Ego dan Kepemimpinan

Walaikumsalam" Aziel menjawab salam Eyang Abdullah Siddhiq Maulana

Cahaya pun menghilang seketika , kiyai Ismajati pun mulai bisa melihat kearah lapangan .

ketika kiyai Ismajati melihat kearah lapangan , beliau terkejut karena mendapati Aziel yang berada di tengah lapangan .

sinar cahaya yang menyilaukan tadi membuat kiyai Ismajati tak bisa melihat apapun di lapangan , namun beliau terkejut ketika mengetahui bahwa Aziel yang berada di tengah lapangan .

#subhanallah , dugaanku semakin kuat , aku semakin yakin ada hal besar dibalik wajah dan tingkah polos muridku yang satu ini , syukurlah jumat aku hendak membawanya kepada sukmoadji , untuk sekarang sepertinya aku jangan menghampiri Aziel dulu , nanti saja ketika bersama adji baru aku membahas soal ini# gumam kiyai Ismajati dalam hati

Kiyai Ismajati pun kembali ke kediamannya , dengan antusias yang sangat besar beliau pun tak sabar ingin segera membawa Aziel ke tempat kiyai Sukmoadji.

Kembali ke lapangan , Aziel masih duduk bersila di lapangan sambil memandangi benda pusaka yang baru saja ia terima .

"aku seperti bermimpi , namu tak bisa kupingkiri ini adalah kenyataan . Sungguh peristiwa yang belum pernah kualami selama hidupku , namun sekali lagi bahwa ini nyata dan aku harus mulai meyakininya" Aziel bergumam sembari melihat pusaka tersebut.

Dengan bentuk pusaka yang unik , membuat Aziel terkesima melihat pusaka tersebut.

Cemeti yang melingkar , berwarna kuning keemasan , dan begitu kokoh . Namun ada yang membuat Aziel heran dengan bentuk pusaka ini , yaitu gagang dari pusaka ini berbentuk tokoh Semar .

"bukankah ini tokoh pewayangan ? Semar ? Mengapa gagangnya berentuk Semar ? Dan seingatku di pewayangan Semar selalu menunjuk kearah depan dengan sedikit arah kebawah , namun mengapa tokoh Semar ini menunjuk keatas kearah langit ?" gumam Aziel sembari memperhatikan pusaka tersebut .

"sebaiknya aku kembali , tidak baik jika ada yang melihatku berada di lapangan ini diwaktu begini" Aziel lanjut bergumam .

Aziel pun bangkit dari sila nya dan bergegas kembali ke kamarnya , tak lupa ia pun memasukkan pusaka itu kedalam bajunya menjaga agar tak ada yang melihat .

Setiba ia di kamar Aziel masih terkesima dengan benda pusaka tersebut dan terus memperhatikan dari ujung ke ujung pusaka tersebut .

tak sengaja Aziel memegang gagang pusaka tersebut yang berbentuk tokoh pewayangan Semar .

*sriiiing"

gagang pun terpisah dengan cemetinya .

bukan panik atau berfikir pusaka itu patah , namun yang terjadi malah Aziel semakin terkesima karena yang ia kira gagang dari cemeti itu ternyata itu adalah gagang sebuah keris . keris yang juga berwarna keemsan smapai ujung tanjam keris tersebut.

"astaghfirullah , subhanallah , terpisah , keris ? Ternyata ini adalah sebuah keris , sungguh , aku tak pernah melihat ini sebelumnya , jujur ini membuatku bingung dan resah namun semua rasa itu hilang karena aku merasa sangat senang mendapakan amanat ini" Aziel bergumam .

sebuah pusaka yang sangat unik dan baru pertama kali Aziel melihatnya , Cemeti yang di dalamnya sebuah keris dan bergagangkan tokoh pewayangan Semar itu sangat membuat Aziel terkesima dan membuatnya tidak bisa tidur sampai waktu subuh tiba .

malam pun berganti pagi , kegiatan seperti biasa yang dilakukan murid-murid padepokan Wasesa Segara terlihat wajar dan normal-normal saja .

hanya ada 2 orang yang terlihat wajahnya berseri-seri dan terlihat bahagia , yaitu Kiyai Ismajati dan Aziel .

setelah menyelesaikan sarapan , kiyai Ismajati dan para muridnya duduk di padepokan .

"Cahyo , Danu , Kuntadi , besok selesai melaksakan shalat jumat di masjid kalian kembali saja kesini tanpa harus menungguku ya" uja kiyai Ismajati

"baik mbah , namun ada apa mbah ? biasanya kami menunggu mbah untuk kembali bersama" saut Cahyo

"oh ya , saya lupa , kecuali Aziel , karena Aziel besok menemaniku untuk bertemu rekan seperguruanku . jadi setelah melaksanakan shalat jumat saya akan pergi ke tempat rekan seperguruanku ditemani Aziel , kapan-kapan saya juga akan mengajak kalian , namun tidak untuk saat-saat ini , untuk kali ini saya hanya bisa membawa Aziel saja" ujar kiyai Ismajati sembari menenangkan muridnya agar tak terjadi kesalahpahaman dan kecemburuan sosial.

"baik mbah" jawab serentak para murid

Aziel merasa tak enak karena dia merasa dirinya masih belum lama di padepokan Wasesa Segara ini , jauh soal waktu jika dibandingkan ketiga temannya itu . namun Aziel pun tak bisa menolak ajakan kiyai Ismajati , karena ajakan seorang guru secara tidak langsung itu adalah sebuah perintah namun diperhalus menjadi seperti mempunyai kesan mengajak .

"baiklah , saya mendahului kalian , saya akan kembali ke kediaman , Assalamualaikum" ujar kiyai Ismajati sembari berpamitan pada murid-muridnya.

sementara itu Danu , Kuntadi dan Cahyo menatap kearah Aziel .

Aziel merasa tak enak karena ditatap oleh teman-temannya.

"ziel...aku kagum padamu , baru beberapa bulan disini sudah bisa dekat dengan kiyai Ismajati bahkan kulihat sangat dekat sampai mengajakmu ke tempat rekan seperguruannya , aku yang sudah 4 tahun lebih disini belum pernah beliau mengajakku ke tempat rekan seperguruannya " ujar Danu dengan tatapan sinis dan raut wajah yang datar menandakan ia sedang dalam keadaan tak senang.

"aku pun tak tahu Dan , aku berani bersumpah kalau aku hanya diajak , dan tidak mengetahui apa-apa , aku tidak menawarkan diri dan lainnya" jawab Aziel merasa tak enak kepada Danu.

berbeda dengan Danu yang seakan tak senang dengan pernyataan kiyai Ismajati tadi , Cahyo dan Kuntadi sebaliknya , mereka berdua terlihat senang dan harus bisa seperti Aziel .

"sudahlah Danu , raut wajah dan nada bicara seperti apa itu , aku yang lebih lama disini darimu saja tidak mempermasalahkan hal itu , mengapa kamu harus bersikap seperti itu kepada Aziel..." saut Kuntadi yang tak nyaman dengan sikap Danu .

Danu pun hanya menatap kearah Kuntadi lalu berdiri pergi dari pendopo .

"tidak usah diambil hati ziel , danu memang seperti itu , tidak usah di hiraukan" saut Cahyo mencoba menenangkan Aziel.

"apakah memang dia seperti itu ? aku jadi merasa tak enak padanya" ujar Aziel .

"ya , memang dia seperti itu , bukan hanya kamu , dulu pun ada murid yang dia perlakukan seperti itu , padahal murid itu jauh lebih dulu berada disni tapi danu seakan tak senang jika melihat kiyai Ismajati dekat dan bercanda dengan murid lama itu" Kuntadi menambahkan pernyataan.

"benarkah ? mengapa danu seperti itu ya ? aku tidak perduli dengan sikapnya , namun aku bertanya-tanya mengapa dia begitu dan akupun merasa tak enak" ujar Aziel .

"danu mempunyai ego yang lumayan tinggi , dan sifat kepemimpinannya yang tidak terarah sehingga ia berfikir harusnya dia yang bisa dekat dengan kiyai Ismajati " lanjut Kuntadi .

"iya , maklumi saja , dan sebaiknya tidak usah bebani pikiran dan hati kita dengan sifatnya danu , bebaskan saja pikiran dan hati kita ziel..." saut Cahyo yang sebenernya juga tak nyaman dengan sikap dan bahasa Danu tadi .

"hmmmm baiklah , terimaksih kalian masih mau mendekatiku dan banyak membantu ketika aku dalam masalah." ujar Aziel .

Terpopuler

Comments

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Danu, jangan buruk sangka lahh sama Aziel.

2025-01-23

0

lihat semua
Episodes
1 Kuasa Tuhan
2 Desa Giriasem
3 Wasesa Segara
4 Sambutan hangat Kiyai Ismajati
5 Bersyukur
6 Penasaran
7 Kegiatan Padepokan
8 Mulai Belajar .
9 Murid Kiyai Ismajati
10 Amalan Malam pertama
11 Kuntadi dan ceritanya .
12 Aura Keemasan.
13 Kiyai Sukmoadji .
14 Terjadi Lagi.
15 Syifa Qothrunnada
16 Aziel ..!!
17 Tanda tanya besar.
18 Cemeti Rogo Sukmo
19 Ego dan Kepemimpinan
20 Seorang Titisan Raja .
21 Sifat Seorang Raja .
22 Memasuki Alam Bawah Sadar .
23 Puasa Hari Pertama .
24 Kasmaran.
25 Takdir Besar
26 Rasa.
27 Hari ke Tujuh .
28 Penutup .
29 Pengertian Ilmu Rasa .
30 Sedikit Tegang.
31 Berbaik sangka.
32 Berawal dari sebuah pohon .
33 Kesalahpahaman yang Nyata .
34 Benci dan Amarah .
35 Mengkaji diri .
36 Syifa dan Cintanya .
37 Kerenggangan.
38 Menerima kenyataan.
39 Ketetapan Syifa .
40 Ungkapan isi hati.
41 Penyesalan Danu.
42 Undur diri .
43 Tahap kedua Aziel .
44 Perjalanan spiritual yang sesungguhnya .
45 Aksi perdana .
46 Calon Untuk Kirana si Putri Sulung.
47 Jin yang Menuntut Balas.
48 Jum'at Tenang .
49 Pengakuan seorang Kiyai.
50 Teror Makhluk tak Kasat Mata.
51 41 Hari .
52 Hati yang Lembut .
53 Dukun ???
54 Sebuah Teka-teki.
55 Penyamaran.
56 Penyelamatan Berhasil .
57 Rencana Selanjutnya.
58 Kehadiran sosok baru .
59 Menggali Informasi.
60 Tertunda.
61 Tamu tak diundang .
62 Penyelesaian .
63 Jawaban Kegelisahan Aziel.
64 Pulang .
65 Tak Disangka .
66 Arya Pandu.
67 Rasa Bangga Seorang Ayah .
68 Sedikit Aksi dari Kiyai Ismajati.
69 Tahap Penyesuaian.
70 Pengelihatan Batin.
71 Persiapan matang .
72 Aura Pekat .
73 Permohonan Sudarmo
74 Tentang Sarwaji .
75 Menunggu Tamu tak Diundang.
76 Keputusan Tepat .
77 Amanat Baru.
78 Kitab Stambul/Stanbul.
79 Teror Baru .
80 Kun Fayakun .
81 Undangan .
82 Teman Lama .
83 Kebaikan.
84 Kebodohan Terakhir.
85 Saudara ?
86 Sedulur Papat , Kalimo Pancer .
87 Penganut Kepercayaan.
88 Pertemuan awal dengan Seno Sudjiwo.
89 Keangkuhan .
90 Pamit.
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Kuasa Tuhan
2
Desa Giriasem
3
Wasesa Segara
4
Sambutan hangat Kiyai Ismajati
5
Bersyukur
6
Penasaran
7
Kegiatan Padepokan
8
Mulai Belajar .
9
Murid Kiyai Ismajati
10
Amalan Malam pertama
11
Kuntadi dan ceritanya .
12
Aura Keemasan.
13
Kiyai Sukmoadji .
14
Terjadi Lagi.
15
Syifa Qothrunnada
16
Aziel ..!!
17
Tanda tanya besar.
18
Cemeti Rogo Sukmo
19
Ego dan Kepemimpinan
20
Seorang Titisan Raja .
21
Sifat Seorang Raja .
22
Memasuki Alam Bawah Sadar .
23
Puasa Hari Pertama .
24
Kasmaran.
25
Takdir Besar
26
Rasa.
27
Hari ke Tujuh .
28
Penutup .
29
Pengertian Ilmu Rasa .
30
Sedikit Tegang.
31
Berbaik sangka.
32
Berawal dari sebuah pohon .
33
Kesalahpahaman yang Nyata .
34
Benci dan Amarah .
35
Mengkaji diri .
36
Syifa dan Cintanya .
37
Kerenggangan.
38
Menerima kenyataan.
39
Ketetapan Syifa .
40
Ungkapan isi hati.
41
Penyesalan Danu.
42
Undur diri .
43
Tahap kedua Aziel .
44
Perjalanan spiritual yang sesungguhnya .
45
Aksi perdana .
46
Calon Untuk Kirana si Putri Sulung.
47
Jin yang Menuntut Balas.
48
Jum'at Tenang .
49
Pengakuan seorang Kiyai.
50
Teror Makhluk tak Kasat Mata.
51
41 Hari .
52
Hati yang Lembut .
53
Dukun ???
54
Sebuah Teka-teki.
55
Penyamaran.
56
Penyelamatan Berhasil .
57
Rencana Selanjutnya.
58
Kehadiran sosok baru .
59
Menggali Informasi.
60
Tertunda.
61
Tamu tak diundang .
62
Penyelesaian .
63
Jawaban Kegelisahan Aziel.
64
Pulang .
65
Tak Disangka .
66
Arya Pandu.
67
Rasa Bangga Seorang Ayah .
68
Sedikit Aksi dari Kiyai Ismajati.
69
Tahap Penyesuaian.
70
Pengelihatan Batin.
71
Persiapan matang .
72
Aura Pekat .
73
Permohonan Sudarmo
74
Tentang Sarwaji .
75
Menunggu Tamu tak Diundang.
76
Keputusan Tepat .
77
Amanat Baru.
78
Kitab Stambul/Stanbul.
79
Teror Baru .
80
Kun Fayakun .
81
Undangan .
82
Teman Lama .
83
Kebaikan.
84
Kebodohan Terakhir.
85
Saudara ?
86
Sedulur Papat , Kalimo Pancer .
87
Penganut Kepercayaan.
88
Pertemuan awal dengan Seno Sudjiwo.
89
Keangkuhan .
90
Pamit.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!