Episode 3

"Anggap angin, lupakan!."

Jenifer keluar dari dalam mobil dengan kacamata hitamnya, ia mengembangkan senyum memberi afirmasi positif pada dirinya untuk tetap fokus dalam bekerja.

"Pagi bu Jeni." Sapa beberapa karyawan di sana saat salah satu orang terpenting dalam perusahaan itu lewat.

"Pagi."

Bentuk tubuh sempurna juga paras yang cantik jelita ditambah Jenifer sangat memperhatikan penampilan, bagi siapa saja yang melihat sangat suka dan terpesona akan kemolekan dan kepribadiannya itu.

Jeni tiba di ruangan khusus sekretaris ia langsung di sambut oleh asisten pribadinya.

"Jadwal hari ini lumayan padat bu, sebelum tuan Bram datang masih ada waktu sekitar 15 menit untuk siap-siap hingga meeting di lakukan." Jelas Luna.

Bram merupakan CEO utama perusahaan Adorn Corp.

Jenifer menguncir rambutnya. "Oke berikan jadwalnya akan saya atur."

"Baik."

Jari lentik itu sibuk mengutak-atik layar komputer menjalankan tanggungjawabnya.

Tak terasa sudah 3 tahun lebih saja Jeni menjadi sekretaris di perusahaan ternama itu, sebelumnya ia magang namun karena kinerjanya begitu bagus dan diakui banyak membawa perubahan, CEO utama Adorn Corp yaitu Bramantyo mengangkatnya sebagai sekretaris tetap.

"Bu katanya pada meeting kali ini akan ada sangkut pautnya dengan bahasan pemindahan kekuasaan." Ujar Luna yang membantu mempersiapkan map.

Jeni mengerutkan kening. "Pemindahan kekuasaan? dari mana kau tahu Lun? selama ini pak Bram belum membahas itu."

"Tadi sempat dengar sekilas bu saat jajaran direksi mengobrol."

Jenifer yang mendengarnya tak langsung menjawab, ia tampak diam beberapa saat. "Lihat saja nanti, ayo kita ke atas meeting nya sebentar lagi."

"Baik bu."

Pada meeting ini seperti biasa Jenifer melayani dan memaparkan lebih detail lagi apa yang Bram sampai kan sesuai pembahasan tertera.

Dan benar saja di meeting itu membahas tentang pemindahan kekuasaan, pak Bram sebagai CEO menjelaskan statement dan argumentnya bersama jajaran direksi lain.

Hingga tak terasa meeting selesai.

Ruangan CEO..

"Pak ini hasil dari diskusi tadi." Jeni menyerahkannya pada Bram.

"Baik terimakasih Jee."

Pria paruh baya itu mengambilnya menatap dengan puas.

"Ah saya lupa belum menyampaikan ini kepadamu secara langsung, satu bulan juga kurang Jee saya berada di sini saya memilih untuk pensiun dan tadi kau sudah tahu isi dari rapatnya bukan?." Jelas pak Bram.

Jeni yang sudah menganggap atasannya ini seperti seorang ayah langsung duduk dengan wajah sedikit ditekuk. "Tapi kenapa harus secepat ini pak? apa kontrak saya juga akan berakhir ketika masa bapak sudah habis?."

Jujur Jeni belum siap kehilangan pekerjaannya walaupun banyak yang ingin merekrut cuma Adorn Corp yang tetap membuatnya nyaman.

"Tentu tidak, kau akan tetap di sini namun pemimpinmu yang akan ganti bukan saya lagi." Jelas Bram.

Jeni hanya diam pastinya pemimpin selanjutnya akan berbeda karakter dengan Bram, namun namanya tanggung jawab ia harus tetap bisa tenang dan profesional.

"Jangan khawatir kau akan saya titipkan nantinya." Bram menenangkan.

Wanita cantik itu hanya menghela nafas panjang. "Baiklah selamat purnabakti pak."

"Iya, lanjutkan tanggung jawabmu juga."

Pak Bram mengotak-ngatik komputernya. "Bagaimana dengan data petinggi yang akan mengambil alih kekuasaan Corp ini?."

Jeni langsung melihat data voting yang tersambung dengan jajaran direksi lain, dengan seksama ia memantau. "Ada 4 petinggi yang terus bersaing pak, selain ini apa masih ada yang lain untuk dimasukkan mungkin?."

"Tak usah, mereka pilihan saya dan saya percaya dari keempat pemimpin itu untuk perusahaan ini." Jelas Bram.

"Baiklah." Jeni terus memantau dengan teliti.

Tak lama selang 4 menit akhirnya salah satu dari keempat calon penguasa membeli saham itu lebih dari harga yang ditawarkan harganya lebih fantastis, Jenifer tentunya terkejut dan langsung memberikan laporannya pada Bram.

"Sudah ku duga dan tak salah lagi mempercayakan kepercayaan ini selain kepada dia." Bram menyunggingkan senyum tampak ia begitu puas setelah mengetahui siapa pemimpin selanjutnya Adorn Corp.

"Jadi siapa yang terpilih pak?." Penasaran Jenifer karena tadi langsung menyerahkan data untuk dibuka langsung oleh atasannya.

"Mr. Reino Arshaka Bernand."

Jeni yang sedang merapikan beberapa berkas seketika mengerutkan kening mendengar nama itu. "Bernand?."

"Ayolah kau juga pasti tahu Jee beliau putra pertama dari tuan Damian Bernand." Ucap Bram.

Deg!

Betul memang tak asing karena keluarga Bernand begitu terpandang namun di sini perasaan Jeni tiba-tiba tak karuan. "Boleh saya lihat orangnya?."

"Tentu."

Ipad itu Jeni raih dengan tangan sedikit gemetar ia menatap orang yang dimaksud.

Brukh!!

"Jen!?." Pak Bram terkejut langsung menghampiri. "Kau tidak apa-apa?."

"Tidak apa-apa pak cuma mules saja." Bohong Jeni ia terjatuh saat melihat orangnya, tubuhnya lemes saat melihat calon pemimpin baru dari Adorn Corp.

Terpopuler

Comments

fsf

fsf

waduh ketemu bapaknya Noah dong, masih ingat ngak y dia

2024-11-30

0

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Ternyata bapaknya Noah dari Amerika datang.

2024-08-12

0

yumna

yumna

jeni sok yakan ayah dr noah lah yg akan menggantikan pa bram

2024-07-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!