BAB 3

Sudah satu minggu sejak Feli mengetahui Tasya hidup di tubuh Mira membuatnya tidak ingin berinteraksi dengan Mira. Di setiap ruangan ada Mira pasti Feli lebih memilih menghindar. Hal itu membuat Papa Rangga menaruh curiga pada putri dan cucunya itu.

"Seperti ada yang aneh. Sudah satu minggu Feli seperti sedang menjaga jarak dengan Mira," batin Papa Rangga.

Suara batin itu terdengar di telinga Mira. Ia menghela nafasnya berat, "sepandai-pandainya aku mengubur semua itu pasti akan ketahuan juga."

"Papa," panggil Mira.

"Kenapa Sayang?" tanya Papa Rangga dengan mata yang masih membaca buku.

"Ada yang mau Mira bicarakan," ucap Mira.

"Papa dengarkan. Bicaralah!"

"Pa, Feli mengetahui Tasya hidup di tubuh Mira."

Sontak mata Papa Rangga membulat serta buku yang ia pegang jatuh ke pangkuannya. Ia menoleh untuk meminta pengulangan kata yang Mira ucapkan.

Mira mengangguk, "benar Pa. Sudah satu minggu yang lalu, dan sekarang Feli sangat takut melihat Mira," Mira tertunduk sedih di hadapan Papa Rangga.

Melihat Mira yang tertunduk membuat Papa Rangga sedih, karena ia yakin jika Feli tidak bisa menerima kehadiran Tasya. Ia memeluk putrinya serta mengusap rambut panjang itu.

"Suatu saat Feli pasti akan menerima kamu Sayang. Papa yakin, Feli sebenarnya mau menerima hanya saja kenyataan ini terlalu mendadak untuknya," ucap Papa Rangga menenangkan.

"Tapi aku takut Pa. Aku takut Feli akan menjauh dariku."

"Sayang, percaya sama Papa. Papa akan memberikan penjelasan padanya. Kamu tenang ya. Kendalikan dirimu, jika seperti ini kamu akan musnah dengan sendirinya."

Ia melepaskan pelukannya lalu menatap mata tua Papa Rangga, "Papa mengenaliku tanpa melihat mataku?" tanyanya.

Papa Rangga tersenyum lalu mengusap kepala anak pemarahnya, "orang tua mana yang tidak mengenal anaknya, hm?"

"Mana anak Papa yang pemberani? Mana anak Papa yang pemarah? Dan mana anak Papa yang tak mengenal takut? Kenapa sekarang anak Papa jadi pesimis seperti ini? Tasya sayang, Papa tau semua ini membuat kamu sedih. Tapi coba kamu pelan-pelan dekati Feli berikan semua yang kamu punya padanya. Kasih sayang juga tutur kata yang lembut. Jika kamu seperti ini Feli akan semakin takut mendekati kamu, Nak."

Tasya tertunduk ia mulai berfikir apa yang diucapkan Papa Rangga memang benar

"Benar! Jika aku seperti ini pasti Feli akan semakin jauh dariku," gumamnya.

"Baik Pa," ucap Tasya sambil tersenyum.

Papa Rangga mencium kening putrinya "Nah ini baru anak Papa!" ucapnya.

Tanpa mereka sadari ternyata Feli mendengarkan ucapan keduanya. Ia segera berlari menuju ke kamarnya lalu menangis.

"Apa aku terlalu egois sama Mami juga dirinya? Tapi aku sangat takut bertemu orang itu. Matanya yang tajam membuatku merasa merinding saat aku menatapnya. Juga cara bicaranya yang dingin membuatku sangat takut," gumamnya.

Feli memejamkan matanya berharap semua ini hanya mimpi. Tetapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Kakak pertamanya.

"Feli!" panggilnya.

Feli langsung berhambur memeluknya, "kakak aku takut," ucapnya sembari menangis.

Ia mengusap rambut adiknya, "kakak tau semuanya."

Feli terkejut dan langsung melepaskan pelukannya, "lalu apa Kakak nggak takut dengan sosok itu?" tanya Feli.

Ia menggeleng, "Mami Tasya orang yang sangat baik. Kakak yang sudah lama bersamanya sangat mengenal Mami Tasya."

"Kenapa Kak Intan memanggilnya dengan Mami?"

"Bagi Kakak, Mami Mira dan Mami Tasya itu sama pentingnya di kehidupan Kakak. Mami Mira selalu ingin membahagiakan kita, begitu juga dengan Mami Tasya. Ia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan kita meskipun nyawa taruhannya."

"Tapi Kak, menurut yang aku baca jika Alter Ego itu adalah sosok yang sadis."

Intan tersenyum tipis, "itu hanya menurut Internet. Lagipula apa kamu pernah mengenal Mami Tasya lebih dalam? Coba pelan-pelan kamu kenali Mami Tasya. Mami Tasya tidak sejahat dan seburuk yang kamu kira, Feli!"

"Tapi aku masih takut saat melihatnya, Kak," ucap Feli dengan suara pelan.

"Coba pelan-pelan. Kamu pasti akan terbiasa!"

**********

Kali ini Feli bertekad untuk menemui Maminya. Seperti yang terjadi sekarang ia mendatangi kamar Mira setelah mengumpulkan banyak keberanian. Saat hendak mengetuk pintu tiba-tiba pintu kamar terbuka dan yang di hadapannya ialah Mira.

"Ada apa, Feli?" tanya Mira.

"Euummm hari ini Feli mau meeting ke kota B," pamitnya tanpa berani menatap Mira.

Mira melihat tangan Feli meremas satu tangannya. Mira menghela nafasnya, "sama siapa?" tanya Mira.

"Sendirian," balasnya cepat.

"Feli mungkin masih sangat takut denganku," batin Mira. Ia lupa jika Feli juga bisa mendengar suara batin orang-orang.

Feli tertegun tak berani bergumam di hatinya. "Feli berangkat dulu Mi," ucapnya namun tak bergeming dari tempatnya ia berdiri.

Mira mengangkat tangannya, sedangkan Feli memejamkan matanya karena takut, namun tiba-tiba matanya terbuka saat tangan mira mengusap lembut lengan kecilnya.

"Hati-hati ya sayang. Mami menunggumu pulang," ucap Mira sambil tersenyum teduh.

Tanpa sepatah kata Feli bergegas meninggalkan Mira yang masih terpaku di pintu kamarnya. Setelah Feli menuruni tangga Mira kembali masuk dan berbaring di ranjangnya. Shaka yang baru selesai mandi belum tau kejadian barusan terlihat bingung, ia mendekati Mira yang nampaknya sedang menahan air matanya.

"Mi," panggil Shaka dengan suara lembutnya.

"Kenapa Pi?" balas Mira dengan mata yang terpejam.

"Mami kenapa?" tanya Shaka dengan nada khawatir.

Hanya gelengan kepala yang ia dapatkan. Shaka semakin resah melihat istri yang seperti itu.

"Turun yuk! Kita sarapan," ajak Shaka.

Lagi. Mira hanya menggeleng dan menyelimuti tubuhnya.

"Mami," tangan Shaka mengusap pipi Mira. Namun Mira hanya terdiam. Setelah beberapa menit tak ada jawaban Shaka mencium kening Mira dan keluar dari kamarnya. Mira akhirnya meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan.

Sesampainya di ruang makan Shaka terlihat lesu hingga membuat mereka bingung.

"Kenapa?" tanya Papa Rangga.

"Mana Mira?" sambung Mommy Alika.

"Mira terlihat sedih, aku nggak tau kenapa dia bisa begitu," balasnya.

Feli yang mendengar langsung tertunduk berbeda dengan Intan dan Felix yang langsung menatap tajam adiknya.

"Kamu sarapan saja dulu, nanti Papa akan bicara dengan Mira," ucap Papa Rangga.

Shaka mengangguk lalu memulai sarapannya.

"Feli mau berangkat sekarang!" serunya tiba-tiba. Ia segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan mereka begitu saja.

Intan bangun dari duduknya lalu mengambil roti selai coklat tak lupa dengan susu putih.

"Aku bawain sarapan buat Mami dulu ya," ucapnya.

"Feli kenapa Kak?" tanya Fer adik bungsu Mira

"Feli mengetahui Tasya" jawab Shaka

Fer dan Kinara dua adik Mira itu terkejut, sendok dan garpu yang ia pegang jatuh begitu saja menimbulkan suara keras di sana.

"Bagaimana bisa?" tanya Kinara.

"Aku juga nggak tau darimana Feli mengetahui nama Tasya. Saat itu aku dengar jika Feli penasaran dengan sosok Tasya, tak ku sangka Feli benar-benar ingin mengetahui lebih dalam tentang Tasya hingga akhirnya Mira memberitahu jika Tasya adalah Alter Egonya dan itu mengejutkan Feli. Bahkan sudah satu minggu Feli menjaga jarak dengan Mira," jelas Shaka.

"Nanti saat Feli pulang aku akan menasehatinya, Pi. Papi tenang saja." ucap Felix.

Shaka tersenyum lega melihat Felix yang lebih mudah menerima Tasya sama seperti Intan.

"Aku harap Dimas juga akan menerima Tasya dengan baik," batin Shaka. Dimas putra bungsu Shaka dan Mira yang kini berada di Jerman.

********

"Ah sial! Kenapa harus kempes segala sih!" dengus Feli.

Feli melihat sekeliling, ia menemukan bengkel mobil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat ia berdiri. Ia mengambil tas dan ponselnya di dalam mobil dan bergegas menuju bengkel. Setelah berjalan beberapa menit ia sampai di sana.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seorang pemuda yang terlihat seumuran dengannya.

"Mas, Ban mobil saya kempes," jawabnya.

"Mobilnya dimana, Mbak?" tanyanya lagi.

Feli menunjuk mobilnya, "itu. Mobil merah."

"Saya ambil peralatan dulu ya, Mbak. Mbak bisa duduk di sini dulu," ucapnya.

Feli mengangguk dan duduk di sana sembari menunggu mobilnya diperbaiki. Ia melihat sekelilingnya terdapat foto yang lumayan besar tergantung di dinding.

"Keluarga yang bahagia," gumamnya sembari tersenyum.

Seorang nenek tua datang dari dalam membawa botol minuman dan menyodorkannya pada Feli. Feli yang tidak tahu kedatangan nenek tua itu terkejut.

"Maaf saya mengagetkan Anda," ucap Nenek tua.

"Tidak apa-apa, Nek," balas Feli tersenyum.

"Silahkan diminum!"

Feli menerima dan langsung meminumnya, ia kembali melihat mobilnya yang sedang diganti dengan ban cadangan.

"Sepertinya Anda datang dari jauh," ucap Nenek.

Feli menoleh dan tersenyum, "ya, nek. Saya dari kota dan kebetulan saya ada urusan di Kota B."

"Oh begitu. Kota B tidak jauh dari sini," ucapnya.

"Itu cucu Nenek?" tanya Feli.

Nenek itu mengangguk, "benar! Itu cucu Nenek satu-satunya."

"Lalu dimana keluarga Nenek?" tanya Feli.

"Anak Nenek sudah meninggal karena sakit keras. Tak lama menantu Nenek juga meninggal karena tertabrak mobil," ucap Nenek tua itu.

Feli merasa bersalah menanyakan hal itu, "ya ampun. Maafkan aku Nek."

Nenek tua itu menggeleng, "tidak apa-apa. Nak, kamu masih muda dan jangan sampai kamu durhaka kepada orang tuamu. Kalau sudah meninggal kita hanya bisa menyesalinya. Hargai selagi ada."

Ucapan Nenek itu mengingatkan dirinya pada kejadian tadi pagi. Ia pergi tanpa memeluk Mira bahkan tanpa mencium pipinya. Cairan hangat membasahi pipinya. Feli langsung menyeka air mata yang menetes itu.

"Sudah selesai Mbak," ucap pemuda itu.

"Nek, saya pamit dulu ya. Semoga Nenek selalu sehat," ucap Feli. Nenek Tua itu mengangguk sembari tersenyum.

Feli berdiri lalu mengambil selembar seratus ribuan "Terimakasih ya, Mas!"

Ia berlari menghiraukan panggilan pemuda itu.

Sesampainya di mobil ia menangis mengingat dirinya tak pernah berbuat kasar seperti itu pada Maminya. Namun mengingat keberadaan Tasya membuat Feli kembali ketakutan apalagi saat ia melihat mata tajamnya yang terlihat sangat dingin juga wajahnya yang terlihat sangat angkuh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!