19. Big Family

Mendengar cucu laki-laki nya akan menikah , Kakung Agung dan uti Tami yang berencana ingin berangkat ke Jakarta lusa menjadi mempercepat keberangkatannya saat itu juga setelah selesai mendapat telepon dari ibu Sari .

"Ayo kung , ndang budhal sak Niki mawon ... ( ayo kung , berangkat sekarang saja ..)" kata uti Tami dengan antusias nya

"Sabar ti , Parjo nengdi kok Ra ketok ? ( sabar ti , Parjo dimana kok gak kelihatan ?)" tanya Kakung Agung mencari keberadaan sopir pribadi nya

"Retnooo ...." teriak Kakung Agung memanggil ART yang bekerja dirumah nya .

"kulo pak , sekedap ...( saya pak , sebentar )" sahut Retno seraya berlari tergopoh-gopoh dari arah dapur .

"Parjo nengdi? , Ndang Tulung celukno . Aku Karo uti arep budhal Jakarta Saiki ..( Parjo dimana ? Cepat tolong panggilkan . Aku sama Uti mau berangkat ke Jakarta sekarang ..)" perintah Kakung Agung .

"Njih pak , Kulo padoske Parjo rumiyen ( ya pak , saya carikan Parjo dulu )" , ujar Retno lalu berlalu untuk mencari keberadaan Parjo .

Sembari menunggu Parjo , Uti Tami kembali ke kamar untuk mempersiapkan koper berisi baju yang akan dibawa nya .

.

Tak berselang lama Parjo datang dari arah luar dan berjalan menghampiri Kakung Agung dan Uti Tami .

"Ngaputen pak , panjenengan madosi Kulo ?(Maaf pak , anda mencari saya ?)" ucap Parjo

"iyo , Ndang siapke mobil . Awakdewe budhal Jakarta Saiki .( iya , buruan siapkan mobil . Kita berangkat Jakarta sekarang )" titah Kakung Agung

"Njih pak ( baik pak )" sahut Parjo kemudian berbalik badan dan melangkah menuju garasi .

Setelah Parjo pergi Kakung Agung segera menyusul istri nya ke kamar dan membantu packing-packing koper yang akan mereka bawa .

.

Perjalanan yang ditempuh dari Jogja-Jakarta hanya memakan waktu sekitar satu jam sebab menggunakan jalur udara , karena Eyang Agung dan Uti hanya meminta Parjo mengantarnya sampai bandara .

Setelah tiba dibandara Jakarta , Kakung dan Uti pun segera dijemput oleh sopir pribadi keluarga ayah Matheo .

.

Sedang dimansion Ayah Matheo , Echa masih ada disana atas permintaan Ibu Sari untuk ikut makan malam dan membantu nya memasak . Sebenarnya Ibu Sari bisa saja menyuruh ART untuk memasak, hanya saja ibu Sari ingin lebih dekat dengan calon menantu nya .

"Nduk .." panggil ibu Sari dengan suara lemah lembut saat kedua nya sedang memasak berdua didapur .

"Iya nyonya .. " sahut Echa

Ibu Sari tersenyum simpul . Calon menantu nya ini ternyata masih kaku untuk memanggilnya Ibu .

"Ibu nduk .. Panggilnya ibu " kata Ibu Sari mengingatkan

"Maaf nyo-maksud saya ibu ", ucap Echa terbata-bata .

"Nduk tolong ambilkan ibu , piring disana .." pinta ibu Sari seraya menunjuk rak piring dengan dagu nya .

Echa mengikuti arah yang ditunjuk Ibu Sari , kemudian mengangguk dan segera melangkahkan kaki nya menuju rak piring .

"Yang ini Bu ?" tanya Echa sambil memperlihatkan piring yang diambilnya pada ibu Sari .

"He'em , bawa sini nduk " , Echa segera membawa piring itu pada Ibu Sari .

Lalu kedua nya mulai menyajikan makan malam diatas meja .

"Bi Minahh ..." panggil Ibu Sari

"Iya nyonyaa " sahut bi Minah seraya berjalan menghampiri majikannya

"Ada yang bisa dibantu nyonya ?" tanya bi Minah

"Tolong Panggilkan suami dan anak saya ya bi , bilang kalo makan malam sudah siap ". Titah ibu Sari

"Baik nyah ". Kemudian bi Minah segera memanggil Ayah Matheo dan Pandu .

.

Tak berselang lama mereka datang dan segera duduk dikursi meja makan .

Ibu Sari bergegas mengambilkan makan untuk suami nya . Sedang Echa bingung ingin melayani Pandu atau tidak .

