"Apa mungkin anak kecil itu adiknya?." Pikir Luke penasaran, entah mengapa melihat sosok Jenifer sepertinya semua orang ingin tahu bagaimana kehidupan pribadinya.
"Atau jika bukan adiknya bisa jadi itu anak bu Jeni dengan Rakha!?." Timpal Luke yang membuat Rei berhenti mengotak-atik komputer.
"Apa maksudmu?."
Luke melihat sekeliling ruangan direktur utama takutnya ada orang yang masuk. "Mungkin ini lancang berpikiran seperti ini terhadap bu Jeni."
"Rakha dan bu Jeni kan sudah lama menjalin hubungan, setelah melihat penampilan bu Jeni saat makan malam kemarin saja kurasa Rakha gak mungkin tahan selama ini masa gak pernah ngapa-ngapain, logika saja mereka saling cinta bisa jadi kan?." Lanjut Luke.
Nyuuuttt!!
Rei dibuat pusing memikirkan itu. "Kau tahu Luke?."
"Apa?."
"Berhenti menambah beban! jangan membicarakan hal tidak penting apalagi membahas hubungan Rakha dengan sekretaris formal itu!." Tegas Rei menunjukkan ketidaksukaannya. "Aku tak peduli dan itu bukan urusanku!."
Kehadiran Jee sebagai sekretarisnya akhir-akhir ini dapat menggoyahkan fokus sosok Reino Arshaka, ditambah harus kepikiran sosok anak kecil yang dibuat oleh Rakha dan Jeni seperti yang diucapkan Luke.
Bagaimana tak pusing bagi Rei, ia juga merasa jadi gila seperti ini tak tahu penyebabnya apa.
Melihat sahabatnya akhir-akhir ini seperti itu Luke mengerutkan kening. "Hey bro apa kau tidak menyimpan rasa terhadap bu Jeni?."
"HUAHAHAHAHA!!.." Tawa penuh aura jahat keluar dari mulut Rei.
"Apa banyaknya pekerjaan membuat dia jadi gila begini?." Pikir Luke tak habis pikir.
"Tidak mungkin aku menyukai kekasih dari adikku sendiri, ditambah kau tahu selama ini aku tak pernah jatuh cinta sekalipun terhadap Cassie." Lirih Rei menekankan.
Luke yang tahu bagaimana kehidupan sahabatnya menghela nafas berat. "Entahlah tapi feeling ku berkata lain."
Rei yang sudah terkuras energinya tak berucap apapun lagi. "Jangan membicarakan hubungan mereka di hadapanku, atau ku lakban mulutmu itu!."
"Laksanakan tuan tantrum."
"Luke.." Sorot mata tajam Rei bak siap mengiris.
Luke terkekeh. "Iya-iya sorry."
Karena masih banyak hal yang harus di urus, Luke izin pamit lagi untuk kembali ke ruang kerjanya.
Sebelum itu Luke mampir ke ruang sekretaris dulu yang dimana Jee dan Luna juga seperti biasa tampak sedang sibuk.
"Eh tuan Luke?." Ramah Jee.
Luke tersenyum. "Jaga kesehatan kalian."
"Haha baiklah tuan." Balas mereka.
"Terutama kau bu Jeni, terimakasih sudah sabar menghadapi Rei." Lirih Luke.
Tak tahu apa maksudnya Luke berkata seperti itu, namun Jee mengangguk. "Itu sudah jadi tanggung jawab tuan."
"Baiklah, lanjutkan."
"Iya."
Luke keluar melangkah pergi menuju ruangannya, pria itu tersenyum menyeringai. "Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri Rei."
Tak terasa malam pun tiba..
Karena begitu banyak pekerjaan yang belum selesai, Jee menghubungi orang rumah. "Jara sepertinya hari ini aku lembur kasih tahu Noah dan langsung tidurkan saja ya."
"Baiklah kalau begitu kak."
"Iya."
Panggilan pun berakhir.
Beberapa map Jeni kumpulkan untuk ia bawa ke ruang CEO. "Lun kalau sudah dengan pekerjaanmu langsung pulang saja ya."
"Ah oke bu."
Karena suasana malam ini terasa begitu dingin, Jee mengikat rambut panjangnya dan mengganti jas hitam formal itu dengan outer tebal.
Setelah itu ia masuk ke ruang direktur utama, menyerahkan hasil kerja untuk ditandatangani.
Rei mengecek satu-satu dengan teliti setelahnya ia ACC. "Bisakah kau menghitung jumlah pengarsipan dan manajemen dokumen setiap karyawan selama dua minggu ke belakang?."
"Bisa pak."
Jee duduk di sofa yang tidak jauh dari kursi kebesaran Rei, ia mengotak-atik laptop menjalankan tugasnya di sana.
Tidak ada yang bersuara lagi kecuali bunyi jam dan juga ketikan jari.
Tak terasa...
Rei mengerjapkan matanya. "Aku ketiduran.." Diliriknya jam tangan. "Ini sudah lewat jam 1 malam."
Rei seketika terhenyak saat melihat Jee juga tertidur menyender di sofa ia melangkah untuk menghampiri, Rei terdiam menatap sekretarisnya itu.
"Jee.."
"Jenifer Felicia.." Lirih Rei berusaha membangunkan. "Bangun dan tidurlah di rumah."
Tidak ada reaksi apapun, Rei melambai-lambai tangannya tepat di depan wajah Jee.
"Dia tertidur pulas."
Di tatapnya lama wajah cantik yang teduh itu, tatapan mata Rei tertuju pada leher jenjang Jeni yang terekspos tampak begitu sexy. Tatapannya seketika menjadi berat.
Turun lagi ke bawah menatap area dadanya yang tidak ditutup kancing jas. Wajah tampan Rei merah saat dorongan hasratnya menguasai, dua gunung kembar montok yang masi tertutup itu mampu membuat Rei berkeringat panas dingin tak tahan, Rei menjilat bibirnya. "Apa kau akan suka ini, Jeni?."
.
Cus jangan lupa tinggalkan jejaknya para readers kesayangan!🤗🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Okto Mulya D.
Rei, mau ngapain tuhhh
2024-08-12
0
Fitri Prasetyo
Rei, mau apa hayo??? 🤭😂😂😂
2024-07-06
2
Dwi Winarni Wina
Luke punya filling rey ada rasa sm jeni sekretarisnya dan rey tidak menyadari dan terlalu gengsinya selangit,,,
wkwkwk🤣🤣🤣😂pikiran kotor rey membayangkan wajahnya rey jd merah padam apalagi melihat 2 gunung kembar jeni yg menentang dan montok rey sampai menjilati bibirnya dan apa akan dilakukan rey ya pd jeni penasaran nich....
2024-07-06
0