BAB 17

Di pagi hari semuanya terkejut karena pengantin baru itu keluar dengan rambutnya yang kering

"Pagi semuanya!" sapa Feli

"Selamat pagi pengantin baru!" ledek Felix

Feli pun melempar sendok "kau juga sama pengantin baru!"

"Sudah sudah ayo kita makan!" ucap Shaka melerai

"Hendri apa kamu sudah menemukan lokasi untuk membuka restoran?" tanya Shaka

"Em sudah Tuan. Tempatnya..." ucapan Hendri terhenti karena Shaka tersedak makanan. Mira buru-buru memberikan minum untuk suaminya itu

"Kamu ini apa-apaan Hendri. Kamu sudah menjadi anakku kenapa kamu masih saja memanggilku Tuan!" dengus Shaka yang sedang mengelap dagunya

"Panggil kita dengan sebutan Mami dan Papi," sambung Mira

Hendri sedikit kikuk. Ia masih belum terbiasa dengan panggilan itu "Ba baik Tuan, eh Pap.. Papi,"

Feli tertawa geli "Pelan-pelan saja. Nanti juga akan terbiasa," Hendri pun mengangguk kikuk.

"Baiklah kita makan dulu nanti kita bicarakan tentang restoran kamu di ruang keluarga." ucap Shaka

Semuanya makan dengan tenang hingga selesai. Sesuai dengan ucapan Shaka kini mereka berada di ruang keluarga untuk membicarakan Restoran Hendri

"Bagus, kamu memilih lokasi yang tepat!"

"Saya hanya akan merenovasi sedikit agar pelanggan merasa betah dan nyaman berada di Restoran," Hendri memberikan ponselnya pada Shaka memperlihatkan rencana renovasi itu Shaka dan Mira memperhatikan secara seksama.

"Bagus, Papi suka dengan desain ini. Bagaimana menurut Mami?" tanya Shaka pada Mira

"Bagus, Mami juga suka desainnya," Mira mengembalikan ponsel jadul itu kepada Hendri.

"Syukur kalau menyukai desain saya. Emm Mi Pi," ucap Hendri ragu-ragu

"Ada yang perlu Papi bantu?" tanya Shaka

"Em ada. Saya ingin meminta sedikit bantuan untuk promosi,"

"Oke. Saat pembukaan Mami akan mempromosikan Restoran kamu. Mami juga akan mengerahkan anak buah untuk membantumu di Restoran," ucap Mira

"Terimakasih" ucap Hendri.

"Kalau begitu saya pamit dahulu, saya ingin mensurvei tempatnya," sambungnya

Keduanya mengangguk. Hendri pun pamit dengan sopan, ia pergi bersama Feli mengendarai mobil yang biasa mereka pakai

"Mi, baru semalam kan mereka menikah. Tetapi kenapa rambut mereka nggak basah?" tanya Shaka

Mira tertawa geli "Sepertinya Feli sama seperti Mami dulu. Papi ingat kan yang seharusnya malam pertama malah jadi pagi pertama," ucap Mira

Shaka pun ingat "Benar juga ya.." Shaka tertawa kecil. Lalu dahinya mengerut melihat Mira menerima sebuah laptop yang baru saja di berikan oleh pengawal

"Mami beli laptop lagi?" tanya Shaka

"Untuk Hendri. Papi nggak liat tadi Hendri mendesain menggunakan ponsel jadul? Dengan adanya laptop ia akan lebih mudah bekerja." ucap Mira. Shaka pun mengangguk paham

Sementara itu 30 menit mereka sampai

"Hm bangunannya bagus dan kokoh sepertinya," ucap Hendri. Hendri mengajak Feli masuk ke dalam bangunan itu

"Bangunan ini baru selesai beberapa bulan yang lalu. Bau catnya juga masih menyengat,"

"Apa di sini ada tempat untuk beristirahat?" tanya Feli

"Di sebelah itu untuk istirahat karyawan dan," Hendri menggandeng Feli yang sedang memegang minuman. Ke duanya masuk kedalam ruangan yang cukup besar

"Ini ruangan untukku istirahat, aku juga sudah membeli tempat tidur jika ingin istirahat sebentar," Feli mengangguk-anggukkan kepalanya

Ia merasa kakinya pegal. "Sayang kakiku pegal," rengek Feli

Hendri mendudukkan Feli di ranjang ia memijat kaki Feli dengan lembut "kamu suami yang paling pengertian," puji Feli

"Kamu pun istri yang sangat baik," Ucap Hendri. Disela-sela memijat kaki Feli ia menjahili istrinya dengan mengusap milik Feli menggunakan telunjuknya

"Emm Hendri!" dengusnya. Hendri bangun tubuhnya mendekati Feli yang sedang duduk membuatnya bergerak mundur dan menabrak sandaran ranjang.

"Sayaaang," ucap Feli

"Semalem kamu belum memberikan kewajiban sebagai seorang istri!" ucap Hendri. Saat hendak mencium leher Feli ia segera menghentikannya.

"Jangan disini. Ayo kita pulang saja," ucap Feli. Ia membenarkan ucapan itu.

"Kita ke Apartemen saja. Lebih dekat daripada rumah." ucap Hendri.

Mereka bergegas menuju apartemen. Memang jaraknya cukup dekat hanya butuh 3 menit. Baru saja mereka memasuki apartemen tanpa sabar Hendri menyudutkan Feli di pintu. Menciumi leher dan membuat tanda merah di sana

"Ah," Feli meremas rambut hitam Hendri

"Sayaang di kamar saja,"

Hendri tak menghiraukan ucapan Feli ia masih sibuk menelusuri setiap jengkal leher istrinya. Dengan cepat ia membuka baju atasan dan bra Feli melemparnya sembarang arah.. Hendri berjalan mundur masih dengan menciumi leher istrinya, ia membuka atasannya dan melemparkannya di sofa ruang tamu.

"Aahh," desah Feli saat Hendri mulai melumat buah dadanya. Ia melepas kaitan rok juga pita celana dalam Feli, Pun sama melemparnya ke sembarang arah.

Pintu kamar terbuka. Hendri segera mendorong istrinya yang sudah telanjang itu ke ranjang. Ia membuka kaki Feli dan mengangkatnya ke ranjang. Hendri sangat handal dalam memanjakan Feli ia selalu membuat Feli merasa melayang dengan perlakuannya

Hendri bergegas mengunci pintu kamar membuang celananya ke lantai. Ia segera mengungkung Feli

" Sayang, lakukan tugasmu sebagai seorang istri " ucap Hendri

Dengan buas Hendri melumat bibir Feli. Seluruh tubuhnya diciumi tanpa celah membuat banyak tanda merah di payudara dan bagian paha dalam.

Sementara itu Felix mengunjungi apartemen Hendri, ia tau karena Hendri memberikan kode sandi. Ia datang karena ia ingin meminta minuman yang ada di kulkas Hendri. Ia terkejut melihat pakaian yang tergeletak di lantai saat ia baru memasuki apartemen

Samar-samar ia mendengar suara dua orang yang sedang mendesah. Felix penasaran ia mencari sumber suara itu dan itu di kamar ia menguping mamastikan suara siapa yang ada di dalam sana

"Aahh ahh Hendri,"

"Aku mencintaimu istriku," ucap Hendri

Felix menutup mulutnya "Oh ternyata ada Feli dan Hendri di sini. Bisa mampus aku kalau ketahuan ada di sini "

Ia bergegas keluar, saat sudah di luar ia menghela nafasnya "Hendri ganas juga ternyata," Felix tertawa geli

"Hmm aku jadi menginginkan Shireen."

******

Felix langsung mencium bibir istrinya dengan buas

"Sayang ini di dapur," ucap Shireen mendorong Felix

Felix segera membawa Shireen ke kamar, ia mendorong istrinya lalu melepaskan satu persatu pakaiannya

"Sayang pelan-pelan saja.. Ahhh," ucapnya

Junior Felix sudah terbenam di dalam milik istrinya

"Sayang aku minta maaf. Tadi aku ke apartemen Hendri. aku tak sengaja mendengar desahan mereka dan itu membuatku menginginkan hal yang sama," ucap Felix di sela pompaannya

"Ahh ahh ahh lakukan sayang!" Shireen pasrah dengan gerakan pinggul Felix yang semakin kuat. Entah sudah berapa ronde mereka melakukan itu.

"Cukup sayang ahhh,, milikku perih!" ucap Shireen yang akhirnya menyerah

"Tunggu aku keluar sayang,"

"Aaahhhhhh"

Felix mencium kening istrinya. " Istirahat lah sayang," Shireen mengangguk ia merasakan badannya terasa remuk. Sebelum Felix ke kamar mandi ia mencium milik Shireen terlebih dahulu.

"Emm," Shireen melengguh. Felix tertawa kecil. Ia segera membersihkan diri setelah menggempur tubuh istrinya.

Sementara itu seorang wanita yang terlihat marah karena ia melihat seorang laki-laki yang ia cintai ternyata menikahi orang lain

"Tidak! Kau hanya milikku. Tidak boleh ada yang bisa memilikimu selain aku. Tunggu saja aku akan merebut milikku, aku akan menghancurkan pernikahan kalian. Apapun akan ku lakukan asal kau kembali padaku!"

Shireen tiba-tiba terbangun dari tidurnya ia mempunyai firasat buruk. Pun sama halnya dengan Feli, ia terbangun karena ia bermimpi aneh.

"Ada apa sayang?" tanya Hendri yang masih memeluk Feli

"Aku bermimpi aneh, kamu meninggalkan aku,"

"Sudah lah itu hanya mimpi. Kita tidur lagi ya,"

"Tapiiii,,"

"Sayang aku sangat mencintaimu. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu, tidak ada wanita lain selain kamu. Itu cuma bunga tidur, kamu kecapean jadi bermimpi aneh. Ayo kita tidur lagi kalau kamu nggak mau tidur aku akan melakukannya lagi!"

Dengan cepat Feli memejamkan matanya ia memeluk Hendri dengan erat. Hendri pun mencium kening Feli agak lama. Ia tau jika Feli pasti masih memikirkan mimpi yang tak masuk akal itu

"aku nggak akan pernah meninggalkanmu sayang meskipun wanita itu kembali. Tak sedikit pun aku berfikiran untuk meninggalkanmu. Aku mencintaimu" gumamnya dalam hati

"Wanita itu? Siapa dia??" Feli bertanya-tanya dalam hatinya

Pikirannya menjadi kacau setelah mendengar suara batin Hendri.

Sentuhan lembut membuat Feli terbangun. Itu adalah suaminya

"Ayo makan dulu sayang. Ini sudah sore dan kamu belum makan apapun,"

"Emh iya sayang. Gendong aku ke kamar mandi!" pintanya

Hendri pun menuruti keinginan istrinya itu. Ia pun belum mandi karena memasak dahulu. Ke duanya mandi secara terpisah Hendri di shower dan Feli di bathtub, ia ingin merilekskan tubuhnya setelah dihujami tanpa ampun oleh Hendri.

"Aku keluar dulu ya sayang," ucap Hendri. Ia pun mengangguk. Dirinya juga harus bergegas menyelesaikan mandinya, tidak enak juga Hendri menunggunya terlalu lama.

Suasana di meja makan terlihat berbeda, Feli yang biasanya terus berbicara kini hanya diam membuat Hendri bingung dan penasaran. Ia mengusap pipi Feli

"Sayang?""

Feli terkejut lalu ia tersenyum

"Ada apa sayang? Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Feli menggeleng "nggak ada kok sayang,"

"Apa yang difikirkan istriku. Kenapa ia terlihat berbeda." gumamnya dalam hati

Feli tersenyum tipis, ia melanjutkan makanannya. Situasi yang sungguh tidak nyaman bagi hendri bagaimana tidak ia melihat Feli mencuci piring lalu membersihkan apartemen sendirian. Hendri mencekal pergelangan tangan Feli dan mendorongnya ke dinding.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Bersih-bersih,"

"Ini seperti bukan kamu yang biasanya. Kamu menjadi pendiam dan tak banyak berbicara denganku!"

"Sayang, aku harus fokus bersih-bersih agar cepat selesai,"

Hendri semakin mempererat cengkeramannya "Jawab dengan jujur Feli!"

"Sa..sayang,"

"Jawab jujur!" Hendri semakin terlihat menyeramkan

"Ka..kamu menyakiti tanganku," ucap Feli dengan nada bergetar

Hendri tersadar, ia melepaskannya kemudian memeluk Feli "Maafkan aku. Aku merasa ada yang aneh denganmu sayang. Apa karena mimpi itu? Sudah kubilang sayang, aku nggak akan pernah meninggalkanmu. Aku nggak akan pernah berpaling darimu sayang, aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri!"

Feli membalas pelukannya "Ya aku tau. Mungkin karena ini baru pertama kalinya aku jatuh cinta dan kita baru saja menikah jadi mimpi seperti itu rasanya sangat takut,"

"Aku mencintaimu istriku," Hendri terus mencium kening Feli membuat Feli tersenyum lega

"Ah mungkin pikiranku tentang Hendri terlalu berlebihan. Jika wanita yang dimaksud Hendri itu kembali pasti Hendri akan memilihku kan?" gumam Feli dalam hati

"Hendri apa kamu nggak lelah menciumiku terus!" dengus Feli

"Aku nggak akan lelah sayang. Aku selalu ingin mencium dirimu,"

Feli memutar bola matanya jengah namun dalam hatinya ia sangat bahagia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!