"Cha , bisa tolong ambilkan saya makan ?" pinta Pandu

"Iy-iya mas " jawab Echa dengan canggung . Kemudian ia mengambil piring dan mengisi nya nasi dan lauk serta sayuran yang dia masak tadi dengan calon mertua nya .

"Ini mas " ucap Echa seraya meletakkan piring nasi dihadapan Pandu

"Terimakasih sayang ..." kata Pandu sembari menyunggingkan senyum tampannya .

Echa membalasnya dengan tersenyum tipis . Setelah itu Echa mengambil makan untuk dirinya sendiri .

Makan malam berjalan dengan tenang tanpa ada nya obrolan hingga selesai .

"Bu , Pandu mau antar Echa pulang dulu " ucap Pandu seraya menaruh gelas yang baru saja ia pakai minum .

"Apa gak nginap disini saja , sudah malam " kata Ibu Sari

"Lain kali saja bu , kasihan adik saya nanti sendirian dirumah " tolak Echa halus

"Ya sudah , jangan sungkan-sungkan untuk main kesini ya nduk " ucap Ibu Sari

"Iya ibu " sahut Echa seraya menyunggingkan senyum manis nya .

Kemudian ia berpamitan pada ayah Matheo dan ibu Sari dengan mencium takzim tangan calon mertua nya itu .

"Bawa mobil pelan-pelan " Ayah Matheo memperingati

"Siap yah .."

"Echa pamit dulu ayah ibu " pamit Echa

"iya hati-hati ya nduk " kata Ibu Sari lalu memeluk tubuh ramping Echa , dan Echa juga membalas pelukan itu .

Saat pelukan dua wanita beda generasi itu terurai , tiba-tiba mobil yang dikendarai sopir pribadi ayah Matheo masuk kedalam pelataran mansion .

Setelah mobil itu terpakir digarasi , turunlah Kakung dan Uti .

"Ayah .. Ibu ?" cicit Ibu Sari kemudian berjalan menghampiri kedua orang tua nya dan mencium takzim tangan mereka .

"Mana calon cucu mantu ku ?" seru Uti Tami dengan antusias nya seraya berjalan cepat mendekati Pandu dan Echa .

Sedang Echa yang melihat kedatangan kakek dan nenek Pandu langsung merasa canggung .

"Apa ini calon cucu mantu ku ?" tanya Uti Tami seraya melirik kearah Pandu

Dan Pandu menganggukkan kepala nya dan meraih tangan Uti Tami dan mencium takzim . Lalu Echa segera melakukan hal sama dengan yang Pandu lakukan .

"Ya Allah ayune Jan koyo widodari ..( Ya Allah cantiknya seperti bidadari )" puji Uti Tami seraya mengusap puncak kepala Echa saat wanita itu mencium tangannya .

"Endi ti , calon cucu mantu ne awak Dewe ? (Mana ti , calon cucu mantu kita ?)" ujar Kakung Agung lalu menatap Echa dari ujung rambut hingga ujung kaki .

"Ho'oh ti , ayu tenan bocahe (benar ti , cantik sekali orangnya )" imbuh Kakung Agung .

Sedang Echa tersenyum kikuk dipuji oleh kedua orang tua ibu Sari .

"Kakung , Uti perkenalkan ini calon istri Pandu nama nya Echa ". Ucap Pandu lalu merangkul pinggang ramping Echa .

"Ngobrolnya didalam saja , gak enak kalo sambil berdiri begini apalagi didepan pintu .. Yukk" ajak Ibu Sari kemudian mengajak suami dan kedua orang nya serta Echa dan Pandu untuk kembali masuk .

Mereka mengangguk dan segera menuruti kata Ibu Sari . Echa yang berjalan dibelakang sendiri langsung menarik lengan Pandu .

"Mas .." bisik Echa

"Hm?" sahut Pandu berdehem

"Echa takut .." bisiknya lagi seraya menghentikan langkah nya , Pandu pun juga terpaksa menghentikan langkah kaki nya dan menatap Lamat wajah cantim Echa .

"Apa yang kamu takutkan hm?" ucap Pandu lembut

"Takut ditolak sama keluarga besar saya ?" tebak Pandu

Echa menganggukkan kepala nya

Pandu menghela nafas pelan lalu menggenggam jemari lentik Echa .

"Cha ,bukankah kamu sudah lihat sendiri kan . Bagaimana Kakung dan Uti juga menerima kamu dengan tangan terbuka , apa kamu gak lihat bagaimana wajah bahagia nya mereka saat tau saya akan menikah ? Apalagi yang kamu takutkan hm? Cukup percaya sama saya , semua baik-baik saja ". Ucap Pandu lembut lalu kembali menarik Echa agar kembali masuk kedalam mansion .

"Yuk masuk , pasti mereka sudah menunggu kita ".

.

.

.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!