BAB 10

Keesokan harinya Feli sedang dibuat pusing oleh Clint luar negeri karena tiba-tiba memutuskan kontrak kerjasama dengan perusahaannya. Sebenarnya itu bukan hal yang penting toh tanpa kerjasama dengan perusahaan itu Feli masih bisa berdiri.

"Jadi bagaimana saran kamu, Ela?" tanya Feli pada sekertaris yang masih duduk de depannya.

"Saran saya, lebih baik Nona mendatanginya ke Jepang. Agar Tuan Yutaka bisa melihat tekad Nona yang bulat untuk melanjutkan kembali bekerjasama dengan kita."

Feli mengetukkan jari telunjuknya pada meja sembari berfikir

"Benar juga. Tapi pernikahan Felix tinggal beberapa hari lagi."

"Atau Nona bisa mengirim Tio ke sana," ucap Ela.

"Biar saya saja yang ke Jepang, Tio sedang ada urusan," ujarnya sambil menegakkan tubuhnya.

"Saya minta tolong persiapkan berkas yang penting. Besok pagi saya akan berangkat!"

Ela mengangguk lalu mulai memilih berkas yang menurutnya sangat penting.

"Ela, saya keluar dulu ya. Kalau ada yang mencari bilang saja saya sedang makan di luar," pesannya.

"Baik Nona, hati-hati di jalan."

Feli keluar dari ruang meeting dan bertemu Hendri di depan pintu membuat Feli terkejut dengan kedatangan Hendri yang tiba-tiba.

"Kamu ngagetin aku, ish!" ucap Feli.

Hendri tertawa kecil "Maafkan aku, Nona,"

"Tumben baru datang?" tanya Feli.

"Tadi di rumah ada briefing dulu sambil makan siang, maaf ya aku datangnya telat. Nona udah makan?"

"Ini baru mau makan," ucap Feli sambil memegangi perutnya.

"Aku punya sesuatu untuk Nona," ujar Hendri, ia lalu menarik tangan Feli untuk masuk keluar dari perusahaan lalu melakukan mobilnya.

"Sesuatu apa?" tanya Feli penasaran.

Hendri tersenyum "Nanti kamu juga akan tau."

Feli semakin dibuat penasaran oleh kekasihnya itu apalagi jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju danau dengan pemandangan yang indah. Setelah 20 menit berkendara akhirnya mobil itu sampai dan benar mereka berdua mendatangi danau yang Feli maksud.

"Kok kita kesini?" tanyanya lagi.

Hendri tersenyum ia lalu menutup mata Feli dengan kain hitam "Kamu percaya aku kan?"

"Aku percaya!"

Hendri terus membawa Feli ke tepi danau dan setelahnya Hendri membuka kain hitam itu seketika Feli terbelalak karena dirinya sedang berdiri di tengah taburan bunga mawar putih kesukaannya. Hendri lalu menekuk kedua kakinya lalu meraih tangan Feli.

"Felixcia, maukah kamu menjadi istriku?"

Degup jantung Feli makin tak beraturan, ada rasa senang bahagia dan terharu.

"Aku, aku, aku mau Hendri," ucapnya. Hendri merasa senang lalu menyematkan cincin dengan mata berlian berwarna putih itu lalu mencium punggung tangan Feli.

Feli merasa sangat terharu ia langsung memeluk Hendri saat ia sudah berdiri.

"Aku sangat terharu sayang, aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu, sayang."

ke duanya melepaskan pelukannya Hendri lalu mencium kening Feli dengan lembut.

"Sayang, apa kamu bisa menerima diriku dan rahasia kelam hidupku?" tanya Hendri.

Feli tersenyum, "aku menerima apapun dirimu dan rahasia kelam dalam hidupmu. Tapi apa kamu bisa menerima diriku jika terjadi sesuatu yang mengejutkan dirimu suatu saat nanti?" kini Feli berbalik tanya.

"Apapun dirimu sayang, aku akan menerima semuanya baik kekurangan dan kelebihan dalam hidupmu karena aku sangat mencintaimu dengan tulus," ujarnya sambil mengusap pipi mulus Feli dengan lembut.

"Aku lapar," ucapnya.

"Ayo kita ke kursi itu, aku sudah membawa makanan dari rumah."

*******

"Felix, besok mau nggak kamu nganterin aku ke butik?" tanya Shireen pada calon suaminya.

"Memangnya kamu mau beli apa?"

"Aku mau beli dress yang ini," Shireen memberikan ponselnya pada Felix.

"Ya udah besok aku anterin," Felix mengusap lembut rambut Shireen lalu menyadari sesuatu.

"Pipi kamu kenapa kemerahan gini?" tanya Felix yang panik.

Shireen kelabakan ia tak bisa menjawab pertanyaan Felix yang secara tiba-tiba.

"Jawab sayang! Apa Papa Darren yang melakukan ini?" desak Felix.

"Kamu tenang dulu, sayang, waktu itu aku di dapur dan pipiku kena air panas," kilahnya.

"Beneran?" Felix menelisik dua bola mata Shireen.

"Iya, sayang. Aku ngga mungkin bohongin kamu."

"Ya sudah, kamu hati-hati kalau di dapur. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi oke?" Shireen membalasnya dengan anggukan.

Toktok!

"Masuk!"

"Tuan Muda, maaf di depan ada Tuan Besar Shaka!" ucap sang sekretaris.

"Papi?"

Shaka lalu masuk ke dalam ruangan Felix.

"Dean, kamu tetap di sini, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kalian."

Sekertaris bernama Dean itu mengangguk ia lalu duduk di kursi yang selalu ia gunakan.

"Ada apa Pi?" tanya Felix yang melihat wajah panik dari Papinya.

"Ada yang membocorkan data perusahaan kamu. Lihat ini!" Shaka memberikan map berwarna kuning itu lalu Felix membacanya dengan seksama.

"Sialan. Bagaimana data sepenting ini bisa bocor?!"

"Papi tanya, siapa yang waktu itu ikut meeting?"

"Hanya aku, Dean, Sari dan Nesya."

"Saya tidak mungkin membocorkan data perusahaan Tuan Muda!" seru Dean.

"Pi, Felix akan menyelidiki semuanya!" Felix mengeluarkan dua buah pena dalam laci nakasnya lalu memberikan pena itu pada Dean.

"Dean, aku minta tolong kamu kasih dua pena ini sama Sari dan Nesya!"

Dean yang bingung tetapi menerima pena itu "Baik Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi!" Dean langsung pergi untuk menemui dua orang itu.

"Sari, Nesya ini ada titipan dari Tuan Muda, katanya kalau pakai pena ini tulisan kalian jadi lebih jelas dan Tuan Muda juga lebih mudah memahami tulisan kalian," ucap Dean, Sari menerimanya lebih dulu dan Nesya mengambil pena itu secara ragu.

"Pena ini kan sama seperti pena yang selalu kita pakai," ucap Nesya.

Dean mengangkat kedua bahunya "Mana ku tau, ya sudahlah kalian terima saja. Toh itu cuma pena kan!" ia lalu pergi ke mejanya untuk mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.

Sementara itu

"Pena dari siapa?" tanya Shaka.

"Aku mendesain pena itu dari Mami, Mami yang memintaku setiap ruangan mereka harus ada CCTV ataupun perekam suara," ucap Felix.

Shaka mengangguk, ide dari istrinya memang tak pernah gagal, entah dari mana ide itu berasal.

"Ya sudah Papi balik lagi ke perusahaan, ya," pamitnya

"Hati-hati Pi." ucap ke duanya.

"Sayang apa kamu juga memasang alat itu pada Dean?" tanya Shireen.

"Tentu saja sayang, aku ingin tahu siapa musuhku di sini. Begitu aku tau dia penghianat aku akan menendang mereka!" serunya.

*******

Malam harinya Feli bersiap untuk terbang ke Jepang esok hari, ia mempersiapkan segala perlengkapannya selama di Jepang.

"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Mira, ia terkejut melihat Feli yang sedang memasukkan baju ke dalam koper.

