5. Bertanya Pada Bapak

Djiwa membanting selembar amplop di depan meja makan, melemparkan tas ke kursi, lantas menjatuhkan badannya dengan tak sabaran. Jarwo menyusul, meletakkan kunci motor di atas lemari es. Mengelus pucuk kepala cucunya, tersenyum khas lelaki tua penuh keteduhan. Mengambil piring, namun di hadang Djiwa. Dirinya terlalu dimanjakan, sesekali dia juga ingin berbakti. Mengambil alih piring, menuangkan nasi dan menanyakan apa yang ingin sang kakek santap. Jarwo diam-diam menaruh kegembiraan, senang kala cucunya tumbuh baik, meski di didik berlimpah kasih tak menjadikan Djiwa sosok yang angkuh.

Nasi dua centong penuh, tempe goreng berlapis tepung, sambel terasi, ikan nila goreng, dan semangkuk sayur asam terhidang. Djiwa telaten sekali mengambil semangkuk air untuk cuci tangan sang kakek. Jarwo bisa dengan mudah membasuh tangan di wastafel dapur, tapi lagi-lagi di larang Djiwa. Kali ini cucunya mohon diri melayani sang kakek dengan baik.

"Wedew, tumben baik banget kelakuan, curiga ada maunya nih bocah." Yanto datang dari balik halaman belakang, mengusap kepala Djiwa tanpa repot cuci tangan.

"Bowan, astaghfirullah ini rambut jadi kotor dong, liat itu tangan udah kaya di celup lumpur, ah Djiwa baru keramas loh tadi pagi." Meski setiap mandi keramas, Djiwa tetap mengeluh.

Yanto melihat tangannya, ah rupanya benar-benar kotor, pantas saja putranya mengomel. "Jangan mengalihkan topik, ayah lihat-lihat kau perhatian sekali ke kakek, sejak kapan kau inisiatif ambil makan untuk kakek?"

Djiwa tahu dirinya di pojokan bowan, mendengus ia mengambil hal serupa untuk Yanto tanpa repot bertanya sudah makan atau belum. "Ayo makan bersama."

Yanto terharu, ah putranya sudah besar rupanya. "Biar ayah ambilkan untuk mu."

Djiwa menepis tangan Yanto. "Hushh, sudah cuci tangan saja bowan, cuma menyendok nasi aku bisa sendiri."

Djiwa mendecih dalam batin, entah apa istimewanya mengambilkan sepiring nasi untuk orang tua. Sampai di tuduh ada udang di balik rempeyek oleh Yanto. Dia begitu karena sadar, selama ini selalu dilayani tak pernah melayani. Bukan hal besar yang membanggakan. Seolah prestasi di depan kakek dan ayahnya, tahu menyenangkan hati orangtua begitu mudah, Djiwa akan melakukan hal ini sedari dulu. Dalam benak Djiwa, untuk membuat kebahagiaan para orangtua hanya dengan prestasi akademik dan non akademik di sekolah. Terkecoh dan hanya fokus hal ini, Djiwa jadi tak peka terhadap hal-hal kecil seperti ini bisa menghadirkan senyuman.

Tak ada obrolan dalam meja makan. Bukan, bukan karena keluarga ini punya etika makan yang santun. Hanya saja, hasil ulekan Rini mengkoyak racikan sambel terasi menjadi teramat pedas namun nikmat bersamaan. Tak sempat bicara, sibuk melahap hidangan agar tersalurkan dalam lambung secepat mungkin. Lambung kenyang mulut kenyang, barulah Djiwa masuk kamar dan mengganti pakai sekolah menjadi pakaian sehari-hari. Hari ini jatah ia berdiam diri di rumah Dayat, jadi sebelum kesana dia menelpon Dayat memastikan ada atau tidaknya orang di rumah.

"Halo Botu, di rumah apa di tempat janda bohay?" Djiwa menyapa tak lupa mencela di awal percakapan.

"Astaghfirullah anak demit satu ini ya, yang benar kalau bicara." Tegur Dayat di seberang telepon.

"Ya aku tahu aku anak demit Botu, tak perlu di ulang terus." Djiwa mematikan ponsel, berpura ngambek untuk mengerjai Botu favoritnya.

Dayat menatap horor ponselnya yang di matikan sepihak oleh Djiwa. Segenap kemampuan di kerahkan, berlari layaknya superhero menuju TKP manusia butuh pertolongan, Dayat datang tak butuh lima menit lamanya. Menerobos masuk rumah keluarga Jarwo tanpa mengucap salam. Dapat hadiah lemparan bantal dari penghuni rumah. Menunjukkan gesture permintaan maaf, meski diri enggan berhenti sejenak. Terus melangkah menuju kamar putranya.

"Bocah semprul, apa kita semua nggak di anggap toh ya?" Jarwo kesuh, perihal kedatangan Dayat layaknya tamu tak di undang.

"Kan Yanto udah bilang pak, jangan sesekali buka pintu rumah, kejadian kan ada orang gak waras masuk sini." Yanto provokator sejenak.

"Heleh, sama saja seperti kau kalau datang ke rumah mereka. Sudahlah, intinya kalian bertiga tak ada beda." Rini tak perduli dengan tingkah Dayat barusan, toh memang sudah terlalu sering begitu jadi terbiasa.

"Yo tapi loh Bu, kayak gak dianggep itu sakit loh Bu." Jarwo masih saja tak terima.

"Yaudah diem dulu coba, itu ibu lagi nonton sampe nggk fokus." Ucapan Rini membungkam Yanto yang baru saja ingin mengumpati Dayat.

Yanto rasa kalau tetap di ruang tv tak tentu bisa turut menikmati acara yang ditampilkan. Lebih baik menyusul Dayat, tipis-tipis pasti dapat hiburan dari mulutnya yang pandai melawak. Terbesit menjahili manusia setengah empang itu. Mengendap, perlahan berdiri di belakang Dayat yang tak menyadari keberadaannya terlalu sibuk menggedor pintu kamar Djiwa.

"Duarrr!!"

"Anjinggg - anjinggghh, aishh si Yanto bikin kaget aja cok." Latah Dayat.

"Kaget sih kaget, gak usah bawa binatang kan bisa, kau contoh ayah yang buruk." Kesal juga mendengar ucapan Dayat, niat hati mengusili malah sakit hati.

"Sapa suruh bikin kaget ah elah." Dayat mengelus dada ratanya.

"Ngapain kemari?" Yanto menelisik.

"Salah ngucap, mulut typo cok, bikin Djiwa salah tangkep." Terang Dayat meski tak benderang.

Ceklekkk

Percakapan dua bapak muda terhenti saat anak remajanya keluar dengan boxer di atas lutut dan kaos dalam warna abu. "Hayuk kita tempat boti!"

"Tunggu dulu, coba madep sini lihat Botu, kau tak ada raut marah sama sekali, jangan bilang kau mengerjai Botu lagi?" Dayat menahan langkah putranya, memenangi kedua pundak Djiwa.

"Hahahah, santai saja Botu, seperti bukan dengan anaknya saja, kalau Djiwa dikatai Botu anak demit, berarti demitnya kan kalian bertiga, tak usah repot diambil hati, ayok ke rumah boti!" Ngeyel, Djiwa ingin lekas ke rumah ayah nomer tiganya.

"Males lah, jam dua siang loh ini waktunya nonton Teletubbies, sambil mimpi tapi." Yanto malas dilibatkan.

"Ini penting, harus di bahas dengan kalian bertiga. Ibarat kata ada anak bertanya pada bapaknya." Djiwa tahu meski menolak kedua orangtuanya tak mungkin tega mengabaikan permintaan kecilnya.

Djiwa memimpin perjalanan, dia keukeh jalan kaki tak ingin naek sepeda motor. Lagipula rumah begitu dekat, hitung-hitung olahraga. Berbeda tafsir dengan kedua orangtuanya yang rentan darah tinggi terkena teriknya matahari. Olahraga mana yang mengeluarkan keringat, bukan kalori terbakar tapi perkara panas tak tertahan. Jadilah Dayat dan Yanto berbagi payung. Di bawah naungan payung mereka berhimpitan, demi terhindar dari teriknya mentari di atas ubun-ubun.

Andai bisa tukar tambah orangtua, mungkin sudah sedari dulu di lakukan oleh Djiwa. Kenapa mereka tak lebih dewasa dari anak lima belas tahun, panas sedikit tak mungkin membunuhnya bukan. Toh ini bukan padang pasir, oleh karena itu dia dengan lantang mencemooh kedua orangtuanya dengan kata aleman.

"Assalamualaikum, nenek aku datang." Djiwa menyapa Mayang yang tiduran sembari menunggu pembeli di warung miliknya.

"Waalaikumsalam, sudah makan belum?" Pertanyaan yang selalu ditanyakan setiap kali Djiwa datang, tak perduli pukul berapapun itu.

"Nek, Djiwa apa kaya orang kelaparan sih? Setiap kesini selalu di suruh makan." Protes Djiwa.

"Ya bukan, siapa tahu kau kepengen makan masakan nenek, hari ini nenek masak semur jengkol." Senyum Mayang sembari menerima Djiwa mencium tangannya.

"Nenek mah, itu kan nenek Rini yang masak, hah malas sekali remaja seperti aku yang tampan rupawan di beri makanan punya aroma khas pengharum alami kamar mandi." Geleng-geleng kepala, Djiwa kena jitak Yanto.

"Aduh, apasih bowan nggk jelas aja." Melotot ke arah Yanto.

"Ujang ada nggak ini bi?" Dayat bertanya sembari salim.

"Ada lagi tidur, sana bangunin." Ujar Mayang.

Djiwa semangat 45, secepat kilat masuk kamar ayahnya. Terpampang Ujang tidur tengkurap, dia ancang-ancang, langsung lompat ke atas tubuh ayahnya. "Hahahah, seru sekali."

"Uhukkk, weduss gembel aih hah awas." Ujang mengusir tubuh Djiwa yang hampir setara dengannya.

"Sayang boti, peluk." Djiwa berlagak manja, Ujang yang bersiap murka jadi sirna.

Mengelus anak rambut Djiwa yang basah karena keringat. "Ada apa, apa ada yang ngajak berantem lagi?"

Djiwa beringsut, dengan perlahan menggeser tubuhnya. Membwri isyarat agar Ujang bangun dan duduk di dekatnya, begitu pula untuk Dayat dan Yanto. "Jadi, siapa yang mau datang ke acara sekolah?"

"Kau kena guru BK lagi?" Curiga Yanto.

"Haish kenapa selalu berburuk sangka dengan anak, bapak-bapak yang terhormat minggu depan Djiwa kelulusan, itu undangan udah di kasih, eh tapi Djiwa lupa tadi pas sampe rumah di taro mana ya, di meja makan...atau...tak penting bukan itu akar permasalahannya." Djiwa menggerutu.

"Udah gampang kita datang bertiga saja beres." Ujang ingin tidur, dia harus cepat-cepat menyudahi rapat yang selalu diadakan Djiwa yang kelebihan energi.

"No no no, nanti ngabis-ngabisin makanan bikin malu, satu orang aja udah hompipa sana." Djiwa memberi solusi.

"Udah nanti kita bawa bekel, tenang aja nggk bikin malu, pokoknya datang bertiga." Putus Yanto.

"Malu atuh lah, udah seorang aja." Djiwa malas, dia ingat perpisahan SD, sekolahan jadi penuh keluarga besarnya saja, tiga ayah dan tiga kakek nenek, belum lagi om dan bibi nya, Djiwa tak mau terulang kembali.

"Iya Djiwa kaya nggk pernah perpisahan aja, udah itu mah masalah kecil, seujung kuku kaki bayi aja, dah sekarang mau ikut pulang tempat Botu apa disini aja?" Dayat menerima pesanan ikan baru saja notifikasi masuk ponselnya, perihal ini harus segera di selesaikan.

"Tapi Djiwa benar-benar anak setan ya?" Melenceng dari bahasan semula.

Ketiga perjaka berstatus ayah itu memutar bola mata, mereka tahu panjang cerita yang harus di perdengarkan pada Djiwa. Yanto mewakili mereka berujar. "Kau sudah dengar kan, kalau kau di temukan saat kita mencari kesakitan di kuburan malam itu."

"Nah, terus kejadian penemuan bayi, apa nggk ada polisi atau apalah yang berkaitan dengan Djiwa gitu?" Todong putranya.

"Jadi ceritanya begini..."

Bersambung

Terpopuler

Comments

Aisyah Christine

Aisyah Christine

enak kali punya 3 ayah 3 nenek dtg kesekolah 🤣🤣🤣.. kaya kasih syg itu mah

2024-08-24

1

Ardi mrongos

Ardi mrongos

djiwa udah menyatu sama 3 ayah yang ternyata baik walau soplak semua

2024-08-24

1

Alvian

Alvian

keluarga yang bahagia, walau djiwa bukan anak dr bangsa manusia

2024-08-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tegang
2 2. Kuntilanak Lahiran
3 3. Semerah Darah
4 4. Haram Yang Halal
5 5. Bertanya Pada Bapak
6 6. Duduk Peristiwa
7 7. Kicauan Djiwa
8 8. Fiktif Yang Nyata
9 9. Boemi Djiwa
10 10. Interaksi Djiwa
11 11. Kuntilanak Pundung
12 12. Zalina Rumi
13 13. Bayi Ziarah
14 14. Pesugihan Bayi
15 15. Borok Dewasa
16 16. Wali Djiwa
17 17. Maling Rupa
18 18. Mimpi Djiwa
19 19. Simpang Siur
20 20. Mahendra Kesuma
21 21. Kadaluarsa
22 22. Awal Jumpa
23 23. Gadis Manis
24 24. Rupa Cinta
25 25. Trio Tantrum
26 26. Ketupat Rindu
27 27. Janda Bohay
28 28. Gundah Gulana
29 29. Dahi ke Hati
30 30. Setan Alas
31 31. Barisan Ayah
32 32. Kelahi
33 33. Taman Gaib
34 34. Antara Fakta Dan Dusta
35 35. Rawat Inap
36 36. Hantu Rumah Sakit
37 37. Kisah Kasih
38 38. Persaingan Ketat
39 39. Balik Kampung
40 40. Gelang Mistis
41 41. Warisan
42 42. Ibu Tiri
43 43. Djiwa Yang Hilang
44 44. Tuan Akar Bahar
45 45. Ningsih dan Aryo
46 46. Cinta Satu Malam
47 47. Berpacu Dalam Cinta
48 48. Sandaran Hati
49 49. Mukjizat Keihklasan
50 50. Canggung
51 51. Bakti Djiwa
52 52. Mie Pelipur
53 53. Nia
54 54. Masa Remaja
55 55. Mendadak Dukun
56 56. Ifrit Muslim
57 57. Gadis Tumbal
58 58. Pawon Balatak
59 59. Kinerja Jantung
60 60. Tuan Turun Tangan
61 61. Anak Asuh
62 62. Azab Allah
63 63. Pesona Pesugihan
64 64. Dahsyatnya Lidah
65 65. Incaran Jin
66 66. Benteng Diri
67 67. Pusaka Kiai
68 68. Alih Sukma
69 69. Penguasa Raga
70 70. Kiprah Jin
71 71. Rukun Pasien
72 72. Pulang Paksa
73 73. Mendadak Jadi Manten
74 74. Malapetaka Bubur
75 75. Sekawan Lara
76 76. Joko Sembung Bawa Golok
77 77. Doa Malam Pertama
78 78. Derita Pengantin Baru
79 79. Bocoran Neraka Surga
80 80. Amarah Dalam Kebahagiaan
81 81. Rumah Darah
82 82. Darah Daging Psikopat
83 83. Beradu Pandang
84 84. Hilang
85 85. Kehampaan
86 86. Remaja Kurang Paham
87 87. Kebahagiaan Akhirat
88 88. Takdir Hidup
89 89. Pelayat Ghaib
90 90. Tujuh Hari Kematian
91 91. Wanita Angkuh Kesayangan Warga
92 92. Ampun Sepuh
93 93. Haruan Tanaka
Episodes

Updated 93 Episodes

1
1. Tegang
2
2. Kuntilanak Lahiran
3
3. Semerah Darah
4
4. Haram Yang Halal
5
5. Bertanya Pada Bapak
6
6. Duduk Peristiwa
7
7. Kicauan Djiwa
8
8. Fiktif Yang Nyata
9
9. Boemi Djiwa
10
10. Interaksi Djiwa
11
11. Kuntilanak Pundung
12
12. Zalina Rumi
13
13. Bayi Ziarah
14
14. Pesugihan Bayi
15
15. Borok Dewasa
16
16. Wali Djiwa
17
17. Maling Rupa
18
18. Mimpi Djiwa
19
19. Simpang Siur
20
20. Mahendra Kesuma
21
21. Kadaluarsa
22
22. Awal Jumpa
23
23. Gadis Manis
24
24. Rupa Cinta
25
25. Trio Tantrum
26
26. Ketupat Rindu
27
27. Janda Bohay
28
28. Gundah Gulana
29
29. Dahi ke Hati
30
30. Setan Alas
31
31. Barisan Ayah
32
32. Kelahi
33
33. Taman Gaib
34
34. Antara Fakta Dan Dusta
35
35. Rawat Inap
36
36. Hantu Rumah Sakit
37
37. Kisah Kasih
38
38. Persaingan Ketat
39
39. Balik Kampung
40
40. Gelang Mistis
41
41. Warisan
42
42. Ibu Tiri
43
43. Djiwa Yang Hilang
44
44. Tuan Akar Bahar
45
45. Ningsih dan Aryo
46
46. Cinta Satu Malam
47
47. Berpacu Dalam Cinta
48
48. Sandaran Hati
49
49. Mukjizat Keihklasan
50
50. Canggung
51
51. Bakti Djiwa
52
52. Mie Pelipur
53
53. Nia
54
54. Masa Remaja
55
55. Mendadak Dukun
56
56. Ifrit Muslim
57
57. Gadis Tumbal
58
58. Pawon Balatak
59
59. Kinerja Jantung
60
60. Tuan Turun Tangan
61
61. Anak Asuh
62
62. Azab Allah
63
63. Pesona Pesugihan
64
64. Dahsyatnya Lidah
65
65. Incaran Jin
66
66. Benteng Diri
67
67. Pusaka Kiai
68
68. Alih Sukma
69
69. Penguasa Raga
70
70. Kiprah Jin
71
71. Rukun Pasien
72
72. Pulang Paksa
73
73. Mendadak Jadi Manten
74
74. Malapetaka Bubur
75
75. Sekawan Lara
76
76. Joko Sembung Bawa Golok
77
77. Doa Malam Pertama
78
78. Derita Pengantin Baru
79
79. Bocoran Neraka Surga
80
80. Amarah Dalam Kebahagiaan
81
81. Rumah Darah
82
82. Darah Daging Psikopat
83
83. Beradu Pandang
84
84. Hilang
85
85. Kehampaan
86
86. Remaja Kurang Paham
87
87. Kebahagiaan Akhirat
88
88. Takdir Hidup
89
89. Pelayat Ghaib
90
90. Tujuh Hari Kematian
91
91. Wanita Angkuh Kesayangan Warga
92
92. Ampun Sepuh
93
93. Haruan Tanaka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!