BAB 18

Seorang wanita dengan pakaian yang ketat turun keluar dari bandara, ia menunggu sopir yang akan menjemputnya. Tak lama mobil hitam itu mendekat, sopir itu keluar dan menyambut wanita itu

"Selamat datang kembali Nona Tiara!" ucap sopir itu

Wanita yang bernama Tiara itu mengangguk ia meminta sopir membawa koper dan barang-barang lainnya sementara ia duduk di kursi penumpang

"Nona mau makan dulu atau langsung pulang?" tanya sopir itu

"Langsung pulang saja Pak. Aku sedang lelah. Minta sama sama bibi buatkan aku makanan dan bawakan ke kamar!" perintah itu diangguki oleh sopir itu.

Butuh waktu 3 jam ia sampai di kediamannya. Saat sampai seluruh pelayanan menyambutnya dengan hormat namun ada satu orang yang dirasa asing oleh Tiara

"Galih?"

Orang disebut oleh Tiara mengangguk hormat "Saya penjaga baru Nona!" ucapnya. Ia mengangguk dan memasuki rumahnya. Sementara itu Galih mengirimkan pesan singkat kepada seseorang.

"Ku dengar kamu akan membuka Restoran, aku akan datang ke Restoran mu. Dan aku akan memikat dirimu kembali. Dari awal kau milikku Hendri dan sampai akhir kau hanya menjadi milikku!" ucap Tiara. Ia yakin dengan pesonanya mampu membuat Hendri bertekuk lutut di hadapannya.

Sementara itu Feli sedang duduk menatap Grace yang mulai lemas dan merintih

"Fel, lepasin gue," pintanya dengan suara lirih

"Nggak semudah itu Grace! Dendam Tio belum ia selesaikan," ucap Feli, ia lalu menoleh ke arah Tio yang sedang berdiri

"Bolehkah aku menyiksa adik tiri mu ini?" tanya Feli

"tentu saja Nona!" seru Tio, ia pun ingin melihat Grace berteriak kesakitan

Tatapan Feli mulai tajam ia mengambil pisau lipat di tas kecilnya, Feli pun menarik tangan Grace dengan kasar. Sepersekian detik darah menciprat kemana-mana disertai teriakan Grace yang menggema. Feli tertawa hambar namun terkesan menyeramkan, ia melihat tangan Grace yang masih mengalirkan darah karena sayatan itu

"Cantik!" ucap Feli

"Tio, setelah ini terserah kau mau apa. Aku sudah tak berselera menyiksa dia, atau kalau kamu mau membunuhnya ya silahkan!" ucap Feli

"Baik Nona. Terimakasih!" ucap Tio sambil membungkuk

"Please Fel, Lo jangan seperti ini!" teriak Grace, namun sayangnya Feli telah meninggalkan rumah kosong itu

"Kini aku akan membalaskan dendam adikku!" Tio membawakan tubuh Grace ke mobil, setelah beberapa saat Tio mengendarai mobilnya menuju tebing.

"Kak, tolong maafkan aku," ucap Grace

"Berhenti bicara atau aku akan berbuat kasar padamu di sini!" bentak Tio

Grace pun terdiam ia yak menyangka Kakak tirinya ini ternyata semakin menakutkan. Mobil hitam itu sampai di tepi tebing yang di bawahnya ada jurang, Tio memaksa Grace untuk turun.

"Cepat!" Tio menarik Grace melalui rambutnya

"Kak tolong maafkan aku," ucapnya

Sambil membuka ikatan tangan Grace ia berkata "Minta maaflah kau pada adikku! Selamat tinggal Grace!" Tio mendorong tubuh Grace ke jurang itu sambil menyeringai.

"Selamat tinggal brengsek!" ia melihat tubuh Grace yang sudah bersimbah darah karena tubuhnya menabrak batuan besar.

"Tugasku selesai, dan aku akan selalu mengabdi kepada Nona Muda." Tio meninggal tempat itu dan kembali ke rumah majikannya.

********

"Feli mau pindah ke apartemen Hendri ya?" tanya Shireen

Feli mengangguk "Aku nanti akan sering ke sini kok,"

Shireen merasakan sedih, karena Feli yang selalu bersamanya, melihat itu Feli memeluk Shireen

"Kamu bisa berkunjung ke apartemen Hendri, setiap hari pun tak apa-apa,"

"Apa boleh?"

Feli melepaskan pelukannya ia pun menatap Shireen "Tentu saja boleh,"

Pintu kamar terbuka dan muncullah Hendri,

"Maaf aku ngga tau kalau ada Shireen di sini," ucapnya

"Ngga apa-apa sayang,"

"Aku balik ke kamar dulu ya, ini udah malam. Selamat malam semuanya," Shireen buru-buru keluar dari kamar Feli membuat Hendri bingung

"Ada apa?" tanyanya

"Shireen sedih karena aku ikut kamu ke apartemen," ucap Feli. Hendri menghampiri Feli yang duduk di sofa

"Maafkan aku karena sudah memisahkan kamu dengan Shireen sayang, tapi aku ingin memulai semuanya dari nol," Hendri mengusap rambut panjang istrinya

"Nggak apa-apa sayang, lagipula kita sudah menikah dan aku harus menurut apapun yang kamu katakan,"

Hendri tersenyum lega, ia kira Feli akan marah. Dengan lembut Hendri mencium kening Feli namun ada yang aneh, Hendri mencium bau darah di area rambut Feli

"Sayang, rambut kamu kenapa bau darah?" tanya Hendri

Feli terkejut, "Em itu tadi aku bantuin Bi Nisa di dapur dan rambutku kena darah ayam," kilahnya. Hendri menatap Feli, ia tau istrinya sedang berbohong namun ia tak mau gegabah, mungkin ada alasan tersendiri.

"Aku mandi dulu ya," Feli bangun dari duduknya. Sementara Hendri mengecek ponsel Feli yang mungkin saja ada sesuatu di sana

"Tak ada apapun di sini," gumam Hendri setelah selesai mengecek ponsel itu.

"Sayang, apa masih lama?" teriak Hendri

"Sebentar lagi," balasnya sedetik kemudian ia terkejut karena Hendri ternyata sudah ada di belakangnya

"Sayang, aku lagi mandi ah," ucap Feli, kemeja biru langit milik Hendri telah basah karena guyuran shower itu

"Kamu sangat seksi, sayang," bisiknya

"Hendri," lirihnya suaranya tercekat saat Hendri menelusuri punggung Feli yang terbuka

"Aah," desahnya

"Aku ngga akan melepaskan mu malam ini sayang!" ucap Hendri ia pun segera menuntaskan hasratnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!