Batu

Pemuda yang berfikir sejenak. Pacar? Dirinya sebenarnya belum pernah memiliki pacar sama sekali. Tapi, bukankah pacar tanpa sentuhan fisik? Artinya hanya pelindung yang dapat menggunakan nama Neil sesuka hati.

Karena itu, bukan syarat yang sulit, jika tanpa sentuhan fisik."Aku berjanji akan melindungimu dan berpihak padamu apapun yang akan terjadi. Kita menjadi pacar sekarang. Karena itu temui ibuku setiap hari."

Dengan cepat Cheisia mengangguk."Kakanda! Sekarang panggil aku Adinda..."

Pemuda yang memiliki harga diri tinggi itu, berusaha tersenyum. Benar-benar berusaha keras tersenyum."A... A...A...Adinda...sial! Aku kesulitan bernapas..."

"Yey! Neil memang yang terbaik." Teriak Cheisia, hendak memeluknya, tapi dengan cepat pula Neil mendorong kepala Cheisia.

"Tidak ada sentuhan fisik." Tegas Neil, mengalihkan pandangannya. Kembali terlihat fokus mengemudi, menghidupkan mesin mobilnya.

Begitu dingin, tidak dapat ditebak, itulah sosok Neil saat ini. Tapi, semakin Cheisia memikirkannya, jantungnya bagaikan berdegup semakin cepat.

Kaca jendela mobil separuh terbuka, wajah remaja benar-benar masih muda. Wajah yang sama, tapi terdapat sedikit perbedaan.

Suaminya, Willem Alexander Niel Andreas, meninggal sebelum waktu terulang, di usia 29 tahun. Tubuh tanpa nyawa yang benar-benar mati dalam dekapannya.

Kini bagaikan kembali hidup menjadi remaja yang begitu...liar?

"Aku mencintaimu!" Ucap Cheisia.

"Aku membencimu..." Neil menghela napas kasar.

"Katakan cinta! Jika tidak, aku tidak akan datang menemui ibumu!" Ancaman dari Cheisia, membuat sang pemuda menurut.

"Iya! Iya! Iya cinta! Puas!?" Neil mengernyitkan keningnya.

"Cinta pada siapa?" Cheisia mengangkat salah satu alisnya.

"Pada bebek cerewet." Jawab Neil.

"Apa itu panggilan kesayangan?" Tanya Cheisia lagi.

"Bukan, itu hinaan." Jawab Neil cepat.

"Dasar! Bilang saja itu panggilan kesayangan. Kamu gemas padaku seperti gemas melihat anak bebek kan?"

"Tidak! Dasar stalker!"

"Panggil Adinda. Atau---"

"Dasar Adinda!"

Pertengkaran remaja yang begitu menggemaskan, membuat Cheisia begitu bersemangat untuk menaklukkan sang pujaan hati.

Sensasi yang berbeda dari orang yang sama.

"Aku mencintaimu..." Batin Cheisia, penuh senyuman teduh.

*

Tapi apa yang menunggunya di rumah? Perasaan yang mendalam membuat Hazel gelisah.

Tepat pukul 23.40, barulah suara mesin mobil terdengar. Pintu gerbang yang kali ini terbuka secara otomatis, setelah sang security mengkonfirmasi kedatangan majikannya.

"Itu mungkin kakak, aku harap kakak tidak apa-apa pulang selarut ini. Ji...jika kakak sempat dilecehkan..." Bianca menggantung kalimatnya dengan sengaja. Mengarahkan opini semua orang tentang kemungkinan Cheisia melakukan hal yang buruk.

"Aku akan bicara dengannya." Dirgantara (Ayah Cheisia) menghela napas kasar.

Wajah Bianca diam-diam tersenyum, menyadari raut wajah semua orang yang terlihat marah. Atau lebih tepatnya tidak menyukai semua ini.

Terutama Hazel yang sudah menunggu kedatangan Cheisia sejak sore tadi. Hazel? Itulah incaran utamanya.

Pemuda dari keluarga yang memiliki status sosial sama dengan Dirgantara Muller (ayah Cheisia). Begitu rupawan dan sempurna, sayangnya pemuda ini jatuh cinta pada Cheisia.

Tapi tidak apa-apa, karena Bianca sudah berhasil membohongi Hazel dan Elisa (ibu Hazel), seolah-olah dirinya lah yang telah mendonorkan hati untuk Hazel. Hutang budi yang akan terus diingat oleh Hazel, walaupun itu hanya kebohongan, karena pendonor sejatinya adalah Cheisia.

Saat itulah seorang pelayan membukakan pintu. Menyambut kedatangan Cheisia.

Gadis yang melangkah bersama seorang pemuda. Dari penampilan, memang terlihat rapi mengenakan blazer hitam berpadu kaos putih polos dan celana jeans hitam.

Tapi, Dirgantara terlanjur tersulut emosi setelah mendengar keterangan dari Hazel. Jika remaja ini(Neil) merupakan anak berandalan yang kerap mengikuti tawuran.

"Cheisia kemari!" panggil sang ayah, mengamati putrinya yang menggunakan pakaian lain. Tidak menggunakan seragam seperti ketika berangkat sekolah.

"Tidak mau, aku ingin mengucapkan terimakasih pada Neil. Kemudian mengantarnya kembali sampai teras." Ucap Cheisia manja, menggenggam jemari tangan Neil erat.

"Cheisia! Sebentar lagi kita akan bertunangan. Aku sudah menyetujuinya jadi jangan sia-siakan hidupmu. Dia bukan pria yang baik untukmu." Hazel menasehati.

"Benar! Kak Hazel lebih baik untuk kakak. Kakak tau, kak Hazel sudah menunggu kak Cheisia pulang dari sore. Ha ...hanya demi menginap dengan pria lain, Kak Cheisia...kami mencemaskanmu." Bianca tertunduk, mengarahkan opini semua orang, tapi tetap berusaha terlihat polos.

Cheisia berjinjit kemudian berbisik pada Neil yang lebih tinggi darinya."Lindungi aku, kamu kan pacarku." Pinta Cheisia penuh harap, mengingat bagaimana kecerdasan suaminya sebelum waktu terulang.

"Menyusahkan..." gumam Neil dengan suara kecil.

Tapi menyenangkan untuk melakukan ini bukan? Keluarga ini terlihat begitu kacau balau. Hanya karena hasutan seekor ular (Bianca).

"Perkenalkan, namaku Willem Alexander Niel Andreas. Maaf, sudah mengantarkan pacarku pulang terlalu larut." Neil tersenyum, benar-benar senyuman cerah, bagaikan merubah karakter dinginnya.

"A ...apa yang kamu lakukan dengan kakakku? Kakakku sudah memiliki pacar." Bianca menangis, mendramatisir keadaan."Kak Cheisia, kak Hazel begitu mencintaimu. Kenapa kamu begini, hanya demi pria tidak jelas."

"Cheisia kemari!" Sela menarik paksa tangan putrinya. Tapi reaksi aneh didapatkannya, Cheisia menarik tangannya kembali.

Putrinya terlihat gemetar, sekaligus menatap bagaikan tersimpan kebencian. Ada yang aneh, benar-benar aneh. Membuat perasaan Sela terasa begitu sakit.

Sedangkan Cheisia kembali menggenggam jemari tangan Neil begitu erat. Sebelum waktu terulang, dirinya begitu egois, terhasut bujukan ibunya untuk meninggalkan Neil. Hingga pada akhirnya, Neil mati akibat mengorbankan nyawanya. Sang suami yang mati dalam kesalahpahaman.

"Kembalilah pada ibumu. Sebagai pacarmu, besok aku akan menjemputmu." Ucap Neil terdengar begitu hangat, mengelus pucuk kepala Cheisia.

"Iya, Kakanda jangan tidur terlalu larut." Cheisia kembali tersenyum seperti biasanya.

"Paman, bibi, aku pamit. Dan terimakasih sudah meminjamkan putrimu yang begitu berharga." Neil menunduk, benar-benar terlihat bagaikan sosok yang berbeda dengan penjabaran Hazel.

Sejenak pandangan mata Neil, beralih pada Hazel."Dan untukmu, jangan salah paham. Saat itu untuk pertama kalinya aku ikut tawuran. Selain itu, aku Willem Alexander Niel Andreas, akan menginjakmu. Jika berani mengaku-ngaku pacar Cheisia lagi."

Aura mengerikan yang tidak main-main, kala hendak melangkah pergi. Neil sedikit melirik ke belakang dan tersenyum. Sepintas kembali melanjutkan perjalanannya.

