Hari-hari berlalu, ke dua pihak keluarga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara pernikahan Felix dan Shireen.
"Fel, gimana kalau Grace bakalan hancurkan acara pernikahan aku ya?" tanya Felix.
"Udah kamu tenang aja. Grace nggak akan pernah bisa hancurkan acara pernikahan kamu. Percaya deh sama aku!" ujarnya sambil tersenyum.
"Kenapa kamu bisa berkata begitu?" tanya Felix penasaran, ia juga tak melihat Grace lagi setelah kejadian itu.
"Kamu lupa Mami kita seperti apa? Mami nggak akan biarin Grace merusak semua ini," mendengar itu Felix mulai tenang. Yahh ia yakin Mami tersayangnya itu pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.
"Fel, aku udah mau nikah tapi kenapa kamu belum nyari pasangan?"
Feli mendadak kikuk, ia bingung akan menjawab apa pada kembarannya itu
"Akuu nanti ajah," kilahnya.
"Loh kalian di sini? Mami nyariin dari tadi," Mira bergabung bersama dua anak kembarnya
"Iya mi, Mami bawa bunga dari siapa?" tanya Felix saat melihat Mira membawa bunga mawar merah.
"Oh ini, ngga tau dari siapa. Tadi mami nemuin ini di depan kamar Feli," jelasnya.
Feli terkejut ia menatap wajah maminya "Di depan kamar aku?"
"Waahh ternyata Feli punya penggemar rahasia ya.. siapa nih, pasti salah satu dari pengawal kita, Mi," kedua pipi Feli nampak bersemu merah, ia menunduk malu dengan ucapan Felix.
"Atau jangan-jangan Hendri, Mi!" tebak Felix tepat sasaran.
"Ihhh apaan si kok jadi Hendri yang di bawa-bawa!" dengusnya sementara Mira hanya tertawa tentu ia tahu siapa yang menaruh bunga itu sudah pasti Hendri karena ia melihatnya sendiri.
"Sudah, sudah.. nih bunganya. Mami pergi dulu ya. Kalian berdua yang akur jangan berantem terus!" Mira memberikan bunga itu pada Feli dan tak luput dari sorakan Felix.
"Ya udah si Fel kalau itu benar dari Hendri, dia kayaknya orang baik loh."
"Ih udah deh jangan nuduh sembarangan. Bisa aja kan ini bunga Tante Tari yang jatuh di depan kamar aku!"
"Ya juga yah. Kan Tante Tari suka bunga itu," gumamnya.
"Felix, Feli?" panggil Shireen dengan suara yang lembut, ke duanya menoleh bersamaan.
"Sini sayang!" Felix melambaikan tangannya. Shireen segera duduk di samping pria yang sebentar lagi akan jadi suaminya.
"Ya kan aku jadi nyamuk!" ujar Feli dan itu membuat Felix tertawa kencang hingga memegangi perutnya yang sakit.
"Oh iya Feli, tadi Bibi Nisa minta tolong buat ngasih ini ke kamu," Shireen menyodorkan kotak berwarna merah itu.
Feli menerima dan membuka kotak itu ia tersenyum melihat cincin manis bermata biru, "cantiknya," gumam Feli.
"Tapi kenapa bi Nisa ngasih ini?"
"Kata Bi Nisa itu dari seorang laki-laki, dia udah mengagumi kamu sejak pertama kali bertemu."
Feli mengangguk ia tersenyum tentu ia tahu siapa pengirim cincin yang sudang melingkar di jarinya.
"Aku mencintaimu, Hendri," gumamnya dalam hati
Sementara itu Hendri melihatnya dari jauh, ia senang Feli bahagia menerima kado darinya. Tiba-tiba ia terkejut dengan kedatangan Intan di belakang Hendri
"Astaga Nona muda! Saya terkejut!" ucap Hendri yang sedang memegang dadanya.
"Kamu ngintip siapa?"
"Nggak ngintip siapa-siapa Nona Muda."
Intan mencari arah yang sedari tadi Hendri perhatian, beberapa saat kemudian ia tersenyum penuh arti.
"Kamu menyukai Feli, ya?" tebak Intan.
Hendri menggeleng kuat, "tidak!"
Intan terkekeh, "kalau suka nggak apa-apa. Aku merestuinya kok," setelah mengatakan itu ia pergi dari sana meninggalkan Hendri yang masih senyum-senyum sendiri.
"Tapi, apa mungkin Nona Feli bisa menerima sebuah rahasia yang telah lama aku sembunyikan?" gumam Hendri gelisah.
Ia pun pergi ke dapur untuk makan malam yang tertunda.
Di dapur ada Bi Nisa yang sedang mencuci piring. Hendri menyapanya dengan sopan. Bi Nisa tersenyum lembut ke arah Hendri.
"Mau makan, nak?" tanya Bi Nisa.
"Iya Bi, apa masih ada lauk?"
Bi Nisa lalu mengeluarkan makanan kesukaan Hendri membuat matanya berbinar.
"Waahh udang saus tiram! Kok Bi Nisa tau aku suka itu?" tanya Hendri
"Bibi selalu memperhatikan mereka, jadi bibi tau masing-masing makanan kesukaan mereka," jawabnya.
Hendri mengangguk ia segera mengambil nasi dan memakannya dengan lahap. Bi Nisa bahagia melihat Hendri makan dengan lahap, ia mengambil air mineral lalu memberikannya kepada Hendri.
"Makasih ya, Bi," ucapnya dengan mulut yang penuh makanan. Bi Nisa hanya mengangguk lalu melanjutkan aktivitas cuci piring yang sempat tertunda itu.
"Cepat habiskan sebelum ada yang melihat!" ucap Bi Nisa.
"Memangnya kenapa?"
"Nona muda Feli sangat membenci udang maka dari itu di rumah ini dilarang keras ada udang."
"Loh kok begitu?"
"Dulu Nona muda Feli pernah makan kerupuk udang dan itu membuatnya sesak nafas. Dan ada satu kejadian yang membuat mereka semua sangat membenci udang. Karena saat itu seorang pelayan baru tak tau jika Nona Feli alergi udang, ia memasak olahan udang dan membuat Nona muda Feli hampir kehilangan nyawanya."
Hendri terkejut, "separah itu, bi?"
Bi Nisa mengangguk, "ya dari yang bibi dengar seperti itu. Maka dari itu di rumah ini dilarang keras ada udang."
"Padahal udang makanan favorit aku, tapi kalau Feli ngga suka ya udah deh," gumamnya.
Bi Nisa tersenyum ia tahu hubungan Hendri dan Feli karena ia sering melihat pasangan ini selalu bermesraan setiap malam di dapur.
*****
Sementara itu, di ruang bawah tanah perusahaan Feli, Grace sedang mencoba membuka ikatan di ke-dua tangannya beruntung ia faham dengan pola ikat tali hingga membutuhkan waktu 30 menit.
"Akhirnya aku bisa lepas. Sekarang aku harus keluar dari sini, untung saja kemarin aku melihat pintu keluar yang digunakan Feli," ia berjalan mengendap-endap karena beberapa pengawal sedang tertidur.
Ia mengambil kunci yang tergeletak di atas meja, dengan gerakan perlahan Grace memutar kunci itu.
Ceklek
"Hmm apa itu," gumam salah satu pengawal. Grace mulai panik namun setelah menunggu tak ada pergerakan ia menoleh ke belakang ternyata mereka masih tertidur. Dengan cepat Grace membuka pintu dan segera pergi dari sana. Dan ia pun masih bingung di hadapannya ada sebuah rak berkas yang besar. Ke dua kakinya terasa lemas, ia fikir akan bebas dengan mudah nyatanya ia malah berhadapan dengan rak berisi berkas itu. Namun seketika rak itu perlahan bergerak Grace buru-buru bersembunyi di bawah meja.
"Semoga ia tak menemukan aku!" gumamnya. Ia tak lagi mendengar langkah kaki, dengan cepat ia mengintip dan sebuah keberuntungan pintu lemari itu tak tertutup ia bergegas menuju rak itu dan berhasil keluar.
"Akhirnya,," ucapnya. Namun ia kembali menyernyit, yang ia lihat adalah sebuah ruangan besar bisa diyakini ini adalah sebuah ruangan CEO. Terpampang jelas foto besar Feli di belakang kursi kebesaran itu.
Tak ingin membuang waktu Grace dengan cepat keluar dari ruangan Feli, segala cara ia lakukan agar bisa keluar dari perusahaan itu. Ia berhasil dan saat ini Grace berada di tempat parkir, Grace menyetop taksi dan segera pulang ke rumahnya.
"Ingat Fel, gua akan balas dendam!" ucap Grace dengan geram.
Sementara itu di rumah Shireen sedang terjadi perdebatan antara Darren sang ayah dengan Shireen putrinya.
"Papa tau kamu sangat mencintai Tuan muda Felix, tapi bukan berarti kamu bisa bebas melakukan apa saja!" bentaknya.
"Pa, sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Jadi nggak usah membahas hal yang sudah pernah kita bahas sebelumnya," tutur Shireen dengan suara bergetar menahan tangis.
Apa yang salah? Shireen setiap datang hari ke rumah Felix karena rumahnya mempunyai pintu yang terhubung dengan rumah istana Felix. Lagi pula dirinya akan segera menikah dan entah kenapa Darren sang papa sepertinya masih tak merestui hubungan mereka, padahal Mira dan Tasya sudah dengan tegas memperingatkan Darren agar tak menghalangi kebahagiaan putri tunggalnya.
