. Antara Fakta Dan Dusta
35
35. Rawat Inap
36
36. Hantu Rumah Sakit
37
37. Kisah Kasih
38
38. Persaingan Ketat
39
39. Balik Kampung
40
40. Gelang Mistis
41
41. Warisan
42
42. Ibu Tiri
43
43. Djiwa Yang Hilang
44
44. Tuan Akar Bahar
45
45. Ningsih dan Aryo
46
46. Cinta Satu Malam
47
47. Berpacu Dalam Cinta
48
48. Sandaran Hati
49
49. Mukjizat Keihklasan
50
50. Canggung
51
51. Bakti Djiwa
52
52. Mie Pelipur
53
53. Nia
54
54. Masa Remaja
55
55. Mendadak Dukun
56
56. Ifrit Muslim
57
57. Gadis Tumbal
58
58. Pawon Balatak
59
59. Kinerja Jantung
60
60. Tuan Turun Tangan
61
61. Anak Asuh
62
62. Azab Allah
63
63. Pesona Pesugihan
64
64. Dahsyatnya Lidah
65
65. Incaran Jin
66
66. Benteng Diri
67
67. Pusaka Kiai
68
68. Alih Sukma
69
69. Penguasa Raga
70
70. Kiprah Jin
71
71. Rukun Pasien
72
72. Pulang Paksa
73
73. Mendadak Jadi Manten
74
74. Malapetaka Bubur
75
75. Sekawan Lara
76
76. Joko Sembung Bawa Golok
77
77. Doa Malam Pertama
78
78. Derita Pengantin Baru
79
79. Bocoran Neraka Surga
80
80. Amarah Dalam Kebahagiaan
81
81. Rumah Darah
82
82. Darah Daging Psikopat
83
83. Beradu Pandang
84
84. Hilang
85
85. Kehampaan
86
86. Remaja Kurang Paham
87
87. Kebahagiaan Akhirat
88
88. Takdir Hidup
89
89. Pelayat Ghaib
90
90. Tujuh Hari Kematian
91
91. Wanita Angkuh Kesayangan Warga
92
92. Ampun Sepuh
93
93. Haruan Tanaka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!