"Besok Feli mau ke Jepang Mi, karena tiba-tiba Tuan Yukata memutuskan kerjasama dengan Feli," tuturnya.

"Perusahaan Tuan Yukata nggak sebanding dengan perusahaan kamu, kenapa kamu repot-repot datang ke sana?"

"Mi, Feli ingin merasakan perjalanan bisnis seperti yang Mami dan Papi lakukan dulu."

Mira menghela nafasnya berat, "tapi Mami mau kamu harus ditemani oleh pengawal ya, Mami nggak mau kamu sendirian di sana!"

Feli menggeleng, "nggak perlu Mi, Feli mau jadi gadis mandiri!"

Mira tak bisa berkutik, ia pun lupa jika anaknya sudah besar bukan anak kecil lagi.

"Baiklah, tapi janji kalau ada apa-apa langsung hubungin Mami! Mami akan langsung datang!"

Feli mengangguk ia lalu memeluk Mira, "baiklah Mami, Feli sayang Mami."

"Mami juga sangat sangat sama Feli."

"Mi, boleh nggak Feli ketemu Mami Tasya?" tanyanya.

Mira melepaskan pelukannya lalu menatap Feli, "lain kali ya sayang, tubuh Mami serasa lelah jadi nggak bisa berganti dengan Mami Tasya."

"Mami kenapa? Mami sakit?" tanya Feli yang mulai khawatir

Mira menggeleng, "Mami hanya lelah, sayang, kamu ngga perlu cemas. Ya udah Mami istirahat dulu ya, sayang."

Mira mencium kening putrinya dengan lembut lalu keluar dari kamar Feli setelah menutup pintu tiba-tiba Mira pingsan untungnya Shaka dengan sigap menangkap tubuh istrinya.

"Mi, bangun Mi," Shaka menggendong Mira ala bridal style ke kamarnya karena ia tak ingin menghebohkan seisi rumah.

Sampai di kamar Shaka dengan pelan merebahkan tubuh istrinya ke ranjang lalu menelpon Dokter Clara.

"Tuan, Apa Nona Mira akhir-akhir ini mengalami stress?" Shaka terkejut mendengar itu.

"Saya nggak tau Dok, yang sering saya liat Mira selalu menghabiskan waktunya di ruang kerjanya."

"Nona Mira mengalami stress berat dan kemungkinan ini sudah lama."

"Astaghfirullah. Lalu apa Mira harus di rawat?"

"Tidak perlu, saya akan memberikan resep obat yang terbaik untuk Nona Mira, Tuan bisa menebusnya besok."

"Berikan apapun yang terbaik untuk istriku!"

Dokter Clara mengangguk ia menuliskan resep obat sedangkan Shaka menciumi kening Mira yang masih terpejam.

"Maaf mengganggu, ini resep obatnya. Kalau begitu saya permisi Tuan, dan semoga Nona Mira cepat sembuh!"

"Baik, terimakasih Dok. Hati-hati di jalan!"

Setelah dokter Clara pergi Shaka langsung memeluk istrinya, "apa yang terjadi sayang, apa yang kamu pikirkan hingga kamu seperti ini? Aku seperti suami yang tak berguna," ucapnya.

"Aku nggak apa-apa, sayang. Aku cuma rindu kamu," balas Mira dengan suara lirihnya.

"Sayang!" Shaka langsung mengusap pipi Mira.

"Kalau ada apa-apa cerita, sayang. Jangan dipendam sendiri. Aku suamimu, apa kamu nggak menganggap aku sebagai suamimu lagi?"

"Bukan begitu, aku hanya nggak mau kamu kepikiran, sayang," Mira melingkarkan kedua tangannya pada leher Shaka.

"Lalu kenapa kamu selalu seperti ini?"

"Aku pasti akan cerita jika sudah tenang, sayang. Sekarang aku merindukanmu."

Shaka mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa saat ia panik tetapi istrinya malah menginginkan hal seperti itu.

"Baiklah istriku sayang, aku akan menuntaskan rasa rindumu. Bersiaplah! Malam ini aku akan melakukannya dengan kuat dan sangat keras agar kamu puas malam ini!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!