Karena tak menemukan pena, lintang memutuskan untuk mencari signal jaringan di bukit belakang kelurahan, untuk menghubungi Doni.
Lintang membuka pintu kamar sebelah, ia mendekati lemari kayu yang sudah usang dan membukanya. lintang mengambil jaket kulit yang pernah Doni pakai dan menciumnya. Ia bisa mencium aroma maskulin yang tertinggal di jaket tersebut. Lintang menghirup aroma maskulin milik Doni yang tertinggal dengan puas lalu kembali meletakkannya kembali di dalam lemari. Lingga memeriksa lemari Doni dan tidak ada apapun selain tumpukan pakaian.
lintang sebenarnya masih penasaran pada Doni, orang kaya seperti Doni kenapa mau tinggal di desa terpencil seperti ini, yang sinyal internet saja tidak ada.
.
Saat ini lintang sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit belakang kelurahan untuk mencari sinyal jaringan.
Saat sampai di belakang kantor kelurahan ia langsung menaiki bukit yang rimbun dengan tanaman kopi milik pak lurah, saat sedang mencari sinyal jaringan. lintang tak sengaja menendang sesuatu yang ternyata sesaji. Sesaji yang lengkap itu langsung berserakan di tanah karena ketendang kaki Lintang.
"siapa yang letak sesaji disini sih." gumam Lintang, ia celingukan mencari seseorang yang mungkin bisa ia tanyai.
Karena tak ada seorangpun ia melanjutkan kembali mencari sinyal ponsel, Lintang sedikit merinding karena suasana bukit ini sangat sepi, tidak ada pekerja yang memetik kopi padahal kopi disini sudah siap panen.
Tapi karena ingin berbicara dengan Doni, ia menghiraukan perasaannya.
Saat sinyal ponselnya menemukan jaringan, ia tersenyum senang dan langsung menghubungi Doni.
di panggilan ke dua baru Doni mengangkat panggilannya.
"Ha-halo." ucap Lintang gugup.
"Halo Lintang. Ada apa?" jawab Doni dari seberang sana.
"Emm, aku, , ," Lintang tiba-tiba gugup dan tidak bisa mengatakan apapun karena lidahnya menjadi kelu.
Doni yang menunggu jawaban Lintang merasa heran karena lintang tidak menjawabnya.
"Lintang, hei, kau masih disana kan?" tanya Doni dengan nada panik.
"i-iya, aku mau bilang kalo hari ini aku mau ngungsi ke desa sebelah." jawab Lintang cepat dan jantung berdegup kencang.
"Ngungsi? Memangnya kenapa harus ngungsi?"
Lintang lalu menjelaskan apa yang membuatnya harus mengungsi di rumah bulek nya di desa sebelah.
"Begini saja, bagaimana kalau kau ikut aku ke kota. Disini jauh lebih aman, kau bisa tinggal di rumahku, lagi pula aku hanya tinggal sendiri disini." kata Doni memberikan usul.
"Emm, mana mungkin bapak sama ibu ngebolehin Don, ya sudah aku mau bilang ini aja, kalo nanti kamu kembali kesini biar nggak nyariin kau he he he." ucap Lintang lalu tertawa. Doni terkekeh mendengar ucapan Lintang.
"Lintang, aku mau ngomong serius sama kamu." kata Doni dengan nada serius.
'Eem, mau ngomong apa?" tanya Lintang penasaran.
"Kamu mau biar Seruni nggak ngincar kamu lagi?"
"Emm, gimana caranya?" tanya Lintang dengan mengangguk.
"Emm, , , sudah lah, nanti saja aku beri tahukan jika aku kembali, lebih baik kau pergi ke desa sebelah dulu. seminggu lagi aku kembali kesana, aku sedang berada di Singapura untuk menyelesaikan pekerjaanku." mendengar perkataan Doni Lintang mendelikkan matanya.
"Be-benarkah, kau di Singapura, jauh sekali." kata Lintang pelan.
"Ya, kau mau lihat icon Singapura, alihkan panggilan ini menjadi panggilan video sekarang." kata Doni, Lintang langsung mengalihkan panggilannya dengan panggilan video. Ia bisa melihat Doni sedang membelakangi patung Merlion, icon negara Singapura berbentuk kepala singa yang mengeluarkan pancuran air melalui mulutnya. Lintang melihat Doni dengan penampilan yang berbeda, kali ini Doni memakai kemeja blu sky dan dasi berwarna navi dan rambut yang di tata rapih. Jantung Lintang semakin berdegup kencang ketika Doni tersenyum kepadanya.
"Hai, aku rindu." kata Doni dengan melambaikan tangannya dan tersenyum.
Lintang hanya tersenyum malu-malu tanpa mengatakan apapun, sebenarnya ia juga ingin mengatakan bahwa dirinya juga merindukan Doni tapi malu mengakuinya.
"Hei, kenapa diam saja. kamu nggak kangen sama aku?" tanya Doni dengan senyum mengembang.
"apaan sih Don, kangen-kangen. Aku cuma mau bilang itu aja. Takutnya nanti kamu Dateng kesini nyariin aku lagi." jawab Lintang dengan memberanikan diri menatap Doni. Doni sangat merindukan Lintang, tapi karena sinyal jaringan di kampung Sedap malam tidak lancar ia hanya bisa memendamnya. Tapi saat ini ketika mendapatkan panggilan dari Lintang, ia langsung meninggalkan meeting pentingnya dan menyerahkannya pada asistennya hanya untuk menjawab panggilan Lintang.
"Hei, kau tau saat ini aku sedang ada meeting penting, tapi begitu mendapatkan panggilan darimu aku rela meninggalkan klienku hanya karena ingin mendengar suaramu." jawab Doni menjelaskan.
"Hhh, berapa banyak perempuan yang sudah kau buat meleleh hatinya dengan kata-kata gombalanmu itu Doni." Jawab Lintang tersenyum.
"Astaga, kau benar-benar tidak percaya kata-kata ku ya, kau lihat ini ya." Doni membalikkan kamera ponselnya menjadi kamera belakang.
"Lihat disana, ada seorang pria dan wanita yang sedang duduk dan terlibat obrolan, wanita itu asisten ku, dan pria itu klien ku. Aku menyerahkan meeting ini pada asisten ku. Karena aku sangat rindu ingin mendengar suaramu." kata Doni lagi, lintang memang melihat seorang wanita memakai setelan blazer merah marun sedang terlibat obrolan dengan seorang pria dengan setelah jaz hitam.
"kau jangan membuatku merasa bersalah begitu, kalau begitu aku tutup teleponnya, kamu lanjutkan saja meeting nya."
"Ha ha ha, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau menganggap ku pria hidung belang yang pandai menggoda wanita. Aku benar-benar merindukan mu Lintang."
"Haiis, sudah lah Doni, aku tutup teleponnya, sebentar lagi azan Zuhur dan aku akan langsung menuju kampung sebelah."
"Dengan siapa kau akan kesana, dan mengendarai apa?_ tanya Doni penasaran.
"Sendiri. Jalan kaki." kata Lintang singkat.
"Kau gila ya, kampung sebelah itu lumayan jauh, apa lagi jalan kaki. Jangan lakukan itu jika kau tidak ingin menjadi santapan hewan buas Lintang."
"Lalu aku harus naik apa, bapak dan ibu tidak bisa mengantarkan aku karena sangat sibuk."
"Hhh, kau tunggu saja di rumahmu. Aku akan mengirimkan orang untuk mengantarkan mu ke sana."
"Doni, aku tau kau khawatir, tapi aku harus segera pergi, tidak ada waktu untuk menunggu orangmu menjemput ku."
"Kalau begitu besok saja kau kesana, hari ini aku akan meminta anak buahku untuk datang ke kampung Sedap malam, dia akan bermalam di rumahku, lalu paginya dia akan mengantarkan mu menuju kampung sebelah."
Lintang menimbang perkataan Doni yang ada benarnya.
"Baiklah, tapi katakan pada anak buahmu tentang pantangan di kampung ini. Kasihan dia jika tidak kau beri tahu."
"Iya bawel, ya sudah kau pulang saja sekarang. Sebentar lagi Zuhur, kau pasti sekarang berada di bukit belakang kelurahan bukan."
"Emm, kok tau?" tanya Lintang dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku tau segala seluk beluk kampung itu, dan jangan lakukan apapun jika kau melihat dan menemukan sesuatu, anggap saja kau tidak mengetahuinya." kata Doni.
"Maksudmu?" tanya Lintang bingung.
"Sudah, kau akan tau maksudku nanti, sekarang pulanglah. Kau bawa pisau dan garam yang aku berikan padamu kan?"
"Emm, ini." lintang memperlihatkan pisau dan bungkusan garam yang ia ambil dari saku celananya.
"Bagus, ingat untuk selalu membawanya kemanapun kau berada. Sekarang pulanglah. Aku akan menjagamu dari sini."
"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya."
"Bye." Doni melambaikan tangannya dan tersenyum sebelum Lintang memutuskan sambungan teleponnya.
Lintang bangkit dari duduknya dan kembali menuruni jalan setapak.
Saat berjalan bulu kuduk Lintang serasa merinding sekali. Ia mempercepat langkahnya dengan sesekali menoleh kekanan kiri dan belakang.
Ia merasa seperti ada yang mengikuti tapi saat di tengok tidak ada siapapun di belakangnya.
"Ya Allah, Lindungi aku." Gumam Lintang pelan, ia semakin mempercepat langkahnya ia menerabas apa saja yang ada di depannya. Tak perduli apapun itu ia hanya ingin cepat sampai di kantor kelurahan.
Saat sampai di kantor kelurahan Lintang merasa lega, ia berjongkok dan menghirup oksigen sepuasnya dan menghapus airmatanya yang sempat keluar karena ketakutan.
"Lintang." panggil seseorang yang melihat Lintang berjongkok dengan wajah menelungkup.
Lintang mendongakkan wajahnya dan tersenyum. "Pak lurah." ucap Lintang ketika melihat pak lurah berada di depannya.
"Kamu kenapa kok nangis?" tanya pak lurah heran. Karena melihat Lintang menangis.
"nggak papa pak, cuma capek abis ke bukit buat cari jaringan mau telepon temen."
"Owh, ya sudah. bapak kesana dulu mari."
"Mari pak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Liani purnafasary☺
Apkah lurah ini salah satu punya pesugihan x.
cerita ini agak mirip sm cerita wulan sn fahri y.
yg menceritakan fahri adalah pemimpin pemujaan iblisnya,
lupa judulnya.
2024-12-30
0
Yani
msh teka teki cerita nya
2025-01-18
1
Meri Andika putri
apa pak lurah pesugihan nya itu
2024-12-17
0