"Berani kamu sama Papa?" wajah Darren memerah menahan amarah.
"Kenapa papa selalu tak merestui hubunganku dengan Felix? Apa yang salah Pa, bukannya Mami Mira dan Mami Tasya selalu memperingati papa?" Shireen tak tahan lagi, ia menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.
"Sudah Pa, Papa ini keterlaluan. Shireen bahagia dengan pilihannya Pa, kenapa Papa seperti ini?" ujar Shilla mama Shireen. Dada Darren naik turun. Ya memang Darren kurang merestui hubungan mereka karena dirinya tak pantas menjadi besan.
"Shireen kamu istirahat ya." ucapan itu membuat Shireen mengangguk, ia segera berlari ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia tak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan itu berhenti saat dering ponsel di ponselnya tertera nama Felix di sana ia segera menghapus sisa-sisa air matanya dengan kasar.
"Halo sayang!"
"Sayang kenapa dengan suaramu?" tanya Felix yang panik.
"Itu tadi aku bersin-bersin. Ada apa sayang?"
"Aku merindukanmu," ucap Felix yang membuat Shireen salah tingkah.
"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan menikah."
Terdengar helaan nafas berat, "ya sudah kita istirahat yuk, udah malam."
"Em, baiklah!" seperti biasa panggilan itu tak mereka akhiri hingga pagi menjelang.
******
Braakkk!
"Bagaimana bisa dia lolos!" pekik Feli yang tak menyangka Grace bisa kabur.
"Kami tidak tahu Nona, saat kami membuka pintu wanita itu sudah tidak ada di tempatnya."
"Bajingan!!" Feli menampar pipi pria itu hingga telinganya berdengung.
"Cari dia! Jika kalian tak mendapatkan Grace kepala kalian yang akan kupotong!" perintah Feli. Mereka menunduk hormat dan segera berlarian untuk segera mencari Grace.
Feli membuang nafasnya kasar. Ia meraih ponsel dan menelpon seseorang. Setelah selesai berbicara Feli mulai membuka berkas yang sudah tersusun rapi di atas mejanya.
Toktok
Seorang sekretaris wanita masuk ia menunduk hormat
"Ada apa?" tanya Feli dengan suara lembutnya sungguh berbeda dengan yang tadi.
"Di luar ada pengawal Nona bernama Hendri."
"Tolong suruh masuk saja ya," ucap Feli.
Ela sang sekretaris mengangguk ia keluar dan memberi tahu Hendri jika Feli sudah menunggu.
"Saayaaang, aku rindu!" Feli langsung berhambur memeluk kekasihnya.
"Aku juga rindu mangkanya datang ke sini," Hendri mengecup kening Feli dengan lembut.
"Mau makan siang bersama?" tawar Hendri.
Feli mengangguk semangat, "sebentar ya aku selesaikan ini dulu," Feli segera menyelesaikan berkasnya sedangkan Hendri menatap interior ruangan itu.
"Kamu memilih desain yang bagus sayang!" puji Hendri
"Aku sangat suka dengan desain simpel sayang," ujar Feli.
Ia menggandeng lengan kekasihnya, "ayo kita makan siang," sambungnya. Hendri mengangguk mereka keluar dengan posisi Hendri berjalan di belakang Feli layaknya tugas pengawal. Feli memesan cafe yang cukup jauh dari perusahaannya karena ingin bermesraan dengan Hendri tanpa diketahui oleh karyawannya.
"Feli kan?" ucap seorang pria menggunakan kacamata hitam.
"Ya benar! Anda siapa?" tanya Feli.
Pria itu melepaskan kacamatanya, "gue Anto. Teman saat kuliah. Tega banget lo lupain gue!" ucap Anto.
"Astaga, aku kira siapa," ucap Feli.
Sorot mata Hendri menjadi tajam melihat Feli yang nampak akrab dengan pria bernama Anto itu.
"Gue pulang dulu ya, Fel. kabar-kabar kalau ada reuni ya," pamitnya tak lupa ia menyapa Hendri yang masih menunjukkan wajah datar dan sorot mata yang tajam.
"Siapa tadi?" tanyanya datar.
Feli menatap tajam mata itu, ia seperti tak mengenal kekasihnya dengan tatapan itu, "dia Anto, sepupu Kak Gerry dan juga satu kampus denganku," jawabnya.
Sorot mata itu berubah teduh ia tersenyum lalu menarik tangan Feli dan menciumnya.
"Aku cemburu, sayang," ungkapnya
Feli merasa salah tingkah, "uhh sayangnya aku cemburu ya.. maaf ya sayangku," Feli mencium tangan Hendri demi memenangkan hati kekasihnya yang panas itu.
"Aku yakin tadi bukan Hendri. Tatapannya sungguh berbeda," gumam Feli dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments