Feli duduk bersimpuh di depan Mira sembari menangis, "ampun Mami. Sumpah Feli,, Feli terbawa suasana saat itu dan jangan salahkan Hendri. Saat itu Hendri sudah menolak tetapi Feli ingin melanjutkannya, Mi. Maafin Feli dan Hendri, Mi!" ucapnya sembari terisak.
Mira memandang langit yang sudah mulai senja, "apa ini balasan untuk diriku atas perbuatanku dulu dengan Nathan. Aku tidak menyalahkan anak-anakku. Semua yang terjadi adalah karma untuk diriku."
"Bangun sayang! Mami nggak mau kamu seperti ini!"
"Nggak Mi? Mami maafin Feli dan Hendri dulu baru Feli mau bangun."
"Iya sayang, Mami maafkan! Sudah ya jangan menangis lagi," ucap Mira, ia mengusap sisa air mata di pipi Feli lalu mencium keningnya.
"Apa kamu ingin pernikahan ini dipercepat agar kamu bisa terus bersama Hendri?" tanya Mira.
Feli menggeleng, "Feli belum membicarakan ini dengan Hendri, Mi."
Ia mengusap rambut panjang anaknya, "baiklah. Bicarakan ini dan segera beritahu Mami."
Feli mengangguk Mira mencium pucuk kepala Feli lalu pergi meninggalkan Feli yang masih duduk. Bukan karena kecewa tetapi Mira baru ingat bahwa dirinya dan Shaka harus keluar kota untuk bisnis.
Tak lama Hendri mendekati Feli yang duduk sembari menangis, ia panik dan segera memeluk Feli.
"Kenapa sayang?" tanya Hendri.
"Mami.. Mami mengetahui semuanya. Mami mengetahui malam kejadian kita di paviliun."
Hendri terkejut, ia takut jika akan dihukum oleh Shaka maupun Mira. Karena ia sangat tahu kekejaman mereka berdua, "akan aku tanggung semua siksaan itu, sayang. Semua ini karena salahku," ucap Hendri.
Feli menggeleng, "Mami bukan ingin menghukummu tetapi Mami malah ingin menikahkan kita!"
Hendri semakin terkejut dengan ucapan Feli. Setelah berdiam cukup lama akhirnya Hendri membuka suara
"Ayo kita menikah!"
Feli melepaskan pelukannya lalu menatap Hendri tak percaya, "be.. benarkah?" tanya Feli memastikan.
Hendri mengangguk mantap, "ya! Memang aku ingin menikahimu, sayang, hanya saja status kita berbeda. Bagaimana bisa aku menafkahi kamu saat itu, sekarang aku sudah mempunyai cukup uang dan aku juga sudah membeli apartment untuk kita tinggal di sana."
Feli tak menyangka dalam sekejap Hendri mampu membeli apartment, "kau bersungguh sungguh?" tanyanya lagi.
Hendri mengajak Feli melihat apartemen yg ia beli. Setalah menempuh jarak 20 menit mereka sampai, Hendri terus menggandeng tangan Feli Sampai didepan pintu apartemen milik Hendri. Ia menekan nomor sandi dan pintu terbuka, terlihat jelas itu apartemen mewah bahkan perabotannya hampir sama di rumah Mira.
"Ayo masuk!" keduanya masuk, tanpa henti Feli merasa kagum dengan setiap ruangan.
"Di sini kamar kita," ucap Hendri, dan lagi Feli berdecak kagum ia melihat sekeliling dan itu seusai yang ia inginkan.
"Aku mendesainnya sesuai yang kamu inginkan, sayang," batin Hendri.
Feli merasa tersentuh dengan segera ia memeluk Hendri, "terimakasih, sayang."
Hendri mengusap punggung Feli, entah kenapa sejak saat itu sentuhan Feli membuat juniornya selalu menegang. Ia membopong Feli dan membaringkannya di ranjang
"Aku mencintaimu, Feli," ucap Hendri, ia pun mencium kening Feli dengan lembut.
"Kamu lapar kan, mandi dulu aku akan menyiapkan makanan," ucap Hendri lalu melumat bibir Feli lalu segera bangun menuju ke dapur.
"Memangnya kamu bisa masak?!" teriak Feli.
Namun tak ada jawaban. Feli mengangkat ke dua bahunya, "mungkin nggak dengar kali ya. Ya udah deh aku mandi dulu."
10 menit telah berlalu Feli melihat hendri yang sedang asik memasak. Feli memeluk tubuh Hendri dari belakang
"Kamu masak apa?" tanyanya.
"Nasi goreng seafood tanpa udang kesukaan kamu."
"Waahh itu kesukaanku!"
"Ayo makan dulu!" Hendri menata meja makan, ia langsung menyuapi Feli.
Terlihat mata Feli membesar, "emm nasi goreng buatan kamu sangat enak!" puji Feli.
"Dulu aku pernah bekerja di restoran, maka dari itu aku bisa memasak. Alasanku dulu membuka bengkel karena kasihan nenek di rumah sendirian. Jika dulu aku nggak membuka bengkel pasti aku tidak bertemu denganmu," Hendri menatap wajah cantik kekasihnya yang sedang tersenyum itu.
Hendri mendekatkan kepalanya mencium bibir Feli. Rasanya sungguh memabukkan membuatnya terus ingin mencium bibir Feli
*********
Sementara itu, Mira sedang cemas dengan Feli. Ia hanya duduk di sisi ranjang membuat Shaka bingung kenapa istrinya itu terdiam, ia mendekati istrinya itu
"Ada apa, Mi?" tanya Shaka.
"Pi, Mami ingin menikahkan Feli," ucapnya tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba sekali, Mi?"
"Mami melihat niat Hendri yang sangat ingin menikahi Feli."
"Hmm kalau begitu biar nanti Papi yang akan menanyakannya."
Mira mengangguk, "Mami mengantuk, Pi."
Shaka membaringkan istrinya ia pun ikut membaringkan diri di sampingnya, seperti biasa Shaka selalu memeluk Mira.
"Mi, sebenarnya Papi pernah melihat Feli dan Hendri melakukan sesuatu."
"Melakukan apa, Pi?"
"Saat itu Papi mau ke kamar Intan tetapi Papi mendengar suara Hendri di kamar Feli, Papi membuka sedikit pintu kamar dan melihat mereka berdua sedang berciuman. Bahkan Feli menarik Hendri agar menindih tubuhnya, saat itu Papi hendak masuk tetapi Hendri langsung bangun dan berkata sudah cukup. Sepertinya Feli sangat aktif sama seperti Mami nya."
Mata Mira mecicing lalu memukul dada Shaka, "kalau kamu nggak mulai duluan aku juga nggak akan seaktif itu!" dengusnya.
Shaka terkekeh geli, "baiklah, sekarang kita tidur lusa kita pulang dan kita membicarakan hal ini dengan Hendri," Mira mengangguk, ia mulai terlelap dalam tidurnya.
"Benar kata Mira. Lebih baik cepat menikahkan mereka," Shaka mencium kening istrinya lalu tertidur.
Sementara itu, sepasang pengantin baru itu sedang menikmati malam yang cerah di balkon kamar Shireen.
"Sayang, kamu ingin punya anak berapa?" tanya Shireen yang saat ini sedang dipeluk oleh suaminya.
"Berapapun yang Tuhan kasih yang terpenting kamu selalu sehat. Entah laki laki maupun perempuan semuanya sama saja."
Shireen mengangguk dan kembali menatap langit. Felix berbisik, "jika ingin punya anak kita harus sering membuatnya," ia segera menggendong Shireen membawanya ke ranjang dengan cepat Felix melepaskan baju tidurnya tak lupa dengan Shireen, sinar rembulan menerangi sepasang pengantin baru yang sedang memadu kasih penuh cinta itu.
"Saayaang, sudah cukup. Aku lelah," ucap Shireen.
"Satu kali lagi, sayang. Janji setelah ini kita tidur."
Felix semakin cepat dan Shireen semakin mengerang, "saayaaang akkuu ingiinn.. aaahhhhhh!" Felix langsung ambruk di atas tubuh istrinya, tak lupa sebelum tidur ia mencium kening Shireen lalu tertidur.
Pun sama dengan Intan yang tubuhnya sedang dijamah oleh Gerry..
"Pelan-pelan, By. Ahh!"
Gerry mempercepat pompaannya, "aahhhh!" keduanya saling pelepasan, Gerry mencium perut Intan lalu berbaring dan memeluknya.
"Malam ini malam yang panas ya, sayang," ucap Gerry.
Intan masih terengah-engah, "kamu masih kuat seperti dulu, By. Aku masih belum bisa mengimbangi mu."
Gerry tertawa, "itu karena aku ingin selalu memuaskan mu sayang, tentu aku harus kuat dan menusuk lebih dalam. Itu yang kamu suka kan."
"Ihhh Hubby!" teriak Intan.
Ia tertawa dan berkata, "baiklah, baiklah maafkan aku. Sekarang kamu tidur ya. Aku ingin mengambil minum," ucapnya.
Gerry memakai baju tidurnya lalu turun ke bawah menuju dapur, saat sudah sampai di dapur ia melihat Feli yang sedang duduk di atas meja dan Hendri sedang ada di hadapannya.
"Sedang apa mereka berdua?" gumamnya, Gerry terus memperhatikan mereka. Matanya terbelalak saat keduanya mulai berpelukan, Gerry menutup mulutnya karena ia sangat terkejut.
"Jadi Feli benar-benar mempunyai hubungan dengan Hendri?" ia bertanya-tanya sendiri tetapi matanya terus memperhatikan mereka.
"Aku mengantuk," ucap Feli.
"Tidurlah. Aku juga sangat lelah dan mengantuk. Kamu mau aku antar sampai depan kamar?"
Feli menggeleng, "nggak perlu. Kamu langsung ke paviliun aja," Hendri mengangguk lalu melumat bibir Feli sebelum mereka berpisah untuk tidur.
Dan lagi Gerry hanya bisa menganga melihat kejadian-kejadian itu, "spa benar yang aku lihat ini? Bahkan Hendri mencium leher Feli?" buru-buru ia bersembunyi saat Feli hendak menuju kamarnya.
Seperti tujuan awalnya, Gerry mengambil minum lalu bergegas menuju ke kamarnya. Ia ingin menceritakan apa yang ia lihat tadi kepada Intan. Namun diluar dugaan ternyata istrinya itu sudah mengetahui semuanya.
"Aku tau. Sudah lama mereka saling suka, Feli menceritakan semuanya kepadaku."
"Oh aku kira mereka berhubungan secara sembunyi-sembunyi."
"Mami dan papi juga tahu kok. Hanya saja mereka terlihat mesra saat berdua saja. Itu karena kemauan Hendri, karena saat itu Feli bercerita jika Hendri masih takut dengan Mami dan Papi," Gerry hanya mengangguk paham.
"Ya sudahlah, ayo kita tidur!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments