Bab 12

Ginran keluar dari supermarket tersebut sambil menjinjing satu kantong plastik besar berisi belanjaan milik Kaiya tadi. Entah kenapa ia membelinya. Ia juga tidak tahu. Padahal ia sudah memutuskan tidak mau terlibat lagi dengan gadis itu. Lo memang bodoh, Ginran. gumamnya pada dirinya sendiri.

Sampai di luar ternyata hujan deras. Ginran menatap kanan kiri dan pandangannya tanpa sengaja jatuh ke gadis yang tengah berdiri di ujung sana sambil fokus menatap jalan. Ginran mengamatinya lama dan tertegun. Pandangan gadis itu tampak kosong. Terlihat seperti seseorang yang tidak punya tujuan hidup. Sesaat Ginran merasakan hatinya ikut sakit.

Kenapa dengan Kaiya? Apa yang terjadi pada gadis itu selama tiga tahun ini? Kenapa setelah bertemu lagi, perubahan gadis itu begitu drastis? Ginran tiba-tiba merasa ada begitu banyak hal yang disembunyikan oleh Kaiya

Ketika gadis itu menoleh ke samping, pandangan mereka kembali bertemu. Ginran kembali memasang tampang dinginnya. Ia berjalan mendekat ke gadis itu lalu menyodorkan kantong  plastik berisi barang-barang milik Kaiya yang dibayar olehnya tadi.

Kaiya hanya menatap kantong plastik itu tanpa berniat mengambilnya. Sejujurnya gadis itu hanya merasa terkejut dengan kedatangan Ginran yang tiba-tiba. Ia tidak tahu harus  bersikap bagaimana.

Namun, karena sikapnya yang seolah tidak menyambut kehadiran pria itu, Ginran langsung membuang kantong plastik tersebut ke tong sampah di dekat situ. Tentu saja Kaiya tidak menyangka pria itu akan membuang barang-barang tersebut. Ia menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Dan Ginran balas menatapnya datar.

"Kenapa, kamu kaget? Aku hanya membantu membuang sampah yang kau tinggalkan di meja kasir tadi. Lagipula, kamu sendiri tidak menginginkannya bukan?" ucap pria itu dengan suara rendahnya yang khas. Keterlaluan memang, tapi dia melakukannya karena masih marah.

Kaiya memilih diam, tidak tahu mau bicara apa. Kaiya ingin menerobos hujan dan segera menghilang secepatnya dari tempat itu tapi tangannya tiba-tiba dicekal oleh Ginran.

"Mau kemana?" tanya pria itu refleks.

"Pulang." jawab Kaiya

"Kau bodoh? Nggak lihat hujan deras begini? Daya tahan tubuhmu lemah, tapi masih saja bersikeras mau menerobos hujan." celetuk Ginran. Dia masih ingat dulu habis mereka main hujan-hujanan, gadis itu jatuh sakit karena daya tahan tubuhnya yang  lemah. Kaiya terdiam. Ternyata Ginran masih ingat. Dia pikir Ginran tidak mau tahu tentangnya lagi.

"Bicaralah, memangnya kamu nggak punya mulut hm?" ujar pria itu lagi karena merasa dirinya sedang bicara dengan tembok.

Ginran adalah tipe cowok yang sangat jarang bicara. Ia akan bicara seperlunya saja. Tapi pada gadis didepannya ini, mereka seperti tertukar. Malah dia yang lebih banyak bicara saking minimnya gadis ini berbicara. Dan pria itu mengakui sendiri jika dirinya tidak bisa diam saja berhadapan dengan gadis yang satu ini.

Berkali-kali mereka bertengkar saat bertemu, dan berkali-kali pula Ginran berpikir untuk melupakan gadis ini, tapi ketika melihatnya sedekat ini, ia jadi lupa semua niatnya untuk menjauhi Kaiya. Entah apa yang ada dalam diri gadis ini yang selalu mampu menarik dirinya untuk mendekat. Membuatnya tidak bisa benar-benar membencinya. Saat mereka bertemu, semua perasaan marah, kecewa dan rasa rindu yang begitu dalam menyatu dalam hati Ginran.

"Aku akan membeli payung." gumam Kaiya hendak berbalik masuk lagi ke supermarket.

"Memangnya kau punya uang?" langkah gadis itu terhenti. Ia merutuk dalam hati. Benar. Ia tidak punya uang. Dompetnya tidak ada. Dan ponselnya sudah mati, tidak bisa melakukan transaksi pembayaran apapun.

"Ikut aku." Ginran meraih pergelangan tangan Kaiya tanpa ijin. Gadis itu ingin menolak tapi Ginran tidak memberinya kesempatan sedikitpun. Mereka berdua berdempetan melewati pinggiran jalan agar tidak kena hujan. Mobil Ginran diparkir hanya di depan supermarket. Jadi harusnya mereka tidak kesulitan mencapai mobil pria itu.

Ginran berhenti sebentar, membuka jaketnya dan menutupi kepala Kaiya dengan jaket mahal miliknya, lalu kembali menarik gadis itu berlari kecil dan masuk ke dalam mobilnya. Mau tak mau Kaiya setuju-setuju saja. Tidak bisa menolak.

"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu." tanya Ginran. Ia tahu Kaiya sudah pindah dari rumah lamanya. Dan dia tiba-tiba ingin tahu dimana gadis itu tinggal sekarang. Ingin tahu juga apakah Kaiya dan keluarganya baik-baik saja. Sudah lama dia tidak melihat papa, mama dan kakak gadis itu.

"Aku jalan kaki aja. Tempat tinggalku udah nggak jauh dari sini. Setelah hujan reda, aku akan pergi." ucap Kaiya. Ginran tidak boleh tahu ia tinggal sendirian di apartemennya. Ia harus bisa menyembunyikannya.

Untuk kesekian kalinya Ginran menghembuskan nafas kesal.

"Baiklah, kalau kamu nggak pengen bilang di mana rumah kamu, aku akan membawamu ke rumahku." katanya penuh penekanan. Kaiya yang mendengar sontak kaget. Terpaksa ia langsung menyebut lingkungan tempat tinggalnya.

Ginran menyeringai. Ia merasa lucu dengan sikap panik Kaiya. Kalau gadis itu berekpresi begini, tingkahnya persis sama dengan waktu dulu. Saat hubungan mereka belum canggung seperti sekarang ini. Ketika Kaiya masih ceria dan selalu bisa mencairkan suasana.

Tak sampai lima menit, mobil Ginran berhenti di sebuah gedung besar yang entah berapa lantai itu. Yang pasti itu adalah salah satu gedung terelit di antara gedung-gedung disampingnya. Ginran menatap gedung itu cukup lama kemudian melirik Kaiya.

"Kau tinggal di sini?" tanyanya. Dalam hati ia penasaran kenapa gadis itu sekarang tinggal di apartemen. Apa keluarganya juga tinggal bersamanya? Atau dia tinggal sendiri? Tapi sepertinya tidak mungkin gadis itu tinggal sendiri. Karena Ginran tahu sekali Kaiya tidak pernah bisa terpisah jauh dari keluarganya. Gadis itu benci tinggal sendirian. Bahkan Ginran dan yang lain pernah menemani gadis itu tidur di rumahnya waktu seluruh keluarganya harus keluar kota tanpa dia.

"Rumah lama kamu dijual dan pindah ke apartemen ini?" tanya pria itu lagi. Ia merasa heran. Walaupun apartemen didepannya ini terlihat mewah dan harganya pasti mahal, tapi dibandingkan dengan rumah Kaiya yang dulu, rumah yang dulu jauh lebih besar dan nyaman. Kenapa mereka malah memilih pindah?

"Mm." jawab Kaiya seadanya. Ia tidak perlu beri penjelasan panjang. Dalam benaknya sekarang adalah, ia ingin cepat-cepat naik dan meninggalkan Ginran.

"Keluarga kamu gimana, mereka tinggal di sini juga?" kali ini Ginran menatap Kaiya lama. Ia melihat gadis itu terdiam sebentar, tapi tak lama kemudian mulai berbicara.

"Aku tinggal dengan tanteku." jawab Kaiya setelah beberapa detik terdiam. Ginran masih ingin bertanya dengan detail lagi tapi Kaiya cepat-cepat keluar dari mobil tersebut dan berlari masuk ke dalam. Membuat Ginran tertegun sebentar kemudian mendengus pelan.

Jelas sekali Kaiya menghindarinya. Lelaki itu mengusap seluruh wajahnya dan bersandar di sandaran kursi sopir itu sambil memijit pelipisnya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang sangat bodoh. Padahal jelas-jelas Kaiya sudah menolaknya, menyakitinya dan tidak mau berhubungan dengannya lagi, tapi dia masih saja berharap. Cukup lama pria itu merenung sampai akhirnya mobil yang dikendarainya pergi meninggalkan tempat itu.

Terpopuler

Comments

Desi Revani

Desi Revani

Sikap si key emang keterlaluan tapi sebagai cowok si jiro ga berhak nampar si ket seenaknya apa lagi mereka cuman diem ajah pas si jiro ngelakuin kekerasan jijik banget sama cowok yang gampang main n tangan sama cewek tanpa tau yang sebenarnya, ga mudah jadi si key tapi mereka paling merasa tersakiti padahal yang jelas jelas paling terluka itu si key bukan mereka wajar kalau sj key memilih menjauh orang waras mana pun akan memilih menjauh dan menyendiri kalau galamin semua itu

2025-03-29

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

akhirnya sadar juga ....
dari kemaren elo kemana aja, Ginran ?
ayo buruan donk bertindak .... !!!

2024-12-26

0

Khairul Azam

Khairul Azam

klo lupa bawa dompet trs kek mana tu bayar taxi nya??

2024-11-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Karya baru I Love you bos
101 S2 I LOVE YOU BOS - bab 1
102 S2 I LOVE YOU BOS - bab 2
103 S2 I LOVE YOU BOS - bab 3
104 S2 I LOVE YOU BOS - bab 4
105 S2 I LOVE YOU BOS - bab 5
106 S2 I LOVE YOU BOS - bab 6
107 S2 I LOVE YOU BOS - bab 7
108 S2 I LOVE YOU BOS - bab 8
109 S2 I LOVE YOU BOS - bab 9
110 S2 I LOVE YOU BOS - bab 10
111 S2 I LOVE YOU BOS - bab 11
112 S2 I LOVE YOU BOS - bab 12
113 S2 I LOVE YOU BOS - bab 13
114 S2 I LOVE YOU BOS - bab 14
115 S2 I LOVE YOU BOS - bab 15
116 S2 I LOVE YOU BOS - bab 16
117 S2 I LOVE YOU BOS - BAB 17
118 S2 I LOVE YOU BOS - bab 18
119 S2 I LOVE YOU BOS - bab 19
120 S2 I LOVE YOU BOS - bab 20
121 S2 I LOVE YOU BOS - bab 21
122 S2 I LOVE YOU BOS - bab 22
123 S2 I LOVE YOU BOS - Bab 23
124 S2 I LOVE YOU BOS - bab 24
125 S2 I LOVE YOU BOS -bab 25
126 S2 I LOVE YOU BOS - bab 26 Tamat
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Karya baru I Love you bos
101
S2 I LOVE YOU BOS - bab 1
102
S2 I LOVE YOU BOS - bab 2
103
S2 I LOVE YOU BOS - bab 3
104
S2 I LOVE YOU BOS - bab 4
105
S2 I LOVE YOU BOS - bab 5
106
S2 I LOVE YOU BOS - bab 6
107
S2 I LOVE YOU BOS - bab 7
108
S2 I LOVE YOU BOS - bab 8
109
S2 I LOVE YOU BOS - bab 9
110
S2 I LOVE YOU BOS - bab 10
111
S2 I LOVE YOU BOS - bab 11
112
S2 I LOVE YOU BOS - bab 12
113
S2 I LOVE YOU BOS - bab 13
114
S2 I LOVE YOU BOS - bab 14
115
S2 I LOVE YOU BOS - bab 15
116
S2 I LOVE YOU BOS - bab 16
117
S2 I LOVE YOU BOS - BAB 17
118
S2 I LOVE YOU BOS - bab 18
119
S2 I LOVE YOU BOS - bab 19
120
S2 I LOVE YOU BOS - bab 20
121
S2 I LOVE YOU BOS - bab 21
122
S2 I LOVE YOU BOS - bab 22
123
S2 I LOVE YOU BOS - Bab 23
124
S2 I LOVE YOU BOS - bab 24
125
S2 I LOVE YOU BOS -bab 25
126
S2 I LOVE YOU BOS - bab 26 Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!