"Sayang! Kakanda! Hati-hati di jalan! Jangan ngebut! Aku tidak mau menjadi janda sebelum menikah!" Teriakan Cheisia membuat semua orang ingin rasanya tepuk jidat.

Menghela napas, setelah kepergian Neil. Barulah sidang dimulai, ada rasa tegang dalam diri Cheisia saat itu.

"Duduk!" Perintah ayahnya, dengan cepat Cheisia menurut.

Tapi, satu hal yang dipelajari olehnya. Jika sebelum waktu terulang dirinya berpura-pura tegar dan dewasa, menerima semua tuduhan, kini tidak. Dirinya harus berpura-pura bodoh dan kanak-kanakan.

"Ayah...ibu...maaf ..." Cheisia memelas.

"Kenapa kamu pulang larut? Apa saja yang kamu lakukan!?" Tanya sang ayah.

"Bangun pagi, aku memikirkan Neil, siswa yang paling tampan sejagat raya. Siang aku membawakan kotak bekal untuknya. Sore, aku pergi ke rumahnya untuk mencari perhatian ibu mertua. Agar anaknya mau menerima cintaku." Jawaban jujur dari Cheisia, membuat sang ayah benar-benar pusing mendengarkannya.

"Tapi Cheisia! Kamu tidak menghargaiku? Hubungan kita---" Kalimat Hazel disela.

"Kita tidak pacaran, cuma aku yang mengejar kak Hazel sepihak. Saat itulah pangeran sekolah (Neil) muncul, membuatku jatuh hati. Maaf...tapi cintaku padamu sudah kadaluarsa...." Kalimat puitis nan menusuk.

"Cheisia! Kamu masih kecil, tidak akan mengerti bahasa baik dan buruk." Ucap sang ibu.

"Ibu... jika ibu tidak merestuiku, aku mogok makan!" Teriak Cheisia menangis berlari menuju lantai dua.

"Cheisia!" Teriak sang ibu."Apa kita terlalu keras padanya, bagaimana jika dia benar-benar mogok makan?" tanya Sela pada Dirgantara.

"Entahlah..." sang suami menghela napas panjang. Tanpa menyadari status sosial kekasih putrinya.

"Kak Hazel, aku buatkan teh hijau ya? Sebaiknya malam ini kak Hazel menginap di kamar tamu, sudah terlalu larut." Pinta Bianca.

Tapi Hazel hanya diam, apa benar hati Cheisia sudah berubah? Tidak, dirinya harus merebut Cheisia kembali.

"Maaf, paman, bibi, aku pulang." Ucap Hazel meraih kunci mobil, tanpa memperhatikan hal yang dikatakan Bianca.

*

Sementara dalam kamar, mogok makan. Itulah aksi protes dari gadis yang tengah menikmati stoples kue kering.

'Sebagai pacar, Kakanda harus memberi ku makan tiga kali sehari. Jadi besok tolong buatkan bekal penuh cinta. Karena aku sedang mogok makan.'

Pesan yang dikirimkan Cheisia melalui handphone, dengan keadaan mulut dipenuhi kue kering.

'Iya!'

Balasan yang didapatkannya dari Neil. Dengan cepat Cheisia kembali membalas.

'Minta kiss, plus ucapan aku cinta kamu.'

Berdebar menunggu balasan dari Neil. Hingga satu pesan akhirnya masuk, berupa, E-motion batu.

'🗿🗿🗿🗿'

"Ah ....! Kakanda ternyata cintamu sekeras batu." Teriak Cheisia mencium layar handphonenya.

Terpopuler

Comments

dwi prastowo

dwi prastowo

inggat waktu sma gue pas waktu itu setiap liat gue dia malu2 tp kata temen genk gue...si dia suko lo tu km sering perhatikan... aq penasaran... pas ja istirahan dio jln depa aq aq gemgang tanganya aq ucap kecil suara aq...aq ngomong lo suka gue,lho cinta syg gue😂keringet dingin tanganya 😂😂baca novel ni jd keinget masa 14 thn lalu
😁

2025-01-21

0

Anna

Anna

hahahahahaha
seketika inget saat gw usia 16th
anak org gw rayu ampe kaga berani keluar pager.. hahahaha...

padahal gw godain ya krn lucu aja gt liat respon dia

2025-01-12

0

Lenina

Lenina

suka ini novel beda...sehat selalu thor../Good/

2025-01-27

0

lihat semua
Episodes
1 Kehidupan Kedua
2 Manja
3 Mengikuti
4 Mabuk Cinta
5 Berkelas
6 Benci
7 Tujuan Baru
8 Dalam Kotak Nasi
9 Pilihan
10 Sedikit
11 Tubuhmu
12 Batu
13 Hot News
14 Play
15 Tingkat Teratas, Diantara Yang Terbawah
16 Silent
17 Galau
18 Promise
19 Save
20 Forever
21 Predator
22 Mampir
23 Ambigu
24 Yes Or No
25 Pacar Rahasia
26 Laki-laki Atau Perempuan
27 Real Duel
28 Hamil
29 Restu
30 Gone
31 Piranha
32 Teori
33 Never
34 Perbedaan
35 Tentu Bisa
36 Romantis
37 Karena Aku Mencintainya
38 Akrab
39 Andai
40 Lewat Saja
41 Ugal-ugalan
42 Original Duck
43 Petani
44 Stay With Me
45 Bukan Ayah
46 Martabak
47 Meet
48 Pujian
49 Ragu
50 Tidak Marah
51 Ditinggalkan
52 Kepercayaan
53 Konyol
54 Red Flag Or Green Flag?
55 Galau
56 It's War
57 Nadi
58 Blood
59 Cobaan Untuk Persahabatan
60 Rusuh
61 Melepaskan
62 Pay
63 Save
64 Perbuatanmu
65 Bermain
66 Kondisi Kesehatan Yulia Memburuk
67 Usia
68 Pelajaran Biologi
69 Inginku
70 Dunia Hewan
71 Amnesia
72 Jealous
73 Insiden
74 Jungle
75 Kurang Beruntung
76 Bukan Habitat
77 Rahasia
78 How
79 Hide
80 Bukan Update
81 Trap
82 Bukan Anakku
83 Kecewa
84 Bagaimana Jika
85 Meremehkan
86 Penanda
87 Perangkap
88 Hoax
89 Memakan Atau Dimakan
90 Death
91 Melupakan
92 Bukan Update
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Kehidupan Kedua
2
Manja
3
Mengikuti
4
Mabuk Cinta
5
Berkelas
6
Benci
7
Tujuan Baru
8
Dalam Kotak Nasi
9
Pilihan
10
Sedikit
11
Tubuhmu
12
Batu
13
Hot News
14
Play
15
Tingkat Teratas, Diantara Yang Terbawah
16
Silent
17
Galau
18
Promise
19
Save
20
Forever
21
Predator
22
Mampir
23
Ambigu
24
Yes Or No
25
Pacar Rahasia
26
Laki-laki Atau Perempuan
27
Real Duel
28
Hamil
29
Restu
30
Gone
31
Piranha
32
Teori
33
Never
34
Perbedaan
35
Tentu Bisa
36
Romantis
37
Karena Aku Mencintainya
38
Akrab
39
Andai
40
Lewat Saja
41
Ugal-ugalan
42
Original Duck
43
Petani
44
Stay With Me
45
Bukan Ayah
46
Martabak
47
Meet
48
Pujian
49
Ragu
50
Tidak Marah
51
Ditinggalkan
52
Kepercayaan
53
Konyol
54
Red Flag Or Green Flag?
55
Galau
56
It's War
57
Nadi
58
Blood
59
Cobaan Untuk Persahabatan
60
Rusuh
61
Melepaskan
62
Pay
63
Save
64
Perbuatanmu
65
Bermain
66
Kondisi Kesehatan Yulia Memburuk
67
Usia
68
Pelajaran Biologi
69
Inginku
70
Dunia Hewan
71
Amnesia
72
Jealous
73
Insiden
74
Jungle
75
Kurang Beruntung
76
Bukan Habitat
77
Rahasia
78
How
79
Hide
80
Bukan Update
81
Trap
82
Bukan Anakku
83
Kecewa
84
Bagaimana Jika
85
Meremehkan
86
Penanda
87
Perangkap
88
Hoax
89
Memakan Atau Dimakan
90
Death
91
Melupakan
92
Bukan Update

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!