Bab 18 - Mengeluarkan Unek-unek

Malam hari setibanya Manda di Jakarta, ia harus direpotkan dengan mengurus Gani yang kakinya sedang sakit.

"Kalau jalan itu hati-hati dong, Mas. Kenapa bisa sampai jatuh begini?" sungut Manda seraya tangannya sedang memegang kain waslap yang baru saja ia celupkan ke dalam air hangat untuk mengompres kaki Gani yang bengkak.

"Maafin aku, Honey. Aku mendadak kangen kamu. Jadi enggak fokus jalan di kamar mandinya. Biasanya kan ke kamar mandi sama-sama kamu terus kita mandi bareng," jawab Gani dengan suara lirih namun terdengar manja.

"Jangan ngeles bilang kangen segala. Dua hari sebelum aku ke Magelang, Mas kan enggak tidur di sini tapi sama istri tuamu. Pasti kamu lagi asyik kelonan sama dia!" dengus Manda.

Istri sah Gani yang bernama Sinta tinggal di Semarang bersama ketiga anaknya. Sedangkan Manda berada di Jakarta.

"Kamu kan tahu aku ke sana karena putri sulungku ulang tahun. Jadinya aku harus datang ke rumah buat merayakan. Acaranya sampai malam sama keluarga besar. Ada keluarga yang menginap juga di rumah. Jadinya enggak mungkin aku kembali ke Jakarta langsung. Padahal si adek sudah tegang banget pengin disayang kamu," jawab Gani yang memberi kode dengan mata genit pada anacondanya yang ada di bawah perutnya.

"Kan ada istrimu juga di rumah itu. Minta saja dia buat kelonin anacondamu!"

"Enggak enak. Punya dia sudah kendor semua. Terus gaya main dia juga pasif sejak dulu. Aku bosan. Lebih legit punya kamu, Honey."

"Halah, alesan! Mas enak bisa keluar. Tapi aku, enggak keluar terus. Pusing Mas!"

"Coba dulu lagi, Honey. Siapa tahu kamu bisa keluar. Bagaimana kalau sekarang?" tawar Gani dengan mengerlingkan matanya seraya tangannya menjawil dagu Manda yang tengah duduk posisi menyamping di sebelahnya sambil mengompres kakinya.

"Kaki Mas ini lagi sakit. Noh lihat bengkak. Masih aja minta begituan! Pas sehat saja aku enggak bisa keluar. Gimana main dalam kondisi sakit begini? Bisa-bisa Mas enak tapi aku yang nyut-nyutan,"

"Yang lalu aku kan lagi capek, Honey. Kamu kan tahu jadwal pekerjaanku waktu itu cukup padat dan habis dari luar kota juga. Tapi kamu maksa terus buat tetap dilayani di atas ranjang. Ya karena aku cinta sama kamu, aku paksain nyenengin kamu. Jadi hasilnya enggak maksimal waktu itu," jawab Gani.

"Asal tahu saja performa Mas di atas ranjang akhir-akhir ini tuh payah. Bukan hanya pas terakhir kita main. Makanya kurangi merokoknya. Kalau diajak pesta sama kolega atau teman-teman Mas, jangan minum alkohol. Minum air putih. Inget umur Mas. Biar bisa joss kayak dulu. Masa aku gantung terus saat kita bercinta. Aku bukan cuma butuh uang Mas, tapi juga disenengin di atas kasur."

Gani berusaha sabar menghadapi protes dari Manda. Dihina oleh istri mudanya dengan sebutan payah di atas ranjang, umur yang sudah tua dan sebagainya. Padahal di kota lain ada wanita tak berdosa yang selama berpuluh tahun setia dan tak pernah berkata kasar terhadapnya. Wanita yang menjadi istri pertamanya tersebut juga telah memberikan tiga orang buah hati. Justru dirinya tergiur dengan kenikmatan terlarang yakni berselingkuh dengan wanita lain yang notabene istri dari anak buahnya sendiri.

Manda terus bersungut-sungut luar biasa kesal untuk mengeluarkan unek-uneknya yang beberapa waktu terakhir ini ia pendam sendiri. Seakan kini saatnya bendungan itu sudah tak kuat lagi menahannya. Sebab, kebutuhan ragawinya kini sering tak terpuaskan.

Manda yang usianya jauh lebih muda dari Gani, tentu masih menggebu-gebu untuk urusan ranjang. Bahkan konon katanya wanita dewasa di usia kepala empat lebih masih dalam mode pu*ber kedua. Tentu masih ganas-ganasnya di atas ranjang. Sedangkan Gani yang mendekati waktu pensiun sebagai abdi negara, pastinya usianya jauh lebih tua daripada Seno dan Manda. Vitalitasnya mulai menurun. Sehingga tak mampu mengimbangi hasrat Manda yang menggebu-gebu. Bahkan laki-laki ini pernah meminum jamu kuat, namun hasilnya tetap nihil. Manda belum juga terpuaskan.

Gani memijat kepalanya yang berdenyut dan mendadak pusing mendengar omelan Manda.

"Oke, Honey. Maafkan aku. Lebih baik sekarang kita coba bercinta lagi. Nanti kalau misal Honey merasa belum puas, aku beri dengan cara yang lain,"

Manda seketika mendelik tajam pada Gani dan menghentikan kompresannya.

"Maksudnya cara lain seperti yang Mas lakukan tempo hari?"

"Iya, Honey. Nanti Mas coba semaksimal mungkin. Mas yakin malam ini kamu akan keluar dan puas,"

"Enak saja!" Manda mendengus sebal.

"Yang penting kan kamu tetap bisa terpuaskan. Biar punyamu juga keluar jadi enggak pusing terus. Walaupun caranya berbeda. Kemarilah Honey, Sayangku, Cintaku." Gani terus merayu bahkan kini ia telah memeluk tubuh Manda dari belakang dalam kondisi duduk di atas ranjang mereka.

"Enggak mau! Aku enggak sudi pakai cara lain. Harusnya Mas bisa puasin aku dengan cara utama seperti dulu," ucap Manda seraya mencoba melepaskan pelukan Gani dari tubuhnya. Namun dekapan erat Gani tak mampu terlepas juga.

"Ayolah, Honey. Adek sudah berkedut-kedut tuh. Kangen kamu. Nanti aku belikan tas Kremes deh yang harganya tiga ratus juta itu. Katanya kamu mau beli tas itu buat datang ke acara arisan teman-temanmu," bisik Gani di telinga Manda seraya mencium-cium pipi serta leher Manda yang memang area tersebut cukup sensitif.

"Mas kan ma_sih sakit kakinya," ucap Manda mendadak suaranya berubah menjadi parau dan terbata-bata. Ia tengah menahan hasrat yang mendadak muncul akibat sentuhan dari Gani.

"Kakinya sakit tapi adeknya sehat dan per*kasa. Nanti kamu di atas ya, Honey. Kalau kakiku sudah lebih baik, nanti Mas gempur kamu dari atas sama gaya kita yang lain." Gani terus berbisik mesra di telinga Manda. Bahkan saat ini tangannya sudah membuka resleting dress yang dipakai oleh Manda. Lalu menciumi punggung Manda.

Gani tentunya tahu spot-spot dalam tubuh Manda yang mampu menaikkan hasrat istri sirinya ini dalam sekejap. Alhasil umpan yang dilemparkan seakan kini telah masuk dan berhasil. Seketika ia menarik Manda untuk naik ke atas ranjang tanpa penolakan lagi. Lampu utama kamar sudah ia padamkan dan berganti redup temaram dari lampu tidur.

Malam panjang pun dimulai. Namun akhir puncak bercinta malam ini belum tahu seperti apa hasilnya.

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Priskha

Priskha

eng...ing...eng....mari kita lihat saudara2 siapakah yg akan jd pemenangnya.....

2024-12-14

2

Neno Arya

Neno Arya

gani..gani..!!
uda loyo masih. ngeyel..lg sakit jg dasra laki2 ra jelas/Hey//Hey/

2025-01-02

1

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

🤭

2025-02-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Niat Menolong Jadi Petaka
2 Bab 2 - Luka Masa Lalu (Selingkuh)
3 Bab 3 - Siapkan Dirimu
4 Bab 4 - Puisi Untuk Ibu
5 Bab 5 - Bunda Dokter
6 Bab 6 - Kuasa Putri Mahkota Menyala
7 Bab 7 - Tamu di Larut Malam
8 Bab 8 - Anak Yang Menjadi Korban
9 Bab 9 - Bunda, Kenapa Nangis ?
10 Bab 10 - Pikiran Masing-Masing
11 Bab 11 - Empat Sehat Lima Sempurna
12 Bab 12 - Dunia Terasa Sempit
13 Bab 13 - Semakin Penasaran
14 Bab 14 - Cinta Pertama Dokter Heni
15 Bab 15 - Pertemuan Pertama
16 Bab 16 - Sebuah Penjelasan
17 Bab 17 - Foto Bersama
18 Bab 18 - Mengeluarkan Unek-unek
19 Bab 19 - Awal Mula
20 Bab 20 - Rekaman Rahasia
21 Bab 21 - Hak dan Kewajiban
22 Bab 22 - Pillow Talk
23 Bab 23 - Panas Hati dan Kedengkian
24 Bab 24 - Riuh di Pagi Hari
25 Bab 25 - Bertukar Pesan
26 Bab 26 - Perkara Jodoh
27 Bab 27 - Tentang Adik Bayi
28 Bab 28 - Tidur Bertiga
29 Bab 29 - Tersesat
30 Bab 30 - Cinta Luar Biasa
31 Bab 31 - Kejar Setoran
32 Bab 32 - Sebutan "Mandul"
33 Bab 33 - Penolakan
34 Bab 34 - Kecewa dan Amarah
35 Bab 35 - Pelantikan
36 Bab 36 - Mendadak Aneh
37 Bab 37 - Kedatangan Tamu
38 Bab 38 - Mantan Istri
39 Bab 39 - Terus Menyudutkan
40 Bab 40 - Pesona Mantan Suami
41 Bab 41 - Pamer Kemesraan
42 Bab 42 - Bunda Sakit ?
43 Bab 43 - Suara Isi Hati Aya
44 Bab 44 - Istri vs Mantan Istri
45 Bab 45 - Pingsan
46 Bab 46 - Rencana Manda
47 Bab 47 - Status Pernikahan ?
48 Bab 48 - Pentingnya Komunikasi Dalam Sebuah Pernikahan
49 Bab 49 - Test Pack
50 Bab 50 - Adik Bayi Pesanan Aya
51 Bab 51 - Keceplosan
52 Bab 52 - Hasil Pemeriksaan
53 Bab 53 - Rencana Kejutan
54 Bab 54 - Akhir Pekan Tiba
55 Bab 55 - Trauma Masa Lalu Hadir Kembali
56 Bab 56 - Hitam Pekat Luka
57 Bab 57 - Kecelakaan
58 Bab 58 - Bunda Ke Mana ?
59 Bab 59 - Sepucuk Surat
60 Bab 60 - Penyesalan
61 Bab 61 - Aku Yang Salah (Seno)
62 Bab 62 - Kepergian Aldo
63 Bab 63 - Gelayut Mendung
64 Bab 64 - Aku mencintai Istriku (Seno)
65 Bab 65 - Pergi Dari Tapal Batas
66 Bab 66 - Perusak Kesenangan
67 Bab 67 - Tilik Bayi
68 Bab 68 - Putraku
69 Bab 69 - Bicara Dari Hati Ke Hati
70 Bab 70 - Jogja "Kota Penuh Kenangan"
71 Bab 71 - Makasih Bunda (Aldo)
72 Bab 72 - Berkat Doa dan Ketulusan Cinta
73 Bab 73 - Kenyataan Pahit
74 Bab 74 - Meminta Cerai
75 Bab 75 - Di Ujung Tanduk Perceraian
76 Bab 76 - Menangis Bersama
77 Bab 77 - Adu Mulut
78 Bab 78 - Perjuangan Sang Komandan
79 Bab 79 - Pelukan Hangat
80 Bab 80 - Mas Mau Ke Mana ?
81 Bab 81 - Membersihkan Aroma Mantan
82 Bab 82 - Cemburu Mode On
83 Bab 83 - Sudah Dimaafkan
84 Bab 84 - Wujud Cinta Sang Komandan
85 Bab 85 - Temani Aku Sehari Lagi (Dokter Heni)
86 Bab 86 - Pergi Ke Rumah Sakit
87 Bab 87 - Hasil Pemeriksaan Yang Mengejutkan (Manda)
88 Bab 88 - Benar-Benar Terpuruk
89 Bab 89 - Sebuah Firasat
90 Bab 90 - Karma
91 Bab 91 - Bersimbah Darah
92 Bab 92 - Bertemu Di Rutan
93 Bab 93 - Permohonan Maaf
94 Bab 94 - Bundanya Aya Is The Best
95 Bab 95 - Kunjungan Seseorang
96 Bab 96 - Hanya Cinta Yang Bisa
97 Bab 97 - Romantis Manis (Jatuh Cinta Itu Indah)
98 Bab 98 - Kejutan Manis
99 Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
100 Bab 100 - Takdir Cinta
101 Bonus Chapter (TAMAT)
102 JUST INFO
103 PROMO KARYA BARU
104 PROMO KARYA BARU
105 PROMO KARYA BARU
106 PROMO NOVEL BARU
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Bab 1 - Niat Menolong Jadi Petaka
2
Bab 2 - Luka Masa Lalu (Selingkuh)
3
Bab 3 - Siapkan Dirimu
4
Bab 4 - Puisi Untuk Ibu
5
Bab 5 - Bunda Dokter
6
Bab 6 - Kuasa Putri Mahkota Menyala
7
Bab 7 - Tamu di Larut Malam
8
Bab 8 - Anak Yang Menjadi Korban
9
Bab 9 - Bunda, Kenapa Nangis ?
10
Bab 10 - Pikiran Masing-Masing
11
Bab 11 - Empat Sehat Lima Sempurna
12
Bab 12 - Dunia Terasa Sempit
13
Bab 13 - Semakin Penasaran
14
Bab 14 - Cinta Pertama Dokter Heni
15
Bab 15 - Pertemuan Pertama
16
Bab 16 - Sebuah Penjelasan
17
Bab 17 - Foto Bersama
18
Bab 18 - Mengeluarkan Unek-unek
19
Bab 19 - Awal Mula
20
Bab 20 - Rekaman Rahasia
21
Bab 21 - Hak dan Kewajiban
22
Bab 22 - Pillow Talk
23
Bab 23 - Panas Hati dan Kedengkian
24
Bab 24 - Riuh di Pagi Hari
25
Bab 25 - Bertukar Pesan
26
Bab 26 - Perkara Jodoh
27
Bab 27 - Tentang Adik Bayi
28
Bab 28 - Tidur Bertiga
29
Bab 29 - Tersesat
30
Bab 30 - Cinta Luar Biasa
31
Bab 31 - Kejar Setoran
32
Bab 32 - Sebutan "Mandul"
33
Bab 33 - Penolakan
34
Bab 34 - Kecewa dan Amarah
35
Bab 35 - Pelantikan
36
Bab 36 - Mendadak Aneh
37
Bab 37 - Kedatangan Tamu
38
Bab 38 - Mantan Istri
39
Bab 39 - Terus Menyudutkan
40
Bab 40 - Pesona Mantan Suami
41
Bab 41 - Pamer Kemesraan
42
Bab 42 - Bunda Sakit ?
43
Bab 43 - Suara Isi Hati Aya
44
Bab 44 - Istri vs Mantan Istri
45
Bab 45 - Pingsan
46
Bab 46 - Rencana Manda
47
Bab 47 - Status Pernikahan ?
48
Bab 48 - Pentingnya Komunikasi Dalam Sebuah Pernikahan
49
Bab 49 - Test Pack
50
Bab 50 - Adik Bayi Pesanan Aya
51
Bab 51 - Keceplosan
52
Bab 52 - Hasil Pemeriksaan
53
Bab 53 - Rencana Kejutan
54
Bab 54 - Akhir Pekan Tiba
55
Bab 55 - Trauma Masa Lalu Hadir Kembali
56
Bab 56 - Hitam Pekat Luka
57
Bab 57 - Kecelakaan
58
Bab 58 - Bunda Ke Mana ?
59
Bab 59 - Sepucuk Surat
60
Bab 60 - Penyesalan
61
Bab 61 - Aku Yang Salah (Seno)
62
Bab 62 - Kepergian Aldo
63
Bab 63 - Gelayut Mendung
64
Bab 64 - Aku mencintai Istriku (Seno)
65
Bab 65 - Pergi Dari Tapal Batas
66
Bab 66 - Perusak Kesenangan
67
Bab 67 - Tilik Bayi
68
Bab 68 - Putraku
69
Bab 69 - Bicara Dari Hati Ke Hati
70
Bab 70 - Jogja "Kota Penuh Kenangan"
71
Bab 71 - Makasih Bunda (Aldo)
72
Bab 72 - Berkat Doa dan Ketulusan Cinta
73
Bab 73 - Kenyataan Pahit
74
Bab 74 - Meminta Cerai
75
Bab 75 - Di Ujung Tanduk Perceraian
76
Bab 76 - Menangis Bersama
77
Bab 77 - Adu Mulut
78
Bab 78 - Perjuangan Sang Komandan
79
Bab 79 - Pelukan Hangat
80
Bab 80 - Mas Mau Ke Mana ?
81
Bab 81 - Membersihkan Aroma Mantan
82
Bab 82 - Cemburu Mode On
83
Bab 83 - Sudah Dimaafkan
84
Bab 84 - Wujud Cinta Sang Komandan
85
Bab 85 - Temani Aku Sehari Lagi (Dokter Heni)
86
Bab 86 - Pergi Ke Rumah Sakit
87
Bab 87 - Hasil Pemeriksaan Yang Mengejutkan (Manda)
88
Bab 88 - Benar-Benar Terpuruk
89
Bab 89 - Sebuah Firasat
90
Bab 90 - Karma
91
Bab 91 - Bersimbah Darah
92
Bab 92 - Bertemu Di Rutan
93
Bab 93 - Permohonan Maaf
94
Bab 94 - Bundanya Aya Is The Best
95
Bab 95 - Kunjungan Seseorang
96
Bab 96 - Hanya Cinta Yang Bisa
97
Bab 97 - Romantis Manis (Jatuh Cinta Itu Indah)
98
Bab 98 - Kejutan Manis
99
Bab 99 - Menuju Penghujung Kisah
100
Bab 100 - Takdir Cinta
101
Bonus Chapter (TAMAT)
102
JUST INFO
103
PROMO KARYA BARU
104
PROMO KARYA BARU
105
PROMO KARYA BARU
106
PROMO NOVEL BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!