Keesokan harinya Feli kembali ceria dan itu membuat Mira lega. Ia tersenyum melihat putrinya yang lebih ceria, ia berfikir mungkin karena cintanya terbalas hingga membuat Feli semakin ceria.
"Mi, nanti aku mau ke salon sama Shireen ya," ijinnya.
"Boleh. Tapi sama Hendri ya. Kamu nggak boleh bawa mobil sendiri!" ujar Mira memperingati.
Feli mengangguk, ke dua pipi Feli memerah ia mengingat kejadian semalam. Dan itu tak luput dari perhatian Mira.
"Ya udah Feli pergi dulu ya, Mi!" pamitnya setelah melihat Shireen bersama Felix.
"Hati-hati," Feli mengangguk ia segera menggandeng Shireen.
"Bini aku mau di bawa kemana?" tanya Felix bingung.
"Kita mau ke salon. Kan bentar lagi kalian menikah jadi aku mau bawa Shireen ke salon biar fresh," ucap Feli.
Felix mengangguk ia memberikan blackcard pada Feli dan tentu Feli menerimanya dengan sumringah.
Saat di luar rumah ke duanya melihat Hendri yang sedang asik berbincang dengan para rekannya. Dengan perlahan Feli mendekati Hendri
"Euum, Hendri," panggilnya malu-malu.
Hendri dan rekannya menoleh lalu segera berdiri dan memberi hormat, "eh Nona, ada apa?" tanya Hendri.
"Bisa antarkan aku ke salon?" Feli nampak malu-malu hingga membuat rekan Hendri merasa bingung.
Hendri tersenyum, "bisa, Nona. Ke salon mana?" sungguh ia tak bisa menahan diri untuk tak menyerang bibir manis itu. Andai saat ini mereka hanya berdua pasti Hendri akan langsung mencium bibir ranum itu.
Feli menatap Hendri, "ke salon langganan aku, ada di jln. Mangga," ia langsung menunduk. Dirinya merasa grogi di tatap oleh kekasihnya.
Melihat kejadian itu beberapa rekan Hendri tertawa namun mereka langsung menutup mulutnya karena ia sadar di hadapannya ada Nona mudanya
"Ada apa?" tanya Hendri pada para rekannya.
Isal yang seumuran dengan Hendri berbisik, "Nona Feli sangat lucu saat beradu pandang sama lo," Hendri tersenyum simpul. Benar apa yang dikatakan Isal jika Feli saat ini sangat menggemaskan.
Feli segera berlari menghampiri Shireen yang sudah menunggu di dalam mobil meninggalkan Hendri yang masih berjalan di belakangnya. Nafasnya naik turun karena ia merasa grogi.
"Kamu kenapa?" tanya Shireen lembut.
Feli menggeleng, "aku nggak apa-apa," sahutnya.
Hendri menaiki mobil, ia sempat menatap Feli dari kaca tengah mobil. Hendri tersenyum saat Feli menatapnya balik. Mobil segera melaju menuju salon yang sudah Feli tunjukkan.
"Feli, liat deh. Dia suka sama kamu loh dari dulu. Kamu nggak suka sama dia?" Shireen memperlihatkan ponselnya yang berupa foto kenangan SMA.
Feli terlihat kikuk ia melihat Hendri dari kaca tengah dan terdapat wajah masam "Feli nggak suka sama dia. Dia itu playboy!" seru Feli.
Shireen mengangguk. Tak butuh waktu lama mobil sampai di depan salon, Shireen turun terlebih dahulu sedangkan Feli masih duduk diam di jok belakang.
"Nona tak turun?" tanya Hendri.
Feli meremas kedua tangannya ia menatap Hendri dengan rasa takut jika Hendri akan marah. Hendri mengetahui posisi itu segera turun dan masuk ke jok belakang ia memeluk tubuh Feli yang masih tertunduk.
"Nggak usah takut. Aku nggak marah kok," ucap Hendri yang mengerti kekhawatiran Feli.
"Beneran?" selidik Feli.
Hendri melepaskan pelukannya ia mencium kening Feli dengan lembut, "iya," mendengar itu Feli tersenyum, ia kembali memeluk Hendri dengan tenang.
"Aku mencintaimu, Nona."
"Aku juga mencintaimu, Hendri."
Ke duanya melepaskan pelukannya, Hendri mendekatkan wajahnya lalu melumat bibir ranum Feli.
"Emh," Feli mendesah saat Hendri mulai menelusuri lehernya. Sadar dengan itu Hendri menghentikan ciuman itu ia menatap Feli yang masih malu-malu.
"Maaf," sebuah kata terlontar karena ia merasa lancang.
"Nggak apa-apa, sayang," ia mencium bibir Hendri sekilas dan keluar dari mobil.
Namun siapa sangka Shireen melihat kejadian itu, "hadi Feliii.." gumamnya.
Awalnya Shireen hendak menyusul Feli karena ia sudah menunggu lama namun saat hendak membuka pintu mobil ia terkejut dengan adegan ciuman itu. Secepat kilat Shireen masuk kembali ke dalam salon menunggu Feli datang dengan sendirinya.
******
"Feli, nanti aku pulang sama Felix ya," ucap Shireen. Ia tak ingin mengganggu kebersamaan pasangan baru itu.
"Loh kenapa?" tanya Feli.
"Aku mau fitting baju dulu," kilahnya. Feli mengangguk.
Hari menjelang malam, beberapa saat kemudian mobil Felix datang. Shireen tersenyum dan berhambur memeluk Felix.
"Aku rindu," ucapnya
"Loh baru berpisah sejenak udah rindu," Felix mencium kening Shireen dengan mesra.
"Bisa nggak sih kalian jangan manas-manasin aku!" sungut Feli.
Felix tertawa ia mengacak poni Feli dengan lembut, "cepetan punya pacar mangkanya," sedangkan Shireen hanya senyum-senyum sendiri.
"Aku pulang dulu deh!" Feli menghentakkan kakinya meninggalkan calon pengantin itu ia segera masuk ke mobilnya membuat Hendri yang sedang memejamkan mata terkejut dengan kedatangan Feli.
"Nona, ada apa?" tanyanya.
"Tuh mereka mesra-mesraan di depan aku!" Feli mode ngambek seperti itu membuat Hendri gemas, ia menarik tangan Feli dan memeluknya.
"Kan ada aku. Nona jangan ngambek dong," ujar Hendri. Feli membalas pelukannya ia mengangguk setelah Hendri mencium pucuk kepalanya.
Sedangkan calon pengantin itu sedang menuju apartemen milik Felix, ia ingin tidur bersama kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi istri.
"Udah lama kita nggak ke sini ya, sayang," ucap Shireen saat sudah memasuki apartemen.
Felix memeluknya dari belakang, "ya sayang. Emm malam ini kita tidur di sini ya, aku rindu."
Shireen mendongakkan kepalanya saat Felix mulai menelusuri leher jenjang itu. Dengan cepat Felix membawa Shireen ke kamar, buru-buru ia melepaskan pakaiannya juga pakaian Shireen. Kini ke duanya telah telanjang bulat dan Shireen sedang menikmati ciuman Felix yang sudah lama tak ia rasakan.
"Emmhh," Shireen melenguh saat Felix mulai membelai lembut miliknya.
"Sayang,, emmhh."
"Terus mendesah sayang," Felix semakin bersemangat memainkan milik Shireen.
"Aaahhh," Felix menggesekkan miliknya sesekali menekan sedikit membuat Shireen mengerang.
"Aahhhh saaayaang."
Ke duanya pelepasan Felix mengeluarkan cairan putih kental itu di lantai.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga."
Ke duanya tertidur dengan posisi berpelukan.
Berbeda dengan pasangan itu saat ini Feli sedang duduk bersandar pada dinding ranjang. Ia membuka ponselnya saat pesan masuk.
"Belum tidur?"
Feli tersenyum "Belum,"
"Aku di dapur."
Sontak Feli duduk dengan tegak ia segera turun ke dapur menemui Hendri. Dan benar saat ini Hendri sedang makan.
"Loh kamu baru makan?" tanya Feli.
Hendri mengangguk, "tadi mau makan tapi malah asik ngobrol sama Isal."
Feli menggeleng ia mengambil gelas lalu menuangkan air dan memberikannya kepada Hendri.
"Makasih, Nona."
"Ihh berhenti memanggilku Nona!"
Hendri terkekeh, "baiklah, sayang!"
Mendengar itu Feli tersenyum malu. Ia menarik kursi di sebelahnya dan menemani Hendri hingga selesai makan.
"Bagaimana kalau Nyonya dan Tuan mengetahui hubungan kita?" tanya Hendri tiba-tiba.
"Kamu tenang saja. Mereka pasti akan setuju!"
"Tapi, aku hanya seorang pengawal,"
Feli memegang tangan Hendri, "Mami dan Papi nggak pernah mempermasalahkan hal itu."
Hendri tersenyum lega karena ia juga yakin jika majikannya itu adalah orang yang tak pernah memandang status sosial.
"Nona tidur gih. Udah malam!" ucap Hendri
Feli mencebikkan bibirnya "Tuh Nona lagi!"
"Feli sayaang,, lebih baik kamu tidur. Ini udah malam," Hendri mengulang ucapnya dengan lembut ia bahkan mencium punggung tangan Feli.
"Ya udah aku tidur ya. Kamu juga harus istirahat," ucap Feli. Sebelum pergi Hendri menarik tangan Feli hingga membuatnya memeluk tubuh Hendri.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Ke duanya melerai pelukannya dan Hendri mencium bibir Feli dengan lembut.
*****
Pagi harinya Pak Anto terpogoh-pogoh mendatangi ruang makan. Dengan wajah yang pucat ia menunduk hormat.
"Ada apa Pak?" tanya Papa Rangga.
"Itu Tuan besar, di depan ada seorang wanita yang memaksa ingin bertemu dengan tuan muda Felix!" tururnya.
Mira menyernyit, "siapa?"
"Saya tidak tahu, Nyonya."
Mereka akhirnya keluar ingin mengetahui siapa wanita yang ingin bertemu Felix. Saat sudah di teras mereka melihat Grace yang sedang di pegang oleh dua pengawal.
"Ada apa ini?" tanya Papa Rangga.
"Saya ingin bertemu Felix!" ia menghempaskan ke dua tangannya hingga terlepas dari cengkraman dua pria itu. Ia segera berlari mendekati Felix yang sedang berdiri di samping Feli.
"Tega kamu! Kamu tau hanya aku yang benar-benar mencintaimu. Kenapa kamu malah menikahi Shireen? Apa dia memberikan tubuhnya padamu?"
Tiba-tiba Grace memegang pipi kirinya yang terasa panas karena tamparan dari seseorang.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu? Shireen bukan seperti kamu yang murahan, Grace!" suara Feli melengking hingga membuat Hendri yang sedang duduk agak jauh terdengar.
"Itu seperti suara Nona Muda Feli," ujar Isal.
"Iya kau benar!"
"Kita ke sana yuk!" ke duanya berlari menghampiri teras depan rumah.
Sementara Grace menyorot tajam matanya menatap Feli. Ia hendak membalas namun secepat kilat Feli menarik rambut Grace hingga membuatnya mendongak.
"Aku nggak akan biarkan wanita seperti dirimu masuk dalam keluarga kami! Kau wanita busuk, sama seperti ibumu!" Feli mendorong tubuh Grace hingga tersungkur.
"Feli kendalikan emosimu," ujar mommy Alika.
"Lebih baik kau pergi sebelum kau di seret keluar!" perintah Mira dengan suara dingin.
Grace bangun dengan perasaan marah ia menunjuk wajah Felix.
"Aku akan menghancurkan pernikahan kalian. Ingat itu!" Grace pergi dengan tergesa-gesa. Sementara Hendri yang melihat kejadian itu tak menyangka wanita selembut Feli bisa berbuat kasar.
"Apa benar tadi Nona Feli? Ternyata dia sama seperti nyonya Mira," ucap Isal yang masih tak menyangka dengan tindakan Feli.
Mereka akhirnya masuk melanjutkan sarapan pagi yang sempat tertunda. Sementara Feli masih merendam emosinya, seketika ia tersenyum tipis saat membuka ponselnya, ia menatap pesan yang di kirimkan oleh Hendri. Sebuah emoticon kiss dan hug.
"Mi, nanti Feli mau ke perusahaan. Ada yang mau Feli tangani," ijinnya.
"Baiklah. Habiskan dulu sarapannya," Feli mengangguk ia bergegas menghabiskan sarapan yang hampir dingin itu.
"Hendri!" panggilnya saat melihat Hendri sedang lewat.
"Ya?" ia segera menghampiri Feli yang masih berdiri di teras.
"Tolong antarkan aku ke perusahaan ya," pintanya.
"Memangnya di mana?" tanya Hendri yang memang ia belum tau.
"Di samping perusahaan pusat milik Mami."
"Ya sudah. Aku ambil kunci dulu ya!" pamitnya ia segera berlari mengambil kunci mobil Feli tak lupa ia menyambar kemejanya.
"Ayo!" ajak Hendri. Namun sebelum Feli menaiki mobilnya Hendri terlebih dulu memakaikan kemeja yang barusan ia ambil.
Feli mengerutkan keningnya bingung.
"Aku nggak suka tubuh kamu di lihat banyak orang," bisiknya.
Feli menatap dirinya, ia menggunakan dress di bawah lutut tanpa lengan. Perlakuan Hendri sangat manis membuat Feli tersenyum lebar.
"Makasih," ucapannya tak kalah manis. Hendri tersenyum teduh ia membuka pintu mobil dan Feli menaiki mobilnya. Butuh waktu 1 jam lamanya karena ke duanya terjebak macet.
"Kamu nggak ikut masuk?" tawar Feli.
"Aku di sini saja."
"Kalau bosan kamu tinggal masuk saja ya!" seru Feli. Hendri pun mengangguk, sebelum Feli turun ia mencium pipi Hendri sekilas membuatnya membelalakkan matanya karena terkejut. Sementara pelakunya sudah berlari kecil memasuki perusahaan.
"Ahh wanita ini.. aku sangat mencintaimu." gumam Hendri.
Sementara itu Feli tak berada di ruangannya, sekarang ia berada di bawah tanah ia sedang mencengkram rahang wanita yang sepertinya baru saja di ikat
"Dengar Brengsek! Aku nggak akan biarkan kau menghancurkan pernikahan Felix."
"Kamu! Buka sumpal wanita ini!" perintah Feli.
Pria itu mengangguk ia membuka sumpal itu dan menarik rambutnya.
"Feli, ini seperti bukan lo!"
"Ini aku.. aku dengan segala sifat yang masih tersembunyi!" ucapnya.
"Fel, lo ngga ingat dulu kita sahabat!"
Feli berdecih, "memang, tapi semenjak aku tau kau anak dari wanita jalang itu aku tak menganggap dirimu sebagai sahabat, Grace!"
"Ah, bagaimana jika aku memberikan sedikit lukisan di sini," sambungnya sembari mengusap pipi mulus Grace.
Grace menggeleng ia tau maksud Feli. Sementara Feli menyeringai ia mengambil pisau lipat yang ada di dalam tasnya. Tak butuh waktu lama ia menggoreskan pisau tajam itu di pipi Grace
Suara teriakan memenuhi ruang bawah tanah itu. Feli tertawa lebar melihat wajah wanita di depannya bersimbah darah.
"Sumpal kembali mulutnya dan biarkan ia di sini. Aku akan kembali ke ruanganku!" perintahnya ia membasuh kedua tangannya dan memasuki lift khusus. Lift bergerak ke atas dan sampai di lantai yang ia tuju. Dengan cekatan Feli menggeser sebuah buku hingga pintu terbuka, ia keluar dan di saat itu pintu tertutup yang ternyata adalah lemari penyimpanan berkas.
"Beres!" ia duduk di sofa dan menghela nafasnya. Tak lama ia tertidur karena memang semalam ia tak tidur nyenyak.
Sementara itu Hendri yang bosan akhirnya menyusul ke ruangan Feli, tanpa bertanya ia memasuki lift khusus karena mereka tahu jika Hendri adalah pengawal Feli hingga ia bebas keluar masuk. Saat membuka pintu ia melihat Feli yang masih tertidur dengan posisi duduk. Hendri menggeleng ia membaringkan tubuh kecil itu dan menyelimuti tubuhnya dengan kemeja yang tadi di berikan pada Feli.
"Aku mencintaimu, apakah kita bisa bersama? Aku hanya orang miskin, sedangkan kamu dari keluarga yang mempunyai segalanya," gumam Hendri sembari menatap wajah Feli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments