BAB 15

Saat ini mereka sedang sarapan tanpa kedua orang tuanya hanya ada Feli dan Dimas, keduanya menghela nafasnya.

"Sepi sekali ya, kak. Kak Intan pagi-pagi sudah pergi," ucap Dimas.

Feli mengangguk, "hm iya," ia mengeluarkan ponselnya hendak mengirim pesan untuk kembarannya tetapi ia lebih muncul lebih dulu.

"Kok sepi, Fel?" tanya Felix yang baru saja datang dengan Shireen.

"Mami dan Papi masih di luar kota, Kak Intan juga sedang pergi, jadi hanya kita berdua deh," ucapnya.

"Ya udah kita sarapan di sini deh," ucap Felix. Feli langsung girang karena ia bisa menjahili Felix.

Segala lelucon membuat meja makan yang tadinya sepi kini menjadi rame. Namun tiba-tiba mereka terkejut dengan kedatangan kedua orangtuanya, mereka berhamburan memeluk keduanya.

"Kenapa si ini. Baru ditinggal dua hari saja sudah seperti dua tahun," ucap Mira.

"Kita kangen, Mi," ucap Feli.

Mira menggelengkan kepalanya mereka sudah dewasa kenapa selalu bertingkah seperti anak kecil, Mira dan Shaka pun ikut sarapan.

"Setelah Papi berbicara dengan seseorang kita berkumpul di ruang keluarga. Ada yang Mami dan Papi ingin bicarakan," ucap Shaka. Mereka semua mengangguk.

Saat ini Shaka sedang berada di ruang kerja dan di hadapannya ada Hendri yang sedang berdiri.

"Duduk saja Hendri. Kita akan berbicara santai!" ucap Shaka.

Ragu-ragu Hendri menarik kursi lalu duduk memperhatikan raut wajah Shaka yang terlihat tenang membuatnya tidak bisa membaca ekspresi itu.

"Hendri, tolong jawab jujur! Apa kamu benar-benar mencintai Feli, putriku?" tanya Shaka kini matanya menyorot tajam.

Dengan rasa yakin Hendri mengangguk, "ya Tuan! Saya mencintai Nona Feli saat pertama kali bertemu."

Shaka manggut-manggut mendengar itu, "sangat tegas!"

"Lalu kau melakukan hal semacam itu di paviliun dengan rasa cinta atau hanya pelampiasan nafsu?"

Hendri sangat terkejut, ternyata Shaka juga mengetahui hal itu. Namun dengan rasa cintanya kepada Feli ia pun menjawab.

"Saya melakukannya karena saya sangat mencintai Nona Feli. Saya tahu Tuan saya telah lancang. Tetapi keadaan saat itu.. " ucapan Hendri terhenti karena Shaka memegang tangan Hendri yang sepertinya sedang ketakutan.

"Tidak perlu takut, saya tidak akan menghukum mu. Jadi bagaimana kelanjutan hubungan kalian?" tanya Shaka.

Hendri menunduk lalu menatap mata Shaka, "saya akan menikahi Nona Feli minggu depan!"

Jauh dari fikiran Shaka. Ia tak menyangka akan secepat itu. Ia mengira akan butuh 4 atau 5 bulan.

"Kau yakin?" tanya Shaka yang tak percaya.

Hendri mengangguk mantap, "saya sudah membeli apartemen untuk tinggal bersama. Saya juga mempunyai cukup uang untuk kehidupan Feli. Rencana saya setelah menikah saya akan membuka restoran mengingat karena dulu saya pernah bekerja di Restoran," ucap Hendri.

Shaka tertawa kecil mendengar itu, "baiklah. Saya setuju!"

Kedua mata Hendri melotot karena terkejut dengan keputusan Shaka.

"Tapi kau harus ingat Feli masih seperti anak kecil, kau harus bisa mengimbanginya!" ucapnya memberi peringatan kepada Hendri.

"Baik, Tuan! Terimakasih. Saya akan selalu menjaga Nona Feli dan akan selalu mencintainya!"

"Saya akan memberikan satu restoran untuk kau kelola," ucap Mira yang sedari tadi mendengar di balik pintu.

Hendri bangun dan menunduk hormat, "tidak, Nyonya. Bukannya saya ingin menolak tetapi saya ingin memulai semuanya dari nol. Bukannya saya ingin mengajak Nona Feli hidup susah tetapi dengan begini saya akan lebih bangga karena itu hasil dari jerih payah sendiri. Anda tidak perlu khawatir Nyonya, saya menjamin kehidupan Nona Feli akan bahagia seperti saat ini!"

Ke duanya tersenyum bangga dengan keputusan laki-laki yang tegas ini, lalu mereka mengajak Hendri ke ruang keluarga yang ternyata sudah berkumpul di sana, bahkan Intan dan Gerry pun sudah sampai di rumah saat Mira meminta mereka untuk pulang. Mereka berkumpul dan suatu kebetulan Feli duduk di kursi tunggal.

"Ada yang ingin Mami bicarakan tentang hubungan Feli," ucap Mira.

Semua mata tertuju pada Feli yang sedang terkejut, Mira pun melihat Hendri yang kini ia sedang berdiri di belakang kursi yang Feli duduki.

"Mami dan Papi ingin bicara apa?" tanya Intan yang penasaran.

"Minggu depan Feli akan menikah!" seru Shaka.

"Apa?!" mereka serempak menjawab, bukan karena apa, mereka terkejut dengan hal itu terlebih Felix. Ia sangat tahu jika kembarannya ini baru beberapa minggu berpacaran lalu apa yang Shaka bicarakan ini

"Tapi dengan siapa, Mi, Pi?" tanya Felix pura-pura tidak tahu.

Mira menatap Hendri, "dengan Hendri!"

Felix menatap Hendri tak percaya, "sengan penjaganya??" ucapan Felix seperti tidak percaya padahal dalam hatinya ia sangat bahagia. Ia bangun dari duduknya ia berdiri di hadapan Hendri, tak disangka ia malah memeluknya.

"Akhirnya kau akan jadi iparku. Memang dari awal aku menginginkan kau menjadi saudaraku. Kau sangat handal menjaga kami!" sambungnya, Hendri tersenyum lega karena semua keluarga Maharani mau menerima Hendri.

"Terimakasih, Tuan!" ucap Hendri.

Felix melepaskan pelukannya dengan kasar, "berhenti memanggilku Tuan! Kau sekarang saudaraku. Panggil saja Felix. Oke!" ujarnya.

"Beneran ini, Mi, Pi?" ucap Feli yang masih tidak menyangka, keduanya mengangguk.

Feli nampak girang lalu segera memeluk Hendri, "yeeyyy kita akan menikah. Kita akan menikah!" serunya dengan girang.

"Felii tahan," ucap Shaka menggoda, Feli tersadar lalu melepaskan pelukannya.

"Pernikahan kalian akan diadakan di sini," ucap Mira.

"Tapi Mi, Feli nggak mau terlalu banyak orang. Kepala Feli pusing. Kamu mau kan, sayang?" tanya Feli kepada Hendri.

"Apapun yang Nona inginkan," balasnya sambil tersenyum teduh menatap Feli.

Mira berfikir, "baiklah, hanya keluarga dekat saja. Dan biarkan reporter menyaksikan pernikahan kalian. Pernikahan kalian akan disiarkan di seluruh dunia!" ucapnya.

*******

Keesokannya Feli mendatangi Grace yang masih disandera, ia menyeringai licik melihat tubuh Grace yang berubah karena hasil karya Tio.

"Apa dia udah tau kalau kamu itu Arsyad?" tanya Feli pada Tio.

"Sudah Nona, dan dia sangat terkejut akan hal itu!"

"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Sebentar lagi aku akan menikah dan tak mungkin aku mengurusnya."

Tio menunduk hormat, "baik Nona dan selamat semoga acaranya lancar!"

"Ya udah aku pergi dulu, dan ambil ini!" Feli memberikan amplop tebal pada Tio yang sudah dipastikan itu uang yang sangat banyak.

"Terimakasih, Nona. Hati-hati di jalan!"

Feli mengangguk ia pun langsung pergi dari rumah kosong itu menggunakan mobilnya. Di tengah perjalanan ia bertemu seseorang yang sudah terkapar di jalan, Feli segera turun hendak membantu orang itu.

"Mas! Bangun Mas!" Feli mengguncang bahu pria.

Namun, tanpa di duga seseorang dari belakang membekap mulut Feli dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat tidur, tak lama Feli pun pingsan. Pria yang terkapar itu pun bangun sambil menyeringai ia melepas topeng kulitnya lalu tersenyum puas pada rekannya yang sedang menahan tubuh Feli.

"Thanks, bro!" ucapnya.

"Ga masalah bro! Jadi Feli mau dibawa ke mana?"

"Bawa aja ke mobil gue, Lo pulang aja!" perintahnya.

"Wah, lo udah gila ya. Berani banget main-main sama orang tua Feli! Hati-hati lo bisa mati di tangan mereka!" ucap rekannya memperingatkan.

"Gue ngga takut! Asalkan Feli bisa bersama gue! Gabriel ngga pernah takut dengan siapapun!" ucapnya berbangga diri. Ya! Dia adalah Gabriel, seorang pria yang hampir menodai Feli.

"Gue balik dulu ya!" ucap rekannya setelah memindahkan Feli ke mobil Gabriel, sedangkan ia hanya mengacungkan jempolnya saja.

"Lo harus jadi milik gue, Fel!" ucap Gabriel menatap Feli yang tengah pingsan, mobil melaju meninggalkan mobil Feli yang masih terbuka pintunya.

Setelah beberapa saat Feli tersadar dan ia terkejut saat melihat dirinya berada di sebuah gedung tua, lebih terkejut lagi karena kedua tangannya diikat dengan kuat.

"Heii,, siapa yang membawa ku kesini?!" teriak Feli.

Gabriel muncul dari balik pintu dan tersenyum licik, "hai sayang! Aku merindukanmu."

"Sialan! Bukannya kamu masuk penjara ya!"

"Tentu aku kabur, karena aku merindukanmu, Feli," Gabriel membelai wajah cantik Feli membuat Feli meronta.

"Jangan takut sayang, aku hanya ingin kamu jadi milikku!" seru Gabriel.

"Lepasin!" Feli semakin meronta apalagi saat tangan Gabriel memegang tengkuk Feli

"Brengsek!" umpatnya ia lalu menendang kaki Gabriel hingga membuatnya kesakitan. Namun bukannya marah, Gabriel malah semakin tertarik dengan Feli.

"Aku sangat suka melihatmu yang seperti ini, sayang," ucapnya ia lalu dengan paksa memberikan minuman yang telah ia campuri dengan obat.

"Brengsek kamu Gabriel! Aku nggak akan biarin kamu hidup!" bentaknya, Gabriel tertawa ia duduk menunggu obat itu bereaksi

Beberapa menit kemudian Feli merasakan tubuhnya mulai gerah, ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.

"Ada apa ini? Tubuhku gerah," gumamnya.

"Bagus!" Gabriel bangun lalu melepaskan ikatan tangan Feli.

"Kenapa, sayang?" tanyanya dengan lembut sembari mengusap wajah Feli.

Feli memejamkan matanya sentuhan itu membuat tubuhnya semakin meremang.

"Apa yang kamu masukkan ke dalam air itu?" tanya Feli.

"Sedikit obat perangsang! Aku ingin kamu menjadi milikku."

Feli hendak menolak tapi tubuhnya tak bisa menolak sentuhan lembut itu, Gabriel semakin senang karena Feli tak memberontak lagi bahkan Feli terlihat menyukai sentuhan itu.

"Hendri," lirihnya, ia berharap Hendri datang dan menghajar Gabriel seperti yang dilakukannya di Club malam itu.

Gabriel semakin mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Feli namun seketika dirinya terhuyung ke belakang dan pandangannya menjadi gelap. Tentu karena Hendri memukul tengkuk Gabriel dengan kayu hingga membuatnya pingsan.

"Sayang!" seru Hendri ia memeluk Feli yang terlihat lemas.

"Sayang, tolong aku," ucapnya lirih, Feli langsung melumat bibir Hendri dengan buas. Hendri pun tak bisa berbuat banyak karena Feli semakin dikendalikan oleh pengaruh obat itu

"Sayaaaangg, aaahhhhhh!!" Feli mencengkram erat bahu Hendri.

Nafas ke duanya terengah-engah, Hendri memeluk Feli lalu menciumi leher mulus itu.

"Aku mencintaimu, sayang."

"Aku juga mencintaimu, Hendri,, terimakasih karena sudah menolongku. Aku tak tau bagaimana nasibku jika kamu nggak datang tepat waktu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!