BAB 6

"Hendri, kamu bisa keluar dulu. Saya mau bicara dengan Feli," ucap Mira.

"Baik, Nyonya," Hendri pun membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan itu.

"Feli," ucap Mira.

"Kenapa Mami memintaku mencari hubungan baru? Bukankah Mami yang memperbolehkan pria manapun yang aku pilih? Kenapa Mami seperti ini?" ucap Feli yang sedang tersulut emosi, namun seketika nyalinya menciut saat melihat tatapan tajam Maminya itu.

"Mati aku. Ini pasti Mami Tasya," batinnya.

Tasya bangun dari duduknya lalu berjalan ke hadapan Feli, melihat Tasya mendekati dirinya membuatnya sangat takut. Feli memejamkan matanya saat tangan itu terangkat ke arahnya.

"Kamu tidak tau maksudnya ya? " tanya Tasya yang ternyata mengusap bahu Feli.

Feli membuka matanya perlahan lalu menoleh ke arah tangan yang sedang mengusap bahunya.

"Maksud Mami apa?" tanya Feli.

Tasya terkekeh kecil lalu mengajaknya duduk, "dengar. Kamu cerna kembali apa yang diucapkan Mami kamu."

"Lebih baik mencari hubungan baru," gumam Feli berulang-ulang.

Mira memang sengaja mempermainkan kata karena Feli orang yang terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan dan tak menimbang apa yang orang-orang katakan.

Melihat Feli yang menampilkan cengiran kudanya, Tasya hanya menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana?" tanyanya.

"Maafkan aku Mi. Aku kurang fokus," ucap Feli dengan rasa bersalah.

"Tidak apa-apa," balasnya.

"Jadi Mami benar-benar merestuinya, kan?" wajah Feli mendadak sangat menggemaskan.

"Tentu saja, sayang."

"Terimakasih banyak, Mi!" ucapnya kegirangan sembari memeluk Tasya.

"Jadi, kapan kamu akan ke acara makan-makan itu?"

"Sepulang dari sini aku mau langsung siap-siap Mi. Mami mau dibawain apa?"

Tasya menggeleng, "yang terpenting kamu pulang dengan selamat."

"Baiklah. Kalau begitu Feli pulang dulu ya, Mi."

Tasya mengangguk tak lupa Feli memeluk dan mencium pipi Maminya.

Melihat Feli yang sudah sebesar itu membuatnya sangat takut. Ia sangat takut jika kejadian itu terulang kembali, ia membuang jauh-jauh fikiran itu. Berharap jika apa yang telah menimpa Mira dan Intan tak terjadi pada Feli, mengingat Feli orang yang mudah akrab dan sangat mudah tertipu.

Lamunannya buyar saat teleponnya berdering. Ia melihat nama di layar ponselnya lalu berdecak sebal.

"Apa?" tanyanya setelah panggilan itu tersambung.

"Galak banget sih, Mi," ucap seorang dari seberang telepon.

Tasya menghela nafasnya, " ya, ada apa Shaka?"

Shaka terkekeh geli mendengar suara Tasya yang terdengar kesal, "apa kamu sudah melihat Hendri? Bagaimana pendapatmu tentangnya?" tanya Shaka.

"Ya, aku sudah melihatnya. Dia terlihat sangat bertanggung jawab. Ku dengar Feli menyukai pemuda itu, lalu bagaimana denganmu?"

"Kita lihat saja bagaimana tindakan dia melindungi Feli."

"Baiklah." tanpa basa-basi Tasya langsung menutup teleponnya. Sementara itu Shaka terlihat kesal karena ia belum selesai bicara.

"Ketus sekali, astaga!" ucap Shaka.

********

"Loh kok sepi ya," ucap Feli saat ia sudah sampai di depan cafe.

Ia hendak mengambil ponselnya namun tiba-tiba ada pesan masuk dari sahabatnya. Feli berdecak sebal karena ternyata mereka ada di club Gabriel.

"Kok masuk lagi, Nona?"

Feli mendengus, "ya. Ternyata mereka ada di club Gabriel. Kenapa ga dari tadi sih mereka bilang!"

"Lebih baik jangan ke sana, Nona," saran Hendri.

"Memang kenapa? Ya udah lah. Udah terlanjur ijin juga sama Mami. Toh club Gabriel ga jauh dari sini. Nih pakai maps," Feli memberikan ponselnya. Hendri melihat dengan serius namun hatinya ada sedikit khawatir.

"Baiklah, Nona," ucapnya, lalu melajukan mobilnya.

Hanya butuh 10 menit Feli sampai di Club temannya itu. Awalnya Feli ingin masuk sendiri tetapi Hendri tetap kekeh ingin ikut, sebenarnya ia sedikit khawatir dengan Feli.

"Kenapa tidak bilang dari tadi si kalau kumpul di sini?" tanya Feli saat sudah menemukan teman-temannya.

"Maaf Fel, gue mau ngabarin elu eh malah lupa," ucap Sintia yang ternyata sudah agak mabuk.

"Huh dasar!" dengus Feli. Matanya mencari keberadaan Hendri yang duduk tidak terlalu jauh dari Feli.

"Nih minuman buat lo," ucap Gabriel yg menyerahkan Wine didepan Feli.

"Makasih!" ucap Feli, namun entah kenapa minuman itu tak kunjung ia minum.

Obrolan semakin seru dan tak sadar hari sudah gelap. Melihat teman-temannya yang sudah mabuk ia memutuskan untuk pulang.

"Diminum dulu, Fel, lo dari tadi gak minum apapun. Lo ga menghargai gue banget deh," ucap Gabriel

Feli agak ragu, karena selama ini ia tak pernah menyentuh hal-hal seperti itu. Dengan perasaan ragu, Feli meminum Wine itu hingga tandas. Rasa panas membakar tenggorokan Feli.

"Rasanya seperti ini ya," ucap Feli. Gabriel yang ada di hadapannya tersenyum puas penuh arti sembari mengangguk.

"Aku ke kamar mandi dulu ya!" pamit Feli. Dalam perjalanan ke arah kamar mandi ia sempoyongan karena baru merasakan minum itu.

"Aduh kepalaku pusing tubuhku juga terasa gerah," ucap Feli.

Ternyata Gabriel memasukkan obat perangsang, ia menginginkan Feli. Secepat kilat Gabriel memapah Feli ke kamar khusus.

"Sayang. Malam ini kamu milikku," ucap Gabriel.

Hendri yang sedari tadi bingung mencari keberadaan Feli di tengah banyaknya manusia entah kenapa ia mendapatkan insting. Ia berjalan semakin masuk ke dalam Club, ternyata banyak ruangan saling berhadapan yang ia yakini itu sebuah kamar. Ia meneriaki Feli namun nihil, tak ada jawaban. Ia semakin masuk dan menemukan kamar yang terlihat lebih besar. Matanya terbelalak saat mendengar suara Feli di dalam sana.

"Lepaskan aku!" teriak Feli.

"Lo gak akan bisa lepas dari gue Fel. Perlu lo ketahui gue suka sama lo sejak dulu. Dan dengan cara ini gue bisa jadi pendamping lo," ucap Gabriel.

"Feliii!" teriak Hendri, ia semakin kalang kabut dengan segera dirinya mendobrak pintu itu dengan dua kali dobrak. Hatinya merasa sakit melihat Feli hanya mengenakan bra dan sedang dikungkung oleh Gabriel. Tanpa basa-basi ia langsung menghajar dengan membabi buta hingga Gabriel pingsan.

"Hendri tolong aku. Aku gerah," ucap Feli.

Tanpa sadar Hendri meneteskan air matanya. Ia menggendong Feli ke kamar mandi membasahi tubuh Feli yang masih terpengaruh oleh obat itu. Feli mulai sadar, ia menutup dadanya menggunakan tangan sembari menangis.

"Hendri," ia menatap Hendri dengan raut wajah yang mengenaskan.

Ia berjongkok, "ya Nona, saya tau. Dan saya akan tutup mulut tentang semua ini. Pakai kemejaku dan kita pulang ya," Hendri mengusap pipi mulus Feli.

Feli memeluk Hendri, " terimakasih. Jika kamu tidak ikut aku pasti.. pasti.."

Hendri spontan mengecup bibir Feli sekilas, "jangan berbicara seperti itu. Saya akan selalu menjaga Nona. Mari kita pulang," ia mengusap punggung Feli dengan lembut.

******

Sudah satu bulan sejak kejadian suram itu. Tidak ada wajah ceria di muka Feli hingga membuat Mira penasaran apa yang terjadi dengan anaknya yang ceria itu. Ia bergegas mencari Hendri karena yang ia tahu Hendri lah yang terakhir kali bersama Feli. Hanya butuh sekejap Mira menemukan Hendri ia langsung duduk di sampingnya.

"Hendri, saya ingin menanyakan sesuatu."

Hendri yang sedang melamun terkejut dengan kedatangan Mira.

"Nyonya," ucap Hendri.

"Kau tau apa yang terjadi dengan anakku? Sudah satu bulan saya melihatnya selalu murung. Apa yang terjadi di cafe?"

Sesuai janjinya, "saya tidak tahu, Nyonya. Saat hendak pulang pun Nona Feli sudah terdiam," ucap Hendri

Mira menatap sorot mata Hendri yang terlihat menyakinkan, "apa ada yang melukai perasaan Feli?"

"Saya benar-benar tidak tahu, Nyonya," ucap Hendri yakin.

Mira menghela nafasnya, ia tahu jika Hendri berbohong tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa terus memaksanya berbicara. Mungkin ada alasan tersendiri.

"Emm Nyonya, kalau boleh saya tau Nona Feli ada dimana? Apa saya boleh menemuinya?" tanya Hendri.

Mira tersenyum, "mungkin ia bisa menghibur Feli, mengingat Feli sangat menyukai Hendri," gumamnya dalam hati. Ia lalu berkata, "Feli ada di taman belakang duduk di ayunan," ucap Mira sembari bangun dari duduknya lalu pergi.

Melihat Mira yang sudah pergi Hendri bergegas menemui Feli. Benar, ia melihat Feli duduk termenung sendirian. Perlahan-lahan Hendri mendekati Feli, karena semenjak kejadian itu Feli seperti menghindari Hendri. Dengan tiba-tiba Hendri duduk di sampingnya membuat Feli terkejut. Saat menoleh ia melihat Hendri dan ia berdiri hendak pergi. Namun tangan Hendri lebih cepat mencekal pergelangan tangan Feli.

"Nona, kenapa Nona menghindari saya?" tanya Hendri dengan suara lemah.

"Lepaskan aku, Hendri! Aku malu bertemu dengan mu."

"Sudah saya bilang, Nona. Kalau saya tidak akan berbicara tentang kejadian itu. Nona tidak perlu menghindari saya."

Feli menunduk sambil menangis bahkan Hendri sampai mendengar suara tangisnya, ia menarik Feli hingga jatuh ke pangkuannya.

"Tapi aku malu denganmu, Hendri. Sku menyukaimu tetapi tubuhku.." ucapan Feli terhenti saat tangan besar melingkar di perutnya kepala Hendri menempel di punggung kecil Feli.

"Maafkan saya jika saya lancang, Nona. Saya juga menyukai Nona sejak kita pertama bertemu. Apa yang terjadi waktu itu tidak akan merubah rasa cinta saya terhadap Nona. Jangan seperti ini Nona, hati saya sangat sakit melihat Nona yang seperti ini. Nona jalani hari-hari Nona seperti biasanya. Saya akan selalu ada untuk melindungi Nona."

Ucapan Hendri membuat Feli terkejut, "k.. Kau menyukaiku?" tanya Feli, ia hendak bangun dari pangkuan Hendri namun Hendri malah mempererat pelukannya.

"Ya Nona. Bukan hanya suka, tetapi saya juga mencintai dan menyayangi Nona."

Feli memutar tubuhnya, "tapi Hendri, aku.." ucapannya terhenti saat sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Semakin lama keduanya menikmati ciuman itu, bahkan Feli mengalungkan ke dua tangannya.

"Maaf atas kelancangan saya Nona. Tetapi saya sangat mencintai Nona," ucap Hendri saat ciuman yang hampir memanas itu lepas.

Feli hanya mengangguk malu, "terimakasih, Hendri."

Hendri mengusap pipi wanita kecil itu dengan sayang, "aku mencintaimu, Nona," Hendri kembali mencium bibir Feli. Feli hanya kelabakan karena ini baru pertama kali merasakan hal itu. Angin malam membuat mereka semakin betah berlama-lama dengan adegan itu hingga tanpa sadar ada dua sosok yang sedang memperhatikan mereka.

"Lebih baik cepat nikahkan mereka. Aku takut nantinya akan terjadi hal yang tidak-tidak," ucap seorang laki-laki.

"Kita akan tanyakan dulu lalu kita akan nikahkan mereka," ucap seorang wanita yang ternyata itu adalah Mira dan Shaka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!