Di sebuah rumah kosong terlihat wanita yang sedang terikat itu meronta-ronta saat hendak diberikan makan oleh Tio
"Cepat buka mulutmu!" bentak Tio dengan garangnya.
"Lebih baik gue mati kelaparan daripada harus hidup tapi tersiksa!" bentak Grace, Tio mengeraskan rahangnya lalu.
Plak!
Sebuah tamparan melayang di pipi kanan Grace, Tio lalu mencekik leher Grace dengan kuat membuat Grace tak bisa bernafas.
"Saya akan dengan senang hati melenyapkan mu gadis kecil, tapi saya tidak bisa bertindak sebelum Nona Muda yang memerintah!" ucap Tio lalu melepas cekikan itu.
Grace terbatuk-batuk. "Jadi hidupmu hanya bergantung pada Feli? Cih menyedihkan!"
Ucapan Grace membuatnya semakin marah ia mencengkram erat rahang wanita itu lalu berkata.
"Aku berhutang budi pada Nona Muda jika bukan karena Nona Muda yang mencegahku, kamu sudah pasti mati di tanganku pada saat itu, Silvia!" Grace tercengang bagaimana pemuda di depannya mengenal nama kecil Grace.
"Si.. Siapa kamu?"
Kini nada bicara Grace semakin takut, ia tak lagi menunjukkan wajah angkuhnya. Tio tertawa hambar lalu menghempaskan rahang Grace begitu saja lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Grace sambil menyalakan sebatang rokok.
"Kamu ingat dengan wanita bertubuh kurus bernama Arsya?" tanya Tio.
Grace lalu terbelalak mendengar nama itu. "Ar.. Arsya??"
"Apa hubungannya denganmu?" sambung Grace.
Tio menghisap rokok itu lalu berbalik menatap Grace. "Dia adikku! Wanita yang kamu tabrak hingga mati!"
"Ap.. Apaa??? Itu artinya kau adalah Arsyad?"
Sudut bibir Tio terangkat. "Lama tak berjumpa Silvia!"
"Tapi bagaimana bisa? Aku sudah membunuhmu waktu itu!"
"Dengan apa? Dengan pisau dapur yang tak berguna itu?"
"Dengarkan ini baik-baik, Silvia!"
Flashback
"Kenapa sih dari kecil Arsya selalu mendapat perhatian dari Ayah? Aku juga sama-sama anak Ayah meskipun aku adalah anak sambung!" ucap Silvia. ( nama kecil Grace )
"Kenapa kamu nggak melenyapkan Arsya dan Arsyad saja. Kamu tinggal menabrak Arsya lalu pergi dari sana seakan-akan Arsya meninggal karena tabrak lari," ucap ibu nya Grace.
"Benar juga kata Mama, aku harus membunuh mereka dan menjadi putri tunggal Ayah. Dengan begitu harta kekayaan Ayah akan jatuh di tangan kita!"
Grace lalu melancarkan aksinya dengan menabrak Arsya yang hendak menyebrang.
"Selamat tinggal Arsya!" Grace melajukan mobilnya dengan cepat lalu menabrak Arsya hingga terpental. Grace tertawa terbahak-bahak tanpa menoleh ke belakang.
Arsyad ( Tio ) yang hendak memberi tahu Arsya jika Grace berniat jahat terkejut karena adiknya sudah terkapar di tengah jalan dengan darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya. Arsyad bertekad membalas perbuatan adik sambungnya itu.
Malam hari Arsyad bersembunyi di balik kemari, Grace masuk dengan membawa pisau dapur hendak menikam Arsyad yang mengira jika kakak sambungnya itu ada di ranjang. Ia lalu menikam gundukan di atas ranjang yang ternyata hanyalah patung lilin. Darah merembes membasahi selimut karena sebelum itu Arsyad telah menaruh darah hewan tepat di bagian perut patung lilin yang dibuat seperti Arsyad.
"Selamat tinggal Kak Arsyad!" Grace dengan santainya memasukkan tubuh Arsyad ke dalam karung besar dan bergegas keluar dari kamar itu dan Arsyad pun keluar dari persembunyiannya.
"Kurang ajar! Kau akan mendapatkan balasannya!"
Tahun berlalu Arsyad selalu mengintai gerak gerik Grace, di kampus ia hendak menabrak Grace dengan motornya namun kejadian itu dihentikan oleh Feli yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Minggir!"
"Aku tau kamu ingin membalas dendam dengannya, ikutlah denganku dan jadilah tangan kananku, aku akan menyerahkan Grace untuk kau bunuh," ucap Feli.
"Bagaimana kau bisa tau?"
Feli menyeringai "Arsyad Eka Gustiwana, itu kan namamu?"
Arsyad tercengang ia tak bisa berucap apa-apa, bagaimana bisa wanita itu tau tentang nama lengkapnya.
"Tak perlu kau pikirkan, pikiran saja tawaranku!"
Arsyad menimbang apa yang diucapkan wanita cantik itu, Feli pun memberikan alamat rumahnya dan membuat Arsyad terkejut.
"Anda Putri dari pengusaha MH Assegaf?" tanyanya.
"Benar! Jadi kau tak perlu ragu denganku!"
"Baik saya setuju!"
"Bagus, sekarang namamu adalah Tio agar dia tak mencurigai dirimu!"
Flashback off
"Maafkan aku Kak, aku begitu karena Ayah selalu membedakan aku dengan Kakak dan Arsya."
"Tapi bukan berarti kamu bisa membunuhnya!" bentaknya.
"Kita lihat saja nanti, dendamku padamu takkan pernah bisa hilang. Aku ingin kau mati!" ucapnya, ia lalu menyumpal mulut Grace dengan kain.
*********
"Selamat pagi, Bi!" sapa Hendri pada Bi Nisa.
"Eh Hendri, selamat pagi juga. Bagaimana kemarin di Jepang?" tanya Bi Nisa.
"Alhamdulillah aman, Bi. Bibi mau masak apa?"
"Bibi mau masak nasi goreng buat Nona Muda Feli."
"Biar Hendri aja Bi yang buat!" Hendri segera meraih pisau dapur yang dipegang Bi Nisa.
"Memangnya bisa?"
"Dulu Hendri pernah bekerja di restoran Bi, jadi membuat nasi goreng hal yang kecil!"
Bi Nisa mengangguk ia memperhatikan Hendri yang lihai memasak.
"Ya sudah Bibi mau buat susu untuk Nona Muda ya," ucap Bi Nisa Hendri pun mengangguk.
Sementara itu wanita yang dibicarakan masih bergelung dengan selimut. Bi Nisa datang membawakan sarapan yang telah Hendri buat.
"Nona Muda, ayo makan dulu. Bibi udah buatkan nasi goreng dan susu."
"Taruh saja di meja nakas Bi, sebentar lagi Feli bangun."
Bi Nisa meletakkan nampan itu. "Nona Muda, tadi ada pesan dari Hendri jika Nona Muda sudah bangun temui Hendri di belakang taman!"
Mata Feli yang masih terpejam tiba-tiba terbuka begitu mendengar nama Hendri, ia langsung duduk dan menatap Bi Nisa.
"Yang benar, Bi?" tanyanya antusias dan dibalas anggukan.
Feli bergegas menyantap sarapan itu namun ada yang aneh, ini seperti bukan buatan Bi Nisa. Rasa lapar itu membuat Feli makan dengan lahap ia lalu bergegas mandi untuk bertemu Hendri.
Sedangkan Hendri dan Isal masih asik bermain catur di taman belakang.
"Hendri, gue liat lo suka ya sama Nona Muda?" tanya Isal.
Hendri tersenyum. "Ya, gue suka sama Nona Muda, namun bukan sekedar suka melainkan cinta!" seru Hendri.
"Bilang saja padanya."
"Bilang apa? Gue sama Nona Muda udah pacaran!"
Isal menjatuhkan goreng yang baru saja ia ambil. "Lo serius?"
Hendri mengangguk. "Ada mungkin satu minggu."
"Gilaaa,,, selamat ya!" Hendri membalasnya dengan senyuman.
"Eh Nona Muda datang!"
Ke-dua bangun dari duduknya lalu menyapa Feli "Selamat pagi Nona Muda!"
"Selamat pagi!" sapanya balik.
"Nona saya permisi dulu ya, ada hal yang harus saya kerjakan!" Isal buru-buru pergi karena tak ingin mengganggu mereka.
"Ada apa, sayang?" tanya Hendri.
"Loh Bi Nisa bilang katanya aku disuruh nemuin kamu di sini!"
"Aku?" ucap Hendri sambil menunjuk dirinya sendiri, "aku nggak bilang gitu kok!"
"Ihhh Bi Nisa inii!" dengus Feli yang membuat Hendri terkekeh, Feli hendak pergi tapi Hendri menarik tangan Feli dan merengkuh pinggang kecil itu membuatnya semakin dekat bahkan nafas Hendri menerpa wajah cantiknya.
"Aku suka liat wajah kamu yang memerah," ucapnya lalu mencium kening Feli.
Ponsel Hendri bergetar ia lalu mengambilnya dari saku saat ia melihat nama yang ada di layar seketika wajahnya berubah, matanya semakin tajam bahkan Feli pun terkejut dengan perubahan wajah kekasihnya.
"Ada apa?" tanya Feli sambil mengusap dada Hendri dengan lembut.
Hendri tersadar lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku, ia menatap Feli sambil tersenyum.
"Ngga ada apa-apa, sayang."
"Eumm beberapa hari lagi Felix menikah dan pasti kamu akan sibuk!"
"Sesibuk apapun, aku akan selalu ada untukmu sayang," Feli tersipu malu mendengar itu.
"Kamu malu? Kok wajahnya memerah."
"Ihh,," Feli meronta agar Hendri melepaskan pelukannya pada pinggang kecilnya.
"Nggak usah malu, kan sama aku ini," Hendri mencium pipi kanan Feli lalu melepaskan pelukan pinggang itu seketika Feli berlari meninggalkan Hendri yang masih tertawa. Tiba-tiba wajahnya kembali berubah ia menatap ponselnya lagi.
"Kenapa kau harus menghubungi disaat aku sudah melupakan